02 Nov 2014

We Live In a Bullying Country

Tadi iseng bikin logo untuk Nganjuk, karena logo Jogja yang katanya mirip tulisan Togua itu menuai banyak kritik. Nah, naitku sih pingin unjuk gigi kalau aku bisa bikin logo lebih bagus dibanding logo Togua yang konon menghabiskan satu koma dua milyat itu!

Logo sudah jadi, eh ternyata kena bully. Aku sih, gak brosing dulu kalau ada kota brambang bernama Brebes. Walhasil ketika Nganjuk aku juluki kota brambang, ada orang asli Brebes yang protes gak terima sedikitpun kalau ada kota lain mengaku sebagai kota brambang.

Oke bero, sori, woles bero. Aku yang salah. Jangan khawatir, logonya sudah aku delet kok. Sudah hilang sekarang.

Duh, nyesek deh rasanya. Satu jam ngarang logo ternyata berakhir dibully dan sia-sia.. (nyanyi lagunya Sia) :cry:

Maklum, diriku hari ini khan libur kerja. Minggu gitu loh. Masa ya masuk kerja. Gila apa hidup dibuat kerja. Harusnya khan dibalik, kerja untuk hidup. Dengan kata lain kalau sudah bisa hidup, ya gak usah kerja. #eh

Tetanggaku rata-rata sampe sekarang masih menganggap aku pengangguran. Atau kalau menganggap aku kerja di rumah, mereka gak akan berfikir sejauh ‘kerja online bisa menghidupi seorang Muhammad Ali Mudzofar’. Paling ya dikira kerjaku serabutan kadang dapat duit, kadang enggak.

Mungkin kalau aku tunjukin iPhone 5 ku yang harganya hampir 8 juta dan iPadku yang harganya 6 jutaan itu, mereka akan mengira itu dikasih mbakku yang kerjanya PNS. Atau jual sawah jatah warisan orang tua. Mungkin ya.

Kerjaanku apa, juga mereka gak ngerti. Apalagi gak ada bentuk fisik yang bisa dipamerkan. Semua serba digital, melalui email. Mana tau mereka email? Internet aja yang mereka tahu paling cuma facebook. :doh:

Ditambah, aku cuma naik sepeda ontel, semakin yakinlah mereka kalau aku ini adalah orang yg prihatin dan pantas dikasih beras miskin. Haha.

Duh, pak. Aku gak makan nasi ya, makanan pokokku adalah sari roti lauk spageti. #horangkayah

Kerja jasa gambar vector secara online udah enak begini eh, ternyata masih dibully sama tetangga.

—————–

Aku punya teman curhat. Ada cewek ada cowok. Nah, temenku yang cowok pernah curhat ke aku, anggap saja namanya Wawan. Dia kerja di bank. Kerja kantoran lah. Pagi-pagi harus sudah bangun untuk mandi, macak, berangkat kerja. Pulang jam 4 sore. Dan itu harus dia kerjakan seeetiap hari. Libur cuma sabtu sama minggu. Harus taat sama aturan kantor, juga sama bosnya. Maklum namanya karyawan.

Trus trus, ketika dia aplod foto aktifitasnya di kantor, eh lha kok ada temannya yang sekarang sudah berwirausaha, tiba-tiba nyinyir, komentar di foto itu. “Kapan kamu berwirausaha? Jangan mau jadi karyawan terus. Naik level dong! Jadi pengusaha kayak saya!”

Mak jleb! Sakitnya tuh di siniiiii! *megang dada anaknya bu Susi #eh*

Trus dengan jengkel Wawan membalas, “Aku sudah punya usaha, melihara ikan lele di kolam!”

Padahal itu lele piaraan beneran. Bukan buat usaha gitu. Ya semacam jawaban ngeles gitu.

Wawan sebelum kerja kantoran hidupnya gak teratur. Kadang tidurnya malam, kadang pagi, kadang gak tidur. Dia hobi main game tingkat lupa makan minum mandi. Dengan diterimanya dia kerja kantoran, hidup Wawan jadi teratur. Dia jauuuuh lebih sehat dibanding pas kerjanya main game doang.

Lha iya, udah dapat posisi nyaman kerja di kantor, kok ya masih dibully sama wirausahawan. Duh..

——————

Aku punya teman SD, sebut namanya Dayat. Dia gak kerja online, gak kerja kantoran, tapi dia wirausaha jualan burung. Ada burung perkutut, burung kenari, cucak rowo, burung kutilang.

Dia dari kecil memang suka ngajak aku ke pasar burung, tapi aku gak mau, wong aku sudah punya burung sendiri #eh. Aku akrab sama Dayat karena dia sama-sama hobi menggambar aja. Dan ketika dewasa dia ternyata gak memilih kerja kantoran kayak teman-temannya kebanyakan. Dia memilih jualan burung saja.

Dengan pekerjaannya yang sudah nyaman di hati dan kantong (cukup lah ya), Dayat ternyata gak bisa menghindari cemooh ceramah orang tuanya yang kepingin anaknya ngelamar pekerjaan. Biar bisa dipamerkan ke teman-teman arisan ibunya, teman-teman kantor bapaknya, kalau anaknya kerja di ruangan berase, pakai sepatu pantofel, pakai jas, dasi, dan parfum wangi.

Dayat sudah menjelaskan berrrrkali-kali kalau dia gak betah kerja disuruh-suruh, dia gak betah kerja di ruangan, dia sukanya kerja bebas. Bersama alam. Bersama burung piarannya. Menangkap burung di hutan sudah dia lakoni bertahun-tahun.

Dan dagangan burungnya laris manis di pasaran. Menguasai kota kelahirannya. Kliennya orang-orang berduit. Kapolsek, wakil bupati, kepala kantor dinas pariwisata, ketua DPRD, sudah jadi langganan tetapnya.

Dayat pernah kerja di kantor, dulu. Tapi resign dalam waktu sebulan bekerja. Dia gak betah. Terlalu monoton dan teratur. Dia ingin bebas dan bisa mengembangkan diri semau dia. Tapi tetap saja orang tuanya gak suka dengan pekerjaan Dayat sekarang.

Sebagai wirausahawan yang bebas dan sukses, ternyata Dayat masih dicemooh sama orang tua yang ingin anaknya kerja kantoran.

——————-

Sabtu itu, Iffa mengikuti ujian CPNS. Dia berangkat ke Surabaya naik bis pagi-pagi buta, berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Malamnya, Iffa sudah belajar sekuat tenaga demi lolos tes CPNS. Sehingga, ketika di dalam bis Iffa akhirnya mendapatkan tempat duduk, dia langsung terlelap saking ngantuk dan lelahnya.

Sampai ke terminal Bungurasih, Iffa masih ngantuk. Dia naik bis kota menuju terminal joyoboyo untuk oper naik len. Di dalam len, Iffa tidur lagi. Soalnya masih setengah jam perjalanan lagi.

Iffa terbangun setelah terhuyung karena len ngerim mendadak. Ketika melihat di sekeliling, Iffa menyadari kalau penumpang sudah sepi hanya tersisa dia sama mbah-mbah penjual sayur.

Loh, sudah jam 7! Kok belum sampai ya? Iffa melihat pemandangan di sekitar. Dia merasa aneh. Kok bangunannya berbeda. Seketika itu Iffa langsung sadar kalau dia SALAH NAIK LEN!

Atas saran sopir, Iffa oper len lagi di Joyoboyo. Ujian dimulai jam 8 pagi. Waktunya sangat mepet. Sampe Joyoboyo jam setengah 8. Setengah jam lagi harus sampe tempat tes. Mana belum sarapan. Duh..

Singkat cerita, dengan segala usaha serta doa orang tuanya dari rumah, Iffa akhirnya lolos tes! Dia keterima menjadi PNS. Waaah, syukuran pun diselenggarakan. Suasana lega, senang, syukur, memang harus dibagi sama orang lain ya.

Sebulan kerja sebagai PNS di kantor DPRD, tidak lantas membuat Iffa selalu nyaman di lingkungannya. Omongan-omongan miring tentang PNS yang nyogok ternyata menimpa Iffa juga.

“Eh Bu, selamat ya, dik Iffa akhirnya bisa jadi pegawe. Tahun lalu anakku untung dapat murah. Cuma 80 juta lo, Bu. Denger-denger tahun ini harganya naik jadi 100 juta ya? Kemarin dik Iffa kena berapa?” Kata Bu Robert kepada ibunya Iffa waktu arisan.

“Nyuwun sewu nggih, Bu Rob, Iffa itu lolos tes murni kok. Gak pakai mbayar nopo nopo kok, Bu.”

“Halah Bu Alfiah ini kok malu-malu to. Nggak papa disebut aja angkanya. Biar yang lain bisa nabung buat tahun depan.. ” Bu Robert ternyata gak percaya sama Bu Alfiah.

“Saestu Bu.. Hehehe.. Monggo diminum tehnya Bu, mumpung masih anget. Nanti kalau dingin gak enak lo..” Bu Alfiah mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bu Robert, tahun lalu anaknya dibawa sama siapa? Mas Sopingi itu ya?” Ibu Roni penasaran sama orang dalam yang membawa anaknya Bu Robert bisa lolos PNS.

“Bukan, Mas Sopingi itu mahal, Bu. Aku punya kenalan lain, ini aku punya nomer hapenya..” Ibu Roni dan Ibu-ibu lainnya pun pada mendekat untuk mencatat nomer hape “sang pahlawan” PNS itu..

Ibu Alfiah, ibunya Iffa, merasa sakit hati dibully sama tetangga yang mengira Iffa bayar uang sogokan. Begitupun dengan Iffa, perjuangannya belajar siang malam setiap hari demi lolos tes pun ternyata tidak diakui sama tetangga-tetangganya bahkan sama temannya sendiri sesama PNS.

Lha iya, sudah usaha keras masuk tes PNS, ketika lolos lha kok masih dibully bayar uang sogokan. Duh…

——————-

Bullying is not cool

Gambar diambil dari skeptoid.com

Selain bullying di atas, nih ada contoh pertanyaan nggak enak yg muter aja gak habis-habis. IYA! SEPUTAR NIKAH DAN TETEK BENGEKNYA!! Hahahaha.. :pukul:

bullying Kapan?

Never Ending Questions…

We live in a bullying country.. *sigh*

Postingan ini adalah versi panjangnya twitku di sini dan status facebookku di sini. Di facebook, status ini sudah dapat dua ratusan likes.

Muhammad Ali Mudzofar a.k.a ndop. Punya motto hidup: Think less feel more. Lebih banyak merasa, lebih banyak manfaatnya. Lebih banyak mikir? Cepet tua loh! #eh



70 KOMENTARS YUK KOMEN ↓

Biar avatarmu muncul, daftar di gravatar.com ya

  1. :doa: yang sabar nggeh mas,,,, aku durung sempet nge-save gambare :D

    • Koyoke iso diedit dadi Nganjuk Kota Brambang Jawa Timur. Tapi jarene Probolinggo malah luwih terkenal brambange dibanding Nganjuk. Wis mbuh wis haha

  2. bikin males ya tapi biarkan aja anjing menggonggong kafilah berlalu. abaikan aja kalo ada yang semacam itu mah

    :dance: :dance:

    • Hahaha awakmu emang cuek bocahe Ga. Dadi iso mengabaikan. Nek aku biasane malah ngelawan haha ra trimo haha

  3. Tahta Laksana #

    whoho.. ada benarnya juga mas. Itulah manusia yang terus saja mencari kesalahan orang lain, namun kesalahan diri sendiri tidak bisa mengoreksi. :pukul:

    Logone tak hapus wes seng ndek cover fbku. Mending mbalek ndek kota Angin ae wes mas :lol:

    • Aseeek.. NganjukKotaBayu alias
      Nganjuk kota angin

    • Iyo dodolan angin ae yaaaa

  4. oalah mas mas wong aku sing nganggur ae tetep di bully opo meneh sing kerjo, kerjoku gur esuk momong anak, awan nonton tv sore bal balan karo cah cilik cilik gek aku sarjana, duh dek bully abis

    • Hiahaha.. Coba kui diganti desainmbayar.com ben gak dikiro nganggur haha.. Halah sampean iki merendah haha

  5. Pamuji #

    “Saestu Bu.. Hehehe.. Monggo diminum tehnya Bu, mumpung masih anget. Nanti kalau dingin gak enak lo..” Bu Alfiah mencoba mengalihkan pembicaraan.

    Boso opo kui aku gak paham hahaha :pukul:

    Tapi bener mas negeri kita ini bullying banget, baik dibully jelek dibully terus aku kudu piye…??? :glundung:

    • Turu ae enak.. Hahaha saestu = sungguh

  6. Hahahaha bener juga ya masndop, orang selalu punya alasan buat cari kesalahan orang lain -_-
    yang nyaman untuk kita malah jadi serba salah aja di hadapan orang lain -_-

  7. Hiduuup Republik Bully…#eh. Sawang sinawang ya kang, Kalo bully yang positif (baca: kritik yg membangun) sih gak apa-apa, tapi kalo sudah menjurus pelecehan atau menjatuhkan harkat dan martabat, kayaknya cuma ada 2 pilihan: Abaikan atau Lawan…hahaa.

    • Kalau aku memilih lawan aja sih. Untuk membuktikan kalau posisi kita kuat. Tidak selemah yang mereka kira haha

  8. jadi inget beberapa bulan lalu mutusin kerja kantoran lagi gara-gara dibilang ibuku kaya orang pengangguran kerja di rumah :(. Padahal gaji freelance nya lebih gede dari kerja full time nya.

  9. :rock: :rock: :rock:

    dan kenyataannya memang kita tinggal di negara penuh bully. Gak bisa melihat orang lain bahagia dan menjurus ke sirik :)

    aku juga pernah dibully karena gak kerja.. setelah kerja dibully lagi karena bukan pegawai negeri.. hahaha

  10. beneran baru tahu Brebes kota brambang? kirain Brebes udah terkenal gitu sebagai kota brambang :D

    kaya temen saya yang bete karna ditanya waktu daftar PNS nyogok berapa. buat makan aja susah, mana sanggup nyogok.

  11. Apapun pekerjaanmu, kamu akan tetap dibully :glundung:

  12. keren dan menarik banget artikelnya mas, saya share di fb ya :D

    • MOnggo, kalau ngeshare gak usah izin mas. Sharing is caring haha..

  13. saya sih pernah jadi korban bully karena kasih sufor ke Athar.. grrr.. Tapi yasudahlah, nasi sudah jadi bubur, bubur dibikin enak saja.

    Fenomena bully akhir-akhir ini menguar pekat di socmed dan malesinn.. Hal yang gak penting dibully. Padahal, kalau mereka tau yang bullyable hanyalah anak alay dan jomblo. Itu saja gak usah dilebarin. *halaaaah* *dilempar iphone sama mas Ndop* hihihi *piss*

    • hahaha –> bubur dibikin enak aja! <--- Keren! Huahahaha... jomblo ngenes yg pantes dibully, kalau jomnblo bahagia itu gak pantes ya dibully haha

  14. Kalau di keluarga besarku, dulu untungnya, sekarang udah berubah :malaikat:

    Yang namanya kerja itu jd PNS. Selain PNS, termasuk kerja di perusahaan swasta/wirausaha akan dianggap kerjaan kelas 2.

    Dl pernah dengar komentar ‘seseorang’, “Alah, penggaweane cumak dodolan klambie ae dst dst”, padahal keuntungan bisa lebih dr gaji pns.

    • tambah lagi ah komennya…

      Pernah denger kuot keren, semoga bener nulisnya, cara terbaik membalas bully/hinaan adalah melalui kesuksesan.

      Artikel koran sing sampeyan masuk koran biyen, di fotokopi perbesar ae mas, trus dipigura, trus dipasang neng tembok ngarep omah sampeyan :hihi:

      • Wis tak pigura kok hahaha… Cuman lagek siji sing tak pigura. Padahal aku menang platinum blog award barang. Koyoke kudu dipigura hahaha.. Trus mlebu majalah banten muda, koran surya, wuih akeh ya hahaha…

  15. lha lambene wong2 kui pancen lower kabeh. neng ndesoku ki yo ngono kui. tonggoku eneng sing takon bapakku, aku neng suroboyo kerjo opo, dijawab wiraswasta, malah dingenekne: “jaman sak niki wiraswasta nopo saget diandalne pak? mbok dados pegawe mawon kados wawan niku lho, pegawe telekomunikasi gajine kalih doso ewu (20 juta)”

    dijawab maneh karo bapakku: “lha mbuh yo kui pilihane dewe, wong tuo ki tugase kur ndongakne anake ben seger waras lan sukses, lha nyatane kae wes tuku lemah telung nggon regane siji nyatusan luwih, tuku omah setengah milyar luwih, tuku mobil anyar, bendino mangan enak lha nyatane awake lemu, moso nek ora sampek rong puluh ewu sesasi? aku yo ora ruh wong ora takon, pokoke bocahe seneng tak njiarne wae”

    #PodoSombonge #Kalem #KemudianHening

    cerita lain: mbiyen enek wong tuane pacarku sing mbiyen menolak lamaranku mergo pengen oleh mantu PNS! (alhamdulillah akhire yo berhasil oleh mantu PNS, ning sampek saiki uripe yo sek numpang neng wong tuane iku mau)

    sing mbuli durung karuan luwih nggenah

    • Hahahaha… sing mak jleb kuwi: “Sekolah duwur2 sampe sarjana S2 kok trimo kerjo ndik omah?” Hahahahaha…

  16. never ending cemoohan dan never ending bullying..

  17. Never ending bullying. Selalu ada bahan untuk bully :D

  18. Hahahaha. . . dari dulu yang namanya manusia juga begitu mas. . . apalagi emak-emak tuh waduh mulutnya bener-bener tajem-tajem di telinga :rolleyes: Nah kalau ane pribadi nih sedang di omongin ma emak-emak cuek aja dah kalau omongannya keterlaluan banget tabok aja ma duit… kwkwkwkwk . . . asli ceritanya bagus dan bikin ane ngakak dan tambah ga bisa tidur mas :sip:

    • Huahahaha.. Realita masyarakat di sekitar itu memang lucu2 yaa..

  19. Lain ladang lain belalang, di sini nggak ada deh

    • Iya, open minded soalnya. Pantesan semakin maju negaranya. Kalau negara sini mah, makin mundur haha..

  20. Bener banget mas bro, bullies everywhere :D

    + Masuk Seni Murni “Mau jadi apa nanti?”
    + Pindah ke Desain Interior “Knp ga masuk Arsitektur aja?”
    + Ga betah kerja di bidang interior/aristektur, banting setir jadi illustrator sama guru gambar “Wah sayang banget ilmunya”

    Jadi freelancer kayak kita gini karena ga ngantor yah jadi dianggap pendapatannya kecil ;p

    Pas lagi makan siang difoodcourt suatu mall sehabis fitness *ciee ,pernah disamperin agen asuransi,
    AA: Pak sampai kapan mau bekerja?
    Saya: Yah sampai saya tidak mampu lagi bekerja dan berkarya
    AA: Kalau begitu kapan bapak mau menikmati hidup?
    Saya: Lah, skrg saya kan lagi menikmati hidup :D

    Udah ah berasa mosting di blog sendiri.

    • HUahahahahha… Teman2ku juga gitu. Suka nanya, “Sampe kapan begini terus?” ENtah itu pertanyaan maksudnya apa ya. Dikiranya manusia harus berubah2, harus cepat bosan, harus berubah pekerjaan. Padahal kalau sudah nyaman, ya kenapa harus mencoba pekerjaan lain? Hahaha..

  21. Paling sebel sama orang yang susah untuk menghargai, ya.
    Yaudah jangan sedih lagi, Mas. Brambange ganti Jeruk baen. Sing wingi nembe ditandur nang Tulungagung. :)

    Btw, selamat untuk teman2mu yg hebat2 itu, Mas.

    • Eh itu namanya cuma samaran hahahaha… Tapi emang ada beneran yg jualan burung.. Nganjuk biarlah menjadi kota yg sepi saja. Ntar kalau rame malah gak ngangenin. Haha

  22. Ya udah sih kalaupun kita di bully gak usah dihiraukan aja lah, biarin aja dia nge bully kita sih jalan terus aja, gitu aja kok repot ya?? :dance:

    • Betoooool.. bully tanda iri..

  23. hahaha begitulah masyarakat, aku sing senengane mlaku mlaku ae dibuli trus-trusan, sak senengku, duwet duwetku haha

    • Huahahha nek mlaku mlaku dibully piye Lid? Ngguwak2 duik? Haha

  24. Haryo #

    Dadi le arep nikah kapan iki mas ndop? Ojolali aku diundang yoooo

    • Sampean kapan nambah anak lagi mas?

  25. bully udah jadi sarapan saya sehari-hari kayaknya deh mas, sejak kecil :hug: hampir kebal, dan gak peduli lagi apa kata orang. capek. padahal siapalah mereka, sodara bukan (kalau bukan sodara), tetangga bukan, ngasih duit gak pernah hahaha.

    kalo kata igor saykoji: “Apa pun yang orang bilang, bukan itu yang menentukan. Justru apa yang kita bilang tentang diri kita sendiri, itu yang bisa bikin kita mengeluarkan yang terbaik. Sebab bisa jadi, apa yang kita capai, jauh lebih baik dari yang mereka katakan soal kita.”

  26. Bali #

    Iya apa apa dikomen ya mas.. BTW aku juga punya pengalaman mirip sama salah satu cerita diatas, kerja di rumah di kira pengangguran, diceramahin ama sodara-sodara di suruh cari kerja lah, bantu ortu lah..

    Walhasil karena gak kuat denger ocehan itu akhirnya aku kabur ke kota lain yang jauh dari sodara :kabur: :doh:

    • Huahahha aku sebenarnya pingin banget kabur ke semarang supaya dikira kerja di luar kota. Tapi ibukku melarang. Yowis bertahan saja dengan bullyan2. Tapi akhir2 ini udah gak dibully lagi kok.

  27. Blogger Inspiratif #

    Ya seperti itulah orang2 dinegara tercinta kita ini #miris

  28. hahaha benar benar pertanyaan yang Never Ending banget, capek malah jawabnya. jalananin aja apa adanya, bersyukur terus. ;)

    • hahaha dijawab dengan diam saja deh. Biar mereka lelah sendiri nanya-nanya. Atau balik tanya, “Kamu kapan berhenti nanya?” hahaha

  29. salam kenal aja gan semoga bermanfaat :mad: :lol: :kiss: :oops:

  30. Bla bla bla bla….
    ujung-ujungnya??? Kapan mati :glundung:

  31. kalo kata bang igor saykoji: “Apa pun yang orang bilang, bukan itu yang menentukan. Justru apa yang kita bilang tentang diri kita sendiri, itu yang bisa bikin kita mengeluarkan yang terbaik.

    • Betul banget. Kita adalah apa yg kita pikirkan. Jadi mending mikir yg baik2 aja. Pikiran orang lain anggap aja iklan. Hahaha

  32. waah… tinggal di negara penuh bully memang gaasik pengen pergi aja deh rasanya :D

  33. hmm bully memang masih membudaya sampai sekarang bro

  34. paling kesel kalau ngalamin sendiri di bully tanpa ada yang dukung..serasa hidup sendiri..wkwkwk

  35. salam kenal admin..semoga sukses selalu ngeblognya ya..

  36. iya betul banget, jadi korban pembulian itu dampaknya terasa sampek besar karena aku pernah ngalamin sendiri.. heheh

    • aku juga korban bullyan sih. Waktu kecil sering dibully, karena wajahku cantik hahahaha.

  37. Kapan kawin lek?hehehe….
    Blg sj kapan2….
    Semoga dimudahkan urusannya….
    Nek aku wes biasa di bully. Masio loro tapi gak ngurus asal duduk akidah lan agamaku sing di bully.

    • sampean pancen ngeten :sip:

  38. Hidup emang keras dan kenyataanya emang kaya gitu.. dikit-dikit dibully… salah apa coba

    • Iya nih. Semacam kewajaran ya. Duh kak.

  39. hahaha benar benar pertanyaan yang Never Ending banget, capek malah jawabnya. jalananin aja apa adanya, bersyukur terus :tepuk:

    • Iyes. Bersyukur adalah jawaban yg asyik! Ditanya apapun dijawab “alhamdulillaah” haha

  40. wew… tinggal di negara penuh bully memang gaasik pengen pergi aja deh rasanya :D



Komen dong!