We Live In a Bullying Country

Tadi iseng bikin logo untuk Nganjuk, karena logo Jogja yang katanya mirip tulisan Togua itu menuai banyak kritik. Nah, naitku sih pingin unjuk gigi kalau aku bisa bikin logo lebih bagus dibanding logo Togua yang konon menghabiskan satu koma dua milyat itu!

Logo sudah jadi, eh ternyata kena bully. Aku sih, gak brosing dulu kalau ada kota brambang bernama Brebes. Walhasil ketika Nganjuk aku juluki kota brambang, ada orang asli Brebes yang protes gak terima sedikitpun kalau ada kota lain mengaku sebagai kota brambang.

Oke bero, sori, woles bero. Aku yang salah. Jangan khawatir, logonya sudah aku delet kok. Sudah hilang sekarang.

Duh, nyesek deh rasanya. Satu jam ngarang logo ternyata berakhir dibully dan sia-sia.. (nyanyi lagunya Sia) :cry:

Maklum, diriku hari ini khan libur kerja. Minggu gitu loh. Masa ya masuk kerja. Gila apa hidup dibuat kerja. Harusnya khan dibalik, kerja untuk hidup. Dengan kata lain kalau sudah bisa hidup, ya gak usah kerja. #eh

Tetanggaku rata-rata sampe sekarang masih menganggap aku pengangguran. Atau kalau menganggap aku kerja di rumah, mereka gak akan berfikir sejauh ‘kerja online bisa menghidupi seorang Muhammad Ali Mudzofar’. Paling ya dikira kerjaku serabutan kadang dapat duit, kadang enggak.

Mungkin kalau aku tunjukin iPhone 5 ku yang harganya hampir 8 juta dan iPadku yang harganya 6 jutaan itu, mereka akan mengira itu dikasih mbakku yang kerjanya PNS. Atau jual sawah jatah warisan orang tua. Mungkin ya.

Kerjaanku apa, juga mereka gak ngerti. Apalagi gak ada bentuk fisik yang bisa dipamerkan. Semua serba digital, melalui email. Mana tau mereka email? Internet aja yang mereka tahu paling cuma facebook. :doh:

Ditambah, aku cuma naik sepeda ontel, semakin yakinlah mereka kalau aku ini adalah orang yg prihatin dan pantas dikasih beras miskin. Haha.

Duh, pak. Aku gak makan nasi ya, makanan pokokku adalah sari roti lauk spageti. #horangkayah

Kerja jasa gambar vector secara online udah enak begini eh, ternyata masih dibully sama tetangga.

—————–

Aku punya teman curhat. Ada cewek ada cowok. Nah, temenku yang cowok pernah curhat ke aku, anggap saja namanya Wawan. Dia kerja di bank. Kerja kantoran lah. Pagi-pagi harus sudah bangun untuk mandi, macak, berangkat kerja. Pulang jam 4 sore. Dan itu harus dia kerjakan seeetiap hari. Libur cuma sabtu sama minggu. Harus taat sama aturan kantor, juga sama bosnya. Maklum namanya karyawan.

Trus trus, ketika dia aplod foto aktifitasnya di kantor, eh lha kok ada temannya yang sekarang sudah berwirausaha, tiba-tiba nyinyir, komentar di foto itu. “Kapan kamu berwirausaha? Jangan mau jadi karyawan terus. Naik level dong! Jadi pengusaha kayak saya!”

Mak jleb! Sakitnya tuh di siniiiii! *megang dada anaknya bu Susi #eh*

Trus dengan jengkel Wawan membalas, “Aku sudah punya usaha, melihara ikan lele di kolam!”

Padahal itu lele piaraan beneran. Bukan buat usaha gitu. Ya semacam jawaban ngeles gitu.

Wawan sebelum kerja kantoran hidupnya gak teratur. Kadang tidurnya malam, kadang pagi, kadang gak tidur. Dia hobi main game tingkat lupa makan minum mandi. Dengan diterimanya dia kerja kantoran, hidup Wawan jadi teratur. Dia jauuuuh lebih sehat dibanding pas kerjanya main game doang.

Lha iya, udah dapat posisi nyaman kerja di kantor, kok ya masih dibully sama wirausahawan. Duh..

——————

Aku punya teman SD, sebut namanya Dayat. Dia gak kerja online, gak kerja kantoran, tapi dia wirausaha jualan burung. Ada burung perkutut, burung kenari, cucak rowo, burung kutilang.

Dia dari kecil memang suka ngajak aku ke pasar burung, tapi aku gak mau, wong aku sudah punya burung sendiri #eh. Aku akrab sama Dayat karena dia sama-sama hobi menggambar aja. Dan ketika dewasa dia ternyata gak memilih kerja kantoran kayak teman-temannya kebanyakan. Dia memilih jualan burung saja.

Dengan pekerjaannya yang sudah nyaman di hati dan kantong (cukup lah ya), Dayat ternyata gak bisa menghindari cemooh ceramah orang tuanya yang kepingin anaknya ngelamar pekerjaan. Biar bisa dipamerkan ke teman-teman arisan ibunya, teman-teman kantor bapaknya, kalau anaknya kerja di ruangan berase, pakai sepatu pantofel, pakai jas, dasi, dan parfum wangi.

Dayat sudah menjelaskan berrrrkali-kali kalau dia gak betah kerja disuruh-suruh, dia gak betah kerja di ruangan, dia sukanya kerja bebas. Bersama alam. Bersama burung piarannya. Menangkap burung di hutan sudah dia lakoni bertahun-tahun.

Dan dagangan burungnya laris manis di pasaran. Menguasai kota kelahirannya. Kliennya orang-orang berduit. Kapolsek, wakil bupati, kepala kantor dinas pariwisata, ketua DPRD, sudah jadi langganan tetapnya.

Dayat pernah kerja di kantor, dulu. Tapi resign dalam waktu sebulan bekerja. Dia gak betah. Terlalu monoton dan teratur. Dia ingin bebas dan bisa mengembangkan diri semau dia. Tapi tetap saja orang tuanya gak suka dengan pekerjaan Dayat sekarang.

Sebagai wirausahawan yang bebas dan sukses, ternyata Dayat masih dicemooh sama orang tua yang ingin anaknya kerja kantoran.

——————-

Sabtu itu, Iffa mengikuti ujian CPNS. Dia berangkat ke Surabaya naik bis pagi-pagi buta, berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Malamnya, Iffa sudah belajar sekuat tenaga demi lolos tes CPNS. Sehingga, ketika di dalam bis Iffa akhirnya mendapatkan tempat duduk, dia langsung terlelap saking ngantuk dan lelahnya.

Sampai ke terminal Bungurasih, Iffa masih ngantuk. Dia naik bis kota menuju terminal joyoboyo untuk oper naik len. Di dalam len, Iffa tidur lagi. Soalnya masih setengah jam perjalanan lagi.

Iffa terbangun setelah terhuyung karena len ngerim mendadak. Ketika melihat di sekeliling, Iffa menyadari kalau penumpang sudah sepi hanya tersisa dia sama mbah-mbah penjual sayur.

Loh, sudah jam 7! Kok belum sampai ya? Iffa melihat pemandangan di sekitar. Dia merasa aneh. Kok bangunannya berbeda. Seketika itu Iffa langsung sadar kalau dia SALAH NAIK LEN!

Atas saran sopir, Iffa oper len lagi di Joyoboyo. Ujian dimulai jam 8 pagi. Waktunya sangat mepet. Sampe Joyoboyo jam setengah 8. Setengah jam lagi harus sampe tempat tes. Mana belum sarapan. Duh..

Singkat cerita, dengan segala usaha serta doa orang tuanya dari rumah, Iffa akhirnya lolos tes! Dia keterima menjadi PNS. Waaah, syukuran pun diselenggarakan. Suasana lega, senang, syukur, memang harus dibagi sama orang lain ya.

Sebulan kerja sebagai PNS di kantor DPRD, tidak lantas membuat Iffa selalu nyaman di lingkungannya. Omongan-omongan miring tentang PNS yang nyogok ternyata menimpa Iffa juga.

“Eh Bu, selamat ya, dik Iffa akhirnya bisa jadi pegawe. Tahun lalu anakku untung dapat murah. Cuma 80 juta lo, Bu. Denger-denger tahun ini harganya naik jadi 100 juta ya? Kemarin dik Iffa kena berapa?” Kata Bu Robert kepada ibunya Iffa waktu arisan.

“Nyuwun sewu nggih, Bu Rob, Iffa itu lolos tes murni kok. Gak pakai mbayar nopo nopo kok, Bu.”

“Halah Bu Alfiah ini kok malu-malu to. Nggak papa disebut aja angkanya. Biar yang lain bisa nabung buat tahun depan.. ” Bu Robert ternyata gak percaya sama Bu Alfiah.

“Saestu Bu.. Hehehe.. Monggo diminum tehnya Bu, mumpung masih anget. Nanti kalau dingin gak enak lo..” Bu Alfiah mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Bu Robert, tahun lalu anaknya dibawa sama siapa? Mas Sopingi itu ya?” Ibu Roni penasaran sama orang dalam yang membawa anaknya Bu Robert bisa lolos PNS.

“Bukan, Mas Sopingi itu mahal, Bu. Aku punya kenalan lain, ini aku punya nomer hapenya..” Ibu Roni dan Ibu-ibu lainnya pun pada mendekat untuk mencatat nomer hape “sang pahlawan” PNS itu..

Ibu Alfiah, ibunya Iffa, merasa sakit hati dibully sama tetangga yang mengira Iffa bayar uang sogokan. Begitupun dengan Iffa, perjuangannya belajar siang malam setiap hari demi lolos tes pun ternyata tidak diakui sama tetangga-tetangganya bahkan sama temannya sendiri sesama PNS.

Lha iya, sudah usaha keras masuk tes PNS, ketika lolos lha kok masih dibully bayar uang sogokan. Duh…

——————-

Bullying is not cool

Gambar diambil dari skeptoid.com

Selain bullying di atas, nih ada contoh pertanyaan nggak enak yg muter aja gak habis-habis. IYA! SEPUTAR NIKAH DAN TETEK BENGEKNYA!! Hahahaha.. :pukul:

bullying Kapan?

Never Ending Questions…

We live in a bullying country.. *sigh*

Postingan ini adalah versi panjangnya twitku di sini dan status facebookku di sini. Di facebook, status ini sudah dapat dua ratusan likes.

70 Comments

Komen dong!