Nonton Muchas Gracias Tulungagung: Standup Comedy by Gautama Shindu

Akutu lama banget gak naik bis Kawan Kita. Karena kalau nonton film aku selalu ke CGV Madiun karena bis Nganjuk-Madiun (kayak Sumber Kencono a.k.a Sugeng Rahayu, Mira) itu 24 jam. Jadi bisa berangkat dan pulang kapan aja. Sementara bis Kawan Kita itu dari Nganjuk maksimal (menurut pengalaman saya) jam 5 sore. Kalau pulang ke Nganjuk maksimal jam 6 sore. That’s why, aku ke Madiun terus karena kalau ke Kediri cuma nonton film trus pulang, kok rugi. Hahah

Muchas Gracias

Akhirnya, 14 Oktober 2023 aku ke Kediri naik bis lejen itu untuk menghadiri Standup Comedy Special-nya Gautama Shindu (@gautamashindu) berjudul Muchas Gracias di Tulungagung.

Naik Bis Kawan Kita

Bis Kawan Kita

Seperti kalian liat di atas. Begitulah keadaan bis Our Friend (Kawan Kita) tujuan Nganjuk-Kediri. Sering banget ada kecoa di cepitan body bus. Dan pernah nggremet di badanku. Keknya bus Kawan Kita gak cuma diperuntukkan untuk menungso, tapi kecoak juga. Namanya aja Kawan Kita. Kecoa kan kawan manusia. Tinggal bersama manusia di rumah. Hihihih. Jadi kecoak berhak banget naik moda transportasi yang sangat istimewa ini! Hahaha.

Aku turun jembatan baru (Semampir) Kediri trus oper bis patas Harapan Jaya menuju ke Tulungagung. Asal klen tahu, karcis bus Nganjuk-Kediri itu 10 ribu. Dengan keadaan bis kayak di atas itu. Dan karcis bus PATAS Kediri-Tulungagung itu juga 10 ribu. Tapi bisnya bagus berase! Sungguh tidak bisa dilogika rait? Hahah

Sebelum saya banyak bacot, kalian tonton velog saia di bawah ini ya:

Acaranya diadakan di Jepun Resto View. Jadi deket duk-dukan bis. Tinggal turun Jepun trus jalan kaki utuk-utuk-utuk ke timur, nyampe ke venue.

Aku nyampe Tulungagung udah magrib. Langsung auto nyari musholla via gugel mep untuk menunaikan centak-centuk telong rokangat. Untungnya nemu yang jaraknya gak ada 300 meter. Jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Musholla dekat Jepun

Setelah mampir ngademin ati, aku jalan kaki ke Japan eh Jepun View Resto. Jalan kaki magrib-magrib itu nikmat sekali karena hawanya sejuk. Cuman karena di negara kita ini orang gak terbiasa jalan kaki, jadi aku merasa kesepian. Huhuhue. :cry:

Sambil mengomentari setiap apa yang aku liat, tanpa terasa aku udah nyampe ke venue aja.

Jepun View Resto

Di tempat penukaran tiket, suasanya lumayan sepi ya. Sampe aku bertanya-tanya, ini acaranya jadi gak ya? Hahaha. Ternyata jadi kok. Cuman emang warga kabupaten kan selo-selow ya. Jam karet itu sudah menjadi budaya yang WAJIB dihormati. Jadi kalau ada jadwal acara jam 7 malam, trus acara bener-bener dimulai jam 7 malam, itu malah mencoreng budaya yang sudah tumbuh subur dan disepakati oleh masyarakat.

Penukaran Tiket Muchas Gracias

Karena aku asing banget di mata mereka (of kors karena aku dari Nganjuk. Penonton Muchas Gracias Tulungagung itu sewajarnya ya, warga Tulungagung. Kalau ada warga kabupaten lain, itu semacam menyalahi kodrat. Asing. Harus dicurigai), maka mereka minta tolong aku untuk in frame di kamera.

Iyak! Aku dijadikan model penukaran tiket Muchas Gracias! :cool:

Enggak! Aku dijadikan barang bukti kalau-kalau aku berbuat kejahatan. Hihihi. :lol:

Untuk acara stendap dengan tiket cuma seharga 65 ribu, mendapatkan tiket berupa gelang seperti ini menurutku patut di apresiasi. Soalnya biasanya kalau harga tiket murah itu, tiket fisiknya berupa stiker. Kecil. Hihihi.

Tiket Gelang Muchas Gracias

Aku janjian nonton bareng Bangkit (@bangkitku). Cuman karena rumah kita beda jauh, jadi kami ketemuan di venue. Bangkit berangkat dari Surabaya setelah pulang kantor. Jadi dia agak datang terlambat. Serpraisingli, Bangkit ternyata ngajak Nur (@katamshi), temen mbolangnya. Dan anehnya, Nur pun budal dewe juga. Jadi kami bertiga ketemu di venue. Hahaha.

Aku langsung masuk ke ballroom dan ternyata penonton yang datang masih sak uwitik. Ini jadi gak sih, acaranya? HAHAH

Bangku kosong Muchas Gracias

Dengan tiket semurah itu, kami udah dapat minum sama snek. Loh, ini acara stendap beneran kan? Jangan-jangan aku salah masuk? :???:

Snack Muchas Gracias

Iya bener, ini acara stendap kok! Lihat itu panggung sudah diset dengan design pop retro. Eh, ini beneran 65 ribu kan, harga tiketnya? Bukan 165 ribu? Jangan-jangan typo?

Panggungnya Muchas Gracias bagus

Jam 19.33, emsi Alvi (@alvibounce) dan Aditya (@yagetama) membuka acara. Dan aku langsung suka sama duo emsi ini. Mereka tuh pinter memilih kata-kata lucu yg tidak menyakiti hati. Jadi kalau au rosting penonton, mereka akan muji dulu. Lalu dirosting. Atau sebaliknya, dirosting dulu, baru dipuji. Jadi imbang. Penonton gak sakit hati. :evil:

Alvi Bounce dan Aditya Yagetama

Hal ini susah loh! Emsi-emsi stendap lainnya yang aku analisa, rata-rata rosting doang tapi lupa gak muji. Itu masuknya jadi ke bullying. Bukan lucu, tapi nyakitin hati.

Dari caranya ngemsinya, duo Alvi dan Aditya ini karir ngemsinya bakalan panjang sih! :tepuk:

Opener Lokal Pertama: Mas Bogang

Bowgang__

Tepat jam 8 malam, Mas Bogang alias Dwi Qurniawan (@bowgang__) tampil. Dia membawakan materi tentang infrastruktur tempat tinggalnya. Trus ngebahas morotuone sing wis meninggal. Materinya sedih tapi lucu. Penonton kayak diaduk-aduk perasaannya. Antara pingin ketawa, tapi kok sedih. Atau pengen sedih, tapi kok lucu. Hahahiks :cry: :lol:

Opener lokal kedua: Inayah

Inayah

Inayah (nuri_nayah02) adalah gadis pesantren. Dia ngebahas dunia pesantren yang identik dengan gudik alias gatal-gatal. Sayakin mbak Inayah ini karir stendapnya bakalan bagus ke depannya. Soalnya materinya ditulis dengan rapih, solid, dan berani. Pembawaannya juga santai effortless tanpa beban. Trus yang paling penting: LUCU POL!

Opener ketiga: Ardi Ar-Rahman

Ardi Ar-Rahman

Komika yang satu ini dibawa dari Jepara langsung. Mas Ardi (@ardi_ar_rahman) membahas bapaknya yg budeg sama adiknya yg berkebutuhan khusus. Walaupun sempet ngeblank tapi untungnya dia bisa menutupi ketidaksempurnaan itu di akhir-akhir dan lucu!

Headliner: Gautama Shindu

Gautama Shindu

Mas Tama alias Gautama Shindu (@gautamashindu) tampil jam 20.34. Kesan pertama sih aku kayak, ayo mas rileks.. rileks. Mas Tama agak tegang soalnya. Untungnya semakin ke belakang dia semakin rileks dan materi dibawakanya semakin mengalir dan enak.

Gautama Shindu membahas kehidupannya setelah pindah di Jakarta yang cuma bertiga sama anak istrinya. Ngebahas kelakuan istri dan anaknya. Membahas pembalut vs telur. Aduh ini materi cerdas dan lucu! Haha

Karena Gautama dari Jepara, tentu saja dia ngebahas profesi warga jepara sebagai tukang kayu. Membahas IKEA vs Brand Mebel Jepara yg akan menguasai pasar dunia. Bahkan penonton dikasih oleh-oleh on stage. Sebuah gimik yg patut diapresiasi.

Oleh-oleh on stage Muchas Gracias

Dan materi yg paling pecah, membahas suvenir bali.

Acara selesai jam 21.55 dan dilanjutkan foto-foto.

Foto bersama Openers dan emsi

Bersama openers
Bersama emsi dan openers.
Dari kiri ke kanan:
Alvi, Bowgang, Inayah, Orang Gila, Ardi, Aditya

Bersama Gautama Shindu
Bersama Gautama Shindu yang ganteng

Bersama Bangkit, Katamshi, dan Gautama Shindu
Bersama Katamshi, Gautama Shindu, dan Bangkit.

bersama Gautama Shindu
Yang ini saya edit buat instagram dan cover postingan ini

Desain panggung yg ngepop dan kekinian, lighting yg okay, acara yg rapih, menunjukkan kalau mas Tama kerja keras banget untuk ngadain show Muchas Gracias ini. Dan kalau untuk cari untung, keknya show ini pek puk saja. Kalau gak pakek sponsor, mungkin malah rugi ya, mas.

Sebagai bentuk apresiasi penuh, saya beli merchandise-nya. Karena design kaose apik. Gantungan kuncine yo apik!

Kaos Muchas Gracias

Gantungan Kunci Muchas Gracias

Thank you, mas Tama dan kawan-kawan opener atas malam minggu yang lucu dan menyenangkan. Ditunggu nekst special syonya! Kalo bisa sih, next special show, isinya tebak-tebakan selama sejam! Hahaha :ampun:

Bye bye! :kabur:

Komen yuk kak!