Iman Jek Liburan ke Candi Lor dan Air Terjun Sedudo

Sabtu kemarin, ada ndofans™ yang menginap di rumahku. Namanya Sudirman. Panggilannya Iman Jek. Anaknya gendut, lucu, kayak panda gitu deh chubby-chubby. Namun dibalik kelucuannya, Sudirman bisa melihat makhluk halus loh. Serem ya!

IYA!

Ini adalah kunjungannya kedua. Kunjungan pertama dulu, dia cerita kalau di kamar sholatku ada jin orang tua warnanya putih semua. Hih serem. Aku jadi membayangkan kalau ada tokoh heri poter bernama Dambeldor di kamar sholatku, yang mengawasi kalau kita sedang sholat.

Ih serem.

Tapi lama-lama aku sudah terbiasa. Soalnya ini jin baik, warnanya putih. Jadi ya nggak nganggu gitu. Semoga.

Malam itu, suasana kamar panas buanget. Membuatku membuka jendela kamar. Biasanya gak panas gini. Apalagi sorenya si Iman Jek bilang kalau kamarku dingin. Hmm. Mungkin saat itu ada jin jahat masuk rumah kali ya. Makanya panas banget.

Besoknya, minggu pagi, aku ajak Iman Jek sepedahan. Bukan, bukan sepeda motor ya, tapi sepeda ontel. Kebetulan aku punya dua sepeda di rumah. Sepeda gunung dan sepeda ada keranjangnya. Mereknya sama-sama United.

Iman Jek pakai sepeda ada keranjangnya, aku pakai sepeda gunung. Iman Jek aku ajak sepedahan ke Candi Lor. Pas nyampe sana, Iman Jek yang nggak biasa sepedahan itu ngos-ngosan gak karuan. Padahal aku belum apa-apa. Haha.

Iman jek Sepedahan

Perjalanan masih jauh,
kok kayaknya udah ngos-ngosan ya, Jek? :hihi:

Sesampainya di Candi Lor. Iman Jek nggak banyak bicara. Bahkan cenderung diam. Mungkin dia kelelahan. Atau dia melihat makhluk halus? Sehingga tubuhnya melemah? I didn’t know.

Iman Jek di Candi Lor

Iman Jek banyak diemnya di sini.. Hmm.. Ngelihat apa sih Jek?
:takut:

Lalu aku suruh Iman Jek jadi fotografer. Aku arahkan begini-begitu. Dan aku harus sabar karena Iman Jek sering belum berhasil menjepret yg kuinginkan. Dan akhirnya setelah beberapa percobaan yang membuatku harus bolak-balik dari sini ke tengah sawah, Iman Jek berhasil memotretku seperti yang aku harapkan.

Sawah dan Ndop

Kutunggu kamu di ladang hijau beratap langit biru
berselimut udara bening bernafaskan cinta suci menggelora kalbu..
*petir menggelegar*

Pulang ke rumah aku tukeran sepeda dengan Iman Jek. Biar dia bisa merasakan nikmatnya menaiki Nduk Minah, sepeda gunungku.

Sampai rumah langsung sarapan trus mandi. Kami akan berkunjung ke air terjun Sedudo!

Mumpung Iman Jek bawa motor dari Kediri, makanya aku ajak ke air terjun Sedudo sekalian. Jaraknya 30 kilometer dari rumahku.

Perjalanan lancar sekali. Sampai suatu saat aku harus turun soalnya motor Supranya Iman Jek gak kuat naik. Aku ngos-ngosan banget karena harus jalan kaki naik gunung. Haha.

Di tempat saat gak kuat naik itu, banyak mas-mas ojek menawarkan naik ojek. Beuuuh, pinternya ini mas-masnya cari duit. Ada peluang, pasang lapak! Hahaha..

Tapi aku memilih untuk jalan kaki saja, walaupun mas-mas ojek yang nggak ganteng itu menawariku naik, aku beralasan olah raga. Padahal ngos-ngosan. Haha. mungkin ceritanya beda lagi kalau mas-masnya ganteng dan typeku.

Dan Iman Jek sudah sampe atas aja. Aku malah foto-foto dulu sambil istirahat.

Pemandangan gunung

Ngos-ngosannya sembuh gara-gara lihat pemandangan ini..
:shock:

Pemandangan di gunung wilis

Indah ya pemandangannya..
Padahal kalau dilihat mata langsung, jauuh lebih indah.
Makanya kamu liburan ke sini.. :ayoh:

Ini sudah jam 11 siang, tapi suasana di gunung ini berkabut dan dingin kayak masih jam 5 pagi.

Setelah jalan agak normal tanjakannya, aku kembali naik motor lagi sampe air terjun Sedudo. Suasananya berkabut, air terjunnya gak kelihatan!

Kabut di Sedudo

Air Terjun Sedudo tertutup kabut, tapi tetep keren!

Pepohonan dan Sedudo

Lihat ini suasananya. Ngeri ya. Walaupun tetep wow!

Bangunan di Sedudo

Bangunannya warnanya ngejreng!

Pejual oleh oleh Sedudo

Oleh-oleh khas Sedudo. Ada kaos dan celana pendek.

Dingin banget loh di sini. Ini kabut apa embun ya? Kayaknya embun. Yang mandi di air terjun cuma beberapa orang. Ketika embun mulai menghilang, kami sempet foto berdua. Minta bantuan foto mas-mas pengunjung.

Foto berdua

Ndop dan Iman Jek berbegraund Sedudo

Kami mampir dulu di warung untuk minum jahe panas. Trus tiba-tiba hujan deras. Aku jadi bisa ngobrol sama mbak-mbak penjualnya. Iman Jek cuma bisa bengong soalnya dia asli Jakarta, gak bisa ngomong jowo, otomatis gak ngerti kami ngomong apa. Haha.

Jadi begini sodara-sodara. Kalau lagi musim hujan, Sedudo ini memang berkabut seperti sekarang ini. Lalu kalau kabutnya udah ilang, maka akan turun hujan. Kalau hujannya reda, maka kabut akan datang lagi. Kalau kabutnya udah hilang, hujan akan datang lagi. Begitu terus. Kayak siklus.

Jadi ketika suasana terang, harus cepet-cepet mengabadikan suasananya. Tapi ketika berkabut ataupun nggak berkabut pun, suasana di sini tetap indah. Nganjuk gitu loh!

Kabut di Sedudo

Ketika berkabut lagi

Ketika tidak berkabut

Harus banyak-banyak foto sebelum kabut datang lagi..

Iman Jek di Sedudo

Kamera iPhone sangat mumpuni buat dokumentasi!

Iman Jek dan Ndop di Sedudo

Habis hujan, kabutnya tersapu habis. Cerah deh. Foto-foto deh.

Trus mbak-mbaknya bercerita lagi kalau Air Terjun Singokromo itu sengaja nggak dibuat tempat wisata, karena airnya dibuat keperluan PDAM Nganjuk. Jadi bisa dibayangkan kalau orang Nganjuk itu awet muda, karena air yg diminum berasal dari gunung yang tentunya bersih dan alami.

Jam 1 siang kami pulang. Udah bosen mungkin ya. Apalagi si Iman Jek kayaknya melihat sesuatu, makanya dia nggak mau nyemplung ke air terjun sama sekali. Hahaha..

Memang sih, namanya air terjun, disukai jin-jin pastinya. Khan mereka suka sama air. Konon pas acara siraman, di Sedudo sini tiba-tiba muncul kabut tebal di langit. Gelap. Setelah acara selesai, kabutnya hilang.

Yuk, pulang aja, udah buanyak foto-fotonya. Oh iyaaa, aku sengaja nggak bawa DSLR, soalnya pakek iPhone sudah cukup. Dan ternyata memang sudah cukup beneran.

Panorama Sedudo

Cobain fitur panorama di iPhone

Di perjalanan pulang, kami menemukan pemandangan yang bagus kalau dipandang mata telanjang. Kami berhenti, lalu mengabadikan pakek hape.

Bagus ya pemandangannya

Kalau dipandang mata asli, jauh lebih bagus loh..

Kali ini aku mampir ke Makam dekat loket masuk wisata. Pas postingan Air Terjun Singokromo kemarin aku gak masuk. Soalnya sudah keburu pulang.

Iman Jek di makam

Akhirnya kami masuk makam loh!

Dan konon kita susah untuk menghitung berapa jumlah tangga di makam sini. Kami pun mencoba menghitungnya berdua. Karena Iman Jek bisa melihat makhluk halus, maka ketika tangga udah dihitung sebanyak 42, Iman Jek tiba-tiba merengek balik aja. Aku nggak mau dong, nanggung.

Dan tiba-tiba kepalaku pusing di tengah-tengah perjalanan menghitung tangga. Kami gak jadi menghitung. Gak kuat! Godaannya besar di sana-sini. Haha.

Kami foto-foto aja.

Duduk termenung di kuburan

Suasana di sini sepi dan bikin merinding.
Banyak penunggunya.. Hiii… :takut:

Lalu kita pulang. Di perjalanan nemu gunung yg bagus lagi untuk diabadikan.

Pemandangannya indah terus

Sudah bisa ditebak, ngajak temen liburan sebenarnya
hanya modus biar ada yg motoin akuh..
:siul:

———-

Setelah makan di warung nasi becek POJOK, jam 3 sore Iman Jek pamit pulang balik ke Kediri. Besok dia khan kerja, apalagi habis wisata pastinya lelah banget. Jadi perlu waktu banyak untuk beristirahat.

Yowis Jek, selamat jalan ya. Kapan-kapan main lagi ke sini.. :hug:

The end.

53 Comments

Komen dong!