Pak Tejo

Seminggu yang lalu kan pada heboh tuh sama yang namanya Bu Tejo. Lumayan bisa menetralisasi video cubit viral yang gak sengaja kepost itu. Hahah.

Untung ada Bu Tejo, kalau enggak, video viral itu doang yg bakalan dibahas di sosmed. Dan menurutku hal itu gak penting. Tapi bagi netizen yang lain, bisa jadi ajang menyucikan diri. Dengan cara menghujat pelaku (padahal gak sengaja) sehingga dia merasa lebih suci daripada si pelaku. Padahal dalam keseharian si penghujat itu, bisa jadi dia lebih parah. Cuman gak distoriin aja. Hihihi.

Bu Tejo kan orangnya ceplas-ceplos ya. Apa adanya. Dan dia ibu-ibu smart yang melek internet. Di sekitarku, di ndop studio, ada lo yang kayak Bu Tejo. Tapi versi mas-mas (eh, bapa-bapa ding, soalnya sudah punya anak istri).

Selain beda alat kelamin, Bu Tejo versi bapa-bapa (kita sebut Pak Tejo aja ya) ini gaptek. Gak paham internet sedalam Bu Tejo. Bahkan dia gak bisa ganti kibod hape android pake google keyboard. Pak Tejo juga gak main instagram. Mainnya facebook.

Di suatu sore, Pak Tejo main ke studio..

“FAAAAR… NDOFAAAAR!”

Pak Tejo ini ceplas-ceplosnya 100% sama dengan Bu Tejo. Volume suaranya juga 100% kenceng banget. Sudah punya anak 3, tapi cara bertamunya masih bengok-bengok kayak anak kecil yang mau beli ciki di warung mracangan Mbak Tri. Saya yakin suara dia terdengar sampe blok C22 yang ada di ujung dekat sawah sana. Hahaha.

Saya yang waktu itu masih bersih-bersih lante rumah supaya keset, jadi lari ke depan rumah untuk membukakan pintu yang saya gembok. Iya, saya gembok! Soalnya aku saatnya kerja. Gak boleh diganggu. Hihihi.

“Waaah.. aku arep kerjo i mas. Gapopo ya?”

“KOK KERJO? JAREMU KERJONE BENGI???”

“Yo bener, bengi mas. Tapi kan mulaine sore.” Kataku sambil membuka gembok Kenmaster Alfamart yang harganya kemahalan itu. Sambil pasang tampang yang tidak bersahabat soalnya aku emang sedang gak menerima tamu sebenarnya.

“YOWIS GAK POPO. AKU DOLAN YA! AKU TAK LUNGGUH KONO AE. AKU PINGIN DOLAN.”

Sebagai tuan rumah (tuan studio) yang baik, gak mungkin dong aku menolak tamu. DOSA BESAR GAES! Yowis aku persilakan masuk. Sambil terus ngedumel di dalam hati, anjay deadline bisa selese gak nih kalau ada Pak Tejo ke sini. Hihihi.

Ada apa sih ndop, dengan Pak Tejo?

Jadi Pak Tejo itu 90% omongannya gak enak, persis kayak Bu Tejo. Dia bisa blak-blakan ngomong sesuatu yang sebenarnya gak sopan dan menyakitkan hati di depan orangnya langsung. Ngomongnya pun dengan tatapan melotot dan tanpa merasa bersalah sedikit pun!

Pak Tejo
Pak Tejo yang blak-blakan

Kunci gerbang studio sudah terbuka. Sebelum masuk ke halaman rumah, Pak Tejo melotot ke mukaku.

“FAAAAR! KOK SAIKI MUNDAK IRENG? OOOH MERGO SEPEDAHAN TERUS YA AWAN-AWAN?”

Cuk, lagek arep mlebu omah ae kok dadak body shaming ki Pak Tejo! Jelaslah mukaku iteman sekarang. Udah jarang skinkeran. Gak pernah pakai sunblock. Tiap hari sepedahan siang-siang ke studio demi mematikan lampu pagar dan siram-siram. Wajar lah iteman. Wajar! Gak perlu dibahas!

Lagian Pak Tejo juga wajahnya item banget. Lebih item daripada aku. Trus ini ceritanya dia golek bolo gitu ya? Cari sobat item?

“Hehehe..” Kalau aku cuma hehehe doang begini, artinya marah! Cuman gak tega mau ngeluarin sumpah serapah. Bisa kiamat sughro nanti. Hihihi

Pak Tejo, sambil gendong anaknya, masuk ke rumah. Aku pun sebagai tuan studio mengikutinya dari belakang.

“LOH FAR, KOK ENEK ONDO? OOH WINGI SEPEDAHAN NGGOWO ONDO?”

Hmm.. apa dia pernah ketemu aku bawa tangga ya? Kan aku bawa tangga motoran sama masku. Bodo amat lah. Aku cuma mengangguk doang, Bingung mau jawab apa lagi? Hahaha

“LOH FAAAAR! LAMPUNE WIS DIPASANG?”

Kenapa masih nanya lagi sih Pak tejo? Sudah jelas terpasang gitu, kok masih nanya lagi? Apakah kalau kujawab “enggak”, trus lampunya bakalan ilang?

Seperti biasa, aku cuma jawab “iya” doang. Karena capek ditanya mulu sambil teriak pula.

“LOH FAAAAR..!!!!”

Apaan sih anjing! Teriak mulu nih bapa-bapa! Apa gak kasian sama anakmu kupingnya bakalan cumpleng kau teriakin?

“JAREMU KERJO?? KOK SAIKI GAK KERJO??”

YA KAN KAMU MASIH BERTAMU, WAHAI BAPA TEJO!!! MASA TAMUNYA AKU CUEKIN? AKU BERDOSA NANTI PAK TEJO!!

“Iyo mas, aku salah. Aku pokoknya selalu salah di mata Pak Tejo!” Kataku menyerah.

Karena bakalan capek kalau ngeyel. Lagian Pak Tejo gak butuh kita ngeyel kok. Dia tuh sebenarnya cuma butuh kita mengonfirmasi semua apa yang dia lihat. Dia sebenarnya insecure sama dirinya sendiri. Apa yang dia liat aja dia gak sepenuhnya percaya. Jadi harus ada orang lain yg menyakinkan bahwa yang dilihatnya itu benar (atau salah).

Pak Tejo memang pakai kacamata yang lumayan tebal. Jadi aku baru sadar kenapa dia selalu bertanya ketika melihat sesuatu yang sebenarnya tak perlu dipertanyakan. Kayak lampu yang sudah terpasang itu. Hihihi

Karena Pak Tejo pingin membuktikan kata-kataku kalau aku sibuk kerja, akhirnya aku buktikan saat itu juga. Aku masuk “kantor”, buka leptop, mulai kerja.

“FAAAAR! IKI MEJONE REGONE PIRO FAAAAR??”

“Mejo ndi, Mas?”

“MEJO IKI LO FAAAAR!”

“Kui duduk mejo, Mas!”

“PIRO FAR MEJONE?”

“Kui rak buku, mas!”

“OH IYO DING FAR! RAK BUKUUUU! PIROAN IKI FAR???”

Tuh kan, Pak Tejo melihat rak buku aja disebut meja. Mungkin memang kurang bisa melihat dengan jelas. HAHAHA

“Wolongatus mas.”

“WOALAH FAAAR FAAAAR, AWAKMU LO TUKU SEPEDA KOK JENGKI SEH. ELEEEK! KAN WINGI SEPEDAMU SING ILANG KAN APIK TO. KOK TUKU JENGKI SEH? TUKU SEPEDA KI SING APIK FAAAAR!”

Ini apaan sih Pak Tejo mulai ngatur-ngatur keputusanku? Padahal sudah kujelaskan juga sebelumnya kalau aku beli sepeda jengki itu karena emang gak ingin terlihat kaya aja. Soalnya kan sepedaku Xtrada 6 itu ilangnya di ruang tamu. Jadi bukan semata-mata ketledoranku. Emang si maling sudah ngecing aku. Sudah menarget sejak dulu. Bukan nyolong karena ada kesempatan. Karena gak ada maling senekat itu masuk ruang tamu.

“Kamu tuh sebenarnya becanda apa serius sih? Kan dulu sudah dijelasin kalau aku beli sepeda yang bagus, ya bisa jadi bakalan ilang lagi! Soalnya malingnya ada di sekitarku. Orang deket!”

“OOOO NGONO TO FAAAR!”

Kumulai bekerja. Suasana akhirnya mulai hening. Karena aku muter musiknya Bjork. Sengaja muter Bjork di saat situasi genting kayak gini. Akutu sudah bilang kalau mau kerja. Tapi masih diwawancara terus tanpa henti. Gak enak pula pertanyaannya. Huahaha. Pak Tejo ancen rodok sedengan (baca: njaluk dikeplak ndase).

Lagu pertama Virus – Bjork sudah selesai. Si adik kecil yang dari tadi diem aja anteng di gendongan Pak Tejo, mulai agak gelisah. Hmm.. Oke kita buat aura ruangan ini jadi jauh lebih mistis lagi, kuputer lagu “It’s In Our Hands”. Ntar kalau gak mempan juga, kita puter “Hidden Place” dan “Cocoon”. Hahah.

“Eh, eh, eh, eeehhh, hiks… hiks.. “

Adik kecil mulai gelisah dan aku bukannya sedih, malah seneng. HUAHAHAH. Gujab Bjork! Gujab dik! Ajaklah bapakmu pulang. Bapamu itu bikin moodku amburadul.

“FAAAAAR! AKU TAK BALIK YAAA!”

“Loh mas, kok kuwesusu to? Lagek tas ae dolan mosok langsung mulih?” Kataku super basa-basi ala orang jawa. HAHAHA. Pak Tejo ini budayanya bukan budaya jawa halus sih. Dia orang etanan sana lo. Jadi secara sopan santun, dia gak sehalus Nganjuk (atau jawa kulonan).

Pak Tejo pulang. Aku senang.

“FAAAAR…!!!!”

Apaan lagi sih?

“GERBANGE TAK TUTUP YAAA!!!”

Sak karepmu Pak Tejo! Digowo mulih yo rapopo! Nek perlu, tak silihi kunci 15. Sampean bukak dewe mur-mure. Trus gerbange gowoen mulih. Mbok dol yo rapopo. Los dol! Sing penting aku saiki iso kerjo dengan tenang.

—-

The end.

Komen yuk kak!