Personal Best 21K di Kediri Half Marathon 2020

Akutu aslinya udah males ikut-ikutan event lari lagi. Tapi apa boleh buat temen-temenku sekarang ya rata-rata ibu-ibu dan bapa-bapa pelari yang lagi aktif-aktifnya ikutan event lari. Yoda aku manut aja ketika diajak ikutan. Itung-itung memperbaiki pencapaian Half Marathon burukku di Mandiri Jogja Marathon 2018 yang lalu.

Karena aku gamau main-main untuk event kali ini, gamau ngevlog, gamau foto banyak, gamau lari-lari hore doang, maka aku harus mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin.

Aku latihan program Half Marathon!

Dan aku melakukan latihan di atas DUA KALI! Alias selama 12 minggu berturut-turut saya lakukan! Mulai awal Januari banget alias habis tahun baruan, sampe menjelang race (lomba) Di 15 Maret 2020.

Bahkan pas aku harus nonton konser Dewa 19 di Jogja, 22 Februari 2020, yang mana besoknya jadwal latihan longrun 14,5 km, akupun harus bawa sepatu lari dan perlengkapan lari demi disiplin latihan. Bahkan ketika sore hujan, aku harus rela lari sambil hujan-hujanan yang mana itu rawan banget menurunkan imun. Untung aku larinya santuy. Haha

Pas lari di Jogja, aku lari sambil memegang hape di tangan sambil buka google map. Dari penginapan deket Jogja Expo Center sampe Malioboro sampe Alun-alun Kidul total 8 km an. Balik ke penginapan total 14,5 km lebih sih. Cuman sisanya aku jalan kaki.

Tuh.. seniat ituuu sodara-sodara. Aku emang gitu sih orangnya. Untuk mencapai sesuatu yang aku inginkan, aku akan berjuang sekuat tenaga! Hohoho. Kalau aku yakin bisa, aku pasti bisa melakukannya! Seyaqueen itu!

Karena rutin lari seminggu 4 kali, 1 hari latihan kekuatan, 2 hari istirahat, aku turun 2 kg tapi badanku kelihatan kurus banget! Lemak-lemak ilang semua. Aku makin kuat larinya. Long run di atas 10 km pun ayuk! Bahkan lari 5 km aja gak capek. Sombong sekali badanku sekarang! Haha

Demi mendukung latihanku, aku juga beli sepatu baru Skechers Go Run Valor yang video reviewnya ada di yutub akoh. Supaya bisa gonta-ganti sepatu dan antisipasi kalau sepatu basah ada gantinya.

Selain beli sepatu lagi, aku juga beli compression merek Aonijie untuk betis yang ketatnya minta ampyun! Yang mana ngefek banget bikin betis gak njarem.

Beli kaos kaki bentuk jari merek Aonijie juga yang mana bikin jemari bebas bergerak sehingga pas lari rasanya gak sempit kayak gak pakai kaos kaki.

Beli kacamata hitam polarize merek Eiger yang bukan murahan demi menjaga mata dari sinar yuwi yang menyilaukan.

Beli Garmin Instinct yang reviewnya sudah ada di yutub akoh!

Beli celana ketat untuk daleman supaya kalau pas duduk aurotnya ga kemana-mana. Soalnya celana lari itu pendek-pendek kakak! Haha.

Seniat itu pokoknya! Hahahhaa

Pas latihan, aku seringkali di stadion Anjuk Ladang Nganjuk yang sekarang dibuka bebas untuk umum. Cuman emang bosan kalau harus lari muter-muter doang. Apalagi latihan bareng atlet beneran itu serasa mengganggu mereka. Mereka larinya kenceng, aku keong. Jadi kalau mereka nabrak aku kan gak enak rasanya.

Jadi aku juga lari keliling kota Nganjuk. Kalau minggu long run (di atas 10 km) naik gunung di Berbek.

Latihan long run terakhir yang seharusnya cuma 18 km, aku tambah sampe 21 km. Aku bisa lari 21 km di waktu 2 jam 53 menit (di bawah tiga jam!). Walaupun waktu kotor (plus foto-foto) 3 jam 12 menitan, tapi aku yakin bisa lari 21 km di bawah 3 jam. Targetku sih di pace 8 menit/km alias 2 jam 48 menit! Yaqueen bisa deh!

Kediri Half Marathon menetapkan Cut Off Time untuk kategori Half Marathon adalah 4 jam. Jadi aku yaqueen bisa finish. Pas Mandiri Jogja Marathon 2018 kemarin, aku finish di waktu 3 jam 14 menit. Sungguh buruk. Karena pacenya cuma 9. Hahaha banyak jalan kakinya! Maklum gak latihan sama sekali. Modal nekat doang! Jangan ditiru! Haha

Apakah latihan selama 12 minggu membuahkan hasil?

Kalian sudah bisa nebak lah ya. Di judul sudah aku sebutkan. Cuman kalian pura-pura aja gatau okay!

14 Maret 2020, aku budal dari Nganjuk ke Kediri naik bis Kawan Kita. Turun Jembatan Baru Semampir. Order grab ride menuju Simpang Lima Gumul (SLG) Convention Hall yang ternyata jauh 6 km an. Ongkos grabnya lumayan nih! Huhuhue.

Sampe SLG Convention Hall lumayan sepi soalnya sudah sore hampir magrib. Hanya ada beberapa peserta datang untuk mengambil racepack. Proses pengambilan racepack cukup cepat gak mbulet. Tas racepacknya mahal! Karena kita dapat tas bisa buat tempat iPad!

Dapat BIB dengan time chip. Kategori Half Marathon itu daftarnya 350 ribu. Jadi emang seharusnya dapat fasilitas luxury. Cuman menurutku ini termasuk murah meriah dibanding event lain. Event Organizer yg ngadain KHM ini Indorace. Yang sudah berpengalaman bikin event lari.

Karena aku niat ngumpulin foto buat ditulis di blog, maka aku gak sungkan untuk minta bantuan orang motoin aku. Demi konten! Sebagai imbalan, aku fotoin mereka bareng-bareng.

Isi racepacknya kayak gini gaes. Ada Hydrococo juga sih aslinya, sayangnya sudah kuminum habis tadi pas baru sampe soalnya haus bats.

Isinya bermanfaat semua! Tasnya juga bagus!

Aku nginep di Griya Banaran. 4 km dari Simpang Lima Gumul. Mau nginep yang lebih deket kok sudah full booked di traveloka. Yauda gapapa rada jauhan yang penting nyaman.

Di Griya Banaran ini aku gak ke mana-mana lagi. Maklum virus Corona mulai masuk Indonesia dan sudah banyak yg kena. Jadi lebibaik aku stay saja di dalam hotel.

Bahkan event-event lari yg dalam waktu dekat ini semua dibatalin! Rugi deh eventnya. Tapi gapapa demi keselamatan peserta kan ya. So, Kediri Half Marathon bisa jadi event lari terakhir di Indonesia dalam bulan-bulan korona ini.

Aku order Grab Food. Mesen PaNas Spicy mekdi. Yang datang paket ayam biasa. Yasuda gapapa. Mungkin habis. Sama mesen mek fluri juga. Lumayan kenyang. Karena karbo lodingnya harus banyak, aku mesen lagi roti pisang coklat Holland buat cemilan dan buat nanti pagi pas bangun tidur biar perut gak kosong. Maklum aku lari gak sebentar. Bisa 3 jam an! Jauh pula 21 km! Jadi gaboleh kelaparan dan kalori yang masuk harus buanyak untuk dibakar.

Kira-kira jam 10 malam aku tidur. Gak begitu ngantuk sih. Cuman aku merem aja. Keknya bisa tidur nyenyak dua kali. Sejam kebangun. Sejam kebangun. Gitu lah pokoknya. Maklum kalau malam sebelum race itu biasanya pelari gabisa tidur karena iksaitid.

Aku pasang alarm setengah empat pagi. Alarm bunyi aku sudah bangun duluan haha. Langsung makan roti coklat. Lalu mandi. Lalu siap-siap!

Inilah pentingnya latihan. Aku jadi tahu sepatu mana paling nyaman dibuat lari 21 km. Kaos kaki mana yg paling nyaman. Jersi Nganjuk Runners Premium terbaru dari Tokolari juga apakah nyaman dibuat lari. Compressionnya apakah nyaman juga. Semua terjawab kalau kita sudah pernah latihan. Dan foto di atas adalah yang saya kenakan ketika Half Marathon nanti!

Itulah kenapa kita gaboleh pakai sepatu baru pas lomba. Gaboleh pakai jersi baru juga dan lain-lain yang masih baru. Soalnya belum tentu barang baru kita itu nyaman dipakek lari. Harus dicoba dulu sebelumnya.

Dan harga barang juga gak menjamin kenyamanan sih. Buktinya half marathon ini aku pakai Skechersku yg harganya cuma 699 ribu. Gak pakek Adidas Ultraboost 19 ku yang harganya 3 jutak. Soalnya emang untuk kaki lebar, Skechers lebih bersahabat dibanding Adidas. Kalau buat gaya emang Adidas lebih menang di segala bidang sih. Haha

Berangkat dari penginapan jam 4.30 pagi. Aku sudah subuhan sih. Sudah mandi juga. Perjalanan ke venue yang deket Gumul Paradise Island naik grab ride 10 menitan. Sepi jalannya karena masih pagi. Pemanasan di venue saja!

Kategori Half Marathon dimulai jam 5 pagi tepat! Aku sudah berada di venue 15 menit sebelumnya. Aku masih sempet pemanasan di cepitan mobil entah punya siapa. Lalu lari-lari kecil. Seperti yang sudah aku lakukan ketika latihan. Aku bener-bener gak grogi sama sekali. Bener-bener siap 3000%.

Yang aneh, ketika latihan paha kananku suka linu (tapi linunya berangsur ilang kalau dibuat lari). Pas menjelang lomba, linunya ilang entah ke mana bahkan sebelum lari! Ajaib!

Aku gabung sama peserta HM lain kira-kira 7 menit sebelum didor. Aku ketemu mas dokter Edy sama mas dokter Ronny. Nganjuk Runners semua itu. Sayangnya dokter Ronny izin pipis dulu. walhasil aku sama dokter Edy doang.

Lima.. empat.. tiga.. dua.. sa.. DOR!

Pelari HM dengan super semangat lari kenceng diiringi suara gemuruh penonton. Sementara aku mencoba untuk lari kayak latihan. Aku pakai metode yang disarankan Kak Melanie Putria di video yutubnya Fit With Mel. Kalau mau long run itu pakai metode Negative Split. Yaitu lari pelan di awal lalu semakin jauh semakin cepet.

Aku pun lari dengan pace 9. Pelan banget itu gaes. Kayak jalan kaki. Aku lupa gak menyalakan musik. Walhasil sambil lari aku milih playlist di hape. Hmmm anjay aku harus MUTER LAGU APA INI?

Karena ini lomba, aku muter playlist lagunya Mariah Carey. Dengan segala teknik vokalnya, kurasa cocok untuk lomba supaya gak bosan dan terpacu untuk fokus. Aku ada playlist running yang isinya lagu EDM, sayangnya aku sudah bosan soalnya playlist itu sudah kudengar ratusan kali ketika latihan. I need something else! Kebetulan aku gapernah bosan sama lagunya Merraiyah.

Mas Dokter Edy sudah duluan jauh di depanku. Tadi sudah kuberi pesan di awal. Larilah duluan mas dok, nanti kusalip di depan. Hahaha pede banget akutu.

Baru beberapa ratus meter lari kayak keong, eh ada yang manggil-manggil. Ternyata MBAK WIWID dan anaknya GALUH! Huahaha. Aku senyumin mereka berdua lalu lanjut fokus ke lomba.

Detak Jantung (Heart Rate)ku lumayan tinggi sebenarnya. Soalnya aku kurang tidur pastinya. Cuma tidur nyenyak 2 jam doang itu sangat kurang. Cuman aku baik-baik saja gak ngos-ngosan. Pace 9 HRku sudah kuning alias semi-Hard dong! Hmm.. aku tetap rileks aja sambil dengerin suara Mariah yang merdu.

Kilometer demi kilometer kulalui. Sampe aku ketemu mas Edy yang tadi lari duluan. Mas Edy sudah kecapean lari sehingga dia memutuskan untuk jalan cepet. “Halo Mas! Aku disikan ya! Sesuai janjiku kan? Tak salip ndik ngarep! Haha”

Mas Edy tertawa dan dia ketemu temennya lagi. Aku fokus ke lariku lagi. Kayaknya Tuhan sudah mengatur supaya aku lari dengan fokus tanpa gangguan pelari lain.

Di depan aku ketemu Dinar Nganjuk Runners di kilometer 8 ke atas, dia juga sudah jalan kaki. Kusapa dia. Senyum. Lalu fokus ke lariku lagi.

Seingatku, aku gak pernah disalip pelari lain. Soalnya lariku bener-bener konsisten dari pelan ke cepet. Dari pace 9 ke pace 7. Sementara pelari lain pacenya kebalik, dari cepat ke lambat (jalan kaki).

Ketemu mas Fandy Bachtiar yang kenal di instagram. Lari bareng mas Fandy lumayan lama. Soalnya pace dia sama kayak paceku jadi aku fine-fine aja. Pas water station kilometer 10, mas Fandy kayaknya capek. Kutunggu beberapa detik dia gak nyalip, yauda aku duluan ya maskuuuu.. :hug:

Lariku makin cepet atau mungkin stabil di pace 7 koma. Pas latihan, di kilometer 10 ke atas memang paceku antara 7-8 sih. Jadi kupikir pas race aku bisa push harder untuk gak menyentuh angka pace 8.

Enaknya lari pakai negative split adalah kaki kita siap diajak ngebut. Kalau di awal sudah ngebut, kaki kita justru bisa capek duluan. Sialnya malah bisa cedera atau kram karena overtrained alias terlalu dipekso. Kalau di awal dipakek lari pelan, kaki kita kayak diajak pemanasan dulu. Dilemesin dulu. Detak jantung kita juga gak langsung digenjot ke atas, tapi dibangun pelan-pelan sampe tubuh siap untuk “disiksa”.

Sebenarnya aku gak pantes ngebahas teknik lari begini. Atlet bukan. Pelari keong iya. Tapi karena aku orangnya pede banget, yowis kalian HARUS MANUT sama semua perkataanku! HAHAHA.

Cuman yg kukatakan emang bukan ngawur kok gaes. Aku sudah riset dulu dari berbagai sumber. Jadi gak ngarang. Yutubnya Mbak Melanie Putria inspirasiku pokokmen!

Di kilometer belasan, aku seneng banget ketika tahu ada balon-balon putih di depanku. Wooow itu kan pacer 2:45!!! Omaigod aku SENENG BANGET NGET NGET! INI MAH MELEBIHI TARGET! YA ALLOH YA ROBBI AKU BISA HALF MARATHON 2 JAM 45 MENIT! Padahal targetku cuma 2 jam 48 menit!

Aku bisa mendekati mbak-mbak pacer 2:45 selama beberapa menit. Karena Zona HR ku masih semi hard, belum maksimum, aku coba nyalip dan bisa! Dengan enteng! Lalu aku rem dan kembali ke pace awal. Jadi posisiku tepat di depan pacer 2:45 sampe finish! Hahha

Ngomongin water station (WS), syukurlah ada iso plus. Soalnya aku lebih seneng isotonik dibanding air putih biasa. Cuman ada waterstation yg cuma ada air putih doang. Di salah satu WS ada pisangnya. Aku berhenti untuk makan secuil. Lalu makan lagi sambil lari pelan.

Hiburan ada banyak! Adik-adik esde. Tari-tarian Jaranan. Cuman karena aku bener-bener fokes sama lari, aku gak foto-fotoin mereka. Haha

Pas latihan, aku di kilometer 10 selalu minum Energy Gel, pas lomba perutku sudah kenyang. Apalagi ada pisang! Yowis energy gelku nganggur. Hahaha

Fotografer juga banyak kok! Kalau ada yg protes tentang fotografer, mungkin dia sial aja gak kefoto. Hahaha. Aku ada beberapa foto bahkan yg dicetak juga ada! Beruntung sekali! Haha

Kilometer 20 sudah kulalui. Adrenalin mulai naik ke puncak! Tinggal sekilo lagi! Saatnya eksyen nih! Di saat semua orang kecapekan, aku malah ngebut! HAHAHA. Inilah untungnya negative split!

Aku tetap senyum kalau ketemu fotografer. Walaupun ada juga yg kecolongan ketika aku lagi ekspresi lemes haha. Tidak bisa dipungkiri kalau lari 21 km itu capek gaes!

Pacer 2:45 masih ada di belakangku sekitar 100 meter. Okay, target sudah tercapai bahkan lebih cepet dari target nih! Aku santai saja sambil tetap fokus lari di pace 7 koma secara stabil.

Sampai ada drama terjadi. Ada manusia planet entah mana, naik sepeda, dia bilang ke aku untuk lari balik ke sana lalu belok kanan. Karena musikku lumayan kenceng, kubertanya lagi ke dia. Ternyata dia mengulangi kalimat yang sama.

Okay aku balik!

Setelah beberapa puluh meter balik, eh lha kok pacer 2:45 simpangan sama aku. Loh???? Yang benar yg mana? Aku balik lagi sambil mbalap banget! ANJING AKU DITIPU.. BANGSAT!!! ORA SLAMET KOWE SUUUU!!!

Kusalip pacer 2:45 dan aku bener-bener kesel karena habis ditipu orang tadi. Aku rugi 30 meteran. Aku mbalap sampe pace 4 sodara-sodara! HAHAHA. Kalau ada yg motoin aku di garis finish, pasti hasilnya akan bagus dan bertenaga! Haha sayangnya gak ada yg fotoin. Kalau videoin ada cuman pas dibelokan sebelum finish line. Cuman wordpress gabisa upload video, jadi yodah pasrah.

Kulihat perolehan waktu di atas finish line. Ternyata tepat 2 jam 45 menit sekian detik. YA ALLOH AKU SENENG BANGET YA ALLOOOH!!! ‎اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Latihan 12 minggu bener-bener membuahkan hasil yang melebihi target! Lebih cepat dari target. Dan kayaknya nih, aku bisa lebih cepet lagi kalau nanti ikutan HM lagi. Soalnya tadi lariku cenderung santuy tanpa beban.

Habis finish dengan senang banget dan bersyukur, aku langsung melipir ke kiri. Ternyata anak-anak Nganjuk Runners nggelar tiker di situ sambil nungguin siapa aja yg akan finish. Langsung gercep aku foto selfi dan dipamerin ke fallawers akoh di instagram:

Banyak DM mengucapkan selamat! Aku suweneng banget dengan pencapaian ini. Oh iya, aku mau njelasin ke klean kalau targetku itu gak muluk-muluk kayak atlet gaes. Kalau kalian bandingkan dengan atlet, aku sangat amat jauh di bawah dia. Kalau atlet beneran lari Half Marathon itu cuma sejam setengah bahkan lebih cepet lagi. Jadi targetku 2 jam 48 menit itu target buat pelari biasa yg bukan atlet. Karena latihannya beda. Yang atlet sudah pasti jauh lebih berat latihannya.

Inilah data yang tercatat di jam Garminku. Btw sempet deg-degan sih pas lari. Soalnya jarak yg tertera di race gak sama dengan jarak yg tercatat di jam Garminku. Selisih 200 meter. Deg-degan kalau pas finish ternyata gak nyampe 21,09 km kan sayang banget gak kecatet sebagai Half Marathon. Ternyata aman! Jarak yg tercatat di jam Garmin ketika finish (plus ketipu tadi) adalah 21,30 km. Jadi sudah tercatat Half Marathon di Garmin atau Strava.

Di Strava, tercatat waktu bersih Half Marathonku 2 jam 43 menit. Jadi sebenarnya aku jauh lebih cepat 5 menit dari target yg kuinginkan. Seneng buanget pokoknya!

Nah, pas latihan lari, kita gaboleh kenceng-kenceng terus. Justru kalau bisa 80% lari santai di zona hijau (aerobik), 20% zona merah. Karena orang Kenya yang selalu menjuarai lomba lari dunia, mereka juga menerapkan latihan di zona hijau, easy run, lari santuy pas latihan. Baru boleh lari kenceng pas lomba.

Dan inilah zona yg tercatat ketika aku race:

Zona hijaunya dikit banget! Sisanya los banter!

Trus ini metode kecepatan lariku di tiap kilometer:

Gak bisa sempurna sih negative splitnya. Soalnya kan ada water stations di tiap 2,5 km. Jadi mau gak mau ya berhenti buat minum daripada dehidrasi malah bahayak.

Setidaknya aku gak pernah pelan banget kayak di kilometer-kilometer awal. Lumayan stabil di pace 7. Di kilometer 19 itu sempet pace 8 lagi mungkin karena water station aku berhenti minum agak lama. Cuman berangsur-angsur aku ngebut bahkan di ending aku bisa pace 5 di 300 meter terakhir. Haha ini namanya tenaga penghabisan!

‎اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ selama race aku gak pernah jalan kaki sama sekali. Pas water stations wajar berhenti buat minum tapi habis itu lari terus never stop never walk.

Bahkan di Garmin tercatat aku bisa nyentuh pace 4. Keknya ini pas memasuki garis finish:

Baiklah. Ayok foto-foto!

Kediri Half Marathon gak bisa diremehkan nih eventnya. Soalnya selain jalanan lumayan steril, cuaca adem enak dan nyaman selama lari, anak-anak esde beneran jadi penyemangat, trus waterstesyen melimpah airnya, trus ada air mancur juga buat mengguyur badan yang panas, pas finish disediakan kolam es batu! Mantab jaya ini! Levelnya udah setara internsyenel!

Aku cobain kolam esnya. Kucopot sepatuku lalu kakiku kutempelkan di es batu. Beuuuh.. kademen gaes! Hahaha

Trus ada juga yg jual photo kita ketika lari. Gak semua peserta ada fotonya sih, untungnya aku ada dong! Bahagianya lagi, aku ditraktir sama Mbak Krisna dong dibeliin foto ituuu. Makasi kak Kris!

Karena sudah laper, mbak Krisna istrinya Mas Edy ngajak aku dan kawan-kawan Nganjuk Runner Premium untuk makan di Soto Ayam Pakelan Kediri naik mobil. Waaaaw traktiran makan gaes!

Foto di atas, sebelahku yg pakai jersi biru itu Dokter Edy, sebelahnya lagi Mbak Krisna.

Habis makan kenyang, aku dianter balik ke penginapan. Temen-temen gatau kalau aku nginep. Mereka kira aku budal dari Nganjuk sejak pagi mruput. Hehe gak ada bis ke Kediri jam 3 pagi kakak. Thank you banget Mas Dokter Edy dan Mbak Krisna sudah dilayani sebaik ini! Kebaikan dan kebahagiaan selalu tercurah ke klean berdua! اٰمِيْنَ

Karena wabah korona semakin mengerikan, setelah mandi dan cekaut aku langsung pulang Nganjuk gak ngemol gak nongkrong demi mendukung program pemerintah untuk menghindari kerumunan orang.

Malamnya, beberapa foto dari panitia dan volunteer diupload. Aku menemukan beberapa fotoku. Thank you lo kakak-kakak!

Karena bibnya ada timechipnya, maka inilah hasil yang tercatat:

Hasil dari latihan emang gak bohong. Aku berhasil meraih posisi di atas rata-rata keseluruhan peserta. Seneng banget! Thank you kakiku, thank you doanya teman-teman!

Btw, medalinya baguuuus banget! High quality kayak event-event international!

Baiklah kayaknya aku segera akhiri postingan ini. Thank you buat yg sudah baca semua artikel ini. Kayaknya gak ada yg baca semua deh. Saya tau klean banyak yg :fastreading: Hahaha

16 Comments

Komen yuk kak!