Pameran Vector (Mendadak) Tunggal

Sebulan lebih yang lalu aku diajak pameran bareng bertiga sama temen yang hanya tau dari facebook. Hanya tau lo ya. Walhasil gak pernah chatting, gak pernah ngobrol, gak pernah kenal satu sama lain. Hanya tahu dari karya-karyanya saja.

Mas yang satu ini kayaknya kagum sama karya-karyaku yang selalu ngehits punya banyak likes di facebook. Lalu dia nawarin aku pameran bareng sama dia di festival seni di Semarang sana.

Karena Semarang itu jauh, maka aku tolak tawaran itu. Karena lagi, aku sudah DELAPAN kali ke Semarang. Jadi mbok yao kalau nglencer jangan ke Semarang lagi lah. Ke planet apa gitu.. #eh

Lalu ngobrol-ngobrol lah aku sama ibuk. Kayaknya sih ada lampu hijau gitu. Alias boleh pameran. Lalu setelah aku pikir-pikir lagi, okelah aku ikut aja! Kapan lagi bisa pameran vector kalau gak saat ini khan?

Sebulan kemudian, aku baru nyiapin itu 8 karya terpilih yang akan aku gotong dari Nganjuk ke Semarang. Aku sengaja nyetak karya plus bingkai di Nganjuk sini, soalnya aku perfeksionis orangnya. Sudah sreg sama kualitas foto dan pigura dari Nganjuk. Plus harganya pasti lebih murah khan? Kota kecil gituh.

Kira-kira beratnya 5 kilogram itu pigura sebanyak 8 buah. Karena aku orangnya gak manja, aku jalan kaki dari rumah menuju stasiun Nganjuk sambil menggendong pigura plus tas ransel yang berat. Jarak rumah ke stasiun kira-kira dua kilometer saja sih. TAPI aku jalan kaki setengah berlari karena aku ini ndablek suka mepet waktu. Walhasil ketika duduk di kereta api itu, diriku bermandikan keringat plus nafas ngos-ngosan. Dan aku hampir ketinggalan kereta. Kira-kira selisihnya semenit deh. Huahaha..

6 Desember 2014, pameran pun digelar. Malamnya aku sudah kontak-kontakan sama yg ngajak aku pameran, cuma dijawab singkat-singkat. Oke deh, mungkin mas itu lagi sibuk. Padahal aku gak ngerti ini harus bagemana-bagaimana prosedurnya.

Dan pagi itu, ketika aku sampai ke stand pamerannya. Lha kok ada stand tulisannya “MUDHOFAR”.

LOH, KATANYA PAMERAN BERTIGA? KOK STANDNYA TULISANNYA “MUDHOFAR”?

Salah ejaan pula. Harusnya “MUDZOFAR”. Karena aku orangnya perfeksionis, aku pun langsung bad mood membaca nama itu. Mbok ya survey dulu kek, nanya nama lengkap dulu kek, biar gak malu-maluin gitu. Lagian itu stand tulisannya “Mudhofar” trus isi pamerannya apa? Badanku gitu? Nari stripstis?

Bener-bener gak komunikatif sama sekali. Pameran karya vector kok ditulis “Mudhofar” itu maksudnya apa? Harusnya “Ndop Vector” kek, “Vector Mudzofar”, atau apalah yang representatif sama pamerannya gituh. Ah ini gak keren!

Aku cuma bisa bengong sama keadaan di pagi itu. Dik Jube yang ngantar aku pun jadi aku repotin lagi untuk belanja perlengkapan pameran. Lha piye, di stand itu gak disediakan apa-apa. Cuma meja sama kursi doang beroh! Lha ini nggantung karyaku pakai apa?

Lagian ini khan rencananya pameran bertiga, dan aku ditugasi bawa karya aja dari rumah. Tugas sudah aku jalankan namun ternyata kenyataan berubah total. Aku udah nanya beribu-ribu kali, “Aku kudu piye iki mas?“, tapi saking sibuknya, jawabannya singkat-singkat dan aku gak jelas.

Lalu aku nanya ke teman lain yg katanya diajak pameran bareng bertiga itu, dan temanku bilang sudah membatalkan pameran sejak jauh-jauh hari karena dia ada acara keluarga.

WHAT??? Kenapa mas yang ngajak aku gak bilang-bilang sih kalau aku ternyata harus PAMERAN TUNGGAL?

Tahu begini khan aku udah siap-siap dari rumah. Apa saja yang harus dibawa. Misal banner, hiasan-hiasan, buku portfolio dan lain sebagainya.

Aku minta tolong Dik Jube untuk nganter aku belanja peralatan buat nggantung karyaku di stand. Aku beli jepit sama benang kasur (benang bol). Lalu beli stiker lembaran warna hitam buat ngganti tulisan “MUDHOFAR” menjadi “VECTOR”.

Balik lagi ke stand. Dik Jube harus balik karena ada perlu. Aku harus masang ini itu SENDIRIAN. Duh, kak. Kemarin-kemarin itu aku udah lelah banget karena habis piknik ke Dieng, eh, ini harus pencilakan lagi masang ini itu. Soro tenan. Hahaha.

Sarapan soto ayam pagi itu pun kalorinya udah habis jam 10 pagi karena diforsir mikir sama fisik. Huahaha. Mana teman-teman WPAP Semarang yang standnya di sebelahku, saking iksaitidnya ketemu aku, kok ya nanyaaaaa mulu kayak wawancara. Duh dik, aku ini lelah hati dan fisik dik. Nanyanya dipending aja nanti tiga jam lagi. Pijitin aja sini..

Stand pameran tunggal pun berdiri juga..

pameran vector tunggal

Pameran vector yang mendadak tunggal

Karena stiker lembaran masih banyak, maka sisanya aku buat untuk menghias standnya ala-ala polkadot plus tulisan harga (sekalian jualan) kayak di bawah ini..

pameran vector tunggal

Tampilan akhir stand pameran vectorku.
Seadanya ya kak. Muuph.

Aku harus jaga stand sendirian dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Gak ada pergantian shift. Padahal aku pingin banget nonton acara yg diselenggarakan hari ini di dalam gedung sana.

Apdit status di facebook untuk mengerahkan fans untuk menemaniku pun gak membuahkan hasil. Dimaklumi sih, ini acara gak begitu bagus promosinya. Walhasil banyak yg gak tahu ada acara festival seni di sini.

Untungnya temen-temen baru dari WPAP Semarang bisa jadi teman ngobrol. Ada mas Tulus, Khoirul, Bagus Andi, dan lain-lain lupa namanya. Lalu teman-teman Orart Oret, Husni dan teman-temannya juga nyempetin mampir. Malamnya, si Rizal Ardhi dan Tya Kadiasti datang berkunjung melepas kangen sudah bertahun-tahun gak ketemu. Wuih.. menyenangkan sekali.

kunjungan para fans di pameran vector tunggal

Kunjungan para fans di pameran vector tunggalku

Husni dan kawan kawan

Husni (baju soklat) dan kawan-kawan

Pengunjung yang datang pun nanya-nanya ya pastinya. Aku gak kehabisan akal sih. Aku jelasin pakai portfolio yang ada di iPadku. Trus buat yg nanya cara pembuatannya, daripada banyak cingcong, aku langsung puter aja video tutorialnya di iPadku.

Tapi untungnya sepi sih pengunjungnya. Jadi aku gak lelah-lelah amat harus ngulang njelasin ini itu. Tapi dengan kata lain, pamerannya gak sukses kalau sepi begini. Padahal hari ini khan malam minggu. Anak muda Semarang mungkin terlalu haitek untuk menghadiri pameran seni kayak gini. Walhasil mereka lebih memilih selfie di Tugu Muda (walaupun saya yakin mereka udah punya puluhan koleksi foto selfie di situ haha) daripada nyebrang bentar ke tempat pagelaran seni ini, di Wisma Perdamaian UNNES.

Jam 10 malam, aku sudah beresin semuanya. Aku copot semua karyaku. Aku masukin plastik lagi. Siap dijemput. Aku kelelahan. Besok harusnya masih pameran lagi, tapi aku udah nyerah aja deh. Banyak nganggurnya di sini. Gak produktif. Membosankan. Besok mending istirahat aja seharian di hotel.

WHAT?
DI HOTEL?
DI SEMARANG GAK PUNYA TEMEN YG BISA DIBUAT NEBENG TIDUR?

Iya beroh, terpaksa sih. Tunggu cerita selanjutnya ya. Hahahahaha..

61 Comments

Komen dong!