Menanam Jeruk di Sawah

Kemarin khan aku ke Tulungagung. Ke rumahnya mbah Rubi (almarhum) yg kosong gak berpenghuni. Di sebelahnya, ada rumah pak likku dan di sisi samping lainnya, ada rumahnya almarhum budhe. Nah, anaknya almarhum budhe, Mbak Deni, ngajak aku ke sawah. Dia mau menanam jeruk.

WAH INI BAKALAN ASYIK!

Menanam jeruk khan gak sama dengan padi, yang harus berjeplok-jeplok ria dengan lumpur. Kalau jeruk itu lahannya kering kok. Jadi gak khawatir kakiku kotor banget gitu. Maklum lah, diriku ini gampang panuan, jadi kena kotor dikit, tumbuh jamur huahahaha..

Pertama datang ke sawahnya, diriku langsung ditugasi njabuti suket. Jiah ini kerjaan kayak pas SD kalau lagi jam olahraga guru olahraganya gak masuk, biasanya khan disuruh cabutin rumput. Okay gampang!

Rumput di sawah

Njabuti suket tuh gampang lah..

Rumputnya dicabutin biar nggak royokan makanan sama jeruknya nanti. Maklum suket itu selera makannya ganas ya. Jadi yang ganas-ganas memang harus diberantas.

Setelah rumputnya berkurang, tanah digemburkan. Disirami gitu.

Ambil airnya di kolam deket sawah. Eh, di Tulungagung sini, tepatnya di desa Sumber Dadi kecamatan Sumber Gempol. Namanya aja Sumber ya, jadi tanah di sini subur banget. Kalau digali sedalam kira-kira dua meter aja, udah mancur tuh airnya.

Siram-siram

Disirami biar adem hatinya..

Setelah itu, karena sudah sore, maka pulang ke rumah lagi.

Besok paginya ke sini sawah lagi sekitar jam 7 pagi. Aku sarapan dulu di rumah pak lik (tidur juga di situ). Trus Mbak Deni dan Mas Rojik (suaminya) datang dari rumahnya (sekitar 3 kilometer dari sini) naik mobil membawa dua karyawan, ibu-ibu pakai capil. Lalu satu lagi mas Imron. Dan “karyawan” satu lagi, yang hanya akan mengganggu kekhusukan mereka bercocok tanam, saya. Hehehe

Ke sawah jalan kaki. Deket kok dari rumah budhe. Kali ini aku ditugasi menutup jeruk yang sudah diletakkan di garis-garis yang sudah dibentuk sebelumnya sama mas Rojik dan mbak Deni pakai kayu.

Menutup jeruk

Benih jeruknya ditutup tanah.

Digaris-garis dulu

Digaris-garis dulu sebagai tempat penanaman.

Menutup benih jeruk dengan tanah ternyata gak boleh sembarangan. Tanahnya harus yang halus. Bukan yang nggrotal-nggrotal gedhe-gedhe dan padat. Kalau tanahnya gedhe2 dan padat, jeruknya nanti susah tumbuhnya. Mungkin dia gak mau menanggung beban terlalu berat. Haha.

Eh, kok benih jeruknya berwarna ungu magenta ya?

Jadi, aslinya benih jeruk itu berwarna keemasan kayak isi jeruk pada umumnya..

Benih jeruk

Benih jeruk yang sudah dikum sama air.

Itu benihnya kualitasnya bagus. Jadi harga sekilonya mahal, jutaan rupiah gitu.

Nah, biar benih jeruknya gak dimakan semut ketika ditanam dalam tanah, maka harus dikasih obat berwarna ungu magenta.

Bubuk Marshal dan Jeruk

Bubuk Marshal dan benih jeruk setelah dicampurinya

Setelah benih ditutup tanah, tanahnya pun harus ditutup sama sak beras. Biar gak ditumbuhi rumput gitu.

Menutup dengan sak beras

Tanah ditutup sak beras

Supaya saknya bisa menempel di tanah, maka harus ditusuk sama bambu yang sudah diiris tipis-tipis. Bambu dipluntir, ditekuk pas tengah, dicubleskan ke tanah.

Udah gitu doang. Gampang. Hahaha.

Setelah jeruknya nanti tumbuh, saknya diambil. Lalu dibiarkan tumbuh sampe sekitar umur 3 bulan. Kira-kira setinggi 30 cm lah ya. Setelah itu tanaman “diungsikan” ke lahan lainnya lagi yang lebih gedhe. Biar makin tumbuh besar dan buahnya buanyak.

Petani di sawah

Jadi lahan yang ini untuk penyemaian doang. Setelah semai, dipindahkan ke sawah yang lain. Karena sawah yg ini sudah berkurang zat haranya. Sawah yang baru pastinya zat haranya masih melimpah. Jadi biar si tumbuhan dapat vitamin yang konsisten gitu. Biar ginuk-ginuk gituh.

Okay, see you 3 months from now. Let’s see what happen. Kita semua berharap jeruknya nanti tumbuh subur yaa.. Aamiin..

*Eh, gosipnya tanaman jeruk ini hasilnya lumayan loh. Sekali panen, kalau hasilnya bagus, bisa dapat 3 kali lipat dari seluruh biaya yg dikeluarkan. Menggiurkan khan? :ssst: *

To be continued…

28 Comments

Komen dong!