“Kuliah” di Perkebunan Teh Tambi

Ceritaku tentang liburan bareng travel bloggers 4-5 Desember 2014 yg lalu belum selesai loh. Sengaja aku tunda-tunda untuk ngetes ingatanku.

*padahal aslinya males HAHAHA*
*Padahal akhirnya gugling juga HAHAHA*

Setelah sarapan, kami serombongan diajak jalan-jalan ke perkebunan teh yang paling tersohor se Jawa Tengah: Perkebunan Teh Tambi. Untuk diajak “kuliah” dua SKS tentang teh Tambi.

Wuih, tambah ilmu nih. Tambah pinter dong aku nanti. Waduh, bahaya! Bakalan makin keluar ini nanti aura kegantenganku. Sungkan sama teman lainnya nanti pada silau. Oke deh, daripada mereka nanti matanya sakit karena silau, aku tak berada di belakang sendiri aja, twitteran.. :P

Teman-teman pada kompakan pakai seragam kaos Visit Jawa Tengah yg dikasih gratis sama Dinas Pariwisata, sementara aku sama temen sekamar kompak gak makek semua! Huahaha.. Eh, Mawi makek ding.

Alasanku gak makek adalah, besok mau aku pamerin ke mall Paragon Semarang sambil jalan-jalan cari sepatu. Kalau dipakai sekarang khan nanti kotor kakak.

Foto bareng di agrowisata teh tambi

Kalian kompak sekali ya! Kaosnya lucuk!

Lha hayuk, langsung saja ke perkebunan tehnya!

Berangkat!

Tuh khan, aku ada di belakang sendiri. Yang motoin. Haha.

Ketika dijelaskan sama pemandu agrowisata, diriku nunduk aja, ngetwit bro. Khan zamannya udah canggih, jadi nyatetnya pakai hape ya kak. Sekalian dishare di twitter plus hashtag #famtripjateng.

Perkebunan Teh Tambi

Perkebunan Teh Tambi yang warna ijonya bikin hati yg gundah gulana
berubah menjadi gembira loka gak pakai kebun binatang

Yoi, ternyata kebunnya ada di balik tembok sana bero. Beuuuh, gak nyangka kebun tehnya sedekat ini dengan letak kami menginap. Paling hanya perlu jalan kaki beberapa puluh langkah saja.

Pemandangan hijau perkebunan teh itu bikin suasana hati jadi adem, damai, apalagi hawa di sini suwejuk, sungguh perpaduan yg sangat organic bero! Buat yg galau karena habis diunfriend facebook sama pacar, main ke sini aja bero! Dijamin mental kamu yg down akan up lagi.

Guwe jelasin ya bero, unfriend facebook is not the end of the world. Kamu masih bisa stalking akun dia pakai akun adikmu kek, temenku kek, ah, mudah itu.

Ndop, curhat ya?

Iya. #jleb :cry:

Meskipun bapaknya menjelaskan pakai corong suara, namun diriku ini kalah cepet nangkepnya. Maklum istrinya paklum™, prosesor otakku ini versi windows 3.1. Jadi lemot gitu.

Katanya prosesor? Kok jadi windows sih ndop?

Embuh mas.

Walhasil diriku yang melakukan live twit ini kelabakan mengikuti penjelasan pak pemandu wisata. Untungnya aku ini lovable dan punya ngelmu pengasihan, jadi setiap memelas minta penjelasan ke temen sebelah, mereka terhipnotis dan mau menjelaskan dengan komplit. Aku tinggal ngetwit.

“Eh, tadi itu apa? Aku ketinggalan nih..”
“Oh, itu Ndop, tadi bapaknya njelasin kalau daun teh yg kita minum itu, adalah tiga helai daun teh teratas. Ingat khan, iklan yg pucuk-pucuk-pucuk itu loh Ndop? Diucapkan tiga kali khan? Nah, itu artinya pucuknya terdiri dari tiga daun gitu.”
“Oh, gitu.. “ Aku nunduk sambil ngetwit.

Tiga pucuk teh

Tiga pucuk daun teh ini aja yg dipakai.
Ukuran daun pertama harus setengah dari daun kedua.
Kalau lebih dari itu, karyawan gak dapat insentif. :sad:

Pemandu Teh

Bapak pemandu perkebunan teh Tambi.
Perlu kira-kira sebulan untuk tumbuh pucuk teh baru.

Perkebunan Teh Tambi bersama bloggers

Perkebunan Teh Tambi bersama bloggers
Lainnya moto, aku ngetwit #antimainstream

Sik, sik, saya mau cerita bentar..

Jadi bero, tanaman teh itu gak bisa ditanam di dataran biasa-biasa aja. Harus dataran tinggi yg dingin ya. Dan tahu nggak, kalau perkebunan teh Tambi ini berada di ketinggian 1400 meter (SEWU PETANGATUS METER!). Gila ya bero! Coba kalian jalan kaki sejauh 1,4 kilometer, lalu jalanan yg kamu lewati itu ditegakkan ke atas. Nah, tinggi banget khan jadinya?

Nah, ditanam di dataran biasa-biasa aja si teh gak bisa tumbuh, apalagi ditanam di hati kamu yang galau karena diunfriend pacar? Wah, bisa-bisa si daun teh yang hijau berubah menjadi coklat kering gak menyejukkan lagi bero..

Oh iya bero, walaupun tanaman teh itu cuma setinggi pinggang, tapi umurnya bisa ratusan tahun loh! Bahkan bisa mencapai 800 tahun!

Lha, trus kenapa gak bisa tinggi?

Lha gimana mau tinggi, kalau setiap mau tumbuh dikit aja, eh, daunnya udah dipotong. Hahaha. Tapi teh khan baik. Mereka rela kok jadi pendek terus, asal kita seneng gitu. Duh, sou suwit banget sih kamu, teh. Tak cium lo kamu!

Dan aroma daun teh itu SEGEEEEERRR banget! Udah hawanya dingin, warnanya ijo, eh, aromanya harum pula. Saya yakin tanaman teh ini akan masuk syurga deh. Nentremin hati soalnya.

Eh, bero, sebenarnya dipetik pakai tangan itu isoke sih ya. Itu kalau kebunnya sehalaman rumahmu ya bero. Lha kalau kebunnya berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus hektar, piye bro? Apa nggak kapalan tanganmu nanti?

Maka dari itu, di kebun teh Tambi ini setiap pagi ada beberapa ibu-ibu cantik yang bekerja sebagai pemetik teh. Ibu-ibu itu memakai sarung tangan, memakai penutup hidung dan mulut (mungkin biar kerjanya fokus, gak nggosip #eh), Pakai capil biar gak kejatuhan duren kepanasen. Membawa keranjang tempat pucuk daun teh. Trus mereka membawa senjata bertempur bernama Pemetik teh.

Ibu-ibu cantik pemotong teh

Ibu-ibu muda yg cyantik pemotong teh
sedang husuk bekerja.

Memotong 3 pucuk daun teratas ternyata bisa dilakukan dengan super cepat. Bahkan mereka gak menghitung daunnya dulu. Pakai naluri aja kayaknya.

KRAUK.. KRAUK.. KRAUK..

Dan pucuk-pucuk daun segar pun penuh dan ditaruh di keranjang di belakang.

Alat pemotong pucuk daun teh

Alat pemetik pucuk daun teh

“Pak, di bawah tanaman teh di situ ada ularnya gak?” Pertanyaanku yg lugu memecah keheningan peserta yg daritadi tegang kurang santai.
“Tenang saja kak, di bawah sini nggak ada ularnya. Soalnya ular gak bisa hidup di udara dingin.”
“Berati aku bisa dong, rebahan kayak Syahrini sambil ngucapin ‘I am free’ di situ, Pak?”

Lalu teman-teman pada tertawa konyol.. Dan usahaku memecah ketegangan pun berhasil! HUAHAHAHAHA..

Mungkin karena lelah, teman-teman pun malah asyik foto-foto sendiri di hamparan hijau daun teh. Malah si Alid Abdul sama Firsta bergaya ala-ala India. Haha. Sementara aku, yang berprofesi sebagai foto model ini, sedang sibuk memilih pose yg pas di studio daun teh ini.

Dan ini poseku, yg difoto oleh Mawi.

Ndop dengan Pucuk

Judul: Aku dan pucukku
Wardrobe: American Eagle Polo Shirt 70K (kok murah? sisa eksport bero! HAHA)
Celana pendek 99K
Nikon D3200 5950K
G Shock 100MC 1250K

Poseku lainnya, yang difoto oleh Yofangga.

Ndop dan Teh

Aku bagusan kurus gini atau gemuk sih?

Gak lengkap kalau gak levitasi..

Levitasi di kebun teh Tambi

Perlu keahlian khusus untuk foto levitasi begini.
Apa keahlian khusus itu?
Ganteng!

Dan ternyata levitasiku kurang sempurna itu ya. Maklum kegantenganku juga gak sempurna. Masih setengah-setengah. Kadang ganteng, kadang cyantik #eh

Btw, sebelum kita menuju bab selanjutnya, akan aku ringkas saja poin-poin yg sudah aku twitkan secara live pas #famtripjateng di kebun teh Tambi 4 Desember yg lalu.

Lumut dan ibu Woniti

  1. Lumut di pohon teh ini tiap 4 tahun sekali harus digosok. Kalau enggak tunasnya gak tumbuh
  2. Ibu Woniti sedang mengumpulkan hasil petikannya (manual) sebanyak 7 kilo. Rata-rata sehari 10 keranjang.
  3. Lama siklus pemetikan tergantung jenis teh dan cara pemetikan. Untuk pemetikan manual, rata-rata 12 hari udah tumbuh pucuk baru. Sedangkan untuk pemetikan berat, pakai mesin gedhe gitu, siklusnya 40-60 hari baru muncul pucuk baru. Foto mesinnya gak ada ya bero, soalnya kemarin gak ada di sana.
  4. Pemetikan pakai mesin, bikin tanaman teh terpotong rata tanpa sisa pucuk satupun. Itu yg bikin lama siklusnya karena harus menumbuhkan banyak daun khan ya.
  5. Semakin lama siklus pertumbuhan pucuk teh, semakin buruk kualitasnya. Semakin cepet (sehat) semakin bagus. Otomatis sih ini ya.
  6. Kalau kualitasnya tanaman teh sudah gak bisa dihandalkan, dilakukan peremajaan. Dipangkas habis daun-daunnya. Wuih, gundul dong!

Dan yang bikin trip kali ini spesial adalah, kami serombongan dengan artis terkenal. Ada Tantri Kotak, Arya Wiguna, Harry Potter, Tulus, Kaesang Pengarep dan Surya Saputra.

Dan inilah sebagian para artis itu..

Artis Tambi: Tantri Kotak, Arya Wiguna, Harry Potter, Tulus

Tantri Kotak, Arya Wiguna, Harry Potter, Tulus

Setelah di kebun teh, kami diajak ke pabrik pembuatan tehnya. Tapi sebelum itu, wajib foto-foto dulu ya kakak..

Foto bareng #famtripjateng

Siapa yang paling ganteng? Siapa?!!!
*sambil sodorin duit 20 milyar*

Jalan kaki sebentar, belok kiri, lalu nemu lapangan kosong buat melihat pemandangan Tambi yang asri.

Pemandangan Desa Tambi

Aslinya sih aku pingin duduk-duduk lama di sini. Tapi dikejar waktu.
Kuliahnya belum selesai kakak!

Karena pemandangan pegunungannya bagus, kami foto bareng lagi.. (acara inti sebenarnya foto-foto sih #eh)

Foto bareng di pemandangan pegunungan Tambi

Siapa yang paling keren? Siapa?
*Sambil sodorin duit 19.999.999.9500,
yang 500 buat aku ya, buat beli akua*

Sebenarnya ada sesi pemotretan khusus aku sih, trus ada rekaman video untuk iklan teh Tambi, tapi karena keburu waktu, akhirnya aku batalin semua kontrak itu. Padahal nilai kontraknya senilai 20 milyar loh! Gak papa, mending ikut kuliah 2 SKS tentang teh aja deh. Dapet ilmu.

Huahahahaha. Pencitraan mulu nih..

Udah masuk ke Pabrik Teh Tambi nih ceritanya. Bapak pemandu kali ini menjelaskan tentang…

PROSES PENGOLAHAN TEH HITAM

Setelah pucuk daun terpilih telah dipetik, maka langkah selanjutnya adalah dilayukan di ruang pelayuan. Biar layunya cepet, maka ruangan ini suhunya diset 26 derajat. Pelayuan memerlukan waktu 15 jam.

Ruang Pelayuan Teh

Ruang Pelayuan Teh

Lalu setelah layu, teh digiling di ruang penggilingan selama 40 menit saja. Sekaligus misah-misahin yg kasar dan yg lembut.

Ruang Penggilingan Teh

Ruang Penggilingan Teh

Gila ya bero, kirain alat pembuat teh itu tradisional, ternyata berupa mesin-mesin canggih gitu. Bahkan aku baru tahu kalau teh itu ada pabriknya. HUAHAHA. Ndeso sekali ya diriku..

Setelah digiling, kemudian dikeringkan di ruang pengeringan selama 25 menit. Gila, aku hafal banget ya detail pembuatannya. Hehehe. Ada contekannya kok bero. Hahaha.

Ruang pengeringan teh

Ruang Pengeringan Teh

Setelah teh kering, langkah selanjutnya adalah dipisah-pisahin kualitasnya di ruang penjenisan. Jadi, teh yg bagus itu berasal dari 3 pucuk daun teratas tadi ya bero. Semakin atas semakin baik. Jadi daun pertama jauh lebih bagus dibanding daun di bawahnya.

Kualitas teh yg buruk itu berasal dari batang teh ya bero, bukan daunnya. Dan berita buruknya, teh yg buruk justru yg warnanya pekat/gelap. Kalau diseduh, langsung berwarna coklat gelap. Teh yg bening justru yg bagus.

Tuh khan, dugaanku selama ini salah nih. Haha. Jadi tau deh sekarang gara-gara ikut “kuliah 2 SKS” di Tambi.

Ruang Penjenisan Teh

Ruang Penjenisan Teh

Karena menjenis-jeniskan teh yg baik mana, yang buruk mana, itu agak njelimet, maka waktu penjenisannya 6 jam ya bero.

Bentuk teh dari yg segar dan setelah proses tertentu

Penampakan teh sebelum dan sesudah proses tertentu

Mau tau bentuk teh yg bagus itu kayak apa? Nih..

Teh Kualitas bagus

Teh kualitas bagus!

Kok malah kasar? Gak salah upload tuh ndop?

Enggak beroh, yakin deh, kalian pasti pada salah tebak khan? Mengira teh yg bagus itu yg lembut? HAHAHA. Sama kok bero. Aku juga kaget.

Dan berita buruknya, teh celup yg kita minum itu kualitasnya gak bagus-bagus amat. Karena kalau diseduh, akan cepet berubah warna khan? Bisa-bisa itu dari batang teh, bukan daun tehnya. Wahduh.

Dan gosipnya sih, teh yg kualitas bagus itu dieksport ke luar negeri. Dan harganya tentu lebih mahal.

Dari perkebunan teh Tambi di atas, menghasilkan beberapa samples teh. Sample ini biasanya dikirim ke luar negeri sebagai standar (patokan) jenis teh tertentu untuk mempertahankan kualitas.

Sample Teh

Sampel teh

Eh mas bero, ada informasi baru nih, kamu kalau nyeduh teh celup berapa lama sih? Berjam-jam kah? Atau sampe tehnya habis?

Nah, aku kasih tau ya, menurut pak pemandunya, menyeduh teh itu cukup 2-3 menit saja. Habis itu teh celupnya dibuang saja.

Kenapa kak?

Karena pemutih di kertas pembungkus teh celup itu bahaya ya buat kesehatan. Kalau kelamaan nyeduh, dikhawatirkan pemutihnya ikut keseduh deh. Trus kita minum. Wah bahaya.

Okay selesai kuliahnya kaka-kakak. Yuk, keluar pabrik, kita foto-foto..

Foto bareng di pabrik teh tambi

Wajah-wajah sumringah padahal perut udah mulai lapar..

Setelah itu kami dijamu lagi, ngemil-ngemil di kantin villa Tambi.

Ngemil tempe kemul dan teh

Cemilan andalan Tambi: Tempe kemul dan teh.
si Ani Kondriatun jangan dimakan ya beroh,
itu pacar kamera kesayangan akuh soalnya.

Setelah itu hujan rintik-rintik datang. Sekitar jam 10.30 pagi kami sudah harus packing dan check out dari sini. Diriku kok merasa ada yg hampa, kayaknya harus bawa sesuatu dari sini.

Oh iya! Beli teh Tambi!

Di villa dijual teh juga kok buat oleh-oleh. Dan aku membeli 3 macam teh asli Tambi:

Teh Tambi

Produk asli Tambi nih!

Pas di rumah, aku cobain teh asli Tambi. Rasanya natural. Dan ada sepet-sepetnya. Yg bikin aku suka adalah kesegaran dan kealamian rasanya. Temen SMA-ku yg main ke rumah pun aku buatin, dan komentarnya sama, SEGER rasanya.

A photo posted by Muhammad Ali Mudzofar (@dzofar) on

Akhirul kalam, ada sebuah pantun buat Tambi…

Beli ager-ager sampai ke Kenya. Teh rasa seger? teh Tambi pastinya!

Ngeteh dulu kakak.. :dance:

————-

PT. PERKEBUNAN TAMBI
Jalan Tumenggung Jogonegoro 39 Wonosobo 56314.
Phone: (0286) 321077, 321088.
Fax: (0286) 321203.
Email: [email protected].
Website: http://ptperkebunantambi.com

43 Comments

Komen yuk kak!