Dosa-Dosa Pengguna Komputer di Endonesah

.. dan juga di beberapa negara lain. Kayak Romania, seperti yang pernah aku baca di komen video yutub yang membahas Windows Activation. Dan mungkin banyak negara lain yang penduduknya gak mau ngaku. Huahahaha.

Di Indonesia, penggunaan software bajakan sudah sangat amat lumrah. Karena setau saya, memang belum nemu ada papolisi yg menggrebek dari rumah ke rumah atau instansi pemerintahan di kota kecil mengenai penggunaan software bazakan.

Kalau perusahaan besar gitu pernah denger (walaupun aku belum pernah lihat sendiri, dan bagaimana prosedur pemeriksaannya), ada yang menyuwipping penggunaan softwarenya.

Nah, yang menjadi pertanyaanku adalah apakah sebatas software original doang? Sebatas bisa konek internet dan tidak terdeteksi bazakan doang? Apakah diperiksa lisensinya?

Saya yakin kok gak banyak yang tahu kalau ada beberapa jenis lisensi (pemberian izin) software. Setidaknya yang penting diketahui ada dua. Education License dan Full License. Education license tentu saja untuk edukasi. Alias softwarenya khusus dipake belajar mengajar di sekolah. Pemakainya siapa? Murid dan guru. Bukan frilenser yang bekerja ya!

Trus full license alias los dol license. Alias softwarenya kamu pake apapun boleh! Nah frilenser harusnya lisensi pake ini nih.

Namun berita buruknya adalah frilenser design kayak saya ini harga softwarenya mencekik leher sampe semaput. Contohnya Corel Draw, harga life time license Corel Draw itu 785 dolar! Atau sekitar 11,5 juta! SEBELAS JUTA BRO!

Sementara pemakai Adobe Photoshop, Illustrator, Indesign, Premier, dll, SUDAH GAK ADA life time license lagi. Klean dipaksa bayar tiap bulan. Yang harganya 715 ribu seratus rupiah setiap bulan untuk SEMUA adobe app. Kalau klean cuma pake Photoshop doang, bayarnya 283.300 rupiah tiap bulan. Illustrator juga segitu harganya.

Bayangkan di kala pandemi begini, job-joban photo sepi, tapi klean harus bayar “sewa” tiap bulan huhuhue. Eh bisa berhenti berlangganan sih. Tapi ya itu, kalian jadi nganggur gak ngapa-ngapain. Huhuhuhue.

Untung sih aku pake koreldro, jadi kalaupun 11 juta tapi bisa dibuat selamanya, khan gak papa banget (walaupun aku yakin yang beli corel draw secara individual di Indonesia ini bisa diitung jari). Bayangin itu betapa jahatnya Adobe pake sistem langganan. Setahun kali 715 ribu sama dengan DELAPAN JUTAK! Hohohoho. Adobe dipake dua tahun udah dapat life time corel tuh.

Nah, kalau papolisi sekadar swiping software original, sebenarnya sangat gampang mengatasinya. Banyak yang jual serial number di ikamers dengan harga sangat ramah di kantong! Kayak windows 10 yang cuma dijual 20 ribu saja! Padahal harga aslinya 140 dolar alias dua jutaan!

Sayangnya gak ada swiping sama sekali ya. Walhasil warga negara endonesah tercinta ini kayaknya 90% pake bajakan semua. Krek-krekan.

Yang pake original paling juga dikit banget. Dari 10% itu paling 9 persen dapat gratisan dari kantor tempat dia bekerja. 1 persen beli sendiri. Education License pula. Huhahaha.

Sebenarnya aku sudah agak tenang sih setelah beli corel kemarin. Cuman kemudian di instagram @vektorkades update tentang lisensi font!

Seketika aku langsung shock! Ternyata free font di dafont itu gak semuanya free! Walaupun bisa didownload, tapi sebenarnya ada lisensinya. Syukur-syukur lisensinya 100% Free alias sak karepmu mbok pake jualan atau dipake sendirian bebas lepas! Tapi ada font yang boleh dipake untuk personal use. Alias gak jadi duit.

Personal use bisa dipake untuk hiasan rumah kalian. Kaos yang kalian pake sendiri. Atau hadiah ke orang lain. Intinya kalian gak dapat keuntungan dari penggunaan font ini.

Habis baca postingan instagram @vektorkades itu, aku langsung ndredeg dan ngecek lisensi semua font yang aku pakek. Ternyata ada beberapa yang lisensinya khusus personal use. Sisanya ‎اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ free 100%.

Kacaunya, font favoritku: GOTHAM, ternyata hanya boleh untuk personal use. Sementara font GOTHAM ini sudah kupake di mana-mana. Untuk orderan vector juga sering banget! Okay untuk vectoran emang gak aku charge biaya tulisan. Tapi font GOTHAM juga kupake buat judul video-video yutubku yang mana itu aku dapat duit dari situ!!

JELEGAR!!! SUTRES AKU GAES!

Bahkan blog ini pun headernya aku pake font GOTHAM. Walaupun ini personal blog, tapi aku kan jualan vector di sini :cry:

Akhirnya, aku berusaha semampunya aja, header blog dan menu yang pake font yang bukan free 100% aku ganti semua pake font yang 100% free. Cover yutub juga udah aku ganti pake font 100% free. Untuk thumbnail video, font di dalam video, aku gak sanggup kalau harus ngedit satu persatu trus upload ulang. Pasti bakalan capek banget nget nget!

Serem banget dah bab lisensi ini. :takut:

Walaupun gak mungkin (kemungkinan kecil) juga papolisi nggrebek aku karena penyalahgunaan lisensi font, tapi aku ya tetep ndredeg gaes! Percuma dong aku sudah keuar 11 juta tapi tetep gak tenang juga? HAHAH

Stress masalah font ini aku alami selama beberapa hari doang. Aku bisa agak tenang setelah menyadari kalau aku gak sendiri. Aku bersama ratusan juta manusia di dunia ini yang menyalahgunakan lisensi penggunaan font. Jadi kalau ntar digrebek papolisi dan masuk penjara semua, aku tetep punya banyak temen. HUAHAHAH.

Ketenangan selanjutnya adalah aku pasrah. Yaudahlah aku sudah mengakui kesalahan. Selebihnya pasrah dan yang penting aku sudah delete font-font yang gak 100% free. So, for the next job, I will use font yang 100% free.

Kalian tahu gak, kalau font yang dibawa windows itu baru free kalau kalian beli lisensinya? HAYAH KONO! Trus buat font yang ada di Ms Word dll, itu juga baru bisa kalian buat untuk komersil kalau sudah beli lisensi Office (7 dolar perbulan). Huhuhue. Habis duitnya buat beli lisensi.

Sekali lagi, kita untung hidup di Indonesia yang gak begitu ketat masalah pairesi ini.

Aku jadi penasaran, perusahaan di Indonesia ini yang omsetnya em em an, apakah softwarenya ori semua ya? Fontnya ori juga kah? Lisensinya beneran komersial kah? Jangan-jangan edukesyen? Hihihi

Kalau pengalamanku kenal sama designer grafis Surabaya yang nggarap orderan resto ayam Chicking, dia pernah cerita beli font juga. Walaupun aku gatau dia bayarnya pake apa. Soalnya aku gak pernah tau dia punya paypal atau kartu kredit. Hihihi

Pas ketipu beli software online beberapa bulan kemarin (beli full license, dikasih education, untung duitku udah balik semua), sebenarnya aku bisa banget melaporkan ke tokopedia. Cuman aku gak tega. Huhuhue. Aku cuma bisa ngasih tulisan aja supaya berhati-hati.

Di tokopedia, yang sebenarnya tertulis aturan dilarang menjual barang digital aja, masih banyak banget yg jualan software bajakan, gak ada tindakan khusus yang dilakukan toped pula. Apalagi kita yg diam-diam pake software bajakan? Ya bebas lepas lah gak ada yg ngelarang. Hahaha

Sebelum 3 September 2020, softwareku bajakan semua. Eh trial ding. Sampe harus install ulang windows berkali-kali dan pakai email buanyak demi mendapatkan trial lagi. Haha. Padahal buanyak tutorial di yutub untuk memperpanjang trial. Tapi itu sama aja kayak “ngakali” sekrip software. Alias sama aja dengan krek-krekan. Hahaha.

Setelah capek install-uninstall windows, baru deh aku nekat beli Parallel Desktop seharga 1,5 juta. Ini software untuk install windows di Mac. Lalu 5 hari kemudian aku beli korel 11 jutak lebih. Huhuhue.

Sekarang apakah aku sudah tenang 100%?

ENGGAK LAH! Aku justru setres. Karena duit buat beli software itu kan duit dari kerja pake software bajakan. Trus beli rumah juga gitu. HUAHUAHUA. Ya walaupun aku tetap harus bekerja meluangkan waktu dan tenaga, tapi tetep aja itu duitnya gak 100% jelas asalnya hahaha.

Sekarang aku pingin hidup sederhana aja dan gak akan sering sambat lagi kalau misal barangku ilang atau rumahku rusak dan aku harus keluar uang banyak. Mungkin itu cara Tuhan membersihkan dosa-dosaku? اٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

So, kalau-kalau nanti aku jatuh miskin gak punya duit, aku gak akan sambat nemen-nemen. Karena sadar kalau duitnya emang gak 100% jelas asalnya. Hahah

Oktober kemarin, aku sempet berdoa pingin nganggur dan melajar melukis aja. Eh, dikabulkan. November ini orderanku sepi (ada sih satu doang haha), dan aku jadi punya banyak waktu untuk istirahat dari fikiran stress ini dan mulai membiasakan hidup dalam keadaan berlumur dosa. Efeknya bagus kok, aku jadi gak ada celah untuk sombong lagi (sombong beneran ya, semacam sok alim dan sok suci gitu, bukan sombong yang buat lucu-lucuan).

Ini pendapatku ya, memakai software bajakan itu gak 100% salah kok. Cuman sedikit gak sopan aja ke pemilik software. Kalau untuk urusan hukum, ya melanggar sih. Tapi bukan pelanggaran yang urgent. Soalnya belum pernah ada papolisi swiping ke rumah-rumah penduduk untuk memeriksa software.

Jadi buat klean yang masih pake bajakan, jangan lupa berbagi ilmu ke orang lain. Siapa tahu ilmu yang kita berikan dan memberikan manfaat buat orang lain itu bisa jadi sarana “membersihkan” dosa-dosa kita memakai software krek-krekan.

Mau pake software free alias Open Source kayak Inkscape, GIMP, Open Office? Boleh-boleh aja. Tapi ingatlah kalau di Indonesia ini software default yang di ajarkan di sekolah adalah Photoshop, Corel, Illustrator, Office, dll yang semuanya GAK GRATIS!

Sebagai contoh, kalau kalian jualan jasa design, kalian harus save filenya ya kalau gak PSD, Ai, atau CDR. Ngasih SVG (free software kayak Inkscape pake format ini) hanya akan menyusahkan klien. Hohoho

Kalau dipikir-pikir, kenapa petani di sawah itu hidupnya tenang ya? Mungkin karena dia gak merugikan orang lain. Gak mikir lisensi. Gak pake software bajakan. Lha macul kan cukup pake cangkul. Kecuali dia macul pake komputer. Hahaha.

Kalau dipikir-pikir lagi, orang miskin gak akan bisa jadi designer grafis secara legal. Modalnya harus banyak! Minimal harus punya duit 5 juta buat beli leptop dan langganan Adobe. Iya kalau orderan laris, kalau enggak, bulan depan sudah gak bisa makan karena duit habis buat langganan Adobe. Kalau pake Corel, modalnya harus jauh lebih buanyak lagi. Mabelas jutak! Huhuhue. Nyesek gak tuh!

Jadi sebenarnya tidak benar kalau kerja design itu “cuma modal leptop doang!” Tapi harus beli software juga yang harganya jau lebih mahal dibanding leptopnya! :cry:

Yowis lah.. Satu-satunya solusi, mari kita berdoa supaya pemilik software yang softwarenya kita krek trus kita pake ini, memaafkan dan mengizinkan kita semua bekerja pake softwarenya. اٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Sekian.

Komen yuk kak!