Kenapa Gaya Penulisan Thread Viral Selalu Bagus Ya?

Saya curiga ya, thread (ini bacanya thred ya, bukan trit. Kalau klean gabisa baca “th” yaudah gapapa, tapi “ea” di sini dibaca “e”, bukan “i”. Jadi bukan trit, tapi thred! Atau tred wis. Paham?). Saya ulang, saya curiga ya, thread di twitter yang viral-viral kok gaya penulisannya bagus dan runut dan mudah dipahami. Hampir semua mungkin ya. Cuman di aku, semua thread viral yg kubaca, bahasanya bagus dan rapi.

Padahal menulis itu hal yang gak semua orang bisa loh. Yang sudah jadi Blogger aja, yang nulisnya mudah dpahami bisa diitung dengan jari. Rata-rata ya gitu lah. Makanya ada istilah :fastreading: untuk pembaca yang males baca tulisan karena gak enak aja bahasanya. Hahaha.

Aku termasuk blogger yang termasuk enak dibaca tulisannya. Bukan aku yg bilang (eh, aku juga bilang begitu ding, Hihihi), bukan aku aja yg bilang, tapi buanyak yg lapor di DM instagram dan sosyel media lain yg bilang kalau gaya bahasa yg kupakek di blog ini itu mudah dipahami. Hihihi

Nah, contoh kasus thread viral yg baru-baru ini heboh gara-gara si Ernest nge-RT thread, pun begitu. Gaya bahasanya enak. Sampe ke chat yang diskrinsyut pun gaya bahasanya gak alay. Saya kan jadi curiga.

Alid Abdul juga curiga. Dia bilang thread KKN Desa Penari salah satu contohnya. Bahasanya enak banget diikuti. Kalaupun ada typo, kayak disengaja gitu. Biar terkesan neicrel asli dari pelakunya sendiri. Hihihi.

Kak Anazkia ternyata sependapat denganku. Hmm. Dua orang blogger kondang mengaamiini kecurigaanku.

Jadi mungkin begini, ini pendapatku lo ya, jadi klean gak kupaksa nurut. Dan ini bukan sebuah kebenaran yang HQQ:

  1. Penulis thread kebetulan emang hobi nulis atau seorang copy writer. Jadi dia terbiasa nulis panjang dan enak dibaca. Tapi kemungkinan ini menurutku kecil sekali.
  2. Penulis emang copy writer, alias emang kerjaannya nulis naskah/buku/cerita/blogger. Jadi korban/pelaku cerita sama copy writer trus ditulis sama si copy writer. Tulisan dari copy writer dikasih ke pelaku/korban. Trus dipublish sama pelaku/korban aslinya. Tapi apakah ini masuk akal? Hahah
  3. Ada “perusahaan” yang emang sengaja ngarang cerita untuk dipublish online. Plus foto biar lebih meyakinkan. Demi duit pastinya. Tahu sendiri kan di thread biasanya nempil iklan netflix murah dll? Etapi bukannya kita gabisa ngontrol orang untuk tidak mutualan atau jualan di thread ya? Kan tinggal reply doang? Hmm. Jadi pendapatku yg ini keknya gak kuat dasarnya. Haha
  4. Semua hanya settingan belaka! Huahahaha

Kalian percaya point yang mana? Jangan bilang “Saya hanya percaya sama Tuhan, mas!” Tak sampluk lambemu! Hahaha.

Kalau aku sih fifti-fifti ya. Kadang emang sereal itu. Senyata itu threadnya. Jadi memang legit ceritanya. Bukan dari copywriter. Tapi emang asli yg nulis adalah yang mengalami kejadian. Kenapa bisa bagus nulisnya? Ya karena dia menceritakan dengan jujur. Jadi ceritanya fokus banget gak kemana-mana. Mungkin dia juga pingin cerita biar beban hidupnya berkurang.

Atau mungkin gini, ada banyak thread lain yang gak kalah bagus ceritanya, cuman karena gaya penulisannya jelek gak rapi, makanya gak viral. Karena yang baca mumet. Hahaha. Kalau ini kok banyak benernya ya.

Yang jadi pertanyaan, kenapa kok ketika berita viral, aku bacanya ketika sudah ada ribuan orang sudah baca ya? Padahal aku kan tiap saat buka twitter. Huhuhuhue.

Eh gajuga ding, thread Libanon aku udah tahu duluan dibanding temen-temen followingku. Cuman aku gak ikutan update hashtag aja. Sudah pasti banyak yg mewakili.

Btw, aku barusan brosing random di google pakai kata kunci “thread viral”, dan postinganku yang ini bener-bener mewakili banget:

Bacalah gaes! Bahasanya enak dipahami. Bener-bener kayak baca koran atau majalah. Bener-bener sudah melewati proses editing. Kalaupun ada yg disingkat-singkat, itu kayaknya disengaja supaya terkesan neicrel.

See?

Apakah itu memang ditulis oleh seorang copy writer?

Soalnya gini lo gaes. Aku lak orangnya berpendidikan tinggi ya. Yah, oke oke, walaupun DO kuliah, tapi aku DOnya kan di semester 14. Alias, aku masih menjalani kuliah sampe titik semester penghabisan. Haha.

Nah, temenku kuliah aja lo, kalau update status di facebook atau instagram, gak kepikiran tuh buat enter-enter paragraf supaya pembaca mudah membacanya. Padahal dia berpendidikan tinggi loh! Sudah pasti dia sudah mengeyam pelajaran Bahasa Indonesia bertahun-tahun lamanya.

Kenapa?

Ya, karena dia gak butuh nulis serapi itu. Dia nulis, ya nulis aja. Bodo amat ada yg baca apa enggak. Mungkin juga gak ada waktu buat nulis yg bagus. Sementara si thread viral itu sepertinya emang sengaja mengerahkan buanyak waktu untuk membuat thread.

Ini contoh thread berikutnya, yang kutemukan random di google:

Bahasanya kok enak ya? Curiga aku, curiga! Hahaha

WDYT gaes? Apaka klean berfikiran yang sama? Atau kalian baru sadar setelah baca postinganku yg ini?

Komen yuk kak!