Mas Ndop yang Goblok!

Jadi gini gaes, aku beberapa bulan ke belakang ini sebenarnya gak bahagia-bahagia amat. Soalnya banyak hal yang aku putuskan bukan atas kehendakku 100%, tapi lebih karena gak enak aja, jadi aku bilang “iya iya” aja kayak dihipnotis gitu (atau jangan-jangan memang dihipnotis?). Aku kayak orang goblok aja gitu (atau jangan-jangan emang goblok?)

Semuanya terjadi tidak sesuai isi hati. Apalagi ini menyangkut hal besar. Seperti rumah contohnya. Btw, aku akhirnya punya rumah gaes! YAASS!! Faineli! Semua orang pasti puwingin punya rumah dan akan bahagia banget kalau sudah bisa mencapainya. Iya kaaan?

Tapi beda banget sama aku. Rumahku yang kuberi nama Ndop Studio itu kini kosong tanpa penghuni. Sudah seminggu tidak aku inepi. Aku gak nyaman aja kalau harus nginep di sana. Kenapa gak nyaman? Ya karena Ndop Studio itu salah satu contoh hasil kegoblokan aku yang bilang “iya iya” aja tadi.

Contoh parahnya, ketika si developer ngasih design rumah, aku iya iya aja. Padahal sebelumnya sudah aku kasih design yang kupingini seperti apa. Aneh kan? Rumah dengan dua kamar dan ruang tamu bukanlah yang kuinginkan. Kupingin rumah studio tanpa sekat yang gak ada kamar-kamarnya. Jadi hanya ada satu ruangan serbaguna yang nanti aku bisa pindah-pindah sesuka hati mau tidur di mana, dll. Tapi apalah daya, karena kegoblokan dan keluguanku, aku tidak mau mempertahankan design yg kuingin itu ke developer.

Sampe jadilah Ndop Studio yang telat 1 bulan dari janji. Tapi apalah daya, janjinya cuma dari watsap, gak ada surat tertulis atau apa (atau memang begitu semua?), walhasil aku cuma bisa mbatin saja.

At least rumah sudah jadi bagus kok. Aku juga suka. Cuman memang bukan untukku aja. Kamar depan yang seharusnya buat kerja, yang seharusnya lebih besar karena biar bisa kubuat macem-macem kegiatan, akhirnya dibuat kecil banget. Kamar belakang dibuat besar. Padahal kamar belakang itu gak berfungsi sama sekali.

Ketika diskusi dulu, aku juga cuma bisa bilang “iya iya” aja tanpa mau ngeyel. Padahal ini rumah-rumahku sendiri lo. Kenapa manut? I don’t know. Aku merasa sangat bodoh gaes! Sumpah!

Ada budaya yang bilang kalau kamar depan harus lebih kecil dibanding kamar belakang, karena yang belakang mangku yang depan. Atas dasar filosofi itulah aku jadi manut dan iya-iya aja. Tapi akhirnya nyesel banget karena aku gak butuh kamar belakang segedhe itu. Kamar aja aslinya ga butuh. Sedih :cry:

Developernya gak salah kok. Aku yang guwoblok aja. Developernya berfikir ke depan. Sementara aku berfikir sekarang. Developernya bilang rumah itu untuk jangka panjang. Aku mikirnya rumah itu kutempati sekarang. Developernya bilang aku nanti kan bakalan nikah dan punya anak, jadi harus ada kamarnya lah! Aku mikirnya aku gak bakal nikah dalam waktu dekat, so, sudah pasti rumah itu akhirnya kosong sekarang. Aku 90% lebih suka tinggal bareng keluarga di rumah ibuk, di kamar sempit 3×2,5 meter yang dulu kubenci ini.

Dulu, ketika aku kepingin bangun rumah, aku jenuh di keluarga ini karena satu rumah isinya kebanyakan. Mau cuci baju musti londri terus karena antri umbah-umbah sama anggota keluarga yang lain. Eh, ketika rumah sudah jadi, dan habis beratus-ratus juta, aku malah gak mau tinggal di sana. Goblok banget!

Iya, aku stress karena merasa goblok. Gak konsisten. Ada yang menebak kalau aku gamau tinggal di ndop studio karena anak mama aja. Padahal gak gitu. Padahal ya karena design rumah tidak sesuai keinginan di awal aja.

Ndop Studio
Ndop Studio. Bagus ya! Sayangnya gak aku banget.

Jadi sekarang aku kalau mau nginep di ndop studio, aku harus ngajak temen untuk menemani. Karena alasan keamanan. Di perumahan itu, penduduknya masih dikit. Aku belum punya tetangga deket rumah. Tetangga baru ada sekitar 3-4 rumah di sekeliling. Yang dekat-dekat belum ada. Jadi kalau malam, ngeri bats gaes. Kalau berdua sih enak bisa ada teman ngobrol. Kalau sendirian, mending melekan nonton yutub/netfliks saja baru mau nginep. Tapi nontonnya gak khusuk karena merasa gak aman.

Alasan keamanan juga sedikit ikut andil dalam aku memutuskan tidak berani nginep di ndop studio. Jadi di rumahku yang bagian belakang, yang dibangun oleh pemborong lain yang bukan dari perumahan, pintu besinya bener-bener tidak aman. Aku masih bisa nginceng dari dalam rumah dan melihat apa yang terjadi di luar sana. Pintu besinya ada celahnya yang lumayan gedhe. Jadi ukuran gawangnya kekecilan. Yang lebih menakutkan lagi, celah itu bisa dimasukin gergaji besi dan bisa memotong kunci slot dan pintu bisa dibuka dengan mudah! Rawan maling banget! Dan yang paling aneh, pintunya kebuka ke arah luar. Bukan ke dalam.

Yang paling aneh juga, gawang pintunya cuma dikasih mur di luar. Seharusnya sih murnya ditanam di dalam gawangnya, lalu dimasukin cor. Jadi murnya tertanam di cor-coran. Sehingga kalau ada maling mau melepas murnya, gak bisa. Karena sudah tertutup cor dan permanen. Kalau murnya di luar, ya maling mau melepas mur itu ya bisa banget!

Aku sudah komplain sih, katanya pintu yang arahnya keluar itu untuk menghindari maling supaya kalau mendobrak pintu itu, gak bisa. Tapi secara logika, alasan itu gak masuk. Soalnya maling bisa menggergaji kunci pintu yg berbentuk slot itu lewat celah pintu dan dengan mudah bisa membuka pintu dari luar. Tara! Dia bisa masuk dengan leluasa tanpa rame. Tapi seperti biasa, karena kegoblokanku, aku cuma bisa bilang “iya-iya” aja. Goblok Ndop!

Spiker blututh kesayangan juga rusak gara-gara dipake tukang sembarangan. Tirai IKEA juga bolong! Bukan salah tukangnya kok. Salahku sendiri karena rumahnya kutinggal. Jadi tukangnya gak ada yang ngawasi.

Pagar depan yang kukira harganya kemahalan (yang sempet bikin aku lemes berhari-hari) ternyata hasilnya bagus. Okay deh, kali ini aku membeli karya seni. Supaya aku gak kecewa sama harganya. Walaupun ada yg bilang harganya emang segitu, tapi dari banyak surve, banyak yg bilang itu kemahalan. Yaudah gapapa yang penting hasilnya bagus ada lampu-lampunya.

Tapi ternyata gak semulus itu. Tadi pagi pagar besinya sudah dipasang dan tembok yang sudah jadi mulus itu pecah beberapa titik terkena paku pagar besi. Mantab! Hahaha. Dan pagarnya pakai mur di luar sama kayak pintu belakang rumah. Jadi kalau ada maling mau melepas mur itu, bisa banget. Pagar besi bisa dicuri orang kalau mau. Baru tau kan kalian, kalau pagar bisa dicuri? Haha.

Hal-hal seperti ini merupakan ilmu baru buatku. Dan semua ini berkat masku yang dulu awalnya aku gak akrab karena beda visi misi, sekarang jadi makin deket karena dia profesional di bidang ini dan aku adiknya, jadi dia ngasih tahu mana yg salah mana yg benar. Urusan pintu besi belakang bisa kuatasi nanti kalau sudah selesai semua. Pagar besi depan rumah juga bisa kuatasi nanti. Kuatasi sendiri dengan biaya sendiri. Tentu saja aku minta bantuan masku dan dia yg akan menghandle semuanya. Aku tinggal bayar. Beres. Hihihi.

Kenapa gak nyuruh revisi aja ke pembuatnya?

Kan tadi udah, dan kalah. Karena aku goblok tadi gaes.

Aku pernah baca atau dengar, kalau menjadi bodoh itu dosa. Dulu aku masih mengira-ngira alasannya kenapa. Ternyata sekarang terjawab sudah alasannya. Menjadi bodoh itu akan merugi. Dan sudah terbukti, aku rugi ratusan jut gara-gara goblok. Aku membangun rumah yang tidak sesuai keinginanku. Aku jadi badmood berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Aku jadi kayak zombi yang gatau arah hidup. Sering banget aku curhat ke Tuhan, aku sudah kayak orang mati sekarang. Tidak punya kehendak. Tidak ingin apa-apa lagi. Kayak zombi. Dibilangin iya-iya aja. Hidup yang gak enakan emang bikin hidup jadi gak enak.

Bisa jadi ini karena faktor jumlah teman semakin sedikit. Kenapa sih teman-temanku pada nikah? Kalian tahu gak sih kalau menikah itu bikin temanmu yg jomblo jadi kesepian? Menikah itu kejam buat temanmu jomblo yang belum nemu jodoh atau yg emang gak ada keinginan untuk nikah. Mau nongkrong jadi gak bisa karena yg sudah nikah tentu maunya nongkrong cuma berdua aja. Padahal sebelum nikah, mau-mau aja nongkrong bareng.

Faktor teman makin sedikit, membuatku mempertahankan pertemanan sekuat tenaga mungkin. Walaupun resikonya jadi zombi yang cuma nurut aja (demi menghindari debat yang menimbulkan perpecahan), dan nyesel di akhir karena gak sesuai keinginan sendiri. Karena pingin menjaga perasaan teman. Karena pingin memenangkan hati teman. Jadi keinginan diri sendiri dikorbankan.

Aku sekarang sudah di tahap aku ini gak penting. Duitku juga gak penting. Sampe-sampe ketika sepeda Xtrada 6 seharga 6,5 jutaku ilang dicuri orang, Jumat, 10 Juli 2020 yang lalu, aku gak merasa sedih sama sekali. Aku biasa aja. Aku bahkan bisa melanjutkan tidur nyenyak. Karena pagi itu emang jadwalku tidur. Hihihi.

Bye Bye Bayu Tubrada! I miss you!
Bye-bye, Sepedaku si Bayu Tubrada! I’ll be missin you!

Justru Mbak Mun (ibukku) yang gupuh buwingung mencari sepedaku di mana. Sampe semua tetangga tahu kalau sepedaku ilang. Semua orang jadi membahasnya. Sementara aku malah tidur nyenyak. Goblok! Hahaha.

Yang bikin heran seisi rumah adalah sepedaku ilang DI RUANG TAMU! Jadi posisi sepeda bukan di indomaret, bukan di cafe, bukan di luar rumah, bahkan bukan di teras rumah, melainkan DI RUANG TAMU! Rumah ibukku emang gak ada garasinya. Tapi apakah mungkin maling masuk rumah sampe ke ruang tamu dan mengambil sepeda? Resiko besar lo ini!

Banyak spekulasi kalau malingnya pakai ilmu gendam atau sirep. Tapi ketika kutanyakan ke staff khusus badan intelejen pribadiku, dia bilang hal itu gak mungkin. Karena kalau ilmu gendam dibuat nyolong sepeda, resikonya terlalu besar. Mending dibuat gendam orang langsung malah duitnya langsung cair tanpa perlu effort ngejual sepedanya. Hihihi meik sens juga!

Menurut staff khusus intelejen pribadiku, dia setuju sama pendapat masku (yang merupakan staff khusus pribadiku di bidang perghoiban) yang mengatakan kalau pencurinya adalah orang yang sangat kukenal dekat. Bisa tetangga, bisa teman, bisa anggota keluargaku sendiri. Hal itu yang paling masuk akal. Karena kalau kepergok, dia bisa dengan santai bilang minjem sepeda atau senyum santai sambil bilang, ‘Mas Ndop wonten?’.

Hmm.. Bahkan ketika Staff khusus perghoiban nyebut nama, aku langsung mindblowing! Masuk akal!

Tapi anehnya, aku diemin aja dia. Karena aku juga gak punya bukti apa-apa to? Trus kalaupun nemu sepedaku di tempat lain gitu, apa buktinya kalau itu sepedaku? Sepeda soalnya gak ada surat-suratnya :cry:

Trus ada yg mencurigakan ketika sepedaku ilang, si tersangka bilang dua hal yg berbeda. Dia bilang dia sedang di luar rumah dan gak bawa sepedanya. Di lain waktu, dia bilang pagi itu sedang tidur di kamar. Menurut perkiraan staff ghoib, sepedanya ilang sekitar jam 3-4 pagi di ruang tamu. Dan si tersangka emang jam segitu biasanya belum tidur.

Cuman itu masih analisis tanpa bukti ya gaes. Just ignore it if you don’t believe hal-hal perghoiban.

Aku iseng update video story menceritakan ke followers kalau sepedaku ilang (videonya kudelit setengah jam kemudian). Semua ikut berbela sungkawa. Banyak yang mendoakan supaya aku dapat gantinya yang lebih baik. Eh, malah aku gak suka didoakan begitu dong! Goblok! HAHAHAH. Kataku saat itu begini, “Gaes! Sepedaku yang ilang yaudah biarin ilang. Kalian gosah bingung. Gosah mendoakanku untuk dapat gantinya. Ilang yasudah. Untuk sekarang aku mau tenang dulu menikmati hidup. Belum butuh sepeda lagi.”

Didoakan dapat gantinya lebih baik kok gak mau! Ya elah gobloknya gak ketulungan!

Dan karena doa teman-teman kutolak, akhirnya kejadian dong! Pagi tadi aku sama Sony, temen SMA, nglencer ke Kediri untuk hanting sepeda baru. Mampir di Rukun Jaya, stok sepedanya habis-bis-bis! Hanya tersisa sepeda anak-anak! Hahaha. Padahal Xtrada 6 itu type Polygon yang pasaran. Bukan langka. Sepeda lipat yg kuinginkan juga gak ada. Padahal Pasific Noris Pro itu juga bukan limited edisyen. Banyak dijual di pasaran. Bukan yang langka.

Harga sepeda juga ndak umum. Dinaikin 1-2 juta. Yang harga aslinya 5 juta, dinaikin jadi 7 juta. Yang 7 juta bisa jadi 9-10 juta. EDAN! Xtrada 6 ku aja di online sekarang ada yg jual 8-9 juta! Padahal harga asli cuma 6,5 juta. Untuk mendapatkan harga normal, sebenarnya bisa-bisa aja. Tapi harus inden alias antri sama yg lain. Dan ketika tadi aku daftar antrian untuk Xtrada 6 di toko Rodalink, aku dapat antrian ke SERATUS! Wagelase sahabat! Orang Kediri kaya-kaya yaaa.. Yang mau beli sepeda seharga 7 jutaan sebanyak 100 orang loh! WEDYAN! Katanya korona ekonomi terpuruk, kenyataannya enggak sama sekali. Jangan-jangan korona hanya halusinasi?

Tadi sebenarnya ada stok Polygon Premier yang mejeng sendirian menunggu pemiliknya. Ketika kuingin beli, eh ternyata itu milik orang lain yg sudah inden. :cry:

Mampir di toko terakhir, kok ya ada gangguan dari bapa-bapa yang sotoy ngatur-ngatur aku. Jadi kan aku lagi liat-liat sepeda, sepedanya digantung di atas gitu karenat tempatnya sempit. Ketika kumelihat-lihat design sepedanya, aku malah tertuju ke sepeda lain yang sepertinya guwanteng untuk kumiliki. Tiba-tiba bapa-bapa sotoy ngatur-ngatur aku, “Kalau mau milih sepeda itu dilihat ininya (sambil menunjuk crank dan sproket sepeda), jangan modelnya!”

Karena merasa diatur-atur, akupun defens dong! Kubalas begini, “Spek gamasalah kok, Pak. Aku butuh sepeda as soon as passebel. Soalnya kubuat aktivitas sehari-hari.”

“Kalau dibuat sehari-hari ya, pilih yang nyaman, bukan designnya! Gak pernah sepedahan sih! Dicoba dulu makanya!”

JANCUK WONG IKI! AKU KET CILIK SAMPE SAIKI BENDINO SEPEDAHAN CUK! Karena merasa panas, aku pun menjauh dari bapa-bapa sotoy itu untuk menghindari pertengkaran. Karena bad mood, yaudah aku pulang aja. Hahaha. FAK YU BASO! BAPA SOTOY!

Dan aku pulang dengan tangan hampa. Malah beli kabel ces android buat ganti kabelku yg dirusakkan temen. WOTEN OOFEUL DEI! SIYAL MULU IDUPKU GAES! Haha

Jadi, so far, itulah curhatku untuk hari ini gaes. Kuingin ngeblog rutin kayak dulu lagi. Kuingin blog ini jadi tempat curhat. Mumpung jarang ada yg baca, jadi sangat pas sebagai tempat menuangkan sumpa serapah sebagai media terapi anti stressku. Hahaha

Komen yuk kak!