Sabar

Aku sedang ngidam nasi goreng. Berangkatlah ke penjual nasi goreng yang terkenal sangat rame pembeli. Setengah jam berlalu baru bisa aku rasakan nasi gorengnya. Antri. Harus sabar!

Tiba-tiba ada ibu-ibu yang mesen ke mas penjual. “Nasi goreng bungkus dua ya mas, saya tinggal dulu..” Lalu ibu-ibu itu melipir pergi dibonceng motor sama suaminya. Kayaknya sih pergi belanja.

Setengah jam kemudian, aku pulang ke rumah. Si ibu-ibu belum datang juga. Kayaknya lagi asyik milih-milih baju buat kondangan minggu ini. Suami ibu-ibu itu harus sabar!

Mas penjual nasi goreng sudah membikinkan nasi goreng sejak tadi. Mungkin nasi gorengnya sekarang sudah agak dingin. Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Ibu-ibu itu belum datang juga. Penjual nasi goreng sudah ngantuk waktunya istirahat. Pingin pulang tapi nanti si ibu bingung cariin. Akhirnya mas penjual menunggu setengah jam lagi. Mas penjual memang harus sabar!

Setelah menemukan baju kondangan yang mecing sama warna kerudung dan warna sepatunya, si ibu pun pergi ke penjual nasi goreng. Ibu itu hampir lupa kalau dia sudah mesan nasih goreng. Maklum, perutnya sudah kenyang karena sudah makan bakso di mol. Dia baru ingat ketika perutnya lapar lagi.

Sesampainya di penjual nasi goreng. Ternyata tidak ada siapa-siapa di sana. Penjual nasi goreng sudah pulang. Ibu itu merasa kesal. Dan lapar tentu saja. Jam selarut itu sudah jarang yang jualan di dekat-dekat sini. Akhirnya ibu itu pun pulang ke rumah sambil menahan lapar. Ibu-ibu itu harus sabar!

menungggu dengan sabar

Penjual nasi goreng sudah sampe ke rumah. Dua nasi goreng pesanan ibu-ibu itu sudah dingin banget. Sudah nggak enak. Keluarga penjual nasi goreng juga sudah pada tertidur lelap. Nasi itu pun dibiarkan tergeletak di atas meja. Sampai basi.

Besoknya penjual nasi goreng itu jualan lagi seperti biasanya. Pembelinya sama ramenya dengan yang kemarin. Ibu-ibu yang kemarin ternyata datang lagi. Lalu memesan nasi goreng lagi dan ketika si Ibu mau melipir pergi, si mas bilang ke ibu, “Maaf Bu, kalau ditinggal, gak akan aku bikinkan sebelum Ibu datang lagi ke sini. Kasihan pembeli yang lain yang nunggu antrian dengan sabar. Sementara si Ibu bisa belanja riang gembira..”

Sebenarnya si mas pingin bilang begini, “Lo lagi-lo lagi. Kemarin aku sudah rugi dua bungkus nasi, lha kok sekarang mesen lagi? Enak aja. Yang kemarin bayar dulu gih. Mana duitmu?!!” Tapi mas-masnya ternyata gak bilang begitu. Masnya ternyata bisa sabar!

Si ibu ternyata manut. Dia mau nunggu dengan sabar seperti yang lain. Dan ketika pesanan ibu sudah selesai dibuat, si Ibu ngasih duit 50 ribu ke penjual lalu bilang, “Udah, kembaliannya ambil aja ya. Itung-itung permintaan maaf yang kemarin.. “

Padahal kalau ditotal, Ibu itu cuma harus bayar 28 ribu. Mas-mas penjual jadi terharu dan berterimakasih sama ibu itu. Mereka berdua nggak jadi saling marah. Karena mereka berdua berhasil untuk meredam amarah. Mereka berdua sama-sama sabar!

The end.
—————-

Seperti dua cerita sebelumnya, cerita ini hanya ilustrasi. Fiksi. Hanya sebagai penjelas pengertian. Biar lebih gampang dipahami. Tentu saja dengan sudut pandang yg boleh jadi berbeda dg sudut pandangmu, sudut pandang kita, atau sudut pandang saya sendiri.

Tags:
41 Comments

Komen dong!