Nonton Jazz Gunung Bromo, Nyaris Gak Bisa Pulang!

Buat yang gak mau baca, dan bodo amat sama suka dukaku selama di Bromo, silakan tonton dua video di bawah ini.

Tapi buat yang ker sama aku, selamat membaca novel panjang di bawah ini ya.

NGINEP DI RENGGANIS HOMESTAY

17 Agustus 2017. Berangkat dari Nganjuk habis subuh (baca: jam 6 pagi). Sampe Surabaya jam 10 pagi. Sampe Probolinggo jam 12 siang.

Karena sudah pernah ke sini sendirian, maka aku gak ada drama-drama dengan tukang ojek kayak kunjungan pertama dulu.

Aku melenggang santai melewati tukang ojek yang sama dengan kunjungan pertama dulu. Batinku, mas ini masih ingat aku gak ya?

Dengan sedikit jaim dan sok-sokan gak ngeliat dia, aku langsung menuju ke arah pom bensin di sebelah selatan. Nunut cuci muka dan centak-centuk. Sudah Dhuhur ini kak.

Soto Lamongan di situ tutup. Yowis njajal makan soto daging di sini aja. Harganya masih terjangkau kok. Mungkin karena aku grapyak dan ngobrol sama bakulnya ya, jadi dia mau nyekem (scam) diriku gak tega kali hehehe.

Habis makan, langsung menuju rombongan bule di sana. Di tempat berjejer elf yang siap berangkat ke Bromo kalau sudah penuh kuotanya.

Aku ikut antri. Sudah ada sekitar 9 orang. Semua bule. Aku doang yang lokal. Trus tiba-tiba kedatangan 6 orang lagi. Orang lokal. Yowis ayok berangkat.

Karena diisi 15 orang, bayar elf (bison, angkot gedhe, minibus)nya cuma 35 ribu saja sudah sampe Cemoro Lawang, Bromo.

Sekitar 2 jam kemudian sampe ke Cemoro Lawang. Mas sopirnya nyariin penginapan buat aku. Dapet di Rengganis Homestay.

Enak nginep di sini. Ada air hangatnya. Kamar mandi segedhe lapangan. Bisa salto kalau mau! Bisa mandi bareng berlima kalau gak malu! Aku sih gak malu, malah seneng HAHAHA.

Rengganis Homestay Bromo

Rengganis Homestay

SAYANGNYA..

Pas aku coba naik ke kasur, tiba-tiba MAK BREK! Kasur jebol! Hmm.. aku dandani sendiri deh kasurnya. Teryata ada beberapa kayu penyangga yang gak berada pada tempatnya. Oke ini gampang!

Masalah kasur selesai.

3 bule lagi akhirnya diinapkan di Rengganis Homestay bareng aku. Hmm.. gak ada orang lokal nih? Oke ini tantangan bahasa nih! Ah, sante saja, kalau gak paham bisa pakai bahasa isyarat. HAHAHAH.

Aku bilang sama mas sopirnya. Aku nginep 2 hari mas. Soalnya besok mau nonton Jazz Gunung Bromo. Trus masnya bilang, kalau dua hari mending pindah penginapan aja. Jangan di sini. Selain di sini sudah dibooking orang, kita cari penginapan yg dekat dengan Jiwa Jawa Resort, tempat di mana Jazz Gunung berada.

Aku manut mas. Berati besok aku dicarikan penginapan sama masnya khan ya?

Masnya bilang jangan khawatir kalau sama saya, semua aman!

OKE SIP!

Oh iya, nginep di sini harganya standar kok. Kirain kalau pakai air hangat beda harga gitu, ternyata enggak! Jadi cuma 150 ribu saja. Kalian bisa mandi air hangat berkali-kali sepuasnya! Hahaha.

Sayangnya mas sopirnya gak jujur ke bulenya. Dia minta 200 ribu ke bule. Duh, mas.. :mad:

Foto bareng bule di Bromo

Kiri ke kanan: Navid from Bangladesh,
Jaime from Spain,
Carmen from Spain,
Ndop from dunia antah berantah

PHOTO BUAT AGUSTUSAN

Karena ini 17 Agustus, aku harus punya foto hormat ke bendera Merah Putih kayak orang-orang. Semua akun instagram yg aku follow sudah pada ngeshare foto bersama bendera merah putih. Sementara aku belum. Padahal ini udah sore.

Trus aku juga sedang ikut 21 Days Challenge lari 20 km dalam rangka Leo Month. Dan aku masih ngumpulin 10 km saja. Harus nyicil lari di sini nih, pikirku!

Yowis ayok, kita hunting foto sambil lari-lari! Ide brilliant!

Hormat 1

Oke ini gak masuk! Hunting lagi!

Oke ini lumayan bagus

Oke ini bagus, tapi gak ada benderanya.

Foto merah putih di Bromo

Not bad lah. Yang penting udah usaha

Oh iya, foto di atas ini aku cuma ngandalin iPhone 6 sama Joby Gorilla Pod yang aku berdirikan di atas tanah atau tembok. Hohoho.

Dan balik ke penginapan, aku sudah nyicil 2 km. Jadi masih tersisa 8 km lagi untuk menyelesaikan celens.

DINNER DI CAFE LAVA

Maret lalu, cafe ini jelas sangat dihindari oleh kami, para wisatawan lokal. Karena apa, ya isinya bule semua! Canggung lah. Hahah.

Kunjungan kedua ini, aku akhirnya bisa masuk Cafe Lava, kafe penuh bule. Cafe yang semua pengunjungnya gak ada yg nunduk megang hape. Cafe yang hangat. Cafe yg bikin aku bangga punya kulit coklat ikzotik. Hohoho.

Kami berempat dinner habis maghrib. Jalan kaki sambil ngobrol-ngobrol. Kami berempat ini bahasa aslinya bukan bahasa Inggris. Jadi ketika ngomong bahasa Inggris, sebenarnya kami sambil mikir. Ya sama kayak kita orang Indonesia.

Tapi tentu saja mereka Englishnya lebih lancaaarr dibanding aku yg cuma tahu yes no yes no. Hahaha.

Dinner di Cafe Lava

Kalian pasti bisa nebak, siapa yang ngajak selfie begini! Hahaha.

Aku memesan Soto ayam, Navid mesen Nasi campur, Carmen mesen Bolognese, Jaime mesen Nasi goreng. Oh iya, Navid (Bangladesh) itu bisa bahasa Indonesia dikit-dikit. Dia pernah tinggal di Indonesia waktu kecil selama 3 tahun.

Kami makan sambil ngobrol. Aku dapat lumayan banyak informasi dari para bule. Kalau gak salah dengar, ini dia fakta-fakta orang bule yg aku dapatkan dari mereka..

  • Bule rata-rata gak doyan pedes. Kecuali Carmen yg cewek itu doyan! Toast mbak!
  • Di Spanyol sana gak ada budaya ngasih tip ke pelayan restoran. Tapi di Amerika sana gaji pelayan restoran ya cuma dari tip para pengunjung restoran!
  • Alasan mereka memilih Indonesia sebagai destinasi liburan adalah karena murah dan indah dan makanannya enak-enak.
  • Jaime dan Carmen itu sedang bulan madu deh kayaknya. Habis ke Bromo mereka langsung ke Surabaya untuk transit lalu dilanjut ke Borneo. Sementara si Navid ngelanjutin ke Bali
  • Di Spanyol sana, gak semua orang pandai bahasa Inggris. Sama kayak Indonesia.
  • Orang bule gak mainan sosial media kayak kita. Dari ketiga bule itu, yang punya instagram cuma Carmen. Navid hanya punya facebook. Jaime malah cuma punya whatsapp. Haha
  • Pas perjalanan pulang, Carmen mendengar kucing meong-meong, trus dia ngelus-ngelus. Aku juga ikutan. Trus aku nanya beda kucing di sini sama di Spanyol, kucing di Spanyol ekornya panjang-panjang. Jarang ada yg pendek kayak di sini.
  • Hmm.. Seingatku, kamar mandi yang makek cuma aku! Mereka gak mandi sama sekali kah? Haha
  • Jaime itu gitaris. Navid juga! Trus aku bilang aku vokalis! Trus Carmen minta kami bertiga bikin Bromo band! HAHAH konyol!
  • Sementara itu dulu, nanti kalau inget ditambah lagi fakta-faktanya

Pas perjalanan pulang, aku ajak mereka mampir ke toko oleh-oleh Bromo yang pernah aku bahas di postingan sebelumnya. Layaknya tour guide, aku jelasin ke mereka harga kupluk, harga sarung tangan, dll. Haha.

Lega rasanya bisa menyelamatkan bule dari scam marking harga 3 kali lipat dari abang-abang penjual di pinggir jalan. Hahaha.

BACA JUGA: TIPS KE BROMO SENDIRIAN NAIK KENDARAAN UMUM

Balik ke homestay. Foto-foto bentar, lalu janjian bangun jam 2.30 pagi buat jalan kaki ke penanjakan. Iya, kami jalan kaki, gak nyewa jeep.

Dan petualangan sebenarnya dimulai dari sini..

JALAN KAKI KE PENANJAKAN

Navid sepanjang malam gak tidur. Dia kayak sibuk nerima telfun gitu. Dia duduk di ruang tengah. Rokokan. Dia bilang cuma tidur 1 jam doang.

Sementara aku tidur jam 10 malam. Ademnya lumayan. 13 derajat. Kemul penginapan cukup banget buat menghalau dingin yang masuk kamar. So, aku sangat tidur nyenyak. Hohoh.

Jam 2 aku bangun. Siap-siap. Pakai kaos lengan panjang, dirangkep hoodie Wadezig yang lumayan tebal. Lalu pakai buff Eiger sama topi. Aku gak pakek kupluk. Soalnya makan tempat di tas. Yang penting kuping tertutup. Tangan tertutup. Kaki pakai sepatu. Sudah cukup melindungi badan dari kedinginan. Tak lupa aku bawa sajadah, buat subuhan di penanjakan nanti. Hehehe.

Ontime! Jam 2.30 pagi kami bertiga berangkat dari penginapan jalan kaki menuju Penanjakan. Targetku aku harus mampir di penanjakan 1. HARUS!

Suasana gelap. Nyalain senter dari iPhone. Aku set airplane mode di iPhone 6 ku. Biar hemat baterai. Soalnya aku kali ini gak bawa kamera SLR. Berat di tas soalnya. Jadi moto-moto cuma ngandalin iPhone 6 dan 1 powerbank buat sekali charge. Semoga cukup.

Jaime memimpin perjalanan. Dia tahu jalannya soalnya. Baiklah aku manut dia saja.

Kami melewati hotel Cemara Indah lalu belok kanan. Lurus aja ikuti jalan.

Jeep mulai berdatangan di jam 3 pagi. Menyalip kami yang hampir sampe ke parkiran jeep Seruni Point.

Tuh khan, gak perlu sewa jip mah gak papa. Jalan kaki bisa kok. Asal berangkat lebih pagi aja.

Kami cuma berempat aja yg mendaki jalan kaki. Setelah sampe ke Seruni Point, baru ketemu beberapa orang saja. Masih gelap. Masih sepi. Masih jam setengah empat pagi.

Aku cuma berbekal sebotol akua yang aku beli di bawah seruni point.

Seruni Point

3:45 AM. Seruni Point.

Pas ngelanjutin perjalanan ke Meganti Point, aku coba lewat jalan pintas yang naiknya terjal banget, trus gak jadi karena berbahaya. Aku lewat jalan yg dulu aku lewati aja.

Setengah jam kemudian, sampelah ke Meganti Point. Di sini aku beli pisang 2 buah limaribu rupiah. Lagi-lagi penjualnya mark up harga ke bule. Temen buleku beli pisang 1 buah 4 ribu (atau bahkan 5 ribu? lupa aku haha).

Meganti Point

4.18 AM. Meganti Point.

Trus karena di sini rame, kami pindah ke Bukit Kingkong yang jaraknya cuma selemparan sempak merek elge es favoritku. Jalan kaki bentar sampe. Apalagi kalau sambil lari, sekedipan mata udah sampe.

Di Bukit Kingkong, rame juga gilak!

Eh, udah jam 4.30 nih, aku gak mau ketinggalan subuhan kayak Maret lalu. Aku pun minta izin ke teman buleku. Aku cuma minta waktu 5 menit doang. Mereka sangat toleran dan mau nunggu. Sehabis centak-centuk, mereka malah mewawancarai aku tentang sholat. Berapa kali sehari, kapan aja waktunya..

Aku jawab singkat-singkat aja. Ntar kalau aku jawab lengkap, mereka pada jadi mualaf nanti. Xixixi.

Banyak orang lalu lalang kalau di sini. Mereka ternyata gak dari Cemoro Lawang. Tapi dari Pasuruan. Jadi jeep mereka parkirnya di atas sana. Di penanjakan 1. Dan diriku sangat penasaran bagaimana penampakan penanjakan 1.

Tapi entah kenapa ya, setiap kami mau ke Penanjakan 1, SEMUA PENJUAL MAKANAN selalu bilang, “DI SINI AJA MAS, DI SANA SANGAT PENUH!”

Seolah-olah, aku tuh gak boleh lihat suasana di penanjakan satu sama sekali. Khan bete!

Oh iya, di atas Bukit Kingkong dibangun toilet loh sekarang. Lumayan gedhe dan kayaknya sih bersih. Aku gak nyobain sih. Soalnya aku males kencing berjamaah sama orang lain. Takut ketahuan gedhenya haha

Jaime kayaknya pup deh. Soalnya kami nunggu lumayan lama dia di dalam kamar mandi.

Trus setelah hari sedikit agak terang, kami langsung cari tempat duduk. Di Bukit Kingkong di belakang pagar. Bareng orang lokal yang cerewetnya minta ampun. Iya-iya mbak, kamu tuh cantik dan gemes deh, gak usah caper gitu kalau deket sama aku. Hih! Haha.

Menyadari tempat dudukku kurang begitu pewe, aku minta izin untuk ngrekam time-lapse di pagar Bukit Kingkong.

Dengan sedikit ndesek-ndesek, akhirnya aku bisa mencengkramkan Joby Gorilla Podku ke tembok Maroon itu.

Bukit Kingkong

Ini lo Bukit Kingkong.
Lihat deh bukti di atas itu,
bentuknya kayak kepala kingkong.

Setelah ngrekam time-lapse (video bisa ditonton di awal postingan), aku balik ke tempat teman bule duduk-duduk. Lalu rekam video dan foto bareng.

Foto bareng di Bromo

Foto dengan background Gunung Batok
dan Gunung Bromo

Bromo Indah

Gunung Bromo Edisi Agustusan 2017

Sun Rise Bromo

Sun Rise Bromo

Mas Mbak bule mau balik ke bawah lagi, mau ngelanjutin ke Kawah Bromo. Trus karena aku sudah janji pada diriku sendiri untuk menuju penanjakan 1 alias first point, mereka manut sama aku.

Ayok berangkat!

KE PENANJAKAN 1 (FIRST POINT)

Dengan jalan kaki sebentar, kami sudah nyampe ke penanjakan 1. Viewnya di sini juga indah banget. Tapi kayaknya gak bisa lihat sun rise deh. Khan mataharinya di sana. Ketutupan bukit di sebelah ini. Gitu gak sih?

Dan di sini banyak jip parkir. Mereka kayaknya dari Malang atau Pasuruan. Bukan dari Cemoro Lawang.

Bromo Penanjakan 1

Jeep Bromo Penanjakan 1

Jeep diparkir di sepanjang jalan

Sebenarnya tadi pagi aku bisa banget subuhan di penanjakan 1 sini. Tapi gara-gara omongan orang-orang kalau di penanjakan 1 penuh banget, walhasil aku udah pesimis duluan dan memilih centak-centuk di Bukit Kingkong diliatin orang-orang. Mungkin di benak mereka, nih anak ngapain sholat di sini, khan di atas sana ada musholla? Hahahah iya juga sih.

Mushalla Penanjakan 1

Mushalla Penanjakan 1

Kalau ke Bromo lagi, harus subuhan di sini ah! Harus! Hahaha

Penanjakan 1

Selfie Penanjakan 1

Bangunan di penanjakan 1

Karena sudah jam enam pagi lebih, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kawah Bromo.

SALAH JALAN PULANG

Wah spoiler banget ya sub judulnya? Hahahah..

Dari satu tim Rengganis, aku adalah satu-satunya orang yang sudah pernah ke sini, maka aku ya agak-agak sombong gitu. Sok-sokan mimpin perjalanan. Merasa orang lokal juga. Merasa paling menguasai juga. Merasa membuat bule-bule yakin bahwa mereka akan aman kalau ada aku. Gak perlu takut tersesat.

Nyatanya?

Begini..

Dulu, Maret 2017 yang lalu, aku khan nyewa jip, dan sopir jip nyuruh ngumpul di parkiran jip di bawah Seruni Point jam 6 pagi. Walhasil aku pulangnya balik turun gunung melewati jalan yang sama ketika berangkat tadi. Dan sukses dimarahi sopir karena telat setengah jam! Padahal itu sudah ngos-ngosan turun gunung cepet-cepet banget!

Sekarang, aku gak mau dibatasi waktu. Makanya aku gak nyewa jip. Cuman jadinya ya kayak gini. Kebablasan. Gak sadar waktu. Malah sok-sokan bereksplorasi njajal melewati tempat-tempat yg belum pernah aku lewati.

Walhasil aku pulangnya SALAH JALAN!

Aku melewati jalan jeep yang datang dari Pasuruan. Jadi kalau mau ke Kawah Bromo, jaraknya sekitar lebih dari 10 km an gitu (lebaynya segitu sih). Dan jalannya macet dan penuh debu. Hohoho.

Jadi kami berempat DOANG yang jalan kaki melewati jalan aspal ini. Memang sih gak perlu turun trekking gunung, tapi ini tuh JAUH BANGET! Dan kami kesepian! Hahah

Aku lumayan keringet dingin nih. Membawa bule bule ke sini adalah tanggung jawabku. Soalnya akulah yg ngasih ide ke mereka untuk lewat sini.

Ketika sudah jalan kaki 3 km lebih, aku jadi tahu ada yang namanya Bukit Cinta. Aku terus jalan kaki sampe ketemu banyak tukang ojek.

Karena aku sedikit stress dan mereka kayak shock gitu ngelihat kami jalan kaki, aku pun pasrah sama tawaran mereka bayar 100 ribu dianter ke kawah Bromo.

Mereka bilang jaraknya 10 km dari sini. Dan ketika aku buka gugel mep untuk ngecek jaraknya, eh si gugel gak bisa ngitung jaraknya.

Setelah ngenyang-ngenyang dan gak berhasil, walhasil aku diskusi sama Carmen, si Carmen untungnya mau bayar 100 ribu. Dia malah nanya balik, aku mau gak? PASTI MAU lah.. Ini tanggung jawab. HAHAHA.

Yowis, naiklah ojek menuju kawah Bromo. Duit 100 ribu yang aku bayar pun ternyata worth it dengan keadaan jalan di Bromo yang WOT THE HELL bleduknya dan licinnya pasir begitu mengedeni sekali!

Namun, aku gak nyesel-nyesel amat salah jalan pulang. Karena aku jadi tahu pemandangan Bromo di sini lain yg belum pernah aku liat sebelumnya..

Bromo sisi Pasuruan

Bromo

Bromo

Ketika melewati jalan aspal yang turun aja ngerinya minta ampun, eh ternyata itu masih ronde pertama. Ronde kedua lebih ngeri lagi. Kami melewati jalanan pasir yang super licin dan penuh debu.

Aku bahkan gak berani ngrekam videonya. Soalnya ekstrim banget. Sopir ojekku jago pol menjaga keseimbangan. Hampir jatuh berkali-kali loh! Tapi dia berhasil seimbang dengan skill nyelot-nyelotnya yg taraf internasional itu! Bahkan aku bilang ke mas ojeknya, “Kalau ada kejuaraan offroad, sampean bisa menang dengan mudah mas! Hahaha”

Bleduk di mana-mana. Untung aku bawa buff. Si Carmen malah gak bawa penutup muka sama sekali. Oh iya, Carmen itu kayak wonder woman. Dari awal mendaki, dia paling duluan memimpin. Kuat banget tuh cewek. Hohoho.

Aku minta tukang ojek masuk ke dalam di dekat Pura. Biar perjalanan menuju kawah Bromo gak jauh-jauh amat. Aslinya mas ojek minta tambahan 20 ribu. Tapi aku wegiah bayar-bayar mulu. Akhirnya mereka mau juga nganter sampe Pura.

Nah gitu dong! HAHAHAHA.

Ojek parkir. Kami berempat jalan kaki di antara debu-debu tebal yg bikin sesek nafas..

menuju Kawah Bromo

Perhatikan debunya. Tebel banget!

Levitasi di Bromo

Lama banget gak foto levitasi! Hohoho
Di belakang itu Gunung Batok

Carmen

Carmen pun pingin foto levitasi juga hehe

Perjalanan menuju kawah Bromo sih gak ada setengah jam sampe ya. Tetap capek sih. Tapi karena banyak orang ya gak kerasa capeknya. Btw, lebih banyak turis bulenya ya dibanding turis lokal. Hohoho.

Aku bilang sama Carmen dkk, di Kawah Bromo gak usah lama-lama karena tempatnya mengerikan. Mereka iya iya aja. Aslinya sih aku yg takut sama ketinggian hahahaha.

Tangga menuju kawah Bromo

Langitnya bagus ya! Tangga menuju Kawah lumayan rame

Sesampainya di atas, aku langsung ndusel-ndusel bentar nyari tempat duduk yg pewe. Setelah nemu, aku duduk aja di situ memandangi kawah Bromo yang kali ini berwarna kekuningan. Suara gemuruh kawah terdengar jelas. Ngeri banget sumpah! Hohoh.

Kawah Bromo

Kawah Bromo edisi Agustus 2017

Baruuu saja beberapa menit duduk sante memandangi kawah yg begitu ikzotik dan mengerikan, eh tiba-tiba ada anak kecil masih balita berdiri di sebelahku dengan santenya. Lalu dia mendoyongkan tubuhnya ke depan. Tangannya meraih pagar rapuh di depannya. Dia sante aja gitu gak ada takut-takutnya.

Trus trus, karena bapaknya mainan hape, dia dadakno mau naik ke pagar! Mau berdiri di situ sambil merengek-rengek!

TAI!

Nih anak bikin aku gak bisa sante nih. Buru-buru aku beranjak berdiri dan turun. Aku gak mau kalau kalau si anak mbrosot masuk kawah trus di sebelahnya ada aku yang gak berdaya gak bisa nolongin.

ati-ati kejlungup

Dik, gak usah sok jagoan lo!
Nyemplung kawah gosong lu!

Daripada emosi kepada bapaknya yang gak becus jagain anaknya, aku pun turun tangga. Menunggu di bawah aja. Carmen, Jaime, dan Navid masih di atas. Mereka baru pertama ke sini, jadi biarkan mereka menikmati Ciptaan Tuhan bernama Bromo Crater (kawah).

——-

Perjalanan menuju homestay berjalan gak begitu mulus. Aku sama Carmen sampe duluan ke Penginapan. Tapi Navid dan Jaime kayaknya agak siyal. Bahkan Jaime sempet terlepas dari motor karena sopirnya gak bisa jaga keseimbangan. Hahahaha.

Jaime tergores kakinya dikit sih. Gak sampe berdarah. Kalau si Navid aman-aman aja. Cuman agak lambat aja heheh.

Mas-mas sopir ojek pun bayaran 100 ribu perorang hari ini. Rejekimu ya mas. Thank you sudah membuat deg-deganku teratasi. Gak bisa bayangin kalau gak ada mas-mas ojek ini. Bisa-bisa aku sampe kawah Bromo sudah siang! Hahaha.

Sekitar jam 9 pagi sampe penginapan. Carmen dan Jaime sudah siap-siap pulang. Dia harus ke Surabaya lalu menuju Borneo hari ini. Sementara si Navid mau ke Bali. Sementara aku harus stay di sini sehari lagi karena nanti sore mau nonton Jazz Gunung.

GAK JUMATAN

Setelah sei gedbae sama teman-teman buleku, tak lupa tukeran nomer watsap dan akun sosial media, aku sendirian di penginapan. Hari ini Jumat. Di sini gak ada masjid. Soalnya mayoritas Hindu. Penginapanku aja bau dupa. Hehehe. Masjid ada sih, tapi di bawah sana jaraknya sekitar 5 km.

Aku pasrah gak jumatan. Setelah mandi, aku nungguin sopir elf yang kemarin janji mau njemput aku dan mengantarkanku cari penginapan yang dekat dengan lokasi Jazz Gunung berada.

Sampe jam 12 check out pun dia gak datang-datang. Hmm.. Ini trus gimana? Aku nginep di mana?

HARI KEDUA NGINEP DI MANA?

Selama 3 jam menunggu cek aut, yang aku lakukan di penginapan adalah mandi tentu saja. Lalu bersih-bersih sepatu yg kotorrrrr banget penuh debu. Aku lap pakai syal yang gak aku pakek. Celana jeansku sebenarnya juga kotor penuh debu juga. Namun gak mungkin aku cuci, gak bisa kering nanti. Walhasil aku kebut-kebutkan aja sampe debunya betebaran.

Perut laper banget. Capek banget. Kulit kering banget. Haus juga. Mau minum kok airnya dingin banget. Serba salah sih hidup di gunung kayak gini. Hoho.

Setelah cari sarapan, lalu packing selesai, sopir elf yg sudah janji gak datang juga sampe jam 12 lebih, aku pun nekat jalan kaki menuju venue Jazz Gunung. Sekitar 3 km dari sini.

Sambil menyalakan mode Run Outdoor di jam Garminku, jalan kaki 3 km ini aku niatin nyicil celens 20 km ku yang masih kurang 8 km lagi. Jadi aku hepi-hepi aja sih. Walaupun capek banget pingin tidur aja sebenarnya. Haha.

Baru sampe 500 meter, ada bapak-bapak dari atas turun ke bawah berhenti di sebelahku. Menawariku naik motornya karena dia mau pulang ke rumah di bawah sana. Karena gratis, aku jelas mau banget. Duh, bapak ini baik banget.

Karena aku orangnya supel sama orang, aku pun cerita kalau sedang cari penginapan di daerah Jiwa Jawa Resort sana. Bapaknya kemudian malah bantuin aku cari penginapan! Omaigod! Thank you Pak!

Setelah sampe bawah, sang bapak nanya ke tetangga-tetangga. Semua penginapan di sini penuh. Waduh. Tapi aku tetep optimis sih. Di dalam keadaan seperti ini, mengeluh GAK ADA GUNANYA. Gak akan menyesaikan masalah. Yang dibutuhkan adalah KEYAKINAN. Dan OPTIMISME! Serius ini aku!

Karena optimis akan dapat penginapan, Tuhan mendengar keoptimisanku, bapaknya nyuruh aku ikut sama adiknya (bapak-bapak juga sih) buat nyari penginapan agak jauhan. Aku manut saja. Gak ada cara lain. Haha.

Dibonceng motorlah diriku ke daerah Ngadisari. Naik ke atas sana. Naik mulu pokoknya jalannya. Beloklah ke sebuah rumah. Nah, ini dapat nih! Bapaknya telfon seseorang. Lalu mengernyit. Hmm..

Oke, bapaknya naik lagi. Hmm.. gak kebayang ini nanti pulang nonton konser jalan kaki naik banget kayak gini hahaha. Gak papaaaa.. daripada tidur di pinggir jalan! Hahaha.

Singkat cerita, dapatlah penginapan dengan jarak 850 meter (versi gugel mep) dengan jalan super naik banget. Satu rumah penuh. Ada 1 kamar. Ada ruang tamu. Ada TV. Dan view di luar kamar kece abis! Satu rumah aku tempatin sendiri.

Bapaknya ngasih harga 250 ribu. Aku wegiah. Gak sesuai bajet. Aku tawar 150 ribu. Bapaknya gak mau. Aku taruh tas di kasur. Merasa sudah nyaman di sini. Meyakinkan ke mereka kalau aku nginap di sini aja. Bapaknya nanya aku sudah pernah ke sini belum? Sudah, Pak!

Bapaknya nyerah. Bayarlah aku 150 ribu. Setelah dikasih aturan ini itu, mereka pulang. Aku sendirian di rumah ini. Hmm.. semoga gak serem. Hahaha.

Sekarang masih jam 13.30 siang. Konser jam 3 baru mulai. Aku capek banget lalu tidur nyenyak.

NONTON JAZZ GUNUNG 2017

Jam 3 sore baru bangun, macak, jalan kaki menuju venue, jam 4 baru sampe. Tiket sudah aku print untuk ditukar dengan gelang.

Tukar tiket

Penukaran tiket Jazz Gunung

Gelang Jazz Gunung

Gelang Jazz Gunung

Gila ya aku, ke Bromo sendirian. Nonton konser sendirian. Gila gila gila! Hahaha. Di sini semua berpasangan. Atau minimal rame-rame sama temen-temennya. Aku sendirian dan bodo amat. Haha.

Venue jazz gunung

Menuju Venue Jazz Gunung

Jualan di Jazz Gunung

Jangan takut kelaparan dan kehausan,
ada banyak penjual makanan minuman

Event Jazz Gunung ini tiketnya paling murah 300 ribu. Tiket Festival. Gak berdiri kok. Duduk di tribun. Tapi jaraknya jauh banget dengan panggung. Gak ada layar elsidi pula. Jadi ya pasrah dengan pandangan seperti ini. Gak bisa melihat wajah artisnya dengan jelas.

Kualitas soundnya jempolan. Sangat detail dan menggelegar. Walaupun jaraknya jauh dari panggung, tapi pemandangan sekitar indah banget ya. Alami dari Yang maha Kuasa. Trus sclupture panggungnya yang dari bambu itu juga unik dan eksotis. Walaupun kalau dibanding Jazz Gunung sebelumnya, versi 2017 ini masih kalah meriah. Hehe.

Bendera Indonesia di Jazz Gunung

Dibagi bendera plastik karena menyambut kemerdekaan.

Penampilan pertama dari Surabaya All Star lumayan memukau. Aku gak begitu ngerti Surabaya All Star ini siapa. Maklum ini event jazz pertama yg aku lihat. Yang aku tahu, mereka terdiri dari banyak musisi, banyak vokalis juga, dan semua profesional! Hehehe.

Penampilan kedua dari Paul McCandless with Charged Particles dari Amerika. Ini jazz nyel-nyelan. Gak ada vokalisnya. Cuma instrumental. Asyik dinikmati. Karena musik mereka kaya banget dan melodinya berbobot.

Lalu break maghrib. Aku langsung cabut cari Musholla. Masa sih di sini gak ada musholla juga?

Ada, tapi harus bayar biaya masuk pakai kartu apa gitu lupa! Baru kali ini ada musholla berbayar! Haha. Yowis pasrah, aku pun mbeber sajadah, lalu tayamum, lalu centak centuk di sebelah parkiran mobil yg gelap. Udah sembunyi-sembunyi, eh ketahuan juga sama anak kecil yg lewat. Hahaha.

Aku beli mercendais kaos Jazz Gunung sama sidi Monita. Dengan harapan nanti bisa nyanyi sambil baca lirik di sidinya. Eh, setelah dibuka sidinya, eh gak ada liriknya. ZONK. Hahaha.

Back to venue. Duduk agak belakang. Tempat dudukku sudah diduduki orang lain. Penampilan ketiga dari Monita Tahalea. Btw, aku ngefans sama Monita. Aku nonton jazz Gunung ini ya demi Monita doang sih. Makanya aku cuma nonton sehari doang.

Monita Tahalea

Mbak Monita yang nggemesin. Ih..

Penampilan Monita is perfect! Yaiyyalah, penyanyi jebolan Idol khan selalu bisa nyanyi beneran. Gak cuma modal tampang.

Lalu Dewa Budjana Zentuary tampil. Instrumental. I’m not into this kind of music. So, setengah penampilannya aku tinggal beli bakso. Lapeeer dan kedinginan banget soalnya. Bakso plus teh panas (yang terasa anget) total 20 ribu. Harga yg lumayan mihil. Tapi wajar wong di tempat konser. Hoho.

Ndop di Jazz Gunung

Pamer tas Jazz Gunung. Xixixi

Balik ke venue Dewa Budjana belum selesai. Udara semakin dingin. Aku pakai sarung tangan Eiger yg super tebalku. Pakai flanel rangkepan kaos lengan panjang ternyata tembus juga udara dinginnya sampe ke badan. Fiuuuuh… Dinginnya banget mampus..

Penampilan terakhir adalah Maliq & D’essentials. Persiapannya lama banget. Untung Emsinya lucu banget (Alit dan Gundhi), jadi penonton sangat terhibur walaupun ini sebenarnya jamnya molor sejam.

Maliq tampil, meriah sekali. Aku duduk di sebelah fansnya. Dia hafal lagu-lagu barunya. Aku tahunya cuma 3 lagu doang. Lagu kawak pula. Hafal juga enggak. Hahaha.

Jam 11 malam acara selesai. Tahun depan katanya akan ada 3 hari. Artisnya juga banyak. Jazz Gunung kali ini jadwalnya bareng sama Jazz Traffic Surabaya sama Prambanan Jazz di Jogja. Artisnya kesedot ke sana semua kali ya. Tapi yang benar-benar artis Jazz ya cuma di Jazz Gunung. Event sebelah rata-rata genrenya pop.

Pulang ke penginapan jalan kaki menanjak banget! Tapi gak kerasa capek karena saking dinginnya. Sampe kamar langsung tidur. Eh, enggak ding, nonton bokep yutub dulu sampe ketiduran.

Fiuuh… Hari ini lumayan seru pengalamannya. Nyaris gak dapat penginapan itu bikin deg-degan. Besok akan ada pengalaman apa lagi ya? Ah, tidur dulu aja deh…

PULANGNYA NAIK APA DONG?

Dinginnya udara Bromo bikin aku malas mandi pagi. Ganasnya debu Bromo kemarin bikin kulit mukaku rusak. Iritasi gitu. Merah-merah di hidung dan sekitarnya.

Di penginapan yang ini gak ada air dinginnya. Tapi aku boleh nggodok banyu di kompor yang disediakan. Nggodok mie juga boleh kalau mau.

Diperlukan kira-kira 3 panci air panas untuk menghangatkan satu bak air dingin. Yungalah sorone. Arep adus ae dadak ngenteni sak jam nggodok banyu haha.

Mandi air hangat pun sukses. Bikin kopi susu juga sukses tadi. Kebetulan nemu kopi susu sasetan di lemari. Entah punya siapa. Ada telur juga di bawah sini. Wow! Direbus kayaknya enak nih! Hahaha

Tapi aku gak berani lah. Ini gak ada di perjanjian. Bikin kopi itu aja sebenarnya ya nyolong hahaha.

Karena aku type orang gak mau rugi, maka aku check out harus tepat jam 12 siang.

Selama menunggu cekaut, diriku ya cuma tidur-tiduran aja. Sambil pemotretan juga. Di luar sana sinar matahari bersinar terang. Sukses bikin anget udara sekitar. Pun dengan air bak mandi perlahan anget.

Photoshoot Ngadisari

Photoshoot Ngadisari Bromo

Viewnya bagus banget ya!

Jam 12 tiba. Aku langsung keluar penginapan. Seperti biasa, di Bromo sini kalau mau check out ya tinggal keluar rumah aja. Kunci cukup dicantolkan di pintu. Karena kalau nunggu pemilik rumah, kamu gak akan cekaut-cekaut. Yang ada malah cekot-cekot karena kelamaan nunggu haha

GABUT 2 JAM

Asyik, pulang kampung nih yeee.. liburan yang asyik banget. Penuh pengalaman seru. Walaupun sudah pernah ke sini, ternyata kali kedua ini beda rasanya. Bromo di bulan Maret sama Agustus beda banget.

Bromo episode Maret lebih berkabut. Lebih tenang. Lebih biru. Bromo edisi Agustus ini menggelora. Debunya juara! Lelahnya juga! Haha.

Aku jalan kaki menuju pertigaan Ngadisari. Pokoknya jalan utama menuju Probolinggo. Menunggu dapat tumpangan elf gitu. Pasti ada lah ya. Dulu pengalamanku sih banyak orang numpang juga di elf yang aku tumpangi. Sekarang harusnya juga ada lah.

Optimisme tanpa batas pokoknya. No worry. Sing penting yakin!

Aku cari sarapan soto sama teh milo anget. Sama pokari swet karena hausnya gak ilang-ilang. Di Bromo ini dilema banget. Haus mau minum airnya dingin banget menusuk ke gigi. Walhasil ya kulit kering karena kurang cairan. Semoga dengan minum pokari, iyon-iyon tubuhku tergantikan!

Aku udah kayak ambasador pokari belum? Hahaha

Sejam berlalu. Ada elf kosong liwat. Serasa melihat air zam-zam di padang sabana yang panas, aku berlari menjemputnya. “Pak, masih kosong?”

Bapak sopirnya ternyata mau njemput rombongan orang dari atas. Lalu dia bilang kalau nanti ada elf yg turun saya suruh ngangkut kamu.

Yowis aku manut tok pokokmen.

Setengah jam berlalu, gak ada tanda-tanda ada elf yang berhenti. Yang ada adalah elf dengan penumpang bule-bule semua ngebut banget. Padahal kalau aku inguk, masih banyak bangku yg kosong.

Kok gak berhenti njemput aku ya? Apa sopirnya sudah kaya raya?

Lalu aku pun berusaha cari info. Mas-mas asli Bromo yang duduk di seberang sana aku hampiri. Aku curhat. Nyeritain betapa malangnya aku karena di pehape sama sopir elf yang kemarin. Yang tak kunjung datang di kala aku butuh bantuan.

Trus masnya prihatin banget. Dia bilang, semua elf di sini itu HANYA MAU JALAN KALAU SUDAH DICARTER SEHARI SEBELUMNYA. Jadi yang gak nyarter ya gak mungkin bisa dapat tumpangan. Kalaupun ada, biasanya pagi jam jam 9. Sekarang sudah jam 1 siang. Harapan sudah sangat tipis.

Deg!

Kualat kamu ndop! Gak bisa pulang nih ye! Makanya jangan nyolong sekalipun itu cuma kopi susu sasetan! Huhuhue..

Aku pun merenung. Komat-kamit. Baca dungo sapujagat. Kadang baca اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمِ kalau ada yg bahenol lewat. Haha.

Btw, hari ini hari kedua Jazz Gunung. Harinya Sabtu. Nanti malam Minggu. Suasana makin rame. Banyak mobil berdatangan. Membawa orang-orang berdandan setil. Ya wajar. Ini event mahal. Jadi yg nonton pasti orang kaya. Dan orang aneh kayak aku ini haha.

Raut mereka senyum-senyum bahagia. Melihat mereka bahagia karena mau nonton konser, aku berusaha ikutan bahagia. Walaupun keadaanku sekarang ini ngenes. Duit cuma tinggal 150 ribu. Kalau mau stay di sini sehari lagi, aku jelas gak bisa pulang. Di sini gak ada ATM soalnya.

Aku langsung mengingat-ingat quote-quote penebar semangat. Mengingat-ingat kalimat-kalimat motivator. Ingat Mario Teguh juga (eh pak mariyo gimana kabarnya ya?) Memilah-milah quote apa yang cocok untuk keadaanku saat ini.. trus nemu ini:

Manusia harus berusaha, soal hasil biarlah Tuhan yang menentukan.

Baiklah, aku HARUS USAHA UNTUK PULANG! GAK ADA ANGKUTAN UMUM, JALAN KAKI PUN AYUK!

JALAN KAKI KE PROBOLINGGO?

Ndop kamu gila ya? Bromo ke Probolinggo itu 37 km. Saya ulang, TIGA PULUH TUJUH KILOMETER! Kamu baru sanggup lari maksimal 12 km. Itupun persiapanmu sebulan penuh. Lha ini 37 km tanpa persiapan apa-apa? KAMU PASTI GILA NDOP!

Lha trus aku harus bagemana? Nunggu saja gak berbuat apa-apa? Yang ada malah buang-buang waktu. Mubadzir. Dosak!

YOWIS SAK KAREPMU NDOP! MLAKUO KONO WIS! Tak sangoni slamet.

Lagi-lagi, aku set jam Garminku ke mode Run Outdoor. Start. Aku mulai berjalan setengah berlari. Aku niati latihan marathon!

Cuaca dingin gak bikin badanku cepet capek. Dengan bekal akua sebotol, aku menikmati setiap langkahku. Usaha dulu pokoknya.. biar Tuhan yang menentukan hasilnya.. kalimat itu aku tanamkan dalam benak. Untuk memupuk semangat.

Gak kerasa hampir 1 km aku jalan kaki. Melewati pepohonan rimbun. Sunyi. Sendirian. Suara motor terdengar dari belakang. Lalu dia berhenti. Aku menoleh. Jangan-jangan ini bapak yang kemarin?

Ternyata bukan. Dia masih mas-mas. Menawariku naik ojek sampe ke terminal Probolinggo. Tarifnya 100 ribu.

Hmm.. duit di dompet ada 150 ribu. Tawar 75 ribu ah. Gak boleh. Yowis aku terusin jalan kaki. Trus masnya ngasih warning kalau jaraknya super jauh banget.

Iya sih 37 km itu gak deket ya. Mas help me dong mas..

Masnya bilang dia gak bohong. Masnya asli Bromo. Dia bilang yg biasanya gak jujur ngasih harga itu ojek yang bukan asli Bromo.

Dengan menimbang-nimbang jaraknya yang 37 km. Lalu teringat bapak-bapak yg nggonceng aku dan cariin aku penginapan kemarin. Aku pun percaya sama masnya. Lalu aku bayar 100 ribu. Rejekimu maaas..

Sejam lebih dianter ke terminal Probolinggo. Oper ojek lain. Karena ojek Bromo gak boleh nganter sampe terminal. Hanya boleh separuh perjalanan saja. Lalu dioper ojek setempat. Hmm.. gitu ya ternyata. Biar adil kali.

Ojek kedua yang nganterin aku ternyata ya masih satu keluarga sama ojek sebelumnya. Aku minta diturunin di pom bensin aja. Sudah Ashar. Mas ojek pulang. Aku sangat sangat berterimakasih kepadanya.

FIUUUUH LEGANYA BISA PULANG..

Duitku tinggal mapuluh ribu. Tiket bis Akas Probolinggo ke Surabaya 20 ribu. Masih bisa pulang ke Nganjuk tanpa perlu ngambil duit di ATM. Alhamdu???

2 jam kemudian sampelah ke Surabaya. Dengan hanya merogoh-rogohkan tangan ke seluruh saku celana dan tas, akhirnya nemu duit beberapa puluh ribu. Yes! Lumayan buat beli minuman.

Hmm.. ke Nganjuknya naik bis Patas aja yuk! Dua hari ini berlelah-lelah ria, saatnya menghibur diri tidur nyanyak dengan fasilitas lukzuri! Hohoho.

Sampe Nganjuk masih ngantuk bangeeeet. Untung tadi aku gak kebablasan tidurnya. Turun dari bis langsung naik becak motor di anter ke Gang Arjuno. Ah lega banget bisa pulang ke rumah dalam keadaan sehat.. eh, capek dan ngantuk ding.

Yaudah. Aku mau mandi dulu. Trus bubuk. Besok ikutan lomba agustusan soalnya..

The end.

9 Comments

Komen dong!