Ke Bromo Sendirian Naik Kendaraan Umum 2017

Gara-gara diundang ke nikahan temen Probolinggo, pikiranku langsung kebayang piknik ke Bromo. Apalagi sudah dua tahun ngidam ke Bromo dan gak kelakon-kelakon.

Langsung deh sibuk brosing-brosing artikel cara ke Bromo sendirian. Baca beberapa artikel, langsung memantabkan diri untuk budal.

Walaupun kenyataannya, setelah aku jalankan sendiri, ada yang gak sesuai dengan tulisan di blog. Jadi memang setiap orang pasti punya versi sendiri-sendiri. Dan tentu saja pengalamanku gak salah seru.

Bahkan mungkin jauh lebih seru loh! Yuk mari ikuti perjalananku.. siapkan stamina ya kakak!

NGANJUK – SURABAYA

26 Maret 2017, jam 7 pagi, berangkat ke Surabaya.

Perjalanan lumayan mendebarkan karena di Jombang ada bis nggoling! Waduh, semoga ini bukan petanda buruk ya.

bus Mira Nggoling

Ngeri bos!

Bis Sumber yang saya tumpangi pun harus belok liwat tol. Penumpang masih shock tentang apa yang barusan terjadi. Hoho..

SURABAYA – PROBOLINGGO

Jam 10 pagi sampe ke Surabaya. Naik bus Akas 20 ribu. Turun terminal Probolinggo. Kondektur bus kok gak bengok-bengok “Probolingo Probolinggo” ya? Untung aku tanya dulu untuk memastikan apakah ini bener terminal Probolinggo, ternyata iya. Daku takut kesasar bos. hahaha.

Jam 12 siang sampe ke Terminal Probolinggo. Nah, di terminal Probolinggo yang terkenal “ganas” ini, aku didatangi mas-mas.

“Ke mana mas?”
“Bromo.”
“Ayok, ikut saya..”

Aku pun manut. Wah, asyik nih ada sopir bison yang mengantar ke Bromo.

Setelah mengikuti mas-mas itu. Eh, ndilalah tibaknya dia sopir ojek! Yang menawarkan naik ojek ke Bromo seharga 150 ribu! Itupun gak ke Cemoro Lawang. Cuma sampe mana gitu aku lupa. Nanti masih oper lagi. Bayar lagi.

YO WEGIAH MAS!!!

Aku pun mengalihkan bahan obrolan.

“Mas, kalau tempat makan di mana ya?”
“Di situ mas. Tapi mahal! Sini saya antarkan ke tempat yang murah. Biayanya 20 ribu saja!”

BATINKU.. Wong iki pantang menyerah!

Musholla terminal Probolinggo gak ramah deh. Mas-mas ojek masih bersikukuh agar aku menggunakan jasanya. Dia nungguin aku di musholla terminal. Bahkan dia memompakan air untuk aku wudlu.

Aku pun merasa gak nyaman. Pingin pindah musholla yang lain aja. Pingin menghindar dari mas ojek ini.

Brosing letak musholla di gugel mep. Nemu jarak 600 meter ke selatan. Wah ini sip!

Mas ojek masih ngeyel bahkan sampe nyuruh aku nyimpen nomer hapenya. Hahaha. Iya deh iyaa.. sini nomernya berapaaa.. hih!

Baiklah, aku harus ke selatan. Sampe ketemu musholla pokoknya!

Untuk menenangkan dan memantabkan diri, aku pun sambil chattingan sama Kak Rifqi (papanpelangi.com). Dia ngasih tau di mana tempat ngumpulnya bison berada. Rata-rata blog njelasin kalau angkutan mobil bison berada di depan terminal.

KENYATAANNYA.. SEKARANG BISON (ELF/ANGKOT GEDHE) BERADA DI SEBELAH SELATAN TERMINAL! Bukan di depannya woey!

Tempat bison parkir

Bison parkir di sebelah selatan terminal Probolinggo ya

Jadi buka aplikasi kompas di hp ya. Biar tahu selatan itu mana.

Aku pun jalan kaki ke selatan. Ke Musholla. Mau raup-raup dulu sambil menenangkan diri. Berada sendirian di kota yang kita belum tau persis itu butuh ketenangan prima.

Panggilan demi panggilan ojek terminal datang silih berganti. Ganas! Haha

Jalan kaki ke selatan, aku menemukan banyak warung makan beserta bison berjejer. Karena tujuanku ke Musholla yg ada di gugel mep, maka aku pun gak nanya-nanya dulu ke sopir2 bison.

LOH KOK ADA POM BENSIN??? Yowis aku pun ke musholla pom bensin saja. Mushollanya bersih. Tenang. Sepi. Ada toiletnya. Wah ini tempat yang pas untuk menenangkan diri!

pom bensin

Ke sini saja kalau mau sholat, istirahat, atau cari toilet.

Setelah centak-centuk 4 rokangat. Aku numpang ngising. Setelah lega semua, pikiran juga lebih enteng, hati tentram, akhirnya aku memantabkan diri ke tempat makan di sebelah pom bensin.

Hmm.. soto Lamongan ini kayaknya enak! Mampir ah!

Soto lamongan terminal probolinggo

Di gugel mep (2015) soto lamongannya belum ada. Jadi saya tambahin sendiri. Hehe.

Menurut blog-blog lain, kalau kita bingung, kita bisa tanya ke penjual makanan. Karena mereka lebih jujur apa adanya.

Yasudah, diriku pun nanya-nanya ke penjual soto Lamongan. Dia jelasin tuh cara ke Bromo naik apa. Harganya berapa.

Soto Lamongan dihidangkan. Porsi kuli banget! Huaaaah mantab! Waduh, jangan-jangan ini nanti harganya muwahal? Ah bodo amat yang penting kenyang! Hahaha

Soto habis! Enak! Cuma EMPAT BELAS RIBU sudah sama teh anget! MURAH BINGIDS kak!

TUH KHAAAAN MAS OJEKNYA BOHOONG! Hahahhaa

TERMINAL PROBOLINGGO – DESA CEMORO LAWANG

Sama ibu-ibu soto, aku disuruh daftar dulu ke sopir bison kalau mau ke Bromo. Biar nanti bisa dijoinkan sama rombongan lain. Soalnya kalau pesertanya banyak, biaya akan lebih murah. Urunan gitu.

Dan setelah aku nanya ke sopir bison, EH TERNYATA SUDAH BANYAK ROMBONGAN yang mau ke Bromo. Ada 7 orang! Plus aku jadi 8 orang! Urunan 65 ribu per orang! Semua orang lokal! Yowis AYOH BERANGKAT SAJAAA… gak usah nunggu orang lagi! Hahaha

Jam 1.30 siang pun bison berangkat. Ah nasibku memang bejo. Karena aku gak perlu nunggu orang lagi. Karena akulah sebenarnya yang mereka tunggu. Hahaha :pukul:

bison

Bison yang disopiri Mas Tris

Sampe Cemoro Lawang sudah jam setengah tiga sore. 2 jam perjalanan saya habiskan untuk ngobrol sama teman-teman baru. Maklum aku sendirian saja. Jadi aku harus kenalan! Harus! Hahaha.

Ada Joko, Aji, sama Yudin. Mereka bertiga datang dari Jakarta. Joko asli Tulungagung. Aji bapak ibunya asli Jogja. Yudin asli Medan. Jadi sudah tahu khan, aku bakalan akrab sama siapa? Hahaha.

Akrab sama semuanya lah! Cuman komunikasi lebih lancar kalau sesama bahasa jawa. Maklum ilat jowo medok. Haha.

Di depanku ada ibu-ibu dan anaknya dari Surabaya. Lalu di sebelah sopir ada suami istri. Aku gak sempet kenalan sama keempat orang ini. Hehehe.

MENGINAP DI LOSMEN SETIA KAWAN

Kami berempat diinapkan di penginapan bernama Losmen Setia Kawan. Letaknya di ujung Cemoro Lawang. Sebelah tower pas! Cet kuning. Lantai atas sendiri. Viewnya bagus!

losmen setia kawan

Losmen (homestay) Setia Kawan

dengan Aji dan Yudin

Narsis di Losmen Setia Kawan bersama Yudin dan Aji

Losmen Setia Kawan

View luar dan dalam Losmen Setia Kawan

Harga standar homestay di sini yaitu 150 ribu per kamar. 1 kamar bisa diisi dua orang. Jadi urunan 75 ribuan. Kamar mandi di luar. Dan GAK ADA AIR HANGAT. Jadi siap-siap mandi air es ya. SAYA SERIUS. AIRnya sedingin ES!

Kalau mau yang ada air hangatnya, kalian bisa nginep di homestay yang lebih mahal. Dua kali lipatnya. Kamar mandi di dalam. Silakan saja kak.

Nginep di sini harus BAYAR DI AWAL. Dan HARUS UANG CASH. JADI WAJIB BAWA UANG TUNAI YA. Karena ATM di sini cuma ada BNI. Dan diriku belum coba pakai ATM nya. Jadi buat jaga-jaga kalo-kalo ATMnya gabisa jalan, mending bawa uang tunai saja ya!

SEWA JEEP

Sebelum sempet meletakkan tas di kamar, sopir bison langsung menawari sewa jeep untuk wisata Bromo besok pagi buta.

Jeep Bromo

Ini jeep yang aku tumpaki. SUKAK BANGET SAMA WARNANYA!!
:kiss:

Sewa 1 jeep 600 ribu. Silakan mau diisi berapa. Kapasitasnya sih 6 orang. Bisa urunan 100 ribuan. Dan HARUS BAYAR DI AWAL JUGA! Hehehe.

Destinasi wisata yang ditawarkan ada empat:
1. Melihat Sun Rise di penanjakan
2. Bukit Savana atau Teletabis
3. Pasir Berbisik
4. Melihat Kawah Bromo

DITIPU PEDAGANG ASONGAN

Setelah meletakkan tas, nguyuh-nguyuh, cuci-cuci muka, kami berempat jalan-jalan ke luar penginapan. Karena gak ngerti harus ke mana, kami pun random saja gak ada rencana ke mana-mana kecuali mengikuti instinct saja.

Di depan penginapan, pedagang asongan menawarkan kehangatan. Eh, maksudnya asesoris penghangat tubuh. Kayak syal, kupluk, sarung tangan.

ditipu

hati-hati beli asesoris di Bromo. Harus survey dulu.

Aku beli sarung tangan seharga 20 ribu. Lalu beli syal seharga 50 ribu. Sudaaah! Aku sudah menawarnya. Tapi pedagang asongannya GAK BISA DITAWAR bos! Mereka tahu kita butuh asesoris kehangatan ini! Hahaha

Dan setelah survey ke toko suvenir khas Bromo, ternyata aku telah ditipu sama pedagang asongan!

Sarung tanganku ini seharusnya harganya cuma LIMA RIBU! Dan syalku ini seharusnya cuma LIMABELAS RIBU!

JIAMPUT! :evil:

JALAN-JALAN KELILING GANG YUK!

Karena penginapanku letaknya lumayan di ujung, yowis jalan-jalan ke ujung sana aja. Ke pagar yang memisahkam jurang sama rumah penduduk. Lalu foto-foto di situ.

Bromo dari cemorolawang

Bromo dari cemoro lawang

Penampakan gunung Batok dan Bromo dari Cemoro Lawang

Pemandangan di sini bagus banget deh! Gila di sana pasirnya luas banget! Trus ada gunung Batok yang berdiri gagah! Di belakangnya, kawah Bromo mengepul mengisyaratkan bahwa aku masih hidup! Aku masih aktif! Aku masih bisa meletus!

Eh, ada pedagang sate ayam dan kambing loh di sini. Kalau mau ngemil silakan. Gak usah mikir kolesterol lagi deh. Di sini dingin banget soalnya! Jadi butuh makanan berat biar hangat. Hahaha.

sate ayam dan bakso

Sate Ayam dan Bakso di Bromo

Hujan datang. Kami pun pulang. Hawa dingin menyerang. Tapi badan jangan sampe meriang.

Halah!

Setelah pillow talk dengan teman baru, yang 90 persen temanya tentang wawancara tentang aku, hahaha, kami pun lapar dan cari makan di warung yang kami pilih secara acak! Hahah. Lha piye, gak sempet brosing. Selak keluwen!

Nasi goreng dan susu jahe di warung Nikmat yang terletak di gang sebelah pun berhasil kami untal habis tak bersisa. Walau rasanya sih, standar. Atau mungkin ini karena lidah kami kedinginan?

Eh wait! Kok ada kulkas??? Huahahahha. Di tempat sedingin ini kok punya kulkas? Jualan es kah? Hiahahaha..

kulkas

Ada bule ikutan makan di Warung Nikmat. Aku sempet nguping percakapan mereka. Salah satu dari mereka berasal dari Belanda. Kami ketawa-ketawa bareng pas Bule Belanda ngejelasin kalau bahasa Jawa – Indonesia itu banyak yg sama dengan bahasa Belanda. Kayak sepur, handuk, apotek, karcis, dan lain-lain.

Warung Nikmat

Warung Nikmat. Kiri: Nasi Goreng dan susu jahe total 15 ribu saja.
Kanan: Di belakang ada bule dari Belanda.

Habis makan, jalan2 sebentar ke ujung gang yang ternyata pintu masuk ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di penjual tiket, ada neon box bertuliskan status WASPADA gunung Bromo.

waspada

Sebelum pulang ke penginapan, aku sempet nempel stiker di kaca toko perlengkapan mendaki gunung.

stiker

Ayok dicari di mana stikerku berada?

Lalu mampir ke toko suvenir buat beli kupluk tebal yang cuma 15 ribu, dan syal (lagi) 25 ribu. Semoga ini bukan penipuan lagi ya! Hahaha.

penjual suvenir

Aman kok beli suvenir atau oleh-oleh di sini. Harganya tertulis.

MENGGIGIL KEDINGINAN

Pulang ke penginapan jam 8 malam. Temen-temen langsung blek sek tidur. Aku malah nekat mandi. Walaupun aku tau dingin airnya kayak es batu. Tapi pikirku, rugi dong udah nginep kok gak memanfaatkan kamar mandinya, iya khan?

Aku telanjang bulat di kamar mandi. Kuambil air segayung. Lalu tarik nafaaaas panjang. Lalu menganggap ini sedang ice bucket challenge!

BYUUUURRR…

JIYAMPUT!

ADEME POOOOL… HAHAHAHAH!

Aku pun glagepan kademen. Ou em ji! Ini baru satu gayung saja. Akan ada gayung-gayung selanjutnya menyusul. Jreng-jreng-jreng!

Sabunan selesai. Gayung kedua menyambut. Jiamput! Sabun belum tuntas terbilas. Gayung ketiga menyentuh tubuh dari atas rambut turun sampe ke kaki. Jiampuuuut boooos. Ademe pooool. Huahahahaha.

Suhu udara di sini menurut iPhone 6 ku adalah 12 derajat. Wow lumayan dingin yaaah! Lantai penginapan dinginnya sudah kayak kulkas! Haha.

Habis mandi aku langsung tidur. Karena aku gabisa tidur kalau pakai celana panjang, aku pun cuma pakai sempak sama celana pendek (running short). Lalu bersembunyi di balik selimut tebal. Seluruh tubuh. Hahaha

Dan baru bisa terlelap mungkin sejam kemudian. Saking dinginnya.

TREKKING KE PENANJAKAN UNTUK MELIHAT SUN RISE

27 Maret 2017. Jip yang sudah disewa dan dibayar kemarin, datang menjemput kami jam 3 pagi. Iyak, aku gak salah tulis. JAM TIGA PAGI!

Langsung set alarm jam setengah tiga pagi.

Btw, untuk sewa jip ini, aku sebenarnya rugi 50 ribu. Lupa gak aku tagih.

Jadi ceritanya gini, Mas Tris, supir bisonku, bilang kalau aku bayarnya 150 ribu. Karena jeep yg khusus aku hanya ada 4 orang saja. Gak gabung sama temen sepenginapan pula. Yowis ndak papa. Daripada terlantar khan? Haha.

Tapi setelah jipnya datang, lha kok isinya 6 orang! Aku malah gabung sama Joko, temen sekamar. Wah asyik!

Tapi gimana ya, harusnya urunannya aku bayar 100 ribu. Bukan 150 ribu. Ah ya sudahlah. Ayuk berangkaaaat! Hahaha.

Ketika jip berjalan menyusuri gelap gulita, banyak bule-bule yang jalan kaki menuju penanjakan.

Langit gerimis pula. Dinginnya minta duit! Eh minta ampun! Hahaha. Bule-bule setrong banget!

Sampelah di parkiran jip. Mas Pri, sopir jip bersabda, “Turun di sini saja ya. Nanti jam 6 pagi semua harus berkumpul di sini ya. Dicatat nomer plat mobilnya. Biar gak lupa.

Akupun langsung motret plat nomer jep pakai hape..

jip guweh nih

Ingat plat nomernya yaaa!

Perjalanan selanjutnya adalah mlampah alias jalan kaki menaiki tangga yg lumayan melelahkan! Buat yang gak kuat bisa naik kuda. Aku lupa tarif naik kuda. Soalnya aku memilih jalan kaki saja.

SERUNI VIEW POINT

Jeep yg disewa seharusnya akan naik ke atas, di penanjakan 1. Lokasi view point paling diminati karena paling atas sendiri. Tapi karena di atas sana sudah full parkirnya, maka jeep kami pun mengantarkan ke Penanjakan 2, alias Seruni Point.

Seruni Point ini adalah lokasi melihat sun rise yang paling bawah. Ada atapnya. Jadi gak kehujanan. Dan di sini tempat favorit buat yang males mendaki gunung.

Jalan akses menuju ke sini mudah sekali. Karena sudah dipaving dan dicor, jadi tidak perlu trekking susah-susah, tinggal jalan kaki aja.

Sampe gapura Seruni Point, suasana masih gelap gulita, masih pagi buta. Aku lihat sekeliling. Banyak pohon-pohon menghalangi pandangan sun rise di timur sana. Ah, ini gak seru deh.

Karena masih gelap gulita, aku gak foto-foto sama sekali. Hujan pula soalnya. Kameraku basah.

Seruni point

Ini saya foto ketika hari sudah terang.

MENTIGEN VIEW POINT

Aku pun mendengar obrolan bule-bule yang kayaknya mau naik ke atas lagi. Ada view point melihat sun rise yg lebih atas lagi. Namanya Mentigen.

“May I join with you?” Tanyaku kepada Mas Lee dari England.

“Yes, of course!”

Aku sama Joko pun trekking menuju Mentigen Point dengan cahaya gelap gulita. Untung iPhone 6 ku senternya padang membahana, jadi penerangan sudah sangat memadai. Bahkan senter pun kalah padang dan luas dibanding cahaya senter dari flash iPhone 6ku.

Perjalanan menuju Mentigen dari Seruni Point relatif tidak mudah. Apalagi dalam gelap. Bukitnya lumayan terjal. Perlu stamina prima. Walaupun jalannya kadang bercabang dua, namun tetep mengarah ke satu tujuan kok. Jadi tetep tenang. Dan jaga keseimbangan.

Setengah jam lebih mendaki dalam kegelapan. Dan anehnya, pengunjung yang dari Indonesia cuma aku sama Joko. Depanku bule, belakangku bule. Hahaha.

Sampe di Mentigen masih gelap juga. Jadi gak bisa foto-foto.

Btw, ini centak-centuk dua rokangatnya gimana ya? Kata Rifqi, di penanjakan 1 sana ada mushollanya. Jadi bisa centak-centuk di sana.

Aku gak ngerti di mana penanjakan 1 berada. Ini pengunjung bule semua. Bingung nanya sama siapa. Ketika aku tanya, mereka gak paham arti “penanjakan”. Aduh biyung.

BUKIT KINGKONG VIEW POINT

Ternyata ada 2 orang lokal di Mentigen. Katanya Mentigen ini disebut penanjakan 3. Penanjakan 1 masih di atas sana.. jauh!

Waduh. Aku pingin centak-centuk dua rokangat nih. Sementara waktu sudah hampir jam 5. Aku bingung. Soalnya harus kembali ke jeep jam 6 pagi. Belum ngelihat sun rise. Belum turun gunung lagi. Mana cukup waktu nih?

Nekat. Naiklah daku ke atas. Jalannya paving. Jadi kalau mau cepet tinggal lari aja bisa.

Sampelah aku ke penanjakan.. eh bukan, ini Bukit Kingkong! Waduh masih jauh ternyata ke penanjakan 1.

Bukit Kingkong

Bukit menonjol itu bentuknya kayak kepala kingkong

Aku, Joko, Lee, Philippa, Alexandra (3 bule dari Inggris) pun naik lagi. Niat kami pokoknya ke First Point. Alias penanjakan 1.

Sampelah ke sepetak tanah seluas 2 meteran persegi. Ini kayaknya view point lagi deh. Cuman sayang ada satu pohon menghalangi pandangan. Dan di sini gak mungkin penanjakan 1, soalnya sepi, cuma ada kami berlima.

Banyak pengunjung berseliweran dari atas ke bawah. Kata mereka, di atas sangat rame. Penuh dengan manusia. Dan mereka datang dari Malang atau Pasuruan yang jeepnya otomatis parkir di area penanjakan 1.

Menurut Mas Pri, sopir jeep kami, jeep dari Malang biasanya model terbuka. Jadi pengunjungnya berdiri. Bisa muat banyak. Beda sama jeep yang datang dari Cemoro Lawang, jeepnya tertutup, cuma muat 6 orang.

Dan jeep dari Malang dan Pasuruan lah yang biasanya memadati lokasi penanjakan 1. Karena mereka lebih mudah aksesnya. Gak kayak dari Cemoro lawang yang harus melewati gunung pasir yang rawan longsor.

Hmm.. baiklah. Daripada buang-buang tenaga dan waktu untuk naik ke atas, kami berlima pun pasrah dan balik turun ke Bukit Kingkong lagi. Dan menyesal karena gak bisa centak-centuk dua rokangat tepat waktu. Okay, aku akan menggantinya sesegera mungkin ketika sampe di penginapan nanti.

Baiklaaaah.. mari kita nikmati san rais ini…

MATAHARINYA GAK KELIHATAN

Gak kelihatan

Kata pak penjual di Bukit Kingkong, matahari terbit jam 5.20 pagi. Kalau gak kelihatan di jam itu, berati ya gak akan ada matahari terbit.

Aku dari jam 5.18 sudah masang gorillapod di iPhone 6ku. Suasana masih gelap. Warna situasi biru tua. Aku rekam video dengan mode time-lapse . Kuletakkan HP ku di atas pagar warna maroon ituh 10 menit lebih.

iPhone 6 di bukit kingkong

iPhone siap beraksi!

Pengunjung sudah ramai di bukit Kingkong. Tapi gak umpel-umpelan. Kalau mau ndusel sih bisa. Rata-rata mereka ngumpul di ujung pagar. The best view Bromo tentu saja.

ramai di bukit kingkong

Rame di bukit kingkong!

Sudah jam 5.29. Aku pindah tempat ke ujung pagar. Kebetulan di sana sudah lengang pengunjung. Matahari gak muncul-muncul. Ketutupan kabut dari asap kawah Bromo yang tertiup angin ke utara.

Ah, gagal melihat sunrise nih. Bukan karena telat mendaki, tapi karena keadaan alam yg tidak memungkinkan.

Mataku langsung tertuju ke asap kawah Bromo yang mengepul pelan. AH KAYAKNYA KEREN KALAU ASAP ITU DIREKAM TIME LAPSE!

Aku belokkan posisi hape ke asap ituh. Lalu aku biarin dia merekam. Aku ngobrol-ngobrol sama bule. Lebih tepatnya ikut nimbrung sambil sesekali merespons obrolan mereka. pemandangan di depan sana, gunung Batok dan Gunung Bromo yang mengepulkan asap di belakangnya, SUNGGUH AMAZING!

Gunung Batok dan Bromo

Tiupan angin ke utara menghalangi letak sun rise.

Bertiga dengan lee dan Phillipa

With Lee and Phillipa from England

Joko dari Tulungagung

Mas Joko dari Jakarta yang asli Tulungagung

Hamparan pasir yang memisahkan desa Cemoro Lawang dan Gunung Bromo sungguh kontras kelihatannya. Hijaunya desa Cemoro Lawang lalu tiba-tiba tanahnya kayak anjlog trus berganti pasir seluas samudra. lalu di tengah-tengahnya ada gunung Batok dan Bromo yang mengepulkan asap.

Kalau aku berimajinasi, gunung Batok tuh kayak UFO kecil yang mendarat di bumi dan selamat. Trus gunung Bromo itu UFO induknya yang terbakar atmosfir sehingga mengepulkan asap. Hahaha. Sungguh indah sekaligus misterius dan aneh.

TELAT NAIK JEEP

Setengah jam berlalu. Aku deg-degan. Karena sudah jam 6! Pasti bakalan ditinggal sama jeep. Sebelum balik ke lokasi jeep, akupun ngerekam VLOG bareng Lee dan kawan-kawannya. Lalu say goodbye sambil aku kasih kartu namaku plus stiker.

ngevlog

Tetep ya, ngevlog! Hahaha

Semoga kami bisa tetap bertegur sapa di sosial media.

“Yuk, mudun cepet! Selak dienteni. Telat pol iki.. “

Aku sama Joko langsung lari, turun. Melewati Mentigen View Point lagi, lalu trekking menuruni gunung. Turun gunung di hari yg sudah terang tentu saja jauh lebih mudah dan lebih cepat.

Ada spot foto-foto menarik, sambil istirahat sebentar, yuk foto-foto.

spot foto asyik

Ini spot di sini apa ya namanya?

padang savananya keren

Breathtaking!

Sampe di Seruni Point sudah jam 6.20 pagi. Waduh telatnya kebacut ini. Hahaha.

Akhirnya setelah menuruni tangga, sampelah di warung dan ketemu rombongan satu jeep. Katanya aku ditungguin. Ya jelas laaaah. Sudah jam 6.40 ini. Hahaha.

tangga

Perjalanan turun

Pemandangan perjalanan turun

Mas Pri, sopir jeep kami, bete banget mukanya. Sorry ya, mas. Udah nungguin 40 menit. Kami memang nakal. Dan Mas Pri memang ganteng! Sumpah! :kiss:

Naik jeep. Langsung menuju destinasi wisata selanjutnya, yaitu Bukit Teletubbies.

BUKIT SAVANA TELETUBBIES

Jeep naik lagi ke desa Cemoro Lawang. Lalu melewati gang sebelahnya, yaitu gang yang tadi malam aku lewati, gang yang ada tulisan Taman Nasional Bromo Tengger. Karena ini hari senin, maka Tiket masuk ke sini 27500. Tapi sama mas Pri dikorting jadi 25 ribu saja. Hehehe. Makasih ya maas..

perjalanan ke Bukit teletubbies

Perjalanan ke rumah Tingki Wingki nih..

Tiket masuk Taman Nasional Bromo Tengger itu sudah termasuk melihat sun rise tadi pagi. Jadi ada 4 destinasi wisata: Sun rise, Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik, Kawah Bromo.

Jeep pun turun ke jalanan berpasir. Karena tadi malam dan pagi hujan, pasir berbisik pun memadat. Jadi lebih gampang dilalui jeep. Juga gak ada debu bertebaran. Maskerku (buff) pun nganggur. Wehehehe.

Karena keterbatasan waktu, mas Pri mempersingkat waktu di Bukit Teletabis hanya untuk foto-foto saja. Mungkin hanya 10 – 15 menit saja. Dan Mas Pri lah yang memotretkan kami. Tugas kami hanya berpose berpose dan berpose. HAHAHA.

bukit teletubbies

Bersama satu rombongan bison dan jeep

Bukit teletubbies 2

Bersama Joko, temen sekamar

Panda Ganteng

Panda apa yang ganteng? Pandaaaofar. #krik

PASIR BERBISIK

Di sini lebih singkat lagi. Mas Pri paling cuma ngasih waktu 10 menit saja buat foto-foto. Dan kali ini aku manut saja daripada mas Pri bete lagi kayak tadi. HAHAHAHA.

beberapa jepretan foto dengan latar belakang gunung Batok pun sukses dibidik oleh Mas Pri. Dia bisa ngoperasikan SLR ku loh. SLR aja bisa, apalagi cuma kamera hape? Gampil!

Bareng rombongan jeep

Wajib foto bareng yaa..

Pasir berbisik

Wajib levitasi jugaaa

panda berbisik

Wajib pakek kacamata 10 ribuan jugaaa! Hahaha.

MELIHAT KAWAH BROMO

Jeep pun melaju pelan tapi pasti menuju parkiran. Di sini sudah berjejer ratusan jeep sewaan dari para pengunjung. Mas Pri bilang kalau ada total 700 jeep yang disediakan. Dan mereka punya paguyupan atau semacam perkumpulan gitu. Dengan jumlah sebanyak itu, pengunjung gak perlu khawatir akan kehabisan jeep untuk disewa.

Parkir jeep

Ratusan Jeep parkir di pasir berbisik

“Turun di sini ya. Nanti jam setengah sepuluh harus balik ke sini ya. Jangan telat lagi ya mas.. “

Siap Mas Pri yang gantengnya subhaanalloh.. :kiss:

mas pri ganteng

Ini lo Mas Pri. Berhasil saya kendid. Haha.

Kupercepat jalan kakiku. Kalau aku pakai sepatu lari, aku pasti bakalan lari nih. Sayangnya aku pakai sepatu boot merek Brodo yang sengaja aku pilih karena nanti siang aku harus menghadiri pernikahan temen di Probolinggo. Jadi ya, kurang nyaman dibuat lari, atau jemari kakimu bakalan mlicet kabeh..

otw kawah bromo

Otw kawah bromo

Perjalanan menuju kawah bromo

Pemandangan di sini sangat unik dan aneh. Gundukan tanah berbentuk random berwarna coklat tua trus sesekali gundukan itu memecah memanjang berkelok-kelok berwarna hitam. Sungguh karya seni yang maha indah ciptaan Tuhan ini!

Permukaan tanah Bromo

Banyak sekali pengunjung menaiki kuda. Karena memang diperlukan stamina prima di sini. Untungnya aku sering lari. Jadi staminaku sudah siap. Sudah terlatih. Ngos-ngosan sih tetep, tapi gak gampang nyerah gitu.

Naik kuda ke kawah bromo

Diperlukan kira-kira setengah jam untuk jalan kaki dan trekking dari parkiran jeep ke Kawah Bromo.

Tangga menuju kawah bromo

250 anak tangga yang harus kalian taklukkan!

Tangga menuju kawah

Percayalah, di foto sama kenyataan SANGAT JAUH berbeda!

Sekarang sudah jam 8.20. Dan aku sudah berhasil melewati 250 anak tangga jauh lebih cepet dibanding orang lain. Karena aku lewat samping tangga. Bukan di tangganya. Hohoho.

Hal ini karena aku ikut-ikutan Lee, bule Inggris yang kebetulan ketemu lagi di sini. Hohoho.

Jadi, kalau lewat tangganya, antrinya buanyaaaak. Kalau ada pengunjung gak kuat, otomatis dia akan berhenti, dan pengunjung di belakangnya ikut berhenti deh, nungguin yang di depan. Soalnya kapasitas tangga cuma untuk 1 orang. Hohoho.

Dan ketika sampe puncak sana, pemandangannya SUPER NGERI. Kawah Bromo di bawah sana itu SANGAT AMAT CURAM BANGET NGET NGET. Saat itu aroma belerang gak begitu tercium. Jadi gak perlu masker pun mata gak pedih. Suara bergemuruh dari dalam kawah terdengar ngeri sekali. Grrrrrr….

Kawah Bromo

Kawah bromo yang super curam dan super ngeri

kawah bromo

Kawah bromo agak dizoom.

Lubang Kawah itu garis tengahnya 800 meter (utara selatan) dan 600 meter (timur barat). Gedhe banget! Sementara area curamnya itu jari-jarinya 4 km dari kawah. Gilak jauh banget yak!

Jadi kalau kita ngglundung dari atas sini dengan kecepatan ngglundung 50 km/jam, sampe ke kawah alias mati gosongnya berapa menit ya? Silakan dihitung sendiri ya! Hahaha.

ati-ati ya mbak

Mbak, ati-ati ya..

puncak kawah bromo

Harus menjaga keseimbangan

Tempat berpijak hanya cukup untuk SATU SETENGAH orang. Memang sih ada tempat berpijak yg agak lebar bisa untuk 3 orang atau lebih. Tapi rata-rata cuma untuk 1,5 atau 2 orang saja. Itupun harus dempet banget. Kalau gak gitu, ya kaki gak ada tempat berpijak. Sumpah ngeri boooss!!

Puncak kawah Bromo

Di sini nggak boleh ngelamun atau tertidur
:takut:

Pagar pun tingginya cuma SEDENGKUL. Jadi kalau tubuhmu gak imbang dikit aja, bakalan nggoling badan kamu trus nyemplung jurang dan mati deh. Berkurang kepadatan penduduk Indonesia satu orang! Hahaha.

Masih ada waktu setengah jam untuk tenguk-tenguk menikmati pemandangan Kawah Bromo yang super mengerikan di bawah sana. Tapi saking padatnya penduduk yg berada di sini, aku pun hanya bertahan 15 menit saja. Lalu turun saja. Ngeri banget!

Turunnya aku lewat tangga saja. Karena arus turun itu lebih cepat dibanding naik.

turun kawah bromo

Di kawasan wisata Kawah Bromo ini banyak penjual makanan minuman. Aku beli pokari ukuran sedang 15 rebu. Cleguk! Tapi anehnya untuk asesoris dan kaos dijual dengan harga sangat bersahabat. Kaos Bromo dijual 100 ribu dapat ENAM loh!

Di perjalanan kembali ke jeep, ketemu lagi sama Lee dan kawan-kawan. Aku join jalan kaki sama mereka. Lalu ngobrol tentang topi Pandaku. Mereka memanggilku Panda, btw. Hahaha. Mereka habis ini mau ke Jogja. Wow ngeri wisata terus! Hahaha.

ketemu lee

ngevlog lagi

Yeah, we meet again and again..

Joko, temen sekamarku, jalan kaki bareng sama Yudin yang kebetulan ketemu di atas kawah trus mereka turun bareng. Aku juga sempet ketemu Mas Aji di kawah, namun dia turun sendirian kayaknya.

bareng joko dan Yudin

Mas Aji ke mana ya? Hahaha

FOTO-FOTO DI PURA LUHUR POTEN BROMO

Pura ini berada di perjalanan menuju Kawah Bromo. Gak usah dicari juga sudah kelihatan jelas ketok negleh banget. Pura ini awalnya aku kira musholla. HAHAHA.

Setelah say goodbye sama Lee, Phillippa dan Alexandra, aku jalan kaki sendirian. Mereka jalan kaki menuju Cemoro Lawang. Sementara aku menuju jeep.

Hmm.. kayaknya aku harus foto-foto di Pura ini deh. Karena gak bawa tripod untuk SLR, maka aku hanya mengandalkan hape dan gorillapod saja. Ya sudahlah, angle dari bawah pun gak papah.

pura luhur poten

foto di pura luhur poten

Karena takut telat, akupun balik ke Jeep lagi. Waktu masih jam 9 lebih dikit. Ah, waktu masih buanyak. Gantian aku yg nunggu rombongan lainnya. Mas Pri, sang sopir jeep, pun sumringah deh sekarang. Karena aku berhasil menepati janji untuk tidak telat. Horeee…

BELANJA SUVENIR BROMO

Jeep kembali ke Cemoro Lawang. Ketika perjalanan, jeep melewati si Lee dkk yang jalan kaki. Huahaha. Ketemu lagi ketemu lagi! Aku pun say hello ke mereka. Sumringah banget deh mereka. Gak ada capek-capeknya. Mereka lo jalan kaki terus mulai dari penginapan! No jeep! Hohoho.

Jeep berhenti di pertigaan. Aku dan Joko jalan kaki ke penginapan. Mampir ke toko suvenir Bromo. Aku beli kaos 2 ukuran standar dan 3 ukuran anak kecil. Gak ada 100 ribu. Hohoho. Oleh-oleh yang murah meriah.

HAPE KETINGGALAN

Penduduk sini tenyata baik kok. Ketika menyadari hapeku ketinggalan di toko suvenir, mbak-mbaknya langsung ngasih tau kalau hapeku tergeletak di meja kaca. Hoho. Tiwas ndredeg aku.

Kalau memang di awal aku ketipu harga sarung tangan dan syal ituh, itu ya kesalahanku sendiri gak surve-surve harga dulu.

PULANG

Bison untuk pulang ke Terminal Probolinggo sudah dibayar DP sejak kemarin. Jadi sistemnya memang gitu mungkin ya. Semua harus bayar di awal. Kalau enggak, kalian musti nunggu bison yang datang dari Probolinggo yang datangnya entah jam berapa gak tentu. Kalau dibayar DP, mereka bisa datang sesuai janji.

Waktu itu kami sepakat check out dari penginapan dan pulang jam 11 siang. Sebelum jam 11, bison sudah datang menjemput. Woh asyik!

Ada penumpang baru yang sama-sama ikut turun ke Terminal. Bison pun penuh sesak. Total 14 orang. Urunan 40 ribu. Wow harganya berubah. Pas berangkat kemarin 65 ribu untuk 8 orang = 520 ribu. Pulangnya 40×14 = 560 ribu. Tuh khan gak sama. HAHAHA.

Sejam kemudian sampelah ke Terminal Probolinggo. Kami say goodbye satu per satu. Ada yg balik ke Jakarta, ada yg Surabaya. Sementara aku masih di Probolinggo menghadiri nikahan temen. Hohoho..

PENTING UNTUK DIKETAHUI

  1. Sampe depan Terminal Probolinggo (Bayuangga) langsung ke selatan saja (buka kompas di HP ya!), bison menuju Cemoro Lawang ada banyak berjejer di sana. Langsung nanya/daftar ke sopir bison kalau kamu mau ke Bromo.
  2. Jangan pernah mau dirayu sama tukang ojek! Penting ini! Bilang aja mau naik bison.
  3. Sampe terminal, sempetkan makan dulu di Soto Lamongan. Murah dan Rekomended banget ibu-ibu penjualnya untuk diajak ngobrol.
  4. Sebelah selatan terminal ada Pom Bensin. Yang mau kencing, ngising, sholat, mending di Pom Bensin saja. Bersih dan SANGAT AMAT.
  5. Buat yang gak tegaan nawar barang, beli syal, sarung tangan, di toko suvenir saja. Mbaknya jujur kok. Lebih baik lagi bawah dari rumah saja.
  6. JAKET, KAOS KAKI dan SEPATU itu hukumnya WAJIB! Kecuali kalau kamu mutant Ice Man!
  7. Pakai sepatu sneaker atau sepatu running saja deh. Enak buat trekking. Bule-bule soalnya rata-rata pakai sepatu running. Jangan kayak saya, pakai sepatu kulit yang kaku. Sakit semua jemari kaki. Hahaha.
  8. Kalau punya baju flanel lengan panjang, bawalah. Ketika trekking, kamu bisa pakai kaos, dirangkap flannel, lalu dirangkap jaket! Tiga lapis! ANGET!
  9. Musim gak menentu, bawalah JAS HUJAN. Aku kemarin gak bawa. Untung baju rangkep tiga tadi, jadi air gerimis gak sempet tembus ke badan.
  10. Hapemu ada senternya khan? Kalau gak ada, kamu WAJIB bawa senter. Karena trekkingnya gelap gulita.
  11. Pas trekking sebaiknya bawa sajadah. Biar bisa sholat subuh di mana aja. Wudlunya bisa tayamum.
  12. Kemarin aku dapat suhu terendah 12 derajat. Itu aja dingin banget! Kemarinnya, temenku juga habis di Bromo dapat suhu 8 derajat! Jadi suhunya gak menentu ya. Maka dari itu WAJIB bawa baju hangat dan asesoris penghangat tubuh.
  13. Rajin olahraga. Jogging pagi rutin. Untuk memperkuat stamina. Dan untuk menghemat duit. Kecuali kalau kamu mau naik kuda terus menerus ya silakan. Tapi siapkan duit minimal 300 ribu yaa..
  14. Jangan diam saja. Ajak kenalan orang serombongan. Ajak ngobrol. Biar kamu gak merasa sendirian.
  15. Belajar bahasa Inggris dikit-dikit. Karena di Bromo ini BANYAK BANGET BULE. Kalau kamu trekking bareng bule, kamu harus dikit-dikit paham apa yang mereka katakan. Jangan bikin malu Indonesia pokoknya. HAHAHA.

BAJETNYA BERAPA?

Saya hitung dari Terminal Probolinggo saja ya. Dan ini hitungannya untuk 1 orang. Naik kendaraan umum. Saya anggap kamu sudah bawa sarung tangan dan kupluk dari rumah.

  • Bison Terminal Probolinggo ke Cemoro Lawang Pulang Pergi: 70 – 200 ribu. Kalau di atas 200 ribu, kayaknya mending nunggu orang lain join biar lebih murah urunannya. Sayang duitnya.
  • Biaya menginap: 150 – 300 ribu satu kamar. 1 kamar terdiri dari 2 orang. Bisa urunan 75 – 150 ribu
  • Sewa Jeep: 100 – 150 ribu. Kalau di atas 150 ribu mending nunggu orang lain join. Biar lebih murah urunannya.
  • Biaya masuk wisata: 27500 – 32500. Tergantung hari libur apa hari biasa.
  • Biaya makan. Anggap aja mulai siang sampe besok siang, 4 kali makan. 4×20 ribu (makan + minum) = 80 ribu.
  • Biaya beli oleh-oleh (suvenir): 100 ribu saja ya. Udah dapat 6 kaos tuh! Hohoho.

TOTAL BIAYA MINIMUM = Rp. 452.500,-
TOTAL BIAYA MAKSIMUM = Rp. 712.500,-

Jadi untuk jaga-jaga, bawalah duit tunai 800 ribu. Mahal ya? Iya. Hahaha. Dari 800 ribu itu, kalau kamu orangnya bejo, kamu masih bisa nyisain duit 350 ribu. Kalau kamu orangnya kadang bejo kadang gak bejo, paling bisa nyisain 100 ribu. Hehehe.

Kalau aku sih kemarin habis 600 ribuan. Plus transport Nganjuk – Probolinggo Pulang Pergi 100 ribu. Total 700 ribu. Buat jaga-jaga dan ketenangan jiwa, aku bawa uang tunai sejuta. Hehehe.

BONUS VLOG

Buat yang malas baca, selamat menonton video ini saja yaaa..

61 Comments

Komen dong!