Bakso dengan Harga Ajaib!!

Mbangkong lagi, mbangkong lagi.. tidur lagi aaah… :tidur:

Alarm berbunyi, tititit… tititit…
aku angkat hapeku pakek tangan kiri. Sambil ngeriyip, aku lihat layar putih monokromnya, dan aku terbelalak, waaa…. sudah jam sepuluh pagi!!!

tapi BO’ONG!!!

hehehe.. sekelumit cerita di atas hanya sebuah intermezo. “Ndop, saiki kowe mulai bejat maneh yo?”
“Ada apa gerangan, kok sampeyan bilang aku mulai bejat?”
“Alaah, jangan ngeles, itu tadi kamu bilang?”
“Bilang apaan??”
“Mesoh-mesoh tadi??”
“Bukan mesoh-mesoh, jualan!! (dodol, red.) tapi intermezo, in ter me zo, pakek zet, paham??
…..
“Eeeh, malah pergi!! Janc… ‘tiiit’ Gat… ‘tiiiit’… li kowe!!!

Mungkin kemarahan di atas sama seperti kemarahan saya saat itu. Saat di mana blogku error, belog kesayanganku yang berwarna merah elegan itu ndak bisa dibuka.

Juga pada saat aku di stasiun ngGubeng. Di mana pada saat itu aku sedang kelaparan sambil menunggu kereta api KRD datang. Pemberangkatan KRD yang dijadwalkan kira-kira jam 5 lebih 10 menit itu tidak kunjung-kunjung datang. Padahal waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam.

Walhasil, perutku yang memang belum saya pelihara sejak berangkat dari kosan tadi, alias ndak makan siang dulu, jadi menggeliat-geliat perih. Uwang limapuluh ribu yang baru kuambil di ATM tadi siang terpaksa harus kurelakan sebagian untuk membeli makan di stasiun. Padahal niatnya uwang itu mau kugunakan untuk mbayar sandal Joger berwarna aneh yang kupesan sepesial dari Bali. Entah kenapa temanku membelikan sandal dengan warna aneh itu!! fiuh…

Celingak-celinguk sambil menggigit bibir bawah. Aku mencari makanan yang keknya mengenyangkan dan tasty. Maklum isterinya paklum™, kalo sudah telat makan begini, selera makan akan berkurang. Karena badan sebenarnya justru ndak mau makan, malahan pingin muntah. Mungkin si badan mutung, ngambek kali, soalnya ndak dipratiin, ndak dikasih makan. Kalo sudah begitu, ya musti nyari makanan yang rasanya nendang! biyar si lidah yang selalu sekongkol dengan perut ini, mau menelan dengan ikhlas tanpa paksaan dari si otak.

Setelah semenit dua menit mencari. Kok kayaknya ndak ada makanan yang keliatannya murah meriah mengenyangkan sekaligus tasty untuk disantap ya? Waddoh… Akhirnya akupun memutuskan untuk makan bakso saja. Maklum istrinya paklum™, di situ ada orang yang sedang andok juga bersama keluarganya. Waaah, asyik nih, rame-rame…

ini diya tempatnya:

Bakso Stasiun Gubeng Surabaya

“Bakso setunggal, Pak.”
“Nggih..,” Jawab si bapak. Waah, si bapak ini ternyata orang jawa timur asli. Dan bukan tipikel orang yang gengsi makek bahasa daerah! siip lah kalo gitu…

Bakso datang tidak lama kemudian. Baksonya kok ndak pakek mie ya? aaah, ndak masalah, yang penting rasa lapar ini kesumpel dulu.

Aku menuangkan tiga sendok sambal ke dalam mangkok. Biyar lebih tasty maksudnya..

“Sik sik ndop, ket mau ngomong teisti teisti, ngerti opo ora kowe artine ndop?”
“Ngerti dong, teisti itu artine khan pesan!! tasty itu kepanjangannya kan testimonial. Kayak di frenster itu loh, alaah, kamu ndak gaul siih.. ndak pernah frensteran…”
“???”
“Tuu.. khan ndak mudeng.. dibilangin jelas-jelas gamblang begitu kok ndak mudeng-mudeng.. wadoooh, anak jaman sekarang, bisanya perotas-perotes aja!!!”
…. :kabur:
“Tuu kan malah kabur… dasar janc.. ‘tiit’.. Gat.. ‘tiiit’ kowe!!!”

*nutup kuping*

Huh.. hah.. huh.. hah.. rasa pedas justru memberiku semangat untuk makan dan makan bakso sampai habis. Enak juga nih baksonya.. hmmm… eh, keluarga yang tadi makan sudah selesai. Si Bapaknya menuju kasir untuk membayar. Saya nguping dan nglirik. Si penjual mengetik-ngetik di mesin penghitung. Kalkeleite (kalkulator, red.) raksasa itu perlahan-lahan memunculkan angka-angka berwarna hijau menyala. Dan saya terperanjat ketika tiba-tiba muncul angka 33 ribu sekali mencet!!!

Omaigooosh!!! harga apa itu?
Apakah keluarga tadi membawa bungkusan bakso? ketika saya lirik, nggak.
Apakah keluarga tadi tambah lagi baksonya? mungkin iya mungkin tidak. Semoga iya.

Beberapa saat kemudian, si penjual menyebutkan harga sedemikian fantastisnya setelah ia melihat angka-angka tertera di mesin penghitung tersebut. Apaaa?!!!

Enam puluh lima ribu???

*lupa tepatnya, pokoknya enampuluh sekian ribu lah*

Piro yo regane bakso iki? Waduh, jangan-jangan duwitku ndak cukup lagi? aah, ndak mungkin lah harga bakso semangkok sampai 50 ribu.

Kertas slip harga pun diraih bapaknya. Saya berhasil ngelirik harga satu mangkok bakso itu. Dan saya terperanjat!! Walaupun harganya ndak sampai 50 ribu, tapi saya tetep kaget!!

Bakso semangkok tanpa mie yang terdiri dari tiga pentol, dua tahu kuning dan kuah asin rasa kaldu ayam ini seharga SEBELAS RIBU!!!

Saya pun ketawa cekikikan sendiri. Soalnya apa, saya yang tadinya makan cepet-cepet soalnya lapar, berubah menjadi makan bak putri raja yang manja. Pelan-pelan penuh penghayatan mengingat harganya yang omaigosh itu. Hahahaha…

Mak srupuut… mak ting ting, terdengar suara sendok mengiris pentol, aku masukkan pelan-pelan ke mulut layaknya iklan coklat di tipi yang mahal itu. Aku pun mengunyahnya pelan-pelan banget. Dalam hati, peh, eman-eman, ojo dintekne cepet-cepet, rugi, suwelas ewu!!

Setelah lima menit berlalu, akhirnya habis juga tuh bakso. Saatnya membayar. Itu si penjualnya aneh banget, masa tinggal bilang sebelas ribu aja kok pakek diketik di mesin penghitungnya. Hohoho… Emangnya saya tuna rungu appah??

Perjuangan belum berakhir..

Setelah makan bakso yang harganya selangit itu, aku kembali menunggu kereta api KRD yang toutelli (totally, red.) sudah aku tunggu selama 3 jam. Kok ndak ada tanda-tanda akan datang ya? aneh. Live Musik di stasiun pun sudah pada buyar. Akhirnya aku pun ganti tempat duduk di stasiun sebelah barat yang bangunannya sudah kuno berwarna coklat muda.

Aku duduk bareng seorang ibu yang menginap di stasiun. Ibu muda itu pakai pakean tebal. Maklum dia akan tidur di kursi panjang yang saya duduki sekarang. Dia mau ke Jakarta. Kretanya berangkat jam dua pagian nanti.

Jam sudah menunjukkan jam sembilan malam. Aku pun cabut. Keknya kretanya ndak berangkat. Siyalan kerto™!! mentang-mentang harga tiketnya murah, ee.. ndak diberangkatin kretanya!!

Balik ke kosan lagi ajah naik len WK atau O. Pokoknya len yang dari THR. Aku jalan kaki menuju cegatan len. Surabaya sedang rame malam-malam begini. Entah arus berangkat atau arus pulang. Kendaraan silih berganti sahut menyahut. Susah sekali menyeberang di saat rame kendaraan seperti ini. Ada lowong sedikit harus menyeberang selangkah dua langkah, ada lowong lagi menyeberang lagi selangkah dua langkah, terus-menerus sampai tiba di trotoar dan melenggang lagi dengan aman walau sesekali harus melompati trotoar yang bolong dan becek.

Len langsung datang begitu aku tiba di halte yang biasa dipakai orang untuk menunggu len. “Gebang Pak?”

Si sopir mengangguk, aku masuk len sambil membungkuk biyar kepalaku ndak kejedot pintu. Dulu, entah sudah berapa puluh kali kepalaku kejedot pintu itu. Mana sakit lagi, yaiyyalah ndop, khan terbuat dari besi getolooh… mana selalu diliatin lagi sama penumpang lain kalau aku nguyek-nguyek kepala saya.. mungkin di dalam hati penumpang lain berkata, ‘syukurin!! makanya ati-ati!!’

Sampai di Gebang aku nggak langsung pulang. Aku teringat blogku yang error sehari yang lalu. Ndak enak sama penggemar kalo blogku pas dibuka kok error. Malu-maluin aja. Makanya ketika melewati warnet, aku pun berniat menginstol ulang wordpressnya.

Kubuka blogku, masih error, yaiyyalaah.. wong ndak saya apa-apain semenjak error. Aku login YMku. Banyak yang onlain. Hmm… bagus! saatnya meminta bantuan. Aku ganti status YMku. “Blogku lagi error, ada yang bisa bantuin nggak?? https://dzofar.com”

Langsung banyak yang ngerespon. Walau sebagian besar hanya turut berduka cita saja. hehehe… ndak papa kok, khan sekalian minta doanya.. heheeh…

Setelah sibuk nyari tutorialnya di google, akhirnya ada juga yang bersedia membantu, dialah boloku dari Madiun. Langsung deh tanpa ragu-ragu aku duduhkan yuserneim dan passwot cpanelku.

Sementara si Iwan mikir, aku sibuk blogwoking. Hehehehe…

Sejam dua jam berlalu, blogku masih error, si Iwan sudah offlain. Aku pun belingsatan sendiri. Dan mencoba bertanya sama simbah. Simbah memberikan jawabannya. Selengkapnya ada di sini!!!

Akhirnya… setelah makan bakso super mahal itu, belogku ndak error lagi. Belogku sembuh sodara-sodara. Sekarang aku percaya. Bahwa segala sesuwatu itu pasti ada hikmahnya. Untung tadi aku nggak kecewa terlalu berat sampai misuh-misuh di depan muka penjualnya sambil bilang, ‘Apa? bakso duduh tok, pentol pati tok, tahu sak umprit ngene suwelas ewu?!!’ ketika melihat harga bakso yang mahal itu. Justeru aku menikmati tetes demi tetes kuah dan cuil demi cuil pentolnya.. waah.. kesabaranku membuahkan hasil!!

Fiuuh…

Besoknya aku melenggang lagi ke Stasiun. Kali ini keretanya pasti berangkat. Maklum tiketnya sekarang dua kali lebih mahal dari tiket KRD kemarin. Yup, aku naik kereta Dhoho menuju Jombang. Oper Bis menuju Nganjuk siti. Dan menikmati hari dengan sebaik-baiknya tanpa ada beban ditinggalkan para ndofans™ tercintah laurah!!

47 Comments

Komen dong!