Juguran Blogger: Mencari pengeTAHUan di Desa Kalisari Banyumas

Tahu Kalisari

Setelah berhasil nglembur job-joban vector yg seharusnya selesainya jumat lalu aku padatkan jadi kemis, akhirnya jam setengah 1 pagi aku berhasil kabur dari Nganjuk untuk mengikuti Juguran Blogger di Purwokerto. Persiapan packing mendadak yg cuma sejam itu berjalan lancar tanpa ada drama. Walaupun di sela packing aku musti setrika celana panjang dulu HAHA.

13 Mei 2016

Perjalanan lumayan cepat naik Sumber Kencono, bis andalanku. Walaupun aku harus mengorbankan waktu tidur nyenyakku, karena tau sendiri khan naik bis SK itu kayak naik odong-odong! Goyangnya aduhai! Haha.

4,5 jam saja sudah sampe Jogja! Gila cepet banget! Aku sudah khawatir gak kebagian waktu subuh tadi, eh ternyata sampe terminal masih jam 5 pagi. Masih sempet subuhan! Yes!

Pak tukang ojek sudah setenbae nunggu aku sholat loh, dia dari tadi nungguin lirikan mataku ke dia. Aku dong sok jual mahal ke dia. Idih, sori ya pak, pesonamu belum begitu menarik untuk aku lirik. Haha. Sekali lirik, Pak ojek menawariku ojek. Duh pak, aku jalan kaki aja.

Brosing buka gugel mep, cari Indomaret di sekitar terminal, nemu jarak 750 meter. Coba cari alfamaret, eh 450 meter. Yowis ke alfamaret saja. Jalan kaki 5 menit. Beberapa menit kemudian Rian menjemput. Lalu kami ke stasiun Lempuyangan.

Di stasiun ketemu Wawan. Halim dan Adi sudah naik di Solo dan Klaten. Jadi kami ceritanya satu kereta api cuman naiknya di kota berbeda! Josh!

Naik kereta bareng

Kiri-kanan: Wawan, Adi, Ndop, Halim, Rian.
Duh, kapan lagi ya bisa kumpul blogger di kereta begini?
:dance:

Separuh perjalanan dihabiskan ngobrol sama teman-teman blogger. Sisanya tidur. Btw, Rian dan Wawan itu anak Komunitas Blogger Jogja. Halim blogger Solo independen, Adi blogger Klaten, eh iya. Ternyata ada Yugo blogger independen dari Jogja yg juga segerbong.

3 jam kemudian sampelah di Stasiun Purwokerto. Waktu Jumatan masih 1,5 jam lagi. Yowis kami nongkrong dulu di cafe Teh-Jawa di area stasiun.

Aku memesan nasi goreng teri. Rasanya hmm.. Kayaknya mbaknya minta rabi deh. Kasinen! Hahaha. Tapi walaupun kasinen, tetap habis dong! Tak bersisa! Haha

Etapi harganya jangan ditanya ya. Sekali aja makan di sini. Nasi goreng dan minuman bernama bubble Tiramisu total 40 ribu! Edan! Haha. Untungnya diriku wong sugih. Jadi ya fine-fine aja sih. Hahaha

Teh jawa cafe

Kalau kelaparan silakan mampir ke sini.
Kalau enggak, mending jangan. Kemahalan.
Kecuali kamu orang kaya raya kayak aku. #YangPentingSombong
:cool:

Habis makan, ternyata 2 panitia Juguran Blogger (Mas Pradna dan Mas Soeb) sudah menunggu di depan stasiun untuk menjemput. Hasyik! Numpak mobil bareng berdelapan!

Mampirlah di rumahnya Mbak Olipe. Aku numpang mandi trus jumatan di kompleks perumahan Griya Satria Mandalatama.

Sambil menunggu peserta lain dijemput, lumayan lah bisa ngobrol dan numpang rebahan buat tidur sak liyeran. Juga sempat disuguhi makan Ayam Penyet Surabaya yg rasanya enak! Harganya juga cuma 12 ribu. Rekomended banget!

Beuuuh cuaca Purwokerto siang itu puwanaaaaasss!!

Rumah Kak Olipe

Makasih kak Olipe, rumahnya nyaman sekali.
Lumayan numpang mandi, jumatan, tidur (sak liyeran), makan gratis.
Wahahaha.

Jam 4.30 sore kami diantar bus menuju Desa Kalisari sekitar setengah jam dari perumahan. Bus kami melewati jalan Pattimura Karang Lewas yg lumayan padat kendaraan.

Naik Bus menuju Kalisari

Busnya kecil tapi kuat banget nanjak!
Hey! Halo Ndofans™! Kami peserta Juguran Blogger!!!

Jalan yg kami lewati mulai naik, beberapa kali melewati pemandangan kali yg besar di bawah sana. Lalu di sebelah kanan ada pemotongan kayu-kayu besar. Hmm.. Sepertinya desa Kalisari berada di dataran tinggi pegunungan nih!

Hawa dingin mulai terasa. Sungguh bertolak belakang dengan panas dan sumuknya Purwokerto kota tadi sih. Memang di balik kesusahan selalu ada imbalan yg terbayar ya!

Dan yay! Kami sudah sampai di desa Kalisari. Kami akan menginap sehari di sini. Btw, Kalisari itu masuk Kabupaten Banyumas, dan Purwokerto itu nama ibu kotanya Banyumas.

Dan inilah rumah tempat kami menginap! Yay! I love this place!

Rumah singgah kalisari

Akhirnya aku yg biasa tinggal di apartemen,
merasakan tinggal di desa!! Horeee!
Hahaha

Udara di sini dingin. Sejuk lebih tepatnya. Cocok buat merelaksasi jiwa dan hati yg gundah galau gulana. Pas banget dong sama hatiku yg kemarin sempet sesek tanpa sebab! Hahaha

Penduduk Kalisari juga ramah lo. Pada suka senyum. Bahasanya masih jawa sih, cuman logatnya aja yg beda. Nice!

Sesampainya di penginapan, kami gak menyia-nyiakan waktu untuk rebahan! Lelah banget rasanya seharian tadi. Dan di dalam rumah sudah disediakan kasur di seluruh lantai. WAAAAH SURGA DUNIA INI!

Daaan tiba-tiba bakul batagor pun memanggil di depan! AYOK SERBUUUU! Mumpung dingin makan batagor anget-anget ini pastinya surganya surga dunia! Hahahha.

Hanya dengan 5 ribu rupiah saja batagor lezat berhasil membuat perut kami kenyang. Bahkan ada versi batagor yg ada kuahnya pula! Kuahnya rasanya kayak kuah lontong balap. Mantab! Kalau yg kering pakai bumbu kacang seperti batagor pada humumnya.

Kemudian ibu-ibu pemilik rumah yg kami inapi tiba-tiba membawakan rengginang super renyah mirip rengginang buatan Mbak Mun. Haha. Keren ini ada rengginang yg bisa nyamain rengginangnya ibukku! Ternyata rengginang dipadu dengan batagor kuah itu perpaduan yang klop banget!

Batagor dan rengginang

Batagor dan rengginang ternyata teman sejati!

Btw, paduan suara binatang kecil bernama gangsir pun terdengar super nyaring menambah aura alami pedesaan semakin kuat.

Suara puji-pujian yg mengagungkan nama Tuhan yg keluar dari adik-adik di Musholla pun sungguh merdu dan bersemangat. Menambah semangat penduduk desa untuk segera mengambil air wudlu dan sholat Maghrib berjamaah.

Sungguh kehidupan alami pedesaan yang tentram dan gempita.

Hari pertama acara Juguran Blogger ini hanya istirahat saja sambil ngobrol santai. Soalnya ada acara yg gagal soalnya berbenturan dengan acara Mata Najwa di Purwokerto.

Nah, sekarang ini jam 9 malam kurang anak anak sudah pada berangkat tidur. Anehnya, di sini gak ada nyamuk sekali loh! Hebat! Mungkin pengairannya bagus ya. Sehingga gak ada kesempatan buat jentik-jentik nyamuk berkembangbiak.

14 Mei 2016

Alarm pada berbunyi. Adi bangun duluan. Lalu aku kemudian bangun jam 5 pagi. Wah akhirnya bisa hidup kayak orang normal lagi nih! Tidur malam bangun pagi! Horeee.. Seger ternyata ya jadi manusia! Hahahaha.

Sudah pada bangun

Setelah Adi dan aku, temen lainnya pada bangun berikutnya.

Btw tadi malam aku sempet terbangun tipis-tipis mendengar ada alunan musik dari bambu yg rancak dan semangat. Suara itu kemudian menghilang dan dimainkan lagi di kejauhan sana.

Aku ke kamar mandi yg airnya dibiarkan tumpah-tumpah sepanjang masa itu, lalu laporan ke Yang Maha Kuasa dan merasa menjadi orang yg bener banget! Hahaha.

Hari ini jadwalnya bakalan padet banget. Berkunjung ke sana ke mari. I’m ready pokokmen!

Jam 6 pagi aku sama temen-temen keluar rumah buat cari udara segar. Eh nemu pemandangan bagus di balik papringan. Langsung deh ambil kamera dan foto-foto.

Pemadangan Gunung di Kalisari

Suka banget lihat pemandangan gunung berlapis
di kejauhan sana.

Tumbuhan hijau

Tumbuhan hijau banyak tumbuh di sini.
Pantes udaranya sejuk banget! Udara melimpah ruah!

Yugo dan Wawan

Yugo dan Wawan pun tak kuasa pingin foto-foto ayam dan kalkun yg sedang main di tengah sawah sana.

Blumbang

Di sini masih ada blumbang.
Duh jadi pingin ke rumah mbahku di Tulungagung.
Eh tapi khan rumah mbah sudah gak ada blumbangnya sekarang?
Wah iya ding.
Berati desa kalisari ini layak dikunjungi,
karena masih pedesaan alami!

Lalu ada tamu main ke penginapan. Pak Lurah (Kepala Desa) Kalisari, Mas Ardan Azis yang masih muda dan ganteng. Mas Azis bisa akupuntur loh. Bisa hipnotis juga (untuk penyembuhan kayak phobia apa gitu).

Pak Lurah Aziz

Pak Lurahnya lebih cocok jadi foto model aja Pak. Haha.
Ganteng banget sih.

Mas lurah lalu bercerita tentang desanya tercinta, desa Kalisari.

Desa Kalisari gak begitu luas. Cuma sekitar 204 hektaran. Trus penduduk rata-rata penghasil tahu. Makanya ada guyonan “Tuntutlah ilmu sampe negeri Cina, carilah pengeTAHUan di Kalisari”. Haha menarik.

Sayangnya tahu di Kalisari, kedelai yg dipakai adalah kedelai import.

Why?

Soalnya kedelai lokal hasil tahunya keras. Trus dulu ada yg nyebar isu kalau tahu keras itu pakai formalin. Biasalah haters atau pesaing. Untuk menghindari hal itu makanya pakai kedelai import dari Amerika.

Padahal aslinya ya, tahu di Kalisari ini sehari aja sudah habis dimakan. Jadi gak perlu pakai formalin. Kayak gak laku aja. Hahaha.

Alasan kedua, karena kebutuhan kedelai untuk pembuatan tahu itu gak cukup memenuhi kalau hanya didatangkan dari kedelai lokal. Karena dalam sehari, butuh kedelai 9 ton! Gila!

Alasan ketiga, karena kualitas kedelai import memang lebih bagus. Kalaupun ditanam di sini, tanah dan musimnya gak cocok. Yowis pasrah aja ya pakai kedelai import.

Eh ada festival tahu lo di Kalisari. Diadakan tiap tahun. Dan tahun ini akan diselenggarakan pada Oktober mendatang. Festival tahu diselenggarakan untuk mengenalkan tahu ke masyarakat luas.

Acaranya seru, ada perang tahu. Semacam permainan tradisional yg memakai bahan tahu. Seperti balap kelereng tapi kelerengnya diganti tahu bolo-bolo (tahu bulat). Atau memindahkan tahu pakai supit.

Tahu Bolo Bolo Kalisari

Tahu Bolo-bolo yang bunder seser kayak kelereng!

Keren ya tahunya bulat! Tahu yg kotak dan kecil-kecil juga ada. Trus ada festival tahu juga. Karnaval tahu juga ada. Mamerin alat pembuat tahu bertenaga matahari. Sumpah tahu juga ada! Haha

Eh pada penasaran gak sama pembuatan tahu Kalisari?

Nah, jam 9 pagi kami menuju ke pabriknya loh. Naik bis yg kemarin. Bersama Pak Lurah dan ngajak mas-mas single Tour Guide.

Foto sebelum berangkat tour tahu

Foto dulu sebelum berangkat tour tahu

Berangkat tour tahu

Ayoh berangkat!

PEMBUATAN KERUPUK AMPAS TAHU

Kunjungan pertama ke Industri Krupuk Ampas Tahu. Dan inilah rumah penghasil krupuk dari ampas tahunya..

Menuju industri kerupuk ampas tahu

Kali kecilnya lancar banget aliran airnya!
Pantes jarang nyamuk di sini!
Di sini juga banyak kali-kali kecil begini,
makanya Desa nya dinamain Kalisari.
Karena kalinya juga ada sari tahunya.
Mungkin gitu ya? Hahaha.

Rumah Pak Suwardi dan Daryati pengusaha kerupuk ampas tahu

Rumah Pak Suwardi
bersama ambasador Krupuk Ampas Tahu Kalisari.
Hahaha

Sayangnya kok ibunya lagi gak bikin kerupuknya soalnya libur. Trus gara-gara didatangi blooger, Ibu Daryati dan suaminya pun terpaksa bikin kerupuk ampas tahu deh.

Ibunya cerita singkat pembuatan krupuknya ya..

Jadi perbandingannya adalah 1 kg ampas tahu, 1 kg aci (tepung tapioka). Bumbunya pakai bawang putih 3 ons, garam 9 sendok, Roiko 4 bungkus. Dicampur dalan ember. Dicetak. Dikukus selama 5 jam.

Lalu didinginkan di freezer. Dipotong. Trus dijemur. Trus dikemas deh kayak gini.

Krupuk Ampas Tahu Kalisari

Segini ini 34 ribu isi 21.
Ini masih kreceknya ya.
Jadi silakan digoreng sendiri.

Produk krecek krupuk ampas tahu

Krupuk ampas tahu siap digoreng.

Sehari bisa dapat 880 ribu loh. Jadi sebulan bisa 26 jutaan. Laba bersihnya berapa aku belum tau. Hehe. Males ah bahas gaji begini haha.

Promosinya ternyata pakai internet loh. Sudah haitek banget. Pakai sosial media bernama facebook!

Krupuk ampas tahu ditemukan oleh UMP (UnMuhammadiyahPurwokerto) tahun 2010. Dan semuanya masih pakai manual. Karena kalau pakai mesin hasilnya gak rata dan gak bagus. Dan mungkin itu yg bikin enak ya rasanya.

Ibu Daryati mengupas bawang

Ibu Daryati sedang mengupas bawang.

Pak Suwardi mengaduk adonan krupuk

Pak Suwardi sedang mengaduk adonan krupuk.

Pak Suwardi sedang memBlender adonan

Pak Suwardi sedang memblender adonan krupuk.

Adonan ampas tahu

Adonan Ampas Tahu

Ibu Daryati dibandi kak Anaz mencetak adonan ampas tahu

Kak Anaz membantu ibu Daryati mencetak adonan ampas tahu

Adonan tahu yg sudah dicetak dikukus

Setelah dicetak, trus dikukus.

Alat pemotong tahu

Ini alat pemotong tahunya.
Sayangnya gak bisa lihat praktek pemotongannya soalnya khan harus nunggu 5 jam pengukusan.
Belum lagi waktu didinginkan di freezer.

Rata-rata pengusaha krupuk ampas tahu ini memelihara ikan patin, gurami atau lele. Karena si ikan makan dari sisa bahan yg tidak terpakai.

Sama seperti kebanyakan orang tua ya, pengusaha krupuk tahu di sini juga gak mau anaknya jadi pembuat tahu kayak orangtua mereka. Mereka maunya anaknya kuliah tinggi2 yg pinter trus jadi dokter atau profesi “bergengsi” lainnya gitu. Waaah kayaknya beberapa puluh tahun kemudian bisa jadi pengusaha tahu hanya jadi sejarah yaaa..

Semoga hal itu tidak terjadi yaaa.. Aamiin..

Btw, inilah penampakan krupuk ampas tahu setelah digoreng..

Krupuk ampas tahu

Krupuk Ampas Tahu

PEMBUATAN TAHU

Kemudian kami menuju ke Proses Pembuatan Tahu.

Cara pembuatan tahu itu simpel. Kedelai diselep sampai halus lalu direbus sama air. Trus disaring. Sari kedelainya (biyang) kemudian di pisahkan. Ampasnya (ranjem) dibuat krupuk ampas tahu di atas.

Nah biyang tahunya nanti disimpen sehari sampe terjadi fermentasi. Nah hasil fermentasi tadi dicampur sama biyang tadi. Trus didinginkan sambil diaduk sampe beku sendiri.

Trus dibungkus kain kasa supaya padet dan setrong. Dan juga supaya tercetak sempurna ukurannya.

Proses selanjutnya lalu dipress supaya airnya sat. Selesai deh kakak.

Kedelai Import

Ini dia kedelai import dari Amerika ituh!

Selep kedelai

Penyelepan/penggilingan kedelai

perebusan kedelai yg sudah diselep

Adonan kedelai direbus dengan kayu bakar

Biyang Kayu bakar

Kiri: Pencampuran biyang dan fermentasi
Kanan: Perebusan dengan kayu bakar

Proses pembuatan tahu

Ini proses inti terjadinya tahu.
Hasil fermentasi dicampur dengan sari tahu/biyang.

Pemotongan tahu

Dipotong kotak-kotak.

Memadatkan Tahu

Tahu yg dipotong kemudian dipadatkan dengan diikat kain kasa.

Alat press tahu

Setelah dibalut kain kasa,
kemudian tahu dipress di alat ini, supaya airnya keluar.

Btw, limbah cair produksi tahu pun bisa dimanfaatkan menjadi biogas loh. Bisa buat nyalain kompor gas! Amazing ya! Dan teknologi ini sudah ada sejak 2009. Lumayan banget menghemat pengeluaran gas.

Nah ayuk kita menuju ke pengolahan limbah cair tahu menjadi biogasnya!

PENGOLAHAN LIMBAH TAHU MENJADI BIOGAS

Monumen tahu

Monumen Tahu

Jarak antara jalan raya dan tabung-tabung biogas adalah 200 meteran.

Nah pengrajin tahu dengan tempat limbah tahu jaraknya 1 kg. Limbah akan disalurkan melalui pipa merah/oranye masuk ke bak penangkap. Kemudian nanti mengendap ke bawah.

Air limbah yg baru masuk dia ada di atas. Yang kemudian disalurkan ke bak selanjutnya yg isinya bambu-bambu. Di dalam bambu itu ada bakteri yg akan memproses limbah menjadi biogas.

Tempat pengolahan biogas

Tempat pengolahan biogas

Tangki-tangki biogas

Tangki-tangki biogas

Selang-selang siap dialirkan ke seluruh warga

Selang-selang biogas yg siap disalurkan ke seluruh warga

Untuk biaya operasional biogas, penduduk desa hanya dikenakan biaya 15 ribu perbulan bebaaas menggunakan gas untuk keperluan masak sehari-hari.

Limbah Biogas

Limbah sisa biogas.

Sudah saatnya makan siang. Kami harus mengakhiri kunjungan ke pengolahan biogas ini. Sebelumnya, ayok foto-foto lagi!

Foto-foto di pengolahan biogas

Foto bareng di Pengolahan Biogas

TENTANG DESA KALISARI

Setelah merasakan aroma aduhai biogas, kami mampir di balai desa Kalisari untuk makan siang dan “laporan”. Makan siang kali ini unik. Kami mencicipi sayur bunga kecombrang yang rasanya wangi dan asam.

Makan sayur kembang kecombrang

Wow, kembang kecombrang bisa dimakan ternyata!

Btw, di desa Kalisari, kalian akan banyak menjumpai pohon kelapa. Banyak banget. Karena komoditas unggulan desa Kalisari tiga besarnya adalah padi, pisang dan kelapa.

Di balai desa, akan ada bincang-bincang tentang Juguran Blogger dan dari Pak Kepala desa tentang desa Kalisari.

Ngomongin Juguran, arti juguran itu adalah nongkrong sambil ngobrol. Alias jagongan. Juguran blogger berati peserta jagongan adalah para blogger.

Ngomongin desa Kalisari yuk. Potensi desa Kalisari paling besar adalah produksi tahu. Ada sekitar 250 kepala keluarga sebagai pengrajin tahu. Eh ternyata, tahu di sini pertama kali dikenalkan oleh orang China. Yg kemudian diteruskan oleh desa Kalisari.

Pak Lurah

Pak Lurah sedang menjelaksan Potensi desa tercinta Kalisari

Kalisari ini akan dijadikan desa wisata. Meliputi homestay. Kemudian edukasi tentang pembuatan tahu. Btw, Kalisari juga sedang gencar memromosikan merek tahu bernama “Tahu Sari Delai“. Jadi kalau kalian nemu tahu dengan merek itu, BELILAH SEGERA! Karena dijamin enak TANPA FORMALIN! #serius

Tahu Sari Delai

Produk andalan Desa Kalisari. Tahu Sari Delai.
Tahunya gak keras. Lembut banget. Dan pastinya anti pengawet.

Kalau mau oleh-oleh selain tahu, ada juga kaos kok. Unik kaosnya “Kalau ingin TAHU, ke Kalisari aja“. Menarik! Haha

Trus akan ada planning bikin Rumah Tahu juga. Desain sudah ada. Semoga segera terealisasi ya. Rencana akan dibangun di Baturaden. Di dalam Rumah Tahu nanti akan ada proses pembuatan tahu sampe pemanfaatan limbah tahu untuk biogas. Rumah yang keren!

Btw, tahu di kota Lembang dan di Kalisari, harganya lebih mahal Lembang lo. Padahal secara kualitas, lebih bagusan Kalisari. Kenapa begitu? Karena Lembang kota wisata. Nah, ke depannya nanti Kalisari akan dijadikan desa wisata agar ekonomi warga meningkat. Harga tahu juga bisa lebih mahal dan tetap laku. Good!

Bincang-bincang selesai, kami kemudian foto bareng.

Foto bareng warga sekitar dan pak lurah dan pembicara

Wajah-wajah lelah namun bahagia!
(klik gambar untuk memperbesar))

Dan acara Juguran Blogger selanjutnya adalah menuju desa Dermaji. Hmm. Denger-denger sih desa Dermaji ini unik ya. Penasaran? Yoda tunggu postingan selanjutnya yaa.. Bye bye..

56 Comments

Komen dong!