7 Manfaat Tahlilan Menurut Gus Ndop

I don’t care kalau ada yg menganggap aku melakukan bidengah (bid’ah) karena nabi dulu gak mencontohkan tahlilan. Padahal kalian semua pasti tahu kalau nabi juga gak bisa baca tulis, tapi kenapa kita semua belajar baca tulis? Khan nabi gak mencontohkan juga? See?

Oke peace ya! Aku gak mau bertengkar.

Aku mau fokus membahas manfaat tahlilan. Kenapa kegiatan tahlilan yang kata sebagian orang berdosa ini tapi masih banyak dilakukan oleh para kyai/pemuka agama (yg nyata-nyata ilmu agamanya lebih pinter dibanding orang awam yg belajar agama dari google) dan sebagian besar masyarakat? Tentu saja karena tahlilan itu banyak manfaatnya, dan juga pahalanya. Hanya karena tidak dicontohkan nabi trus menganggap tahlilan itu berdosa? Oh Tuhan gak sekejam itu. Saya yakin.

Tanpa banyak basa-basi, inilah manfaat mengikuti Tahlilan yg menurut sebagian orang bidengah dan berdosa itu:

  1. Mempererat kerukunan hidup di antara tetangga. Kita ini hidup gak sendirian loh. Ingat, ada tetangga di sebelah rumah kita. Kalau ada musibah yang menimpa rumah kita, misal kebakaran, orang pertama yg kita minta bantuan tentu saja tetangga. Manggil pemadam kebakaran, pasti datangnya lama soalnya perlu prosedur ini itu. Kelamaan, keburu gosong!

    Nah, dengan adanya tahlilan, masyarakat jadi berkumpul. Jadi saling mengenal satu sama lain-. Tahu kabar masing-masing. Bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik, silaturrohmi di rumah siapa gitu yg mengadakan tahlilan. Atau kalau di gang rumahku, setiap malam jumat selalu ada tahlilan di Musholla.

    So, kalaupun tahlilan itu berdosa karena tidak dicontohkan rosul, tapi aku yakin banget pahala sillaturrohmi antar masyarakat jauh lebih besar dibanding dosa tahlilan. #catet

  2. Kapan lagi kita mengaji Al-Quran? Bukankah zaman sekarang ini kita lebih seneng baca status facebook? Timeline twitter? Chat BBM? Dan sosial media lainnya?

    Mana ada waktu buat baca Al Quran? Baru niat baca Al-Quran, eh ada notifikasi masuk, langsung pindah ke notifikasi. Al Quran pun ditinggalkan sampe berdebu. Aplikasi Al Quran pun begitu, hanya sebagai penghias layar hape (biar dikira alim) . Iya khan iya khan?

    Nah, tahlilan itu tidak lain tidak bukan ya baca surat-surat yg ada di Al Quran. Ada surat Yaasiin, Al Faatihah, An-Nas, Al Ihlas, Al Falaq, Al Baqoroh, Huud, Al Ahdzaab, Al Anfaal, Ali Imron, dan doa-doa yang tentu saja doa yg baik-baik.

    So, dengan adanya tahlilan, bisa jadi peluang besar buat kita nyempetin baca Al Quran. Bareng-bareng sama warga sekitar pula. Buat yg gak bisa ngaji pun dengan mendengarkan warga lainnya yg mengaji, pahalanya pun sama dengan yg mengaji khan? Kalia pasti sudah tahu itu.

    Buat warga yg baper, yang malu gak bisa ngaji, akhirnya dia (mau gak mau) belajar ngaji juga. Biar gak dirasani karena gak bisa ngaji. Kalau kita gak pernah ikut tahlilan, kita gak akan ada pemicu untuk belajar ngaji.

    So, kalau memang tahlilan itu berdosa karena tidak dicontohkan rosul, saya yakin membaca surat-surat Al Quran dan pemicu orang untuk belajar ngaji, pahalanya jauh lebih besar dibanding dosanya.

  3. Makan gratis. Sebenarnya ini bonus aja sih. Walaupun gak sedikit yg datang ke tahlilan karena pingin dapat berkat. Saya pun begitu. Hahaha.

    Jadi adanya tahlilan bikin warga sekitar jadi ngirit biaya hidup karena sudah “dikasih makan” sama tetangga yg ngadain tahlilan.

  4. Kata siapa biaya konsumsi tahlilan itu menyengsarakan penyelenggara tahlilan? Banyak yg membahas hal itu.

    Sudah pada lupa ya kalau sedekah itu manfaatnya besar?
    Bukankah sedekah itu wujud rasa syukur?
    Sudah pada lupa ya, kalau orang yg bersyukur itu maka nikmatnya akan ditambah sama Tuhan?
    Sudah pada lupa ya, kalau Tuhan Maha Kaya?
    Sudah pada lupa ya, kalau sedekah itu pangkal kaya?

    Jadi dengan adanya tahlilan, kita punya alasan kuat untuk bersedekah. Menyenangkan warga sekitar juga pahalanya gedhe. Pahalanya jauh lebih besar dibanding dosa tahlilan itu sendiri.

  5. Buat yg belum lancar baca Al Quran, dan nggak begitu menguasai cara mendoakan orang yg meninggal, mengadakan tahlilan sangat bermanfaat untuk memfasilitasi hal itu. So, kita gak ragu lagi akan salah bacaan Al Quran karena sudah ada pemuka agama setempat yg memimpin doa. Dan ada puluhan orang yg mengaamini doa itu. Sungguh barokah sekali.
  6. Buat yg punya bisnis, dengan mengikuti tahlilan, kalian bisa dapat banyak koneksi. Sebelum acara dimulai, biasanya ada obrolan antar warga. Tanya kabar misalnya. Kalau kita bisa menjelaskan pekerjaan kita, maka bisa jadi lahan untuk menambah koneksi. Promosi gratis. Didengarkan oleh banyak orang.

    Bukankah lebih baik minta bantuan ke tetangga sendiri dibanding ke orang lain? Bukankah kalau kamu punya bisnis, pemesanan roti ulang tahun misalnya, tentu saja tetanggamu akan memesan di kamu karena lebih deket, daripada di gang sebelah yg jauh. Iya khan?

  7. Buat yg tahlilan sendiri atau bareng teman, misal mengunjungi makam siapa gitu trus tahlilan di sana. Tentu saja manfaatnya juga besar. Karena makam orang yg berjasa (untuk agama dan negara) biasanya ramai oleh peziarah dari mana saja untuk mendoakan.

    Di sana bisa bertemu orang baru, syukur-syukur kenalan, tambah teman, tambah koneksi, tambah rejeki.

    Warung-warung di sekitar makam juga otomatis kebagian rejeki dari kita yg membeli makanan dan minumannya.

    Kita juga bisa bersodaqoh jariyah dengan menyisihkan sedikit uang kita ke kotak amal masjid di sekitar makam.

    So, tahlilan berdosa? Dosanya gak sebanding sama banyaknya pahalanya kok.

Tahlilan di Sumbergelmpol

Tahlilan di rumahnya Bude Habibah
di Sumbergempol, Tulungagung.

Demikianlah tadi manfaat tahlilan menurut saya, Gus Ndop, Gus abal-abal. Hahaha. Sebagai anaknya Pak Dokterandes Zainuri yang bekerja di Departemen Agama sebagai wakil kepala, saya rasa harus menulis hal ini.

Lha wong bapak saya (almarhum) yg ilmu agamanya sudah tingkat tinggi, yang kuliahnya jurusan tarbiyah, yang buku agamanya satu lemari gak cukup, yang punya banyak banget kenalan kyai-kyai dari luar kota aja bilang kalau tahlilan itu gak papa. Malah justru banyak pahalanya kok.

Masa kamu yg cuma belajar agama di google, bacanya sepotong-sepotong pula, kuliah aja jurusannya bukan agama, baca Al Quran terjemahan langsung ditelan mentah-mentah tanpa paham ilmu tafsir sama sekali, eh sudah dengan sombongnya membidengah-bidengahkan tahlilan yang sudah menjadi tradisi masyarakat jawa (atau mungkin Indonesia?) yang jelas-jelas punya manfaat besar untuk kerukunan warga bahkan kerukuan umat ini.

Kalian-kalian ini JIAN KEBACUT TENAN! KEBACUUUUT! HAHAHAHHA. BELAJAR WUDLU SANA LOH! Jangan-jangan situ gak tahu wajib dan sunnah wudlu itu apa aja?

Coba saya tes, berkumur-kumur dalam wudlu itu wajib apa sunnah? Ayoh jawab gak boleh baca google! :ayoh:

68 Comments

Komen dong!