Pak Tua yang Ngimami Sendiri

Dulu mas Wid pernah cerita ke aku, kalau kita sholat sendirian itu niatnya jadi imam saja..

Alasannya?

______________

Di pagi yg dingin, ketika rata-rata penduduk desa pada tidur angler kelon sama istrinya, Pak tua yang sudah bungkuk berjalan pelan-pelan sambil menjaga keseimbangan menuju musholla. Dia lalu menyucikan diri trus masuk ke dalam musholla.

Diambilnya maikrofoun, lalu adzan subuh dengan pelafalan yang sudah tidak sempurna karena giginya yg ompong dan lidahnya yang sudah kaku.

Setelah adzan, dia duduk sambil mengumandangkan pujian-pujian sambil menunggu jamaah datang.

Semenit berlalu, belum ada yg datang. Dua menit.. lima menit.. sepuluh menit… Eh, terdengar suara percikan air di kamar mandi musholla. Pak tua senang banget karena ada satu jamaah yg datang.

Ditunggunya jamaah itu masuk ke dalam musholla, tapi ternyata gak datang-datang. Pak tua penasaran, lalu memeriksa ke belakang musholla. Ternyata orang tadi malah cari kodok di empang belakang musholla.

“Weladalah le.. le.. Ternyata ning jeding cuma mampir nguyuh. Tak kiro jamaah, tibake wong golek kodok.. “

Ternyata orang tadi cuma mampir kencing aja di kamar mandi musholla. Yungalah..

Setelah menyadari nggak ada jamaah yg datang, dengan kesal Pak Tua komat. Siapa tau ada yg buru-buru datang trus jamaah.

Ternyata nggak ada.. Semua pada tidur nyenyak kayaknya.. :tidur:

Baiklah, Pak Tua pun mengimami sendirian di dalam musholla. Pak Tua niat jadi imam sholat subuh, soalnya njagani kalau-kalau nanti ada jamaah yg datang terlambat.

Pak Tua membaca al faatihah, tentunya dengan lafal yg nggak sempurna karena faktor umur. Ketika sampai pada kalimat “Waladh..ndhooolliin…” Tiba-tiba ada beberapa suara yg menyahut..

“AAAAMIIIIIN…”

Rame!

Pak Tua seneng banget ternyata ada banyak jamaah di belakangnya. Tapi sekaligus penasaran, soalnya dari tadi tidak terdengar langkah kaki orang memasuki musholla.

Sambil membaca surat pendek, pak Tua menoleh ke belakang, (sudah nggak peduli sholatnya batal apa enggak), ternyata…

Di belakangnya berdiri tegap makhluk besar-besar warnanya hitam. Kepalanya guwedhe gak proporsional dengan besar badannya, jenggotnya panjaaang, matanya gedhe.

Pak Tua shock. Jantungnya kumat. Lalu dia jatuh gak kuat. Sambil ketakutan, dia teriak, “TOLOOONG.. TOLOOONG..” Dengan microphone masih menyala. Akibatnya, teriakannya didengar seluruh penduduk desa.

Mendengar ada yg berteriak minta tolong di musholla (jarang ada!), tentu saja penduduk desa langsung bergegas bangun dan berbondong-bondong menuju musholla karena penasaran.

Melihat pak Tua jatuh tersungkur sambil minta tolong, penduduk setempat langsung menolongnya. Ada yg ngasih minum, ada yg mijet, ada yg bertanya, “Apa yang terjadi, Pak?

Karena yang dilihatnya sudah nggak ada, daripada orang lain nanti mengira dia berbohong, maka pak tua menjawab dengan kesal, “Kalian ini loh, dipanggil-panggil adzan untuk sholat subuh, malah nggak ada yg datang! Setelah aku minta tolong begini, eeeeh pada datang rame-rame.. Besok-besok adzannya aku ganti dengan ‘TOLOOONG-TOLOOONG’ aja ya?”

Kemudian hening…

Penduduk sekitar yang mendengar jadi terhenyak. Kaku. Merasa bersalah. Ternyata maikrofoun juga masih menyala, otomatis semua penduduk desa mendengar sindiran pak tua itu..

Tanpa berkata apa-apa lagi, semua penduduk desa berbondong-bondong menuju musholla untuk menyucikan diri. Sholat subuh diulangi. Kali ini rame beneran. Rame akan manusia, bukan jin kayak sebelumnya…

Selesai

_____________

Kaligrafi Sholat karya dzofar.com

Kaligrafi karyaku

Cerita di atas ditulis ulang dari ceramahnya Pak Kyai Anwar Zaid, Bojonegoro.

28 Comments

Komen dong!