Bahasa Jawa = Bahasa Kampungan?

Iya dong! Kampungan banget sih masih mau pakek bahasa jawa kalau berkomunikasi? Kalau lagi pacaran, ya pakek bahasa Indonesia dong, kalau pakek bahasa jawa itu kesannya ndeso, kampungan, gak ada gaya-gayanya. Didengerin orang lain juga kayak pasangan udik. Kami gak mau dong dikira pasangan ndeso. Kami ini punya gengsi tauk! Makanya ngomongnya pakai Bahasa Indonesia, walaupun medok yg penting gaya!

:siul:

______

Aku pernah naik kereta api dari Tulungagung menuju Surabaya. Waktu itu aku lagi main ke rumah dulurku di Tulungagung sana. Nah, pas naik kereta ekonomi Dhoho itu, aku duduk di depan pasangan muda-mudi yg lagi mesra-mesranya. Ngobrol panjang lebar tentang apa aja.

Mereka naik dari Kota Tulungagung (sementara aku naik dari kecamatan Sumbergempol), mereka ngobrol pakek bahasa jowo Tulungagung yang kental dengan nada khas naik turunnya. Tiap kota di Jawa Timur (dan jawa tengah?) selalu punya aksen tersendiri dalam berbahasa jawa. Nganjuk kalau ngomong jawa biasa aja, datar, tanpa nada yg nyeleot atau menaik. Kalau Tulungagung nada bicara naik turun. Kalau Surabaya beda lagi. Rendah – tinggi – rendah trus tinggi. Lucuk! Hahaha

Pasangan muda-mudi itu ngobrol tanpa henti sampe Kediri. Masih pakek bahasa jawa. Aku seneng ya kalau ada yg pacaran pakek bahasa jawa. Mereka gak gengsi gitu. Mereka masih mau melestarikan bahasa daerah.

Kereta sekarang sudah sampe kecamatan Kertosono, kereta berhenti agak lama biasanya. Dan para penumpang biasanya turun untuk membeli nasi pecel pincuk trus dimakan di dalam kereta. Setelah makan, kereta berangkat lagi..

Entah mengapa, aku amati obrolan mereka, bahasanya berubah. Jadi aneh, campur-campur..

“Kamu ndik sana nanti ojo lali telfun aku ya, awas nek lupa!”

Ternyata mas-masnya membalas dengan bahasa yg sama. Compar-campur..

“Iyo.. ndik sana nanti tak sempetin.. “

What? MANA TADI BAHASA JOWO TULUNGAGUNGNYA??? KOK SEKARANG DIA PAKEK BAHASA CAMPUR-CAMPUR?

Setelah aku amati, ternyata penumpang semakin banyak, semakin sesak, dan sesekali aku lihat penampilan penumpang baru itu rata-rata berbusana necis dan rapi. Ala-ala orang kota. Mungkin mereka habis pulang kampung dan balik ke Surabaya lagi untuk bekerja.

Oh, jadi gara-gara penumpangnya berganti, mbak-mas yg pacaran tadi juga harus mengganti bahasanya! OKE INI KEREN!

Kereta melaju kencang, sampe Jombang, mereka sudah TOTALLY NGOMONG PAKAI BAHASA INDONESIA. Sudah nggak campur-campur lagi. Sesekali terdengar sih jawanya. Mungkin mereka lupa mengontrol. Hahah..

Kereta akhirnya sampe Surabaya, and yes! Mereka sekarang omong pakek bahasa Indonesia seutuhnya! Huhahaha.. Surabaya loh padahal, wong Surabaya itu khan bahasanya masih jawa. Kenapa mereka harus pakai bahasa Indonesia, biar gaya gitu ya?

IYA DONG! BIAR DIKIRA ORANG KAYA DARI JAKARTA!

Tapi kok medok mbak ngomongnya?

BIARIN!

__________

“Oeeek… oeeeek… “ Anak kecil mungil yg cantik telah lahir ke dunia. Namanya Zhafirraa Azzahra Elisabeth Almira Monique Al Jaazirha. Dari seorang ayah dan ibu bernama Supriyatno dan Suningsih. Mereka asli jawa dong. Walaupun anaknya dikasih nama yang entah itu nama dari daerah mana. Mungkin hasil gugling di situs nama-nama-bayi.com

:lol:

“Mas, anakmu ayu eram ya mas.. Koyok ibuke mestine.. “

“Lha iyo to Sih, mosok mirip bapake lak lucu.. “

“Eh mas, Si Zhafirra wis iso ngadek mas.. “ Sang suami ikutan takjub melihat anaknya sudah bisa berdiri..

“Wah hebat yaaa, Zhafirra udah bisa berdiri.. “ Kata Supriyatno kepada anaknya. Si Zhafira ketawa-ketawa lucuk sambil merem-merem dan nggleyot mau jatuh.. Dan ternyata dia jatuh terduduk. Dan nangis..

“Eh, Zhafirra jatuuh, nggak papa sayang.. nggak papa.. sini mama gendong.. “ Dengan logat medok tentu saja.

Jaazhira sekarang sudah umur 3 tahun, dia sudah hampir lancar ngomongnya.

Eh, kok Jaazhira sih? Bukannya tadi namanya Zhafirra?

Ah, mbuh bingung! Yang penting namanya keren!

Walaupun susah dihafalkan?

Ya masa dipanggil Elis? Kampungan banget dong panggilannya.. Gengsi ah!

YOWIS SAK KAREPMU!

Zhafirra sudah lumayan banyak perbendaharaan katanya. Rata-rata sih bahasa Indonesia ya. Maklum, walaupun rumahnya di Pacitan, tapi Zhafirra ngomongnya pakek bahasa Indonesia. Sama kayak rata-rata temen-temen kecilnya di desanya sana. Soalnya orang tuanya selalu ngajari omong pakek bahasa Indonesia.

Tapi ternyata Zhafirra merasa nggak natural kalau ngomong bahasa Indonesia. Dia merasa ada sesuatu yg mengganjal. Soalnya dia sering mendengar ayah dan ibunya ngomong pakek bahasa jawa ngoko biasa.

Suatu hari Zhafirra nguping pembicaraan kedua orang tuanya pas kebetulan ada tamu temen SMA mereka dulu. Mereka renyah ngomong jawanya. Zhafirra yang masih balita tentu dengan mudah menyerap bahasa jawa itu. Hingga makin lama Zhafirra ngerti bahasa jawa. Walaupun kalau ditanya pakek bahasa jawa, dia njawabnya pakek bahasa Indonesia.

“Mah, aku lapar.. Makannya apa, Ma?” Tanya si Zhafirra kepada mamanya. Eh, Zhafirra sekarang udah lima tahun loh! Udah TK gitu.

“Itu ndik meja, silakan ambil sendiri ya.. “

“Pak eeee, ndoge wis entek, ngko sore ning toko Setia ya, blonjo ndog karo sabun..” Kata Suningsih kepada suaminya.

“Iyoooo.. Aku tak budal makaryo disik yo, Sih.”

“Ndang mulih yo Pak, ojo macem-macem ndik kantor.. “ Suningsih tersenyum genit..

“Zhafirraa.. cepetan makannya nak, udah jam setengah delapan nih.. Nanti kamu telat lo.. ” Zhafirra menuntaskan minum susunya. Lalu salaman cium tangan mamanya dan berlari melompat ke belakang jok motor papanya.

“Berangkat paaaaaaa!!!”

Ternyata di sekolah, teman-teman Zhafirra juga kalau ngomong pakai bahasa Indonesia. Kalau ada yg pakai bahasa jawa, pasti udah diasingkan sendiri dan dipandang sebelah mata dan dikira udik sama teman-teman lainnya.

_________

30 tahun kemudian, ketika orang tua Zhafirra udah meninggal. Zhafirra sudah nggak bisa mendengarkan percakapan bahasa jawa lagi. Semua orang di lingkungannya sekarang pakai bahasa Indonesia.

Gak hanya di Pacitan, ternyata ketika kuliah, pun, teman-teman Zhafirra yg berasal dari berbagai kota di Indonesia itu semua pakai bahasa Indonesia. Udah gak ada bedanya mana yg asli Jakarta dan mana yang asli Jawa Timur, semua melebur menjadi satu. Saking seringnya, mereka bahkan udah nggak medok ngomongnya. Semua jadi sama. Nggak ada bedanya. Gak unik.

Pada saat itu, pelajaran Bahasa Daerah udah dihapus di sekolah-sekolah. Sudah dianggap nggak penting. Namanya komunikasi khan yang penting satu sama lain bisa paham. Kenapa repot-repot belajar bahasa daerah kalau malah justru ribet. Mau ngomong sama orang tua saja harus pakek bahasa jawa yg ini, omong sama yg lebih muda pakek yg ini. Repot!

Kalau mau mempelajari bahasa Jawa, ya harus di bangku perkuliahan. Itupun sangat sepi peminat. Justru mahasiswanya orang bule dari luar negeri yang kepingin mempelajari budaya jawa. Mungkin dia dari jurusan sejarah di universitas luar neheri sana dan mau mengadakan penelitian tentang jawa, jadi MAU NGGAK MAU harus kuliah bahasa jawa.

Lha trus, dosen yang ngajar bahasa daerah siapa?

DOSEN YANG NGAJAR BAHASA DAERAH ADALAH BULE-BULE LUAR NEHERI, SAMA KAYAK MURIDNYA!

#jleb

___________

Boso jowo

Bahasa jawa yang asli sudah terkubur di dalam tanah
karena nggak ada penerus..
*Kamu boleh memakai ilustrasi ini, asal watermark jangan dihapus ya*

Wow, ndop. Tulisanmu ini sebenarnya keren ndop. Kamu ngritik orang-orang yang gengsi makek bahasa jawa. Tapi ada yg aneh ndop! Hmm…

Apa? Aneh kenapa?

Kenapa kok kamu nulis artikel ini pakek bahasa Indonesia? Kenapa nggak bahasa jawa?

GENGSI DONG! Bahasa Jawa khan bahasa kampungan!

UPDATE 8 Januari 2014

Beberapa bulan setelah aku nulis ini, 16 Desember 2014, eh, di Australia sana, di kampus Australian National University (ANU <-- singkatannya kok lucu ya! Hahaha), ada proyek drama berjudul "Sri Ngilang" yang diperankan oleh bule-bule yg belajar bahasa jawa. Jadi drama ini nyel pakai bahasa jowo loh! Keren banget khan!

Jadi, mau beralasan kalau bahasa jawa itu kuno dan kampungan? Kamu gak malu sama bule-bule astralia yg belajar bahasa jawa?

:doh:

105 Comments

Komen dong!