(Vlog) Pegat 10K Road Run Blitar 2019

Minggu kemarin aku coba teknik lari yang bener. Yaitu lari dengan jinjit alias telapak kaki bagian depan yang menyentuh tanah duluan. Kalau kita gak tau teknik itu, lari kita sudah bisa dipastikan akan menapak seperti gajah. Alias semua bagian telapak kaki menapak ke tanah. Dan teknik “lari kampung” seperti itu bikin kaki kita njarem di dengkul. Trus tenaga yang dibuang jauh lebih banyak. Alias cepet capek.

Kalau teknik larinya bener (jinjit), bagian kaki yang terkonsentrasi menahan beban adalah cuma sampai betis. Gak sampe ke dengkul. Wicis lebih gak bikin badan kita capek. Aku sudah membuktikan sendiri.

Lari yang bener
Lari dengan teknik yang (semoga) bener

Paceku meningkat. Yang biasanya 5 km aku tempuh dalam waktu 6 menit 50 detik, kali ini bisa 6 menit 31 detik. Lebih cepet 19 detik doang sih. Tapi gak papa dong! Tetap bagus karena ada peningkatan. Apalagi aku gak lari 2 minggu ini. Soalnya..

27 Januari 2019 kemarin itu aku ikutan piknik doang sambil ngevlogin Pegat Road Run 10K yang diadakan di Gunung Pegat. Aku sebenarnya pingin ikut, tapi aku lagi stress berat karena almarhum Fikeri kucingku sakit.

26 Januari 2019, Resty budal bareng Mas Avy naik mobil dari Magetan. Di dalam ada Gendut (Ahmad Maulana). Dia nyuruh aku nungguin di Taman Pandan Wilis. Soalnya mereka lewat tol jadi nungguin di situ lebih mudah nggolekinya.

Langsung cus Mblitar untuk ngambil racepack di Istana Gebang kediaman Bung Karno. Aku sempet foto-foto di situ. Biasa netizen zaman now. Sempet ditegur sama penjaganya karena aku masuk dari pintu belakang, jadi gatau kalau sepatu harus dilepas. HAHAHA.

Istana Gebang Blitar
Istana Gebang Blitar, Kediaman Bung Karno

Trus dari situ menuju venue itu sekitar 15 kiloan. Anak-anak lain, Bagus, Danang, Dina, Dika naik grab. Mereka dari Madiun naik kereta menuju Blitar.

Setelah sampe lokasi venue, kami nginep di homestay nomer 29 yang mana itu di ujung sana. Jarak ke venue sekitar 1 km. Haha udah capek duluan dong sebelum lari!

Homestay 29
Homestay 29.
40 ribu perkepala.

Ada uji nyali nginep di homestay nomer 29, karena wesenya gak ada pintunya. Cuma ditutup tirai doang. Hahah. Untung aku kebelet ngisingnya pas pagi ketika anak-anak udah berangkat ke venue. Jadi ga ada yg jahil ngintip haha. Untungnya lagi, ada pintu pemisah antara rumah dan dapur belakang yg ada wesenya tadi. Jadi tinggal kunci pintu doang, kita bisa aman sih.

Selama nginep, kami sibuk nggibah. Haha. Trus sibuk oles-oles minyak kutus-kutus yang lagi ngehits itu. ‎اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ mereka cocok. Walhasil minyakku bermanfaat. Padahal niatku bawa Minyak Kutus-kutus untuk perut kembungku dan pegel-pegel. Sama supaya bisa tidur nyenyak aja.

Race Day

Para runners itu kalau lagi ikutan event begini, mereka tertib bisa berangkat setengah jam sebelum acara dimulai. Karena memang harus pemanasan dulu biar meminimalisasi cedera kesleo atau kecekluk.

Aku berangkat dari penginapan sungguh-sungguh mepet waktu. Sampe venue setelah jalan kaki 800 meter itu, kurang 10 menit flag off. Haha untung gak telat. Bisa gagal ini ngevlognya kalo telat.

Hujan gerimis. Wah piye iki. Kamera basah dikit. Untung cuma sebentar. Pawangnya jago! Haha.

Flag off tepat waktu jam 6.00. Seperti biasa atlet-atlet di depan. Sementara pelari keong ada di belakang supaya gak menghalangi yg larinya cepet. Haha

Karena pesertanya gak begitu banyak (maklum ini event lokal biasa), maka dalam beberapa menit saja peserta sudah habis melewati start.

Aku langsung jalan kaki memotong jalan bareng mas Avy (@instavyid). Untuk ngeshoot video di kilometer 4. Untungnya masih terkejar untuk ngeshoot atlet-atlet yg paling depan. Maklum para atlet itu pacenya 3-4 menit/km, jadi aku harus jalan cepat untuk menuju spot kilometer 4 tadi.

Setelah ngeshoot teman-teman penginapan, aku dan mas Avy jalan kaki menuju finish line di venue. Ternyata nyasar dong! Hahaha. Walhasil siapa yg juara gak keshoot. Tapi untungnya bisa ngeshoot teman-teman lain.

Di tengah-tengah ngeshoot peserta lari di finish line, tiba-tiba ada orang gila mara-mara dong! Sekyuritinya santai aja dong. Padahal jelas-jelas itu mengganggu kenyamanan acara. Setelah dikomando sama emsinya, akhirnya sekyuriti berhasil mengusir ibu-ibu gila pakai helm yg ngomong mara-mara gak jelas itu.

Acara pun kembali lancar seperti semula.

Btw, acara Pegat ini keren loh! Ada timing chipnya. Sayangnya ada peserta yg masih motong jalan langsung ke kilometer 4. Untung dia pelari hore. Otomatis gak akan mengejar para atlet. Kalau menang ya berati dia curang. Hihihi. Udah gitu, orang yg motong jalan itu pas finish sempet-sempetnya rekam video selfie trus aku dimasukin satu frame. Ih jijik!

TREKKING KE PETAPAAN GUNUNG PEGAT

Setelah ngeshoot semua temen-temen yg kenal (maupun yg gak kenal), kami piknik naik ke Petapaan Gunung Pegat. Trekking naik ke atas. Lumayan capek sih aku. Gak bisa bayangin yg habis lari 10 km trus harus trekking ke atas. Hihhi.

Foto di Gunung Pegat
Homestay 29 Runners berfoto bareng
di perjalanan menuju Petapaan
Gunung Pegat

Di atas sana ada tempat istirahatnya plus disuguhi view Blitar dari atas gunung. 100 meter lagi sampe ke petapaan.

Di petapaan, hawanya terasa lebih dingin dibanding di bawah tadi. Petapaannya berupa batu bata yg ditata persegi. Aku gatau apakah di sini sering diadakan upacara adat?

Di ujung sana ternyata ada tempat duduknya. Tempat leyeh-leyeh. Angin di sini kenceng banget gaes. Gatau ya, kok di petapaan anginnya gak sekencang ini.

Foto di Gunung Pegat
Seorang model.
Jersey full print mesen di @arunikasport.id

Pulang balik ke penginapan jalan kaki bareng. Setiap penduduk di sini punya pohon rambutan. Dan ndilalah rambutannya kok menggoda sekali untuk dipetik. Beberapa temen nyolong satu dua buah untuk di makan. Sementara di depan sana, ternyata ada temen lain (Gendut dan Dika) sudah beradadi atas pohon dong! Dia ngerah rambutan atas seizin yg punya (walaupun keknya ada salah satu anggota keluarga yg gak ihlas haha).

Sampe ke homestay, kami pesta rambutan. Aku cuma makan dikit. Maklum aku ragu apakah rambutan ini halalan toyyiban soalnya pemiliknya tadi ada yg gak ihlas rambutannya diambil. Hahaha.

Dan aku baru nyadar, kalau di penginapan 29 ada pemenang nomer 3. Namanya Akbar (@flash.82). Wah mumpung ada atlet, maka kesempatan aku nanya-nanya seputar teknik berlari. Nah, dari sinilah aku jadi tahu kalau lari itu sebaiknya jinjit, biar lebih gak membebani tubuh dan gak gampang capek.

FYI, Akbar ini sebenarnya kalau jaraknya 10K pas, dia pemenang pertama loh. Tapi karena dia gak baca buku petunjuk, yang menerangkan bahwa jarak sebenarnya adalah 10.3 km, akhirnya dia pun pasrah harus berada di posisi 3. Karena tenaga sudah habis di km 10 pas tadi. Sehingga 300 meter ke depan otomatis disalip pelari belakangnya. Duh, eman-eman.

Tapi gak papa bisa dijadikan pelajaran. Lumayan kok pemanang 3 dapat 1 juta. Balik modal lah ya. Masih sisa banyak ding. Hahaha.

VLOG

Dan inilah vlog yang aku ceritakan di atas. Ditonton ya, kalau ada iklannya tolong dilihat sampe tuntas. Okay! Hahaha

Siangnya kami pulang. Di mobil ketambahan pemilik @arunikasport.id: Bagus. Kembaranku. Cuman beda wajar dan bentuk tubuh saja. Hahaha.

Mampir di rumahnya panitia Pegat 10K Road Run deket venue, namanya Adam. Sebenarnya kami sudah makan siang, tapi apalah daya, kami dikasih makan lagi. Makan berat pula. Soto daging! Huaaaa..

Trus mampir ke Tulungagung ke rumahnya Andri yg bodynya hot bats, di sini dikasih makan lagi dong! Gak hanya makan, tapi duren pula. Daku kekenyangan bats. Hahaha.

Pulang ke Nganjuk, mereka saya ajak ngafe. Sekaligus ngasih tahu ke Mas Avy (yang orang Surabaya) kalau di Nganjuk ada cafe bagus. Haha. Aku traktir pizza 2 buah dimakan bersama.

Lalu aku diantar pulang ke rumah dengan gembira.

Thank you semuanya! Liburanku menyenangkan sekali karena bareng banyak teman-teman lari. Thank you for unlimited Ghibahnya. Saya suka berghibah! Hahaha

3 Comments

Komen yuk kak!