Kucingku Fikeri: Pejuang Virus Panleukopenia!

Iklan dulu ya..

Hore hari ini dapat kiriman dari yuke (inggris) dari gugel loukel gaeds. Jadi aku khan sudah lewel 7 ya. Trus gugel mengapresiasi dengan ngasih stiker biar aku lebih semangat ngerewiyu setiap tempat yg aku singgahi.

Google Local Guides Stickers
Google Local Guides Stickers

Yaaah, walaupun reviuku beda sama orang lain, karena kadang sambil curhat, kayak gini contohnya:

Google Map Review
Review macam apa ini?

Tapi ternyata banyak yg suka sama reviewku. Buktinya aku sering diemail google local guides katanya reviewku banyak dilihat dan banyak ngebantu orang mendapatkan informasi.

Yaah, walaupun mungkin itu email template, tapi aku emang suka dipuji. Walaupun itu fake. Hahaha. Tapi aku yakin kalau pujian dari gugel itu bukan fake! (Menghibur diri).

Kegembiraanku juga diikuti dengan si Fikeri yang akhirnya aku putuskan untuk opname lagi. Fikeri adalah nama kucingku yang aku pelihara sejak dia bayi. Sodara2nya ada tiga. Yang dua dipelihara masku. Yang dua aku pelihara. Fikeri dan Mentari. Sadly, Mentari ilang diambil orang. :(

Kucing-kucing akoh
Dari kiri ke kanan: Mulia, Tebu, Fikeri, Mentari

Fikeri sekarang sudah berumur 6 bulan. Lagi aktif-aktifnya lari-lari grudak-gruduk mengejar bayangan! Haha. Lagi suka-sukanya ngganggu orang kerja. Lagi suka-suka minta perhatian kalau aku lagi sibuk kerja. Aku ke mana, dia ikut.

Aku sholat, dia ikut di depanku sambil bersih-bersih. Aku ngaji, dia duduk di atasnya! Aku mandi diikutin lalu ditungguin di depan pintu. Malam-malam aku takut ke kamar mandi, dia selalu aku ajak menemani. Lalu menungguku sampe selesai. Trus kami masuk ke rumah bareng-bareng.

Aku nyalain pese, dia lompat di depan monitor lalu bersih-bersih badan. Kadang malah tidur dong! Lalu menjatuhkan segala yg menghalangi pergerakan tidurnya. Mouse jatuh. Mobil daekest jatuh. Eksyen Figur Hulk ditendang jatuh juga. Hahaha senakal itu memang.

Fikeri in eksyen
Ulah Fikeri naik di atas kursi mahalku.

Fikeri cakarnya selalu muncul. Dia type kucing kampung yang semua senjatanya dikeluarkan. Cakar dan gigi selalu aktif digunakan. Jadi gak kayak kucing lain, kalau Fikeri ndusel-ndusel kamu, dia akan mengakhiri dengan gigitan manja (walaupun kadang sakit juga). Ketika mijit juga gitu, dia keluarin cakarnya. Gak kebayang perut ini dipijit tapi plus tusukan cakarnya yg super tajam. Haha Tapi Fikeri tahu ukuran, cakarnya gak pernah melukai perutku. Kalau clekit-clekit gitu ya wajar namanya ditusuh-tusuk. Haha

Senin, 7 Januari 2019, aku sibuk kerja banget. ngevector 4 wajah. Malam hari sebelumnya begadang. Paginya tidur sampe sore. Baru mulai kerja malam. Sebenarnya hal ini lumrah sih. Soalnya aku emang sejenis Zubat. Haha

Yang bikin hal ini gak lumrah adalah stok makanan kucing yg aku sediakan buat kucing-kucing di gang rumahku, HABIS sejak minggu sore. Jadi minggu malam kucing-kucing saya suruh puasa. Besok seninnya aku beliin makanan gitu.

Ternyata aku memang bangsat! Senin pagi aku malah tidur. Bangun sore. Langsung mandi, makan, kerja, tanpa jeda waktu sampe jam 12 malam! Mana ada penjual makanan kucing buka jam 12 malam?

Eh ada ding! Alfamart! Bangsat bener kenapa aku baru kepikiran sekarang ya? Jancuk tenan akutu!

Besoknya selasa aku ulangi kesalahan yang sama. Aku baru bangun sore hari. Mendapati kucing-kucing pada meong-meong kelaparan sementara aku malah tidur pules, ketika bangun aku langsung bergegas beli pakan kucing. Langsung beli 4!

Tapi ternyata aku sudah terlambat. 30 jam alias sehari setengah kucing-kucingku gak makan. Kucing2 yg hidupnya pindah-pindah (kadang di rumahku, kadang di rumah tetangga), masih bisa mengais minta makanan sama tetangga atau cari-cari di tempat sampah. Lha Fikeri?

Fikeri adalah satu-satunya kucing YANG HANYA MAKAN DARI RUMAHKU SAJA. Dia GAK PERNAH MAIN KE RUMAH TETANGGA SAMA SEKALI.

Gak bisa bayangin kucing umur 6 bulan gak makan selama 30 jam! Aku merasa jadi orang super bangsat terkutuk neraka jahanam hari itu. Karena Fikeri hanya diam. Duduk. Dengan mata menyorot tajam. Kelaparan. Lemes pastinya.

Fikeri hanya diam terduduk lemas selama 2 hari berikutnya. Semua makanan gak mau dia makan. Bibirnya tertutup. Matanya sayu.

Fikeri lemah lesu
Fikeri yang gak mau makan gara-gara aku yg bangsat!

Seketika itu aku merasa sangat amat menyesal. Fikeri adalah kucingku yg paling sayang sama aku. Dia memang sering mengganggu. Tapi dia sangat sayang dan nempel terus sama aku. Tiap aku habis kerja, trus rebahan di kasur, dia langsung lompat ke kasur. Lalu apa? DIA MIJET PERUTKU GAES! (Tadi udah dijelasin sih). Iya! Segemas itu!

Apa balasanku kepadanya? Membuatnya kelaparan :(( Busuk sekali perlakuanku kepadanya.

Suwediiih banget pokoknya gaes. Aku HARUS TANGGUNG JAWAB! WAJIB!

Kupanggil dokter hewan di Nganjuk sini. Sepanjang hidupku, aku gak pernah seserius ini memelihara kucing. Sampe manggil dokter segala lo! Buat pecinta kucing, ini hal yang sangat wajar buat kucing kesayangan. Tapi buat aku, yang selalu ditinggal kucing kesayangan karena keracunan, ketabrak, alias semua mati mendadak, memanggil dokter hewan otomatis belum pernah aku lakukan.

Aku dapat nomer hape dokter hewan dari Sigit. Tapi sayang dokternya hanya bisa malam hari karena pagi kerja di kota lain. Untung dia ngasih nomer temannya, dokter hewan lain. Dokter Lilis.

Dokternya kok ya baik. Aku watsap Rabo malam, besoknya Kamis pagi jam 10 dia ke sini. Btw Fikeri harus dirawat inap.

Ketika dokternya datang, Fikeri langsung diinfus semenit untuk sumber enerji. Wagelaseh 3 hari gak makan itu rasa laparnya kayak apa :((

YA TUHAN AMPUNILAH HAMBAMU YANG BANGSAT INI :((

Lalu Fikeri disuntik vaksin atau vitamin gitu aku lupa. Cairannya warna merah. Disuntik di pahanya. Fikeri langsung kejet-kejet kesakitan dan lari sambil kakinya diangkat satu. Aku panik banget dong. Dokternya bilang, itu wajar. Efek sakitnya akan hilang dalam 2 menitan.

Aku lega.

Lalu dokter bergegas pulang membawa Fikeri di keranjang ijo. Memasukkan di mobil. Dan pamit pulang.

Dua hari kemudian, Sabtu 12 Januari 2019, aku watsap Mbak Liliz, si dokter hewan. Nanya kabar Fikeri. Kangen juga sih. Dokter bilang, Fikeri sudah mau makan. Tapi harus disuapin. Disepet istilahnya. Jadi nyuapinnya pakai suntikan yg gak ada jarumnya. Dimasukkan ke dalam mulut kucingnya.

Dokter menambahkan kalau Fikeri kemungkinan terkena virus Panleukopenia. Hmm.. sebagai netizen teladan, aku langsung brosing gugel. Baca artikel wikipeda, aku langsung shock! Karena virus ini menyerang pencernaan sehingga kucing gak doyan makan dan minum. Trus yang bikin sedih, virusnya SANGAT MEMATIKAN :((

Dokter bilang, Fikeri bisa dibawa pulang asal aku mau telaten nyuapin. Hmm.. nyepet itu gimana sih caranya?

Minggu jam 10 pagi Fikeri diantar ke rumah. Dokternya baik mau antar-antar kucing ke rumah. Padahal aku seharusnya ambil sendiri. Tapi karena aku gak punya keranjang kucing, juga karena aku mager, maka aku minta tolong Mbak Dokter untuk nganter ke rumahku aja.

Fikeri sudah gerak-gerak dong! Walaupun masih lemes. Aku seneng bats. Setidaknya dia SELAMAT! Dokter lalu ngasih obat pil kuning yg sudah dipecah2 lalu ditulis 2×1 alias dua kali sehari. Trus nyuruh aku beli Royal Canin Recovery karena si Fikeri suka.

Karena di pet shop royalnya habis, aku beli makanan lain. Kata penjualnya, MeO Creamy Treat ini lebih banyak vitaminnya. Aku manut! Pokonya Fikeri harus makan kenyang!

PERJUANGAN DI MULAI!

Ternyata ngasih makan kucing pakai spet itu TIDAK MUDAH. Aku sudah nonton beberapa video di yutub. Kebanyakan contohnya adalah kucing persia, anggora, yang cenderung lebih nurut. Beda sama kucing kampung yang lebih berontak kayak Fikeri. Apalagi Fikeri itu hobi nyakar dan gigit sejak bayi!

Di yutub ngasih makan kucing kok bisa segampang itu. Sementara aku praktekkan di Fikeri, aku sukses kena belasan cakaran di tangan! Perih! Hahahaha

Dua hari berjuang menahan perih cakaran-cakaran. Pernah dua kali aku minta bantuan ibuk buat nggujek Fikeri biar tangannya gak bisa nyakar. Tapi daya berontak si Fikeri yg tinggi bikin proses memberi makan ini susah banget sodara-sodara! Makanan kutah ke mana-mana. Karena Fikeri menggerakkan kepalanya dengan cepat. Jadi makanan gak masuk tepat ke tenggorokan.

Dua hari ngopeni Fikeri, dia gak ada perkembangan. Justru semakin lemes. Kayaknya dia kurang makan deh. Kurang minum juga. Virus Panleukopenia ini rata-rata nyerang kucing selama 3 hari lalu kucingnya mati. Fikeri sudah bertahan 6 hari dan dia masih hidup! Kuat banget!

Tingkat kesembuhannya yg cuma 10% ini bikin aku sesek di dada dan nangis mulu kalau bayangin betapa bangsatnya aku ke dia. Tingkah laku Fikeri juga berubah sejak sakit. Dia jadi cuek banget sama aku. Kayaknya dia marah sama aku. Duh maafkan aku Fik :((

Gak tahan untuk curhat, aku ngetwit tentang virus ini. Siwi merespons dengan twit yg bikin lega. Dia bilang kalau sudah melewati 6 hari, peluang sembuhnya makin besar. Bahkan dia bilang Fikeri akan sembuh ketika dia lihat video yg aku upload sedang ngelus-ngelus Fikeri.

Lega banget dong aku!

Cuman kelegaan aku tidak ada buktinya di Fikeri. Dia tetap aja lemas. Bahkan semakin lemas. Duh sedih bats.

Selama sakit, Fikeri gak mau masuk rumah. Dia maunya di teras rumah. Pagi siang malam. Dingin. Hujan. Gak mau masuk rumah. Mungkin dia sadar kalau di dalam rumah nanti dia akan susah cari tempat pipis dan eek. Apalagi kalo malam khan pintu dikunci. Dia gak mau mengulang eek dan pipis di lantai kayak hari pertama mungkin.

Fikeri memang kucing pinter!

Cuman efeknya ya dia gak sembuh-sembuh. Kedinginan pastinya. Udah aku kasih kerdus plus bantal dan selimut pun dia hanya betah sejam dua jam saja. Habis itu pindah di lantai yg dingin. Atau di tempat favoritnya di bawah meja kayu yg ada tatakan kayunya. Karena dia sukanya di situ, maka aku kasih payung mengelilingi meja itu. Biar angin malam yg dingin atau air hujan terhalang payung.

Tapi aku tetap merasa stress kepikiran terus! Gimana bisa tenang membiarkan kucing kesayangan tidur sendirian di teras rumah. Aku pun tidur dengan sangat tidak nyenyak. Baru sejam dua jam tidur, aku terbangun. Nengok Fikeri. Ngelus-ngelus. Balik lagi ke kamar. Kebangun lagi. Ngelus-ngelus lagi. Aku balik ke kamar, kubawa bantal guling dan selimut lalu tidur di sofa teras rumah nemenin Fikeri. Begitu terus sampe subuh.

Aku harus sering-sering elus-elus Fikeri karena hal itu bisa mendorong kesembuhan dari dalam. Kucing jadi meningkat daya juangnya untuk hidup karena merasa disayang oleh pemiliknya dan hidupnya berarti.

Habis subuhan aku gendong dia keluar rumah. Jalan-jalan bentar beberapa meter. Mengajaknya ke tempat yg dia belum pernah lihat. Maklum si Fikeri memang HANYA HIDUP di rumahku saja. Gak berani ke rumah tetangga.

Ketika aku gendong, mata Fikeri terlihat sediiiih banget. Lemas banget. Aku nangis. Merasa sangat amat bersalah.

Akhirnya pagi tadi, Rabo 16 Januari 2019, aku nyerah. Daripada hidupku gak tenang, Fikeri juga makin lemas, bahkan tadi sempet ngeluarin lendir dari mulutnya setelah satu sepet makanan masuk di mulutnya, padahal sebelumnya gak pernah, akupun memutuskan untuk menyerahkan ke dokter lagi untuk dirawat. Aku merasa gak maksimal menyuapi Fikeri. Aku rasa dia hanya bisa bertahan hidup doang. Gak ada perkembangan apa-apa.

Mas-mas (kayaknya suaminya bu dokter) datang ngambil Fikeri naik motor. Tepat di saat Fikeri ngeluarin lendir. Wow Tuhan memang Maha Mendengar. Lega akutu. Akhirnya Fikeri dirawat orang yg tepat.

Kuserahkan sepenuhnya pada Bu Dokter Liliz. Apapun hasilnya aku pasrah. Ini adalah bentuk tanggung jawabku atas kesalahanku. Gak peduli nanti biayanya berapa. Kemarin pas Fikeri opname 4 hari, bayar 300 ribu. Kalau yg ini lebih lama aku gak papa. Duit bisa dicari lagi kok. Tapi tanggung jawab ini harus dituntaskan!

GARA-GARA FIKERI NIH..

Ketika sedih begini, otakku kadang jalan lebih canggih dan hatiku jadi super duper sensitif. Kedua hal itu kalau dimerge, akan menciptakan perubahan hidup yg lebih baik.

So, selama dua hari merawat Fikeri. Dia berhasil membuatku tidur malam bangun pagi bahkan sebelum mentari pagi. Soalnya aku ada kewajiban memberi makan dia dan menengok dia setiap malam untuk memastikan dia baik-baik saja sambil ngelus-ngelus tubuhnya yg lemas.

Tidak bisa tidur nyenyak membuatku gabut. Buka hape makin bikin stress karena sosyel media isinya ORANG PAMER! Lagi sensitif lihat orang pamer itu bawaanya pingin misuh-misuh gaes! Hahaha. Walhasil waktu gabut aku pakai buat SHOLAT TAHAJUD!

HUAAAAAW MAS NDOP HIJRAAAAH!! HABIS INI MAS NDOP PAKE CELANA CINGKRANG SAMA MANJANGIN JENGGOT GAAAES!

Hahaha gak segitu juga kaleee..

Ya Tuhaaan. Ternyata tahajud itu nenangin hati banget. Bener banget lirik lagu Tombo Ati itu. Yang salah satu liriknya bilang “Sholat wengi lakonono.” Berhasil bikin hatiku lebih tenang dan pasrah gak panik. Walaupun kesembuhan Fikeri tetap jadi doa utama. Namun aku juga siap kalau hal lain terjadi.

Semoga Fikeri cepet sembuh. Biar gak mahal biayanya hahaha. Trus nanti kalau sembuh, aku bakalan lebih ker 2 kali lipat dibanding sebelumnya. Gak akan aku biarin kelaparan lagi. Trus nanti aku mau bikin kaos wajah dia plus tulisan “Fikeri – My Hero” sebagai penggugah semangat hidupku. Bahwa pernah ada kucing kecil berumur 6 bulan yang punya daya juang super tinggi untuk hidup melawan virus mematikan!

Doakan ya gaes!

BONUS FOTO FIKERI SEBELUM SAKIT

Fikeri gemes
Fikeri gemes
Fikeri gemes
Fikeri gemes
Fikeri gemes
Fikeri gemes

اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Kamis, 17 Januari 2019. Pagi-pagi banget, jam 5.48 pagi, Mbak Dokter watsap aku, katanya Fikeri gak mau makan. Mulutnya susah dibuka. Jadi diinfus mulu semalaman.

Aku bilang aku pasrah aja. Semoga semakin membaik.

Aku share watsapku ke temen SMA yang kucingnya habis mati gara2 virus Penleukopenia bangsat itu. Sambil bilang kalau aku jadi malas menjenguk karena gak tega.

Tapi kemudian aku justru berubah pikiran dalam sekejab. Kayaknya aku harus elus-elus dia deh biar dia tambah kuat! Temenku menyuruh aku segera berangkat secepatnya.

Setelah pub, aku sepedahan sejauh 8 km dari rumah menuju rumah dokter di Desa Sekaran Loceret (sempet nyasar sih karena mapnya gak bener -> sudah aku benerin!). Niatku sih cuma satu, ngelus-ngelus Fikeri.

Dokter Hewan Lilis Kurniati
Rumah Dokter Hewan Lilis Kurniati (klik petanya di sini)
Dokter Hewan Lilis Kurniati
Rumah Dokter Hewan Lilis Kurniati (klik petanya di sini)

Jam 7 pagi, aku sampe di rumah dokter, aku dianter ke ruang opname. Fikeri tertidur pulas dan badannya gemuk banget. Aku tersenyum senang.

Dokter Liliz membuka kandang besi, lalu menyentuh tubuh Fikeri sambil bilang, “Ini lo mas, dia gak mau makan, LOH EH, KOK?”

DEG!

Mbak Dokter menggoyang-goyangkan tubuh Fikeri. Aku melihat dengan seksama. Tubuh Fikeri gak gerak sama sekali. Perutnya berhenti kembang kempis.

“Lah mati mas……”

Fikeri mati gaes!
Fikeri mati gaes!

BLAAAARRRRRR!!!!

Hatiku remuk sodara-sodara! Kalau aku gak tahan ekspresi sedih ini, aku pasti akan nangis. Untung aku bisa nahan. Yah walaupun suaraku nggleyor-nggleyor ketauan banget kalo aku nahan sedih.

Kata Mbak Dokter, tadi masih hidup ketika dia watsap aku. Trus dia tinggal sebentar trus ketika aku datang, eh, Fikeri sudah kembali kepadaNya.

Mbak Dokter minta maaf gak bisa menolong. Akunya gak papa banget. Memaafkan sudah pasti. Tapi dia gak salah juga. Yang penting sudah maksimal kerjasama antara aku dan Mbak Dokter.

Mbak Dokter menyerahkan plastik berisi Fikeri yang berat banget karena habis diinfus. Aku pamit lalu membawa Fikeri naik sepeda menuju rumah temenku, Deny (cewek). Sempet nyasar kejauhan 3 km. Yang seharusnya cuma 5 km an jadi 9 km bahkan lebih karena harus balik lagi.

Bangsat! Aku capek banget ini kenapa pakai nyasar sih! Gugel mep bangsat! Hahaha

Deny menyambutku dengan ikut berbelasungkawa. Dia sudah nangis berkali-kali karena kucingnya (Kino) mati 9 Januari yang lalu gara-gara virus bangsat ini!

Kino Ketika Mau Dikubur
Si Kino ketika mau dikubur

Akupun macul sodara-sodara. Ketika sudah dalem, eh ternyata septicteng! Harus pindah tempat maculnya. Karena aku kecapekan banget, yang macul di tempat baru adalah mas Didik, suaminya Deny. Makasih ya maaaas…

Orang Kota Macul
Orang kota macul gaes!
Mas Lokma
Mas Didik Lokma

Fikeri dikubur ditutup menggunakan tisu. Biar gampang terurai. Lalu aku pasang nisan pakai triplek.

Fikeri dibungkus tisue
Fikeri dibungkus tisue
Dey membungkus Fikeri dengan tisu
Deny membungkus Fikeri pakai tisu. Terima kasih sudah dibantu ya!
FIkeri kembali ke rahmat Alloh
Fikeri 17.01.2019

‎اَلْحَمْدُلِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Aku gak nangis ketika mengetahui Fikeri telah tiada. Sampe aku nulis ini pun gak nangis (nahan sih). Aku sedih banget pasti! Cuman aku lega. Beban hidupku dan Fikeri sudah berakhir. Aku sudah gak perlu stress lagi mikirin dia. Fikeri juga gak perlu berjuang melawan virusnya lagi demi aku.

Pada akhirnya Tuhan lah yang menyelesaikannya. Semua menang. Semua tenang. Semua followersku berkabung mengucapkan bela sungkawa mengetahui Fikeri telah tiada.

Fikeri memang jadi primadona di story instagramku. Kalian bisa cek highlight instagram @dzofar untuk tahu betapa aku merekam jejak hidup Fikeri sejak bayi sampe mati. Fikeri memang lahir di rumah tetangga depan rumah. Tapi beberapa hari kemudian, Fikeri dan 3 sodaranya diboyong pindah ke rumahku. Mungkin Butina (ibunya Fikeri) lebih tahu, aku dan keluargaku lah orang yang tepat memelihara bayi-bayi mungil ini.

Habis ngubur. Aku ngobrol banyak sama Deny. Sambil istirahat juga karena capeeek banget pagi ini. Capek sikis dan fisik juga.

Deny masih stress karena kucingnya sudah 3 yang mati karena virus Panleukopenia bangsat! Yang dua dikubur di dokter hewan. Yang satu sebelahan sama Fikeri.

Fikeri dan Kino
Fikeri & Kino. Pejuang Panleu.

Rata-rata kucing hanya bisa bertahan 2-3 hari melawan virus penleu bangsat. Pahlawan Fikeri, yang baru berusia 6 bulan, bisa bertahan 11 HARI. Pahlawan Kino, umur 2 tahun, bertahan lebih lama, 14 HARI!

Kalian berdua sangat menginspirasiku. Bahwa hidup harus diperjuangkan selama mungkin. Sekuat mungkin. Seoptimis mungkin. Berjuang hidup demi orang terdekat. Demi aku, demi Deny. Sang owner tersayangmu.

Fikeri, aku jadi teringat, betapa gesit dan semangatnya kamu mengejar bola krincing-krincing yang aku gelindingkan ke kamu. Betapa kuatnya cengkramanmu ketika aku ngajak kamu bermain dengan sulak dan sapu. Betapa sakitnya cakaranmu ketika kamu berontak gak mau digendong. Ternyata itu semua sebagai bukti bahwa kamu sangat semangat dalam hidup. Cakaranmu sebagai bukti fighting spirit yang tinggi.

Ketika aku ngaji, kamu selalu melompat duduk manis di atasnya sehingga aku gak bisa baca karena kau tutupi. Haha. Barusan aku mikir, ternyata itu caramu untuk mengingatkanku untuk selalu ngaji setiap hari. Atau itu salah satu caramu supaya ketika aku ngaji, aku akan mengingatmu.

Suara ngeongmu selalu terdengar lantang. Tidak. Kamu sedang tidak lapar. Tapi kamu memang sedang ngajak ngomong ke aku. Bahkan kamu juga paham kalau aku menasehatimu agar tidak menggangguku.

Fikeri, kamu itu kucing pintar. Kamu sengaja gak mau diajak tidur di dalam rumah ketika kamu sakit. Kamu memilih untuk tidur di teras rumah yang dingin. Mepet pagar besi atau mepet pot bunga yang jarang dibuat kucing lain tidur.

Selama sakit, kamu memilih tempat2 yang tidak ditempati kucing lain. Gak peduli itu justru memperparah penyakitmu. Kamu berkorban demi keselamatan kucing lain supaya tidak tertular. Kamu tahu virus ini sangat berbahaya. Jangan sampe teman kucing yang lain terkena.

“Virus panleu ini berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja. “

– Fikeri 2019.

Akhir kata. Selamat menempuh hidup baru di alam lain yang lebih tenang. Tugasmu sudah selesai. 6 bulan hidupmu sangat berarti buat orang-orang di sekitarmu. Buat Buda, bapakmu sekaligus teman bermainmu. Buat Butina, ibumu yg galak itu. Terutama buat aku, yang jatuh cinta padamu.

I love you. :kiss:

MOVE ON

Supaya hidupku normal kembali, aku harus muvon dari kesedihan. Siang itu setelah menguburkan Fikeri, aku pergi ke Madiun ke rumah pacar temen tapi mesra. Niatku sih aku pingin berusaha melupakan Fikeri dengan mengganti kegiatan lain. Kebetulan temenku ada kerjaan motong kain dan kartu nama. Menyibukkan diri biasanya sangat ampuh mengusir kenangan pahit. Haha

Beberapa saat setelah sampe Madiun, hujan deras. Lama banget gak selese-selese. Niat kedua setelah lihat-lihat bantu-bantu temen, adalah kulineran atau ngemol lah ya supaya hepi. Ternyata gagal total dan malah semakin teringat Fikeri karena hujan mewakili kesedihanku kehilangan Fikeri kesayangan.

Mumpung masih teringat jelas, aku pun ngedraft nulis blog. Sempet arep nangis tapi aku tahan. Malu ketauan temen. Hahaha

Malamnya lha kok ada debat presiden. Yowis nonton aja. Aku gajadi pulang. Nginep aja. Haha.

FAKTA MENARIK

Jumat, 18 Januari 2019, aku pulang Nganjuk. Setelah sampe rumah aku langsung ngepel lantai dan apapun yg pernah disentuh Fikeri aku sabunin. Rumah sepi banget sama kucing. Padahal dulu rame kucing di sana sini. Semenjak Fikeri tiada kemarin, kucing lain juga berkabung.

Anehnya, kucing-kucing yang sliweran ke rumah untuk makan, gak pernah mereka menyentuh apapun bekas Fikeri. Mereka sangat sensitif menangkap bau virus mungkin ya. Namun setelah semua aku sabun, aku cuci bersih, mereka baru mau menyentuhnya.

Hari ini, Minggu 20 Januari 2019, kucing-kucing sudah mulai mau lesehan menyentuh lantai. Hmm. Mungkin lantaiku sudah steril dari virus. Semoga saja mereka sehat. Biarlah Fikeri saja yang menanggung virus berat nan bangsat ini.

Untuk menambah kesedihan supaya makin klimaks, aku sudah bikin video tentang Fikeri sejak masih bayi sampe mati :cry:

Baiklah. Terima kasih sudah membaca. Bye bye ndofans!

10 Comments

Komen yuk kak!