Manfaat Menghabiskan Makanan Sampe Habis.

Tetangga depan rumah meninggal Rabo lalu. Trus acara tahlilan tentu saja hampir tiap hari digelar sampe beberapa hari ke depan. Karena aku juga punya kegiatan, walhasil aku hanya hadir ketika ada undangannya aja. Dari Rabo sampe sekarang, aku hadir 2 kali tahlilan.

Nah, sehabis tahlilan khan ada makannya tuh. Dan hampir selalu, aku kalau makan paling akhir. Entahlah, padahal makanku juga lumayan rakus. Haha.

Ternyata, setelah aku numpuk piringnya, hanya piringku yg makanannya habis tak bersisa. Bahkan duduh soto ayamnya pun aku glegek sampe habis! Hahaha.

Sedangkan punya orang lain, hampir semuanya kalau makan tidak tuntas. Aneh. Padahal porsi makan di tahlilan itu porsi cewek-cewek manja alias dikit banget. Padahal ini khan acaranya bapak-bapak dan mas-mas. Kenapa mereka kok gak menghabiskan makanannya? Bukannya laki-laki itu makanannya banyak?

Pak pemuka agama di sini pun makannya gak habis. Padahal jelas itu mubadzir. Dan saya yakin dia ngerti kalau mubadzir itu berdosa. Trus, adik-adik pondokan yang notabene mereka makan numpang gratis di pondoknya, mereka juga menyisakan beberapa butir nasi dan kuah. Bapak-bapak tukang becak yg notabene dia makannya lumayan banyak, juga gak tuntas.

Kenapa ya?

Iseng dong, diriku melakukan survey di facebook. Hampir semua komentator gak setuju kalau makanan tidak dihabiskan. Trus ada satu yg bilang, tergantung makanannya enak apa enggak. Oh, make sense ya.

Nah, dari komentator facebook, akan saya rangkum di sini tentang manfaat-manfaat memakan makanan sampe tuntas.

  1. Mendapatkan barokah. Btw, ada yg belum ngerti artinya barokah? Barokah itu dalam bahasa Indonesia adalah berkah. Artinya bertambahnya kebaikan, kebaikan yg banyak, tetap dan abadi. Trus ada juga yg bilang artinya nikmat. Nah, mungkin yang paling gampang dipahami adalah nikmat ya. Dan asli, memakan makanan sampe habis itu rasanya nikmat. Puas gitu.

    Ada yg bilang, barokah makanan yg kita makan itu ada di setiap nasi yg kita makan. Versi temen SMA, berkahnya ada di nasi terakhir. Versi temen facebook, berkahnya ada di nasi yg entah nasi ke berapa. Untuk main aman, memang mending dihabisin semua, siapa tahu berkahnya ada di nasi terakhir khan?

    Oh iya, mengenai berkah ini, ternyata rosul menganjurkan kita untuk makan dari pinggir piring, habis itu baru semakin ke tengah. So, makan makanan langsung di bagian tengah-tengah piring itu kurang etis ya.

  2. Menyenangkan hati yg masak/ngasih makanan. Aku sendiri contohnya, aku sering nyuguhi tamuku cemilan atau makanan. Kalau ternyata hanya dimakan dikit aja, kok rasanya kesel jengkel gimana gitu ya. Kalau pas ada tamu memakan habis hidangan atau meminum habis minuman yg kita suguhkan, tentu bikin kita seneng banget. Dia ngehargai jeri payah kita membelikan/membuatkan makanan itu. Buat yg males ngabisin, tentu saja kalau dia main ke sini lagi, kitanya males nyediain cemilan lagi. Haha. Sukurin.
  3. Memudahkan pekerjaan yang cuci piring. Makan makanan sampe habis tuntas tak bersisa tentu saja memudahkan yg cuci piring dong. Karena tinggal siram air, disabun, bilas, selesai.

    Bayangkan kalau masih ada sisa makanan, si pencuci piring harus membuang sisa makanan itu di tempat sampah dengan perasaan agak jijik gimana gitu. Trus kalau yg disisain itu daging ayam, atau daging kambing, khan si pencuci piring akan merasani si pemakan dong. Gila daging ayam kok gak dimakan! Ini pasti orang yg gak bersyukur. Hidupnya pasti sengsara! Hahahahha.

  4. Kenyang. Kalau ini pastinya. Makan habis dan makan nggak habis tentu saja lebih kenyang makan habis. Masalah ini, kalau kita ngambil makanan secara prasmanan, alias ngambil sendiri. Usahakan sesuai dengan keadaan perut kita. Kalau perut gak lapar-lapar amat, ya ambil dikit aja (dulu), kalau ternyata masih lapar, nambah lagi. Gak usah takut kehabisan lauk pauk! Di dapur sana masih ada stok banyak. Panitia nikahan itu pasti ngelebihin porsi menunya kok.

    So, jangan ngambil makanan buanyak, sementara perut kita gak muat. Trus makananmu gak habis deh. Itu dosa lo! Hahaha. Iya, serius. Mubadzir itu berdosa.

    Oh iya, aku mau ngasih pendapat ya. Kalian pasti tahu dong hadits nabi yang “Berhenti makan sebelum kenyang”? Nah, menurut bapakku dulu (Sarjana Tarbiyah), hadits nabi itu maksudnya kita kalau makan jangan terlalu kenyang. So, kenyang dikit gak papa lah. Manusiawi.

Kalau ada yang mengejek kamu rakus karena makanan dihabiskan sampe tuntas, atau ngeledek kamu kelaparan, udah cuekin aja. Mereka itu contoh yang buruk karena mereka pengecut kali ya, karena berani memulai (makan) tapi gak mau mengakiri (masih sisa). Haha.

Percayalah, memakan makanan sampe habis itu gak bikin kamu gemuk! Haha. Trus gak bikin kamu rakus kok. Gak ada hubungannya sama makanan habis.

Trus yg beralasan gengsi karena makan disisain dikit itu tandanya kaya dan berkelas, wah ajaran sesat itu. Kaya dan berkelas itu harus dibuktikan dengan murah hati rajin nraktir dan rajin memberikan sebagian harta kepada yg membutuhkan. Juga memberikan banyak manfaat buat banyak orang. Nah itu baru disebut kaya raya. Gak ada hubungannya dengan menghabiskan makanan. Ngaku kaya tapi pelit berbagi, ya itu kaya abal-abal. Gak ada bukti.

Sebaik apapun kamu sama orang, tapi kalau sama makanan aja gak baik, gak mau menghabiskan, berati baikmu belum paripurna. Belum sempurna. Karena apa, tidak menghabiskan makanan sama aja kamu membuang jatah makan orang yg lebih butuh makan daripada kamu. Kalau kamu gak butuh makan banyak, ya jangan ngambil banyak.

Ibaratnya begini lo. Setiap manusia di bumi ini punya jatah makan yg cukup buat mereka. Ingat, CUKUP. Bukan berlebihan atau kekurangan. Nah, jatah makan mereka itu ada di mana saja. Ingat, DI MANA SAJA. Ada yang di warung soto ayam Cak Di, ada yang di nasi pecel Mbok Iro, ada yang di dapur masing-masing, BAHKAN ada yang di rumah orang lain.

Di rumah orang lain?

Iyes! Orang-orang yg gak mampu, yang hidupnya sengsara, tentu saja dia untuk makan aja kurang. Nah, jatah makan mereka sebenarnya di rumah orang-orang yg punya harta berlebih. Yang hatinya pemurah yang mau menyumbang sebagian harta mereka kepada yg hidupnya belum cukup.

Nah, kalau kamu tidak menghabiskan makananmu, lalu terbuang percuma di tempat sampah, hal itu sama saja kamu menghabiskan jatah makanan orang yg kelaparan yg mungkin hidup di kolong jembatan sana. Atau itu jatah tetanggamu yang masih tiap hari kelimpungan kerja keras membanting tulang demi makan nasi sama tempe doang yang kadang sehari mungkin cuma dapat jatah makan sekali aja. Atau lebih dekat lagi, mungkin jatah makan keluargamu sendiri yg masih miskin di luar kota sana. Yang hidupnya gak seberuntung kamu.

So, makanlah makananmu sampe habis. Untuk membuktikan kalau itu jatah makanmu sendiri, bukan jatah makan orang lain. Kamu mampu menghabiskan sampai tuntas berati itu memang jatahmu. Kamu puas, kamu kenyang, gak ada pihak yang dirugikan.

Nah, untuk mengetahui suatu makanan apakah benar-benar jatahmu sendiri, kamulah yang tahu kemampuan perutmu memakan seberapa banyak makanan. So, ambil/pesanlah makanan sesuai kemampuan perutmu sendiri. Jangan berlebihan. Lalu habiskan. Sampe tuntas. Saya jamin, hidupmu gak akan repot. Mudah semuanya. Kamu juga akan bahagia. Karena banyak orang juga bahagia dengan apa yg telah kamu lakukan.

Kalau semua cara di atas gak mempan. Okay, anggaplah nasi, lauk, dan makanan itu bernyawa. Anggap dia hidup. Nah, nasi dan kawan-kawannya itu akan merasa senang kalau dia bisa bermanfaat buat tubuh kita, yaitu dia bermanfaat kalau kita memakannya. Bayangkan kalau kita menyisakannya beberapa butir/sendok di piring, tentu saja nasi itu akan kecewa dengan kita. Dia akan bersedih dong karena merasa gak ada gunanya.

Kita gak akan tahu, si nasi yang gak kita makan akan berdoa apa kepada kita. Kalau doanya buruk, trus terkabul gimana? Serem khan ya. Kalau kita didoakan sama nasi agar kita gak doyan makan, gimana hayo? Gak doyan makan sama dengan sakit dong. Duh amit-amit.

Pernah tahu khan, ada orang yg tiba-tiba sakit padahal dia awalnya sehat-sehat saja, bisa saja itu doa nasi-nasi dan makanan-makanan yang selama ini tidak dia habiskan. Who knows? Tuhan itu Maha Adil loh. Gak mungkin Tuhan memberikan penyakit kepada makhluknya tanpa sebab. Pasti selalu ada sebab.

Nah, kayaknya sudah paham khan, kenapa kita harus menghabiskan makanan kita. Di sini kita belajar menghargai sesuatu yang kecil, mulai dari butir nasi yang kita makan. Dengan kita menghargai sesuatu, efeknya kita juga akan dihargai oleh siapa aja. Bisa manusia, bisa alam sekitar juga. Karena Tuhan khan tidak tidur, jadi dia akan membalas semua hal yg kita lakukan (sekecil apapun bahkan yg tak terlihat oleh kita) dengan balasan yg setimpal.

Kapan balasan itu kita dapat? Dia Maha Tahu kapan kita membutuhkannya.

Baiklah pembaca ndofans yang berbahagia, kayaknya semua sudah paham betapa pentingnya menghabiskan makanan yang kita makan. Di bawah ini contoh nyata kalau diriku ini kalau makan selalu habis tuntas tak bersisa.

Makan dihabiskan

Piye? Isik resik pangananku to?

:dance:

71 Comments

Komen dong!