Nonton Kirab dan Pawai Budaya di Hari Jadi Nganjuk ke 1079

Wah, Nganjuk sudah tua ya, umurnya seribu tujuh puluh sembilan! WOW! Senior banget. Bisa jadi Nganjuk itu termasuk dalam kota-kota tertua di Indonesia? Atau bahkan dunia? Mungkin ya. Aku belum survey sih.

Soalnya kota-kota tetangga khan umurnya baru ratusan. Eh, kecuali Kediri ya. Kediri juga sudah senior, umurnya sudah seribu seratus lebih. So, Kediri dan Nganjuk kayak adik kakakan yaaa.. :hug:

Dan April ini, tepatnya tanggal 10. Nganjuk berulang tahun lagi. Sama kayak tahun kemarin. Masih diadakan Acara budaya bernama Kirab. Yaitu semacam boyongan dari pusat pemerintahan yang dulu berada di Kecamatan Berbek, pindah ke Kecamatan Nganjuk.

Acara kirab masih sama kayak tahun kemarin, yaitu Pak Bupati dan pegawai pemerintahan naik dokar dari Berbek ke Nganjuk. Perwakilan dari sekolah juga ada ding. Acara Kirab ini diselenggarakan Sabtu, 9 April 2016.

Kenapa gak besoknya aja ya pas tanggal 10 april?

Hmm.. mungkin bertepatan dengan CFD? Aku gak tau.

Cucuk Lampah

Dibuka oleh mas-mas gagah berbusana jawa

Mbak mbak unyu

Duh mbak, madep ke sini dong. Hapeku iPhone 6 loh! #eh

Bupati Nganjuk

Bupati Nganjuk, Pak Taufiqurrahman menyapa warga.

Penonton pada maju. Susah banget motret para dokarnya dengan pemandangan yg tidak bocor. Ah, gak papa. Namanya aja antusias penonton. Kalau penonton dilarang-larang nanti pada pulang trus gimana? Haha.

rame penonton

Menonton penonton. Haha

Trus banyak penonton antusias yg mencopot hiasan sulur-sulur dari kertas sumbo itu. Buat saya sih hal itu gak sopan ya. Tapi gak papa juga ding, khan ini sudah menjelang finish. Jadi daripada hiasannya dibuang, mending dikasih penonton.

Sulur-sulur dilepas

Hmm.. kayaknya dibuat hiasan di ruang tamu bagus juga ya.
Dimasukin pot besar atau guci.
Wah kenapa aku baru kepikiran sekarang ya?
Harusnya aku ikutan ngambil biar seru. HAHA

Aku nonton di depan alun-alun. Di tengah-tengah pertigaan toko Panggung. Rame sekali. Dan kayaknya aku salah kostum. Pakai flanel, jins, sepatu sneaker, topi. Harusnya pakeanku ini cocoknya ke kafe. Untungnya aku cuek. HAHA.

Ganteng Gaul

Nonton Kirab pakai style begini.
Kayaknya aku ganteng sendiri se Nganjuk deh.
Jadi malu. HAHAHA

Setelah Kirab selesai, acara dilanjutkan Pawai Budaya. Semacam karnaval tapi gak ada bhinnekanya.

Pawai Budaya ini diikuti peserta luar kota juga. Ada Tulungagung, Kediri, Bojonegoro, Lamongan, bahkan sampe Balikpapan! Gila jauh banget!

Namun, acara dibuka dulu oleh penampilan atraksi drumband dari teman-teman polisi militer (eh namanya apa ya?). Sayangnya pas atraksi lama penuh adegan berbahaya itu, ditampilkan di depan pendopo yg disaksikan Bupati dan peserta undangan lainnya. Aku yg nonton di pojokan Alun-alun hanya bisa melihat dari kejauhan.

Baru setelah beberapa puluh menit, drumb band dilepas ke pemirsa umum.

Drum Band

Drumband capek

Ikutan Drum Band itu capek ya kayaknya.

Ternyata gak hanya drum band saja yg disuruh tampil dulu di depan Bupati, tapi SEMUA PESERTA. Yang dari luar kota otomatis akan menampilkan kesenian tari dan musik khas dari daerahnya.

Nganjuk kota Brambang

Dari Nganjuk nih,
menampilakan hasil pertanian andalan: BRAMBANG
Warga Brebes jangan marah ya,
kita ini sama-sama penghasil brambang.
Jadi Brebes dan Nganjuk memang pantas disebut kota Brambang.

Trus ada tarian dengan tema pertanian yg menurutku gerakannya kratif dan menghibur. Para penarinya juga senyum semua.

Tarian Pertanian

Tari apa ya namanya?
Tapi salut sama yg nyiptain gerakannya.
Sungguh apik, menarik dan unik!

Selama menunggu peserta selanjutnya berjalan, aku baca-baca spanduk di sekitar. Tema untuk Hari Jadi Nganjuk ini ternyata menarik:

Dengan Semangat Hari Jadi Nganjuk ke-1079 Kabupaten Nganjuk Tahun 2016, Kita Tingkatkan Profesioanlisme Aparat Birokrasi Untuk Mewujudkan Pelayanan dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Ow.. ow… ow.. Menyebut birokrasi! YES! Semoga terealisasi ya kak!

Cuaca sangat panas. Padahal masih jam 10 pagi. Untung aku pakai flanel mahal dari @DNDEXECUTION. Jadi bahannya enak banget gak bikin risih senajan diriku keringetan. Trus kak Sony dadakno minta selfie. Baiklah!

Selfie

Nonton bareng temen sebaya paling enak.
Gak baper karena sudah pada dewasa.

Peserta dari Balikpapan ini fenomenal banget soalnya jauh-jauh datang ke Nganjuk untuk meramaikan Hari jadi Nganjuk adalah suatu kehormatan. :ampun:

Peserta dari Balikpapan

Di belakang mobil ada pemain Sampek,
alat musik tradisional dari Balikpapan Kaltim.

Peserta lamongan

Peserta dari Lamongan

Bojonegoro

Peserta dari Boyzonegoro #eh

Probolinggo

Peserta dari Prolink alias Probo link go.
:D

Selama menonton, aku agak bingung tata letak penontonnya di mana. Soalnya satpam sini melarang penonton maju. Tapi membiarkan penonton dari sana lewat di depan sini. Orang-orang yg menenteng kamera SLR dengan bebas boleh riwa-riwi walaupun itu menganggu penonton di belakangnya.

Aku cuma bawa kamera hape iPhone 6 doang. Jadi walaupun hapeku mahal, tapi tetep aja kamera hape ya, kurang begitu dihormati. Kalaupun aku bilang kalau hapeku ini mahal, mereka gak akan percaya kali ya. Dikira replika. HAHAHA saknone.

Sebagai peneliti generasi sekarang, diriku melihat banyak adik-adik SMP, SMA menenteng kamera SLR dengan gagah berani pasang tampang serius. Lalu membidik setiap muka dedek-dedek cantik bermakeup tebal dari jarak dekat. Sebagai penonton yg patuh sama satpam ijo-ijo, diriku cuma bisa mbatin. “Iki aku ndelok pawai opo ndelok wong moto ya?”

Yowis, wong edan emang dikongkon ngalah. Soale wong waras ra gelem ngalah. :rolleyes:

Yuk, kita lihat peserta perwakilan dari SMA-SMA di Nganjuk yang jor-joran apik-apikan kostum. Dan menurutku pemenangnya masih bertahan di SMASA Nganjuk. Kalian gak terkalahkan!

SMASA KEREN!

SMA Negeri 1 Nganjuk selalu keren!

Smada Nganjuk

Walaupun aku Alumni Smada Nganjuk (dulu SMA Favorit di Nganjuk)
Tapi penampilanmu kali ini kurang artistik kak.
Details dan komposisi warna masih kurang menarik.
Belajar mendesain lagi yaaa.
:kiss:

Mbak Yu Nganjuk

Eh, ada Mbakyu Nganjuk 2015

Mbak Yu Nganjuk 2015

Mbakyu Nganjuk 2015, wajah asli Nganjuk.
Foto by: Donny Setya Nugraha

Cuaca makin panas. Aku berteduh di depan pendopo Kabupaten Nganjuk. Satpam ijo-ijo sudah pada lelah jadi gak begitu mengatur penonton yg semakin menyebar ke mana-mana.

Jadi ketika aku pindah tempat, kakak satpam cuek aja. Yowis, mumpung ada jaranan sedang tampil. Saatnya pasang aksi kayak photographer penting. Sok-sokan pasang tampang serius lalu merekam adegan tarian jaranan dengan khusuk.

Karena aku orangnya antimainstream, maka aku gak sekedar ngrekam video biasa. Tapi aku ngrekam video SLOW MOTION! Sambil pamer kalau aku punya iPhone 6! Yang aku yakin semua penonton di Nganjuk saat itu gak ada yg punya iPhone 6. HAHAHAHHA.

A video posted by masndop (@dzofar) on

Jam 12 siang acara sudah selesai di Alun-alun Nganjuk. Kata emsinya sih ini sudah kesiangan. Soalnya khan masih harus berjalan kaki menuju GOR di Begadung (sejauh kira-kira 3 km) sana. Jangan sampe Dhuhur habis mungkin ya. Kasian dong ikutan pawai tapi sholatnya harus diqodho’. Soalnya tidak memenuhi syarat untuk dijamak.

Sebenarnya ada serangkaian acara dalam memperingati Hari jadi Nganjuk ke 1079 ini. Di antaranya: Malamnya ada pertunjukan Ketoprak di Alun-Alun Berbek (jauh, males hahah). Trus besok siang, 10 April, ada juga Jaranan di Candi Boto. Malamnya ada Pentas Seni dan Campursari di GOR Bung Karno.

Aku gak nonton soalnya paginya udah lelah sepedahan ke Bukit Cinta. Minggu depan tanggal 23 April juga ada Pentas Dangdut, tapi di Kecamatan Ngluyu sana. Jauh. Gak bisa nonton juga soalnya ada acara di Surabaya. #soksibuk

Foto-foto di atas aku potret pakai iPhone 6 saja. Kalau mau koleksi foto lain silakan simak di instagram @nganjukkotabayu atau klik link facebook Nganjuk Kota Angin berikut ini: FOTO-FOTO KIRAB dan PAWAI BUDAYA HARI JADI NGANJUK 1079

Selamat Ulang Tahun Nganjuk, tetap adem ayem tentrem.

:sip:

29 Comments

Komen dong!