Susahnya Menghindari Plastik

Akutu sebenarnya setuju banget sama gerakan anti plastik. Atau gerakan mengurangi sampah plastik dengan cara membawa tas sendiri ketika belanja ke pasar atau ke indomaret.

Aku sudah praktek dan berhasil jadi tontonan orang-orang. Bahkan sempet sedikit berseteru sama penjualnya karena ternyata beli sesuatu tanpa dikasih plastik itu tidak sopan. Padahal aku sudah jelasin bawa tas sendiri.

Jadi ternyata tidak semudah itu jendral!

Akhir-akhir ini aku pernah beli bubur ayam take home alias dibawa pulang. Kira-kira dalam satu porsi bubur ayam, penjual menghabiskan 5 plastik. Plastik bubur, plastik sayur, plastik sambel, plastik krupuk, dan plastik untuk menampung keempat-empatnya. Bener-bener tidak ramah sampah plastik banget!

Besoknya, aku langsung beli kotak makan khusus buat aku beli bubur. Harganya 60 ribuan soalnya emang aku beli yang bermerek di eis hadwer. Pas di eis hadwer pun, aku dikasih plastik lagi untuk membungkus kotak makan itu, padahal aku gak minta dan sudah bilang gak mau.

Jadi ternyata niat dari kita saja tidak cukup. Pihak lain harus punya niat yang sama untuk mengurangi sampah plastik. Terutama buat penjual atau kasir toko.

Cara paling mudah sebenarnya ya bertanya dulu ke pembeli, apakah minta plastik atau tidak. Banyak kasir yg sudah menerapkan hal ini sih. Kayak di Alfamart sebagian besar sudah begitu.

Tas belanjaanku bener-bener gak seadanya. Aku niat beli tas serut original Reebok di Sport Station demi niat mengurangi sampah plastik ini. Harganya mahal, 100 ribu. Niat banget kan?

Yoi. Aku gak mau tas belanjaanku murahan. Aku harus tetap fashionable kalau belanja. Haha.

Alasan memilih tas serut (gymsack) adalah karena aku naik sepeda. Tas serut khan kayak ransel. Jadi bawanya mudah tinggal ditaruh di punggung. Gak harus dijinjing sehingga harus lepas tangan ketika naik sepeda. Juga gak perlu dicantolkan di setir sepeda yang mengganggu keseimbangan.

Kenapa gak sekalian tas ransel?

Ya khan tas ransel gak bisa dilipat-lipat setipis tas serut. Tas ransel gak bisa dimasukin tas kecil. Gak praktis. Memakan tempat.

Aku jadi mikir, kenapa plastik-plastik itu tidak dibakar di rumah masing-masing aja ya? Daripada dibuang di tempat sampah malah menumpuk. Kalau dibakar di rumah masing-masing khan sampah plastiknya gak akan ke mana-mana. Gak sampe ke laut.

Apakah alasan polusi udara? Lebih bahaya mana, polusi udara sama polusi plastik?

Ah embuh.

Btw, beberapa tahun yang lalu, artis idola saya, Bjork, pernah ngeshare artikel mengenai telah ditemukannya bakteri pemakan plastik. Apakah ini tandanya alam di bumi sebenarnya bisa memperbaiki dirinya sendiri?

Setelah punya kotak makan, aku beli bubur lagi pakai kotak makan itu. Percobaan pertama gagal soalnya penjualnya masih ngasih krupuk yg sudah dimasukkan plastik. Lalu dikasih plastik besar untuk ngadahi semuanya.

Percobaan kedua berhasil sih. Soalnya aku bawa tas kresek sendiri dari rumah. Untuk krupuk aku minta dimasukin ke dalam kotak bubur sekalian. Mlempem ora popo. Malah enak! Hahaha

Intinya sih sebagai pembeli harus tidak diam saja. Harus ikut andil ketika penjual masukin ini itu. Harus berani bilang “Gak usah dimasukin plastik” atau “Dimasukin sini aja sekalian”. Mata harus awas. Karena mereka sudah auto plostak-plastik. Bahkan di Indomaret atau Alfamart khan tempat makanan sama sabun dipisahin ke dalam plastik sendiri-sendiri kan?

Usahaku mengurangi sampah plastik masih tergolong cemen sih. Belum sampe level bawa tumblr sendiri kalau sedang ngafe. Tapi aku pernah di tahap bawa sedotan stenlis sendiri loh! Tapi menurutku ribet karena habis minum otomatis sedotan harus dicuci karena lengket. Dan gak semua warung makan nyediain wastafel.

Usahaku mengurangi sedotan plastik adalah dengan bilang ke penjualnya untuk pakai sendok aja. Sendok yang stenlis ya, bukan sendok plastik yg sekali pakek.

Penjual kopi zaman sekarang khan pakai gelas plastik ya. Penjual es jus pun juga. Trus atasnya dipres pakai plastik juga. Pakai sedotan plastik juga. Plastik is everywhere dan susah dihindari. Kecuali kalau mau repot bawa tumblr, mau repot mencucinya, mau repot nyuci sedotannya, mau repot bilang ke penjualnya, dilihatin orang-orang juga, …

Buat orang yg praktis dan mager (aku banget!), mengurangi sampah plastik itu kinda bullshit karena hampir mustahil dilakukan. Orang mager order makan via grab food atau gofood, yang mana tidak mungkin tidak dikasih plastik sama penjualnya. Tempat makan pakai plastik atau sterofom, syukur² pakai kertas, tapi kresek plastiknya bener-bener gak bisa dihindari!

Di Nganjuk, bisa dipastikan akulah satu-satunya yang belanja di Alfamart bawa tas sendiri. Aku belum nemu satupun yang kayak aku. Bahkan aku sering difoto sama pelayan Alfamart karena aku adalah contoh pembeli aneh teladan.

Kalau aku fikir-fikir, mengurangi sampah plastik itu gaya hidup yang mahal ya. Karena sedotan stenlis itu mahal, kotak makan yg bagus juga mahal, tapi bisa sih beli yang murah. Tapi kalau aku cek instagram yg jual barang² sustainable, yang bisa didaur ulang, yang ramah lingkungan, harganya pasti mahal. Rakyat jelata gak mungkin mau beli. Haha.

Jadi gerakannya namanya mengurangi, tapi malah nambah-nambahi bajet pengeluaran! Haha sungguh ironi!

Kalau mau totalitas, harusnya disubsidi pemerintah sih ini. Diberi peraturan dari pemerintah tentang pengurangan sampah plastik ini. Warung² makan gak perlu nyediain sedotan lagi. Cukup sendok. Kalau bungkus pakai daun pisang aja. Kresek diganti tas kertas.

Kalau kalian, ikut gak mengurangi sampah plastik ini? Atau cuek aja? Kalau ikutan, sejauh mana nih usahanya? Share dong di kolom komentar. Sapa tau bisa saya contoh.

7 Comments

Leave a Reply to ndop Cancel reply