5 Fakta Menarik Tentang Malioboro

Kalau ke Jogja, bingung mau ke mana, biasanya ya ke Malioboro aja. Jalan-jalan doang bolak-balik dari ujung ke ujung. Sambil pakai pakaian kekinian. Biar diliatin orang-orang. Haha.

Kalau aku, menganggap jalan Malioboro itu layaknya ketwok. Jadi aku bisa melakukan runway ala model-model gitu. Hahaha. Kalau capek, tinggal duduk aja di kursi kayu yang ada di sepanjang jalan.

Lalu ngrekam instastory pilih mode boomerang. Adegan jalan kaki bolak-balik ala boomerang pun dalam sekejab yang ngeview ratusan orang! Sungguh kepuasan hati yang tak terhingga! Bahagia jaman sekarang itu SESIMPEL itu ya! Hahaha.. :lol:

Kawasan Malioboro yang banyak dihiasi dengan bangunan old-shool dan vintage memang sangat bagus buat yg hobi foto-foto. Selain itu, kita juga bisa belanja-belanja. Atau yang suka sejarah, bisa mampir ke museum, atau ke benteng bersejarah.

Nah, pasti belum puas kalau di Jogja cuma dalam sehari. Khan masih ada puluhan wisata di Jogja yang wajib dikunjungi. Nah, karena lebih dari sehari, pastinya kita butuh penginapan! Jangan nginep di rumah temen mulu, khan ngrepotin! Hahaha.

Jangan khawatir, harga penginapan di sekitar Malioboro itu murah di kantong kok. Aku tahu kalian pasti bajetnya dikit. Hahaha. Nah, pastikan memesan hotel atau penginapan via aplikasi Traveloka ya. Kalian bisa milih penginapan sesuai bajet. Dan yang paling asyik, di Traveloka banyak diskon loh! I LOVE DISKON THAN MYSELF! Hahaha.

Saya yakin, iya yakin banget! Kalau rata-rata kalian yang sudah pernah ke Malioboro itu gak ngerti ada fakta-fakta menarik tentang Malioboro. Karena aku lagi baik hati, nih, aku kasih tau ya fakta-faktanya..

1. ASAL USUL NAMA MALIOBORO

Asal usul malioboro

Picture taken from Tokoalvabet

Yang pertama, Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta “Malyabhara” yang berarti “berhiaskan karangan bunga”. Wow keren banget artinya ya.

Jadi, jaman dulu, kerajaan Mataram punya tradisi mengadakan kirab atau upacara perayaan. Perayaan tersebut selalu melewati Jalan Malioboro sebagai penghubung antara Merapi sampai Keraton. Nah, saat melewati jalan inilah, banyak bunga ditebarkan sebagai bagian dari prosesi. Sampai sekarang, jika ada pernikahan Keraton di Jogja, Jalan Malioboro selalu dipenuhi dengan karangan bunga.

Asal-usul yang kedua, Malioboro berasal dari nama panglima kerajaan Inggris bernama Duke of Marlborough yang pernah tinggal di Jogja dari tahun 1811 sampai 1816. Tinggalnya beliau di kawasan ini membuat pasukan Inggris yang lewat sering menyebut nama tersebut.

Ngucapin “Marlborough” itu agak susah ya kak. Maka disesuaikanlah dengan lidah jawa menjadi “Malioboro”. Hohoho.

Asal usul yang ketiga, Malioboro berasal dari bahasa Kaili “Ma”, “Li” atau “Liu”, dan “Boro”. Dalam bahasa Kaili, Malioboro berarti jalan yang dilewati orang kecil (non-ningrat).

2. Usia Malioboro Lebih Tua dari Keraton Jogjakarta

keraton

Picture taken from Wikipedia

Seriously?

Iya kak! beneran ituh! Ceritanya begini..

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat baru didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I, atau Pangeran Mangkubumi, pada tahun 1755. Masa tersebut ditandai pasca perjanjian Giyanti yang kemudian membagi kerajaan Mataram menjadi dua; Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sementara itu, jalan yang disebut Malioboro sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram (sebelum terbagi dua), dan saat itu digunakan sebagai jalan menuju pemakaman para raja yang berada di kawasan Imogiri.

Nah khaaan… bener!

3. Malioboro Baru Ramai pada Tahun 1970-an

jalan malioboro

Picture taken from Kompasiana

Malioboro baru ramai dikunjungi pada tahun 1970-an, maka tak heran jika sampai saat ini, Malioboro dan sekitarnya sangat kental nuansa vintage ’70-an. Karena memang sengaja dibiarkan begitu bangunannya.

Kenapa baru rame setelah tahun 1970?

Karena adanya pasar Beringharjo dan keturunan etnis Tionghoa yang menetap dan berdagang di kawasan ini. Mereka pulalah yang mengawali mendirikan pusat perbelanjaan dan bermukim di kampung Ketandan.

Saat ini, kampung Ketandan banyak dikenal sebagai kawasan pecinan-nya Jogja.

4. Budaya Lesehan di Malioboro

Lesehan Jogja

Picture taken from sherlyroadtrip

Kalau kalian jalan-jalan di Malioboro, pasti buanyak sekali lesehan di sana-sini. Makan sambil duduk di tikar atau terpal. Jarang ya penjual makanan yang menyediakan kursi, rata-rata mereka menggelar tikar dan kita makan sambil klesotan hahaha.

Di Jogja istilahnya angkringan. Dan ternyata angkringan yang berkonsep lesehan itu berasal dari para seniman dan sastrawan Jogja khususnya Malioboro sejak jaman dulu.

Budaya lesehan ini bisa lebih mencairkan suasana dan menciptakan rasa kebersamaan antara satu dan lainnya. Tradisi makan dan ngobrol santai ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita.

Awalnya, tradisi ini muncul karena tidak ada kursi untuk tempat duduk, tapi lambat laun, lesehan tetap menjadi budaya turun-temurun.

Dan jangan salah, lesehan itu ada filosofinya lo, yang berarti “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Nilai persamaan ini juga lah yang membuat masyarakat Jogja guyub.

5. Jalan Malioboro sebagai Titik 0 KM Jogja

titik 0 km

Picture taken from JalanJogja

Aku baru tau loh, kalau letak titik 0 kilometer Jogja berada pada lintasan jalan dari alun-alun utara Keraton sampai ujung selatan Malioboro, Ngejaman.

Titik 0 km Jogjakarta ditandai dengan sebuah papan peringatan resmi di depan Senisono. Perempatan jalan titik 0 km Jogja termasuk jalan Malioboro adalah lokasi wisata yang ramai. Sebut saja pasar Beringharjo dan Jalan Kyai Ahmad Dahlan.

—–

Nah, sudah tahu khan sekarang fakta-fakta tentang Malioboronya. Kalau berkunjung ke Jogja selalu sempetin ke Malioboro ya. Sekarang Malioboro sangat ramah buat pejalan kaki. Karena trotoarnya lebar banget dan banyak tempat duduknya.

Jangan lupa bawa kamera ya, foto-foto di papan tulisan Jl. Malioboro jangan sampe terlewat! Haha.

Selamat berlibur kak!

21 Comments

Komen dong!