Bisnis Masa Kecil

Sampeyan punya pengalaman berbisnis di masa lalu nggak? Masa-masa masih SD atau masih SMP gitu. Saya punya lo. Jangan trus ngomong, “Lha siapa yang nanya, ndop?”. Ini khan blog saya, ya suka suka saya.. hehe peace! :malaikat:

Dulu, mari kita masuk ke pintu ajaibnya doremon trus menuju tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sekian. Saat saya masih SD. Bisnis pertama saya adalah jualan! Yup, orang tua juga membiarkan saja saya jualan. Apa yang saya jual? yaitu jajan.

Tiap pulang sekolah, saya menata jajanan saya yang macamnya nggak sampai 10 itu. Krupuk pedes, plembungan berhadiah, krip-krip, mamie, wafer rhoma yang ada gambar superndop Supermannya, jajan americana, Permen karet Yosan, trus lainnya lupa. Lalu saya pun menunggu di depan rumah sambil nyanyi-nyanyi. Kalau ada yang lihat, langsung deh aku tawari jajan. Pembelinya siapa? pembelinya adalah: MASKU dan MBAKKU SENDIRI!!!

Trus, pas sudah SMP, saya pernah jualan poster gambar presiden dan wakil presiden buat ditempel di dinding rumah. Waktu itu presidennya Alm. Gus Dur. Saya dikasih poster itu sama masku, saya disuruh “ider” ke seluruh rumah di gang saya. Nanti keuntungannya setiap satu pasang poster (presiden dan wakil presiden) dapat 500 rupiah. Wah, waktu itu 500 rupiah itu banyak lo sodara-sodara, nasi pecel satu piring.

Sebelum itu, pas SMP juga, saya juga jualan design gantungan kunci buat digantung di tas. Aslinya itu idenya sepupuku. Dia sudah jualan lebih dulu di Tulungagung, saya lihat kok lucu, trus saya ikut-ikutan deh jualan di Nganjuk. Ternyata anak-anak SMP pada seneng. Terutama cewek lah. Haha..

Gantungan kunci itu terbuat dari kertas Ariston (atau kertas manila), trus digunting sesuai pesanan nama. Perhuruf 100 rupiah. Jadi huruf-huruf yang menyusun sebuah nama itu ditempel di kertas manila lagi dengan warna yang cerah. Trus digunting mengikuti lekuk huruf plus beberapa mili meter. Hasil guntingan itu trus ditempel lagi di kertas manila yang warna gelap, trus digunting mengikuti lekuk tempelan yang tadi plus beberapa mili meter juga. Jadi kalau di photoshop, semacam efek stroke alias outline. Lalu proses selanjutnya adalah dilamitating. Trus dilubangi dan dikasih tali warna warni. Siap diikat pada slerekan tas sodara.

Hasil dari penjualan itu, saya bisa membeli sepatu Precise seharga 70 ribu rupiah. Wow, bangganya bisa punya sepatu hasil jeri payah sendiri.

Masih SMP juga, saya jualan Sweater (baca: Sweter, bukan switer!). Harganya murah meriah. Mulai 10 ribuan. Waktu itu saya ingat ke sekolah membawa satu kresek merah besar yang isinya puluhan sweater. Lagi-lagi dikerubutin cewek-cewek. Hihihi…

Jualan sweater kurang laku. Saya menembak pasar yang salah. Teman-temanku banyak berasal dari desa, yang notabene sudah sejuk dan gak perlu sweater-sweateran. Walhasil, jualanku yang ini kurang sukses.

Perjuangan belum berhasil, kali ini saya bisnisan jasa. Iseng-iseng saya menggambar teman sekolah pas sedang memerhatikan guru menerangkan di depan kelas. Saya menggambar dari belakang tentunya. Trus aku pamerin deh. Eh, ternyata teman-teman bisa menebak siapa yang aku gambar. Dan berlanjutlah menjadi bisnis. Banyak yang memesan untuk menggambar wajahnya, trus neneknya. Berapa ya dulu harganya? mmm… seribu limaratus kalau nggak salah. Alias nasi pecel 3 bungkus. Karena sudah akhir-akhir cawu, bisnis pun berubah menjadi belajar giat demi sesuwap sekolah favorit. hehe..

Pas menginjak halaman SMA. Kebetulan saya masuk SMA favorit, ee.. nggak sempet bisnisan segala. Soalnya banyak saingan yang pinter-pinter. Jadi fokus belajar aja deh.

68 Comments

Komen dong!