Kita Punya Keresahan Beda-beda

Ini lanjutan postingan sebelumnya.

Seorang temen dari Aceh update story. Isinya update-an gejala-gejala kowid naintin terbaru. Dan salah satunya disebutin menggigil alias kedinginan.

Seketika itu aku lega dan bersyukur. Ternyata yang saya alami selama 15 hari dulu itu kowid naintin? Untung aku dulu gak tes ya. Jadinya gak panik dan mengira kalau itu bukan kowid. Jadinya aku optimis bisa sembuh karena aku menganggap ini nggreges biasa. Cuman lama aja gitu sembuhnya.

Bersyukur karena aku bisa sembuh. Trus otomatis aku kebal sama waires jenis yang satu ini. Semoga saja semua sehat ya. Jangan sampe kena waires warian yg lain. Amit-amit. Maka dari itu aku harus selalu hepi dan fit selalu. Tidur harus cukup. Ngantuk harus tidur! Olahraga juga harus rutin. Tapi gak boleh sampe kelelahan. Biar gak drop.

Ternyata kalau aku chat sama temen luar kota, misal Suroboyo, di sana wairesnya ganas-ganas. Aku sempet menenangkan temenku Suroboyo yg panik itu untuk rajin olah raga supaya wairesnya susah menembus pertahanan tubuh kita. Trus dia bilang kalau olahraga gak cukup. Harus protongkol kezehatand. Soalnya dia punya temen yang sehat wal afiat, rutin lari, dan olahraga tapi kena waires juga dan sampe sesek nafasnya.

Walaupun hal itu harus diperiksa dokter dulu kenapa dia bisa kena walaupun tubuhnya sehat, namun hal itu sukses membuatku takut dan panik.

Asal kalian tahu, waires bisa menyerang tubuh kita itu pas tubuh kita imunitasnya turun. Bisa karena stress, gak pernah olah raga, kecapekan olahraga, dll. Maka dari itu, orang yang terlihat sehat-sehat saja trus kena waires, itu bisa jadi dia kecapekan dan stress. Kita gak bisa menilai kesehatan orang hanya dari luarnya saja. Mana tau dari dalam dia stress?

Di Nganjuk sini sama Surabaya sana, jenis wairesnya bisa jadi beda. Di Nganjuk, terutama gang rumahku ini, temen-temen yang sakit lama itu gak ada yg sesak. Pusing sama anget doang. Cuman lama sembuhnya. Tapi hal ini gak bisa disimpulkan sekasar ini sih. Tetep harus diagnosa dokter dulu.

Nah, mengenai diagnosa dokter, kemarin lusa aku update story. Aku screenshot video podcastnya Dokter Siti Fadilah dan Dokter Indro Cahyono di yutub di link ini.

Siti Fadilah dan Indro Cahyono

Dokter Siti Fadilah dulu pernah menggagalkan pandemi flu burung yang ditetapkan WHO karena ternyata waires flu burung tidak menular manusia ke manusia. Sementara Dokter Indro itu peneliti virus sudah belasan tahun. Jadi dia ahli pervirusan.

Jadi obrolan kedua dokter ahli virus di atas sungguh menambah ilmuku sebagai orang yang awam ini.

Menurut mereka, tes PCR itu seharusnya HANYA UNTUK ORANG YANG SAKIT. Tes PCR itu HANYA sebagai ALAT BANTU diagnosa dokter untuk menentukan apakah pasien itu kena kowid apa enggak.

Jadi LANGKAH AWAL kalau ada pasien ya DIPERIKSA dokter dulu. Pasien kan harus ditanya umur, trus keluhannya apa, sejak kapan, punya alergi apa nggak, dll yang merupakan STANDAR pemeriksaan kepada pasien. Alias KET BIYEN NEK BEROBAT NDIK DOKTER YO MESTI DIPERIKSA DOKTER DISIK!

Kalau gejala-gejala yang dialami pasien itu mengarah ke gejala kowid naintin, baru TES PCR DILAKSANAKAN! Jadi hasil dari tes PCR itu untuk membantu dokter mendiagnosa si pasien ini beneran kena kowid apa enggak sih? Gitu. Trus nanti obat apa dan penanganan seperti apa yang harus dilakukan ke pasien tersebut.

Lha sekarang yang terjadi KOK MALAH SEBALIKNYA iki piye?

Sekarang kok semua orang dites dulu sama alat. Orang sehat dites, orang sakit juga dites dulu, bukan dirawat dulu. Semuanya dikejar-kejar sama alat tes bernama PCR dan tes-tes lainnya. Masuk kantor harus tes dulu. Padahal sehat wal afiat semua. Sungguh aneh bin ajaib.

Apa gunanya kuliah dokter bertahun-tahun kalau pada akhirnya diagnosa pasien hanya ditentukan dari alat? Kan gak logis ini.

Ntar kalau alat tesnya mengatakan positiv, semua pada ketakutan dan langsung ngejudge si orang kena kowid dan harus dirawat. Padahal kan belum tentu sakit. Bisa saja dia cuma ketempelan waires atau potongan waires. Bisa jadi wairesnya sudah inactivated alias matek. Karena tes PCR gak bisa membedakan wairesnya masih hidup apa enggak.

Yang mana hal-hal tersebut di atas gak menyebabkan orang sakit. Wong cuma nempel. Gak sampe menginveksi.

Orang Tanpa Gejala yang ditakuti di zaman sekarang ini SEBENARNYA gak mudah menyebarkan waires. Namanya aja tanpa gejala. Berati dia gak sakit. Gimana mau nyebarin waires? Kan penularan waires lewat droplet. Lha kalau dia sehat, droplet dia gak ada wairesnya dong? Soalnya kalau ada, berati dia terinveksi, berati dia harusnya sakit. Minimal demam.

Etapi aku bukan dokter sih. Aku orang awam yang suka nonton video yutub dari pakar virus. Hehe. Makanya aku agak sok tau haha

Trus aku jadi semakin tertarik untuk melihat video di channelnya Budokter Siti Fadilah yang lain. Aku tonton dua video pas sama Dokter Tifauzia. Salah satunya di link yutub yang ini:

Siti Fadilah dan Tifauzia

Mindblowing sekali perbincangan mereka berdua pas mbahas vaksin yang beredar di Indonesia.

Pertama, sebenarnya apakah vaksin itu perlu untuk mengatasi pandemi ini?

Soalnya menurut sejarah pandemi sejak tahun bahula, pandemi akan berakhir dengan sendirinya. Grafiknya emang akan naik sampe puncak, lalu habis itu akan turun dan akhirnya habis dengan sendirinya. Karena manusia yang kena virus akan membentuk kekebalan tubuh secara serentak. Walaupun ada yang gak beruntung karena harus meninggal. Tapi dalam sejarah, pandemi itu pasti akan berakhir SECARA ALAMI. Hal itu dinamakan herd immunity secara alami. Itu sunnatulloh. Itu seleksi alam. Tentu saja turut berbela sungkawa buat yang belum beruntung dan terenggut nyawanya. Semoga tenang di sisiNya.

Cuman waktu berakhirnya pandemi emang gak bisa kita tentukan ya. Terserah alam maunya berapa tahun. Contoh pandemi flu spanyol 1918 itu berakhir pada tahun 1920, jadi total dua tahun lamanya.

Baru di zaman ini aja vaksin dibuat. Dengan harapan untuk mempercepat herd immunity supaya perekonomian kembali stabil. Herd Immunity yang dibantu vaksin ini belum pernah ada di dalam sejarah. Namanya Herd Immunity Artificial alias buatan.

Yang semoga saja berhasil ya. اٰمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Tapi apalah daya, kita malah beli vaksin dari luar negeri. Padahal vaksin itu untuk spesifik jenis virus tertentu. Kalau kita beli vaksin dari luar negeri, otomatis vaksinnya berasal dari virus yang ada di luar negeri dong. BELUM TENTU sama dengan virus yang ada di Indonesia ini.

Apalagi virus yang sekarang kan katanya sudah bermutasi 4000 kali. Sementara vaksin yang dibeli itu dibuatnya kapan? Tahun lalu kan? Mana cocok sama virus yang beredar di Indonesia sekarang?

Menurut Bu Siti Fadilah, SEHARUSNYA Indonesia bikin vaksin sendiri. Dibuat menggunakan jenis virus yang beredar di Indonesia sendiri. Kan otomatis akan cocok dan lebih efektif to! Kita punya perusahaan farmasi yang SANGAT KOMPETEN membuat vaksin sendiri.

Pertanyaan besarnya adalah KENAPA KOK MALAH BELI vaksin DI LUAR NEGERI?

Oh, mungkin karena pingin cepet selesai pandeminya ya? Masuk akal sih. Cuman mbok ya belinya jangan banyak-banyak. Kan sudah banyak yang kebal karena terbentuk antibody alami karena sembuh dari virus. Yang kayak gini harusnya gak usah divaksin lagi. Wong dia sudah kebal. Jadi gak masuk hitungan.

Apalagi rencananya 70% penduduk Indonesia bakalan divaksin. Jadi belinya 181 juta vaksin. Kalau dikali dua, beratu hampir 400 juta vaksin harus dibeli. Wooow duit berapa itu yaaa?

Trus ternyata ada vaksin yang expirednya Mei 2021. Duh apakabar yang baru vaksin di bulan Juni-Juli ini? Sudah dicek belum expirednya kapan?

Belum lagi efek samping vaksin tersebut. Pemerintah seharusnya gak mewajibkan vaksin ke warganya. Karena GAK SEMUA orang BOLEH divaksin. Yang menderita penggumpalan darah itu sangat bahaya kalau divaksin. Karena dia bisa kena stroke mendadak! Ngeri ya!

Trus sebaiknya vaksin itu sifatnya RELAWAN. Bukan dijadikan peraturan. Apalagi dijadikan syarat administrasi. Kan kacau ini.

Btw aku nulis ini bukan atas dasar pemikiranku sendiri ya. Aku cuma menuliskan ulang apa yang ada di podcastnya Siti Fadilah dan Tifauzia. Mereka sama-sama ahli di bidangnya. Dokter Tifauzia itu pakar epidemi.

Dari yang awalnya aku takut divaksin, setelah nonton video mereka di yutub, aku jadi mau divaksin. Asal vaksinnya VAKSIN NUSANTARA bikinan Indonesia sendiri.

Kalau vaksin dari luar negeri aku gak mau. Karena menurut uji klinis, vaksin di luar negeri itu nilai efektifnya cuma 50,04 persen bisa membentuk antibody. Sisanya enggak. Vaksin dikatakan efektif kalau setidaknya 70% orang yg divaksin bisa membentuk antibody. Kalau cuma 50% kan ya berati fifty-fifty. Alias gak begitu ngefek. Alias bisa milih divaksin apa enggak.

Apalagi uji klinis vaksin luar negeri itu cuma 1600 an orang saja. Lokasinya di Bandung saja. Angka 1600 orang ini sangat tidak bisa mewakili penduduk Indonesia yang jumlahnya 270 juta! Lokasi uji klinik di Bandung doang juga gak bisa mewakili semua lokasi penduduk di Indonesia yang tinggal di ribuan pulau dengan berbagai macam suku dan ras dan cuaca.

Uji klinisnya aja gak representatif. Kalau di pelajaran statistika, udah pasti itu gak valid. Karena datanya terlalu sedikit. Metode samplingnya juga gak tepat karena hanya di 1 lokasi. Sementara hasil penelitiannya ditujukan untuk seluruh Indonesia. Jelas gak valid.

Kak Jokowi katanya mendukung lo Vaksin Nusantara itu. Tapi entah kenapa kok tiba-tiba BPOM menolak. Sungguh aneh tapi nyata. Kan aku jadi gemes yaaa! Vaksin buatan Indonesia sendiri yang jauh lebih efektif karena memakai virus yang ada di Indonesia sendiri kok ditolak? Sementara vaksin luar negeri yang sampel virusnya belum tentu cocok dan uji cobanya gak efektif malah diizinkan beredar. Sungguh miris.

Selama nonton podcast mereka berdua, aku mau nangis lo gaes. Ada apa di negara ini? What happen? Dan ketika bu Siti Fadilah mau jadi relawan Vaksin Nusantara itu, aku semakin terharu. Dia sudah sepuh lo. Tapi mau jadi relawan sebagai dukungan penuh sama Pak Terawan, si pencetus ide dan pembuat vaksin Nusantara.

Tetap diteruskan nggih Pak pembuatan vaksinnya! Saya juga mendukung Vaksin Nusantara!

Nah, itulah keresahan yang aku rasakan di era pandemi ini gaes. Tentu saja akan berbeda dengan kalian. Karena kalian pasti banyak yang membenci dokter-dokter yang aku sebut di atas kan? Bahkan aku yakin beberapa dari kalian ada yg benci banget sama aku karena aku berkiblat ke dokter-dokter di atas.

Followers instagramku semakin hari semakin turun. Kayaknya dugaanku ini bener. Haha.

Buat kalian yang masih setia sama konten-kontenku, terima kasih banyak ya! Yuk kita sama-sama memperkaya wawasan! Dan mengasah intuisi. Memerkuat feeling kita. Sehingga kita bisa tahu mana informasi yang benar dan masuk akal, mana yang dibuat-buat.

Gaes, kayaknya udahan dulu ya. Niat saya nulis blog ini adalah supaya orang yang kuotanya gak cukup untuk nonton yutub, bisa baca artikelku ini aja. Walaupun gak keseluruhan, tapi semoga cukup representatif ya.

Bye bye my love!

Komen yuk kak!