Review Film: The Last House
Disarankan nonton ini sama temen WFC. Katanya ini film Netflix paling ditunggu-tunggu. Baiklah mari kita tonton.
Aku coba review tanpa spoiler bisa gak ya?
Jadi ada mas-mas beranak dua yang lagi mancing ndik Kali Bening. Hehe. Di laut. Berhari-hari gak dapat ikan. Pas dapat ikan, eh dapatnya kecil. Akhirnya ikan dikembalikan. Dia pulang tanpa hasil apa-apa. Malah bawa donat untuk anak-anaknya yang rakus bin ndramus. Haha
Tiba-tiba pas mau belanja keperluan Natal, eh pintu gak bisa dibuka. Mereka terjebak di rumah selama.. 5 tahun!
It’s a fucking 5 years! 
Nah, filmnya seputar itu. How to survive di dalam rumah selama 5 tahun and more! Tetangga sudah pada meninggoy karena kelaparan atau sakit. Bahkan ada yg kerjaannya dokter gigi tapi gak survive.
Sepanjang film, penonton diajak tegang. Diajak merasakan stressnya kehidupan ketika hanya mengandalkan stok makanan yang ada di kulkas. Sebulan dua bulan masih okay. Tapi lama-lama habis juga.
Pernah di titik cuma makan sawi sama wortel! Ya gak wareg lah! 
Akhirnya naluri survival masing-masing keluarga keluar. Si Ibu mikir kehidupan sustainebel, keberlanjutan. Setiap makan buah atau sayur yg ada bijinya. Dia kumpulin, keringin, tanam! Akhirnya rumah bertambah fungsi jadi kebun!
Sang ayah yang seorang tukang insinyur, sibuk bikin alat perangkap yang bisa mancing hewan-hewan di luar untuk dimakan. Uniknya, dia mancing lewat cerobong asap. Satu-satunya “pintu” yang bisa dibuka.
Si anak cewek cuma punya skill jurnaling dan gambar doang, kayak mas ndop. Di awal aku mengira skill seni kayak gitu gak bakal berguna untuk survival mode begini.
Ternyata ada gunanya. Seni ngandalin perasaan. Bahasa perasaan seperti ini ternyata universal. Si anak cewek bisa berkomunikasi sama makhluk lain. Mindblowing!
Anak cowok punya skill main piano. Kirain seni musik juga gak berguna untuk survival mode begini. Ternyata ada juga. Bahasa perasaan. Bahasa universal yg bisa dipahami oleh yuniwerz!
Dan akhirnya keputusan² akhir justru banyak berasal dari anak-anaknya!
Sepanjang film kita dihadapkan pada keputusan² yg sangat membagongkan dari ayah, yang maybe di situ dia gen X yang kolot dan kaku, tapi penyayang dan tanggung jawab penuh terhadap keselamatan keluarga.
Setelah menyadari keputusannya kurang fleksibel, akhirnya sang ayah membuka pikiran lebih luas lagi untuk solusi lain dari masing-masing anggota keluarganya.
Dan yukensi?
Setelah ego sang ayah dilepas, selusyen demi selusyen muncul dan dengan kolaborasi keempat orang ini, akhirnya membuahkan hasil. Mereka berhasil keluar dari rumah dan menikmati dunia luar.
Tapi yang namanya ujian hidup gak akan berhenti sampe situ. Setelah lima tahun terperangkap di rumah dan berhasil keluar. Cobaan selanjutnya menanti. Di situwesyen berbeda. Yang pasti lebih menantang juga. Kukira kalau film ini sakses. Bakal ada lanjutan film selanjutnya!

Ouwerol aku kasih 8/10.
Kenapa gak 10/10?
Karena otak logisku harus dikasih makan sepuas-puasnya untuk dapat absolute 10/10! Di film ini, ada plot hole yang bikin aku bertanya-tanya apa yg sebenarnya terjadi?
Dan hal itu sengaja dibikin misterius gitu supaya kita lanjut nonton film selanjutnya. Trik marketing yg okay! Walaupun yaaah, trik lama. Haha.
Yowis lah. Segera nonton di Netflix! Mumpung filmnya masih sangat anget!


