Setting Boundaries Kunci Kenyamanan Hidup
Di umurku yang sudah 40+++ masih remaja ini, aku semakin sadar kalau setting boundaries itu penting. SANGAT PENTING malah. Hidup kita, aturan kita. Kita gak wajib membahagiakan semua orang. Gak enakan sama orang lain adalah sumber penderitaan buat diri sendiri.
Semua orang punya POV sendiri-sendiri, yang belum tentu sama dengan POV kita. Bukan egois kok, ini bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Bentuk sayang terhadap perasaan kita. Dalam hal ini, sialnya, jarang orang aware. Mungkin inilah alasan banyak orang stress akhir-akhir ini. Ketika perasaan gak enakan sudah numpuk, akhirnya sulit untuk mengurai satu-persatu.
Dan aku sedang mengalami hal ini. Untungnya gak serumit itu. Hanya tentang Ndop Studio. Tempat kerja, tempat berkarya, sekaligus tempat tinggalku sehari-hari.
Di Ndop Studio, kalian bebas ngapain aja. Tapi kebebasan bukan berati tanpa batas. Kalian hanya GAK BOLEH MENYENTUH PAJANGAN yang sudah aku tata sedemikian rupa. Menyentuh aja gak boleh, apalagi memegang, ngambil, memindahkan ke tempat lain, SANGAT DILARANG!

Ruang tamu khusus dewasa. Anak kecil hanya boleh digendong sama ortunya. Toddler atau balita tantrum HARAM berada di ruangan ini!
Mungkin menurut kalian aku lebay, iya gak papa, valid kok, memang! Tapi inilah batasan (boundary) yang aku tetapkan di Ndop Studio. Batasan yang aku buat supaya aku nyaman. Kalau tuan rumah nyaman, tamu otomatis juga nyaman. I will serve you the best I can! Menghormati tamu hukumnya WAJIB! Tapi khusus tamu yang taat aturan! Haha
Dulu aku gak gini kok. Dulu aku bebasin tamu ngapain aja di rumahku. Bawa toddler (balita) silakan. Nyentuh pajangan silakan. Main-main sama mainan yang aku pajang, silakan. Tapi ujungnya apa, AKU CAPEK! Mau marah gak bisa. Karena balita gak tau apa-apa. Balita sepenuhnya tanggung jawab orang tua. Dan si orang tua adalah teman saya. Aku gak enak. Aku takut kehilangan teman. Aku takut dibilang lebay.

Masa kalian tega, ruang tamu se-estetik ini diacak-acak toddler?
Jangan ya dik, stop, jangan lanjyut!
Akhirnya aku tahan perasaan ini bertahun-tahun..
Dan kemarin, perasaan ini bocor sebocor-bocornya. Aku jadi bahan bullyan di group watsap yang seharusnya sudah gak sefrekuensi lagi itu. Aku jadi bahan olok-olok satu grup. Mereka maybe menganggap hal ini lucu. Mereka gak sadar kalau itu menyakitkan. Mereka sudah terbiasa melihatku sebagai anak yang lucu, ceria, gak bisa marah, badut penghibur.
Di pagi yang seharusnya tenang, sebuah chat muncul di grup. Foto tahun lalu, di mana acara kumpul-kumpul diadakan mendadak di rumahku, terupload. Awalnya aku senyum mengenang masa itu. Namun ketika membaca chat selanjutnya, aku tiba-tiba sesak, energiku bocor, perasaanku sangat gak nyaman.
“Gara-gara foto ini, Ndopar gak mau rumahnya dijadikan tempat kumpul-kumpul lagi! HAHAHA”
Sebuah kalimat yang menurut mereka lucu, konyol, “Hanya karena perkara kehilangan 8000 rupiah saja si Ndopar jadi kapok. HAHAHAH.”
Hmmm…
Kita flashback ke setahun yang lalu. Acara kumpul-kumpul awalnya diadakan di rumah Zulaika (nama samaran). Z mengerahkan semua uangnya untuk membeli dan memasak berbagai macam makanan dan minuman. Teman yang lain ada yg ikut membantu masak. Teman yang lain membawa makanan juga dari rumahnya. Mereka mau effort untuk acara kumpul-kumpul ini.
Sementara aku?
Aku cuma modal 0 rupiah. Jujur, membawa makanan sendiri ketika kumpul-kumpul itu menurutku RIBET! Kumpul-kumpul gak seharusnya seribet itu. Tujuannya kan ngobrol. Iya gak? Mengenang masa lalu. Masa ketika masih senasib sepenanggungan.
Sayangnya, ajang kumpul-kumpul dijadikan “fleksing” tipis-tipis siapa yang nyumbang makanan paling banyak. Dan ketika merasa dia menang, maka bebas membully teman lain yang modalnya 0 kayak aku. Padahal kalaupun disuruh bayar pun, aku GAK MUNGKIN NOLAK! Mereka hanya gak tahu cara mainku seperti apa.
Halah, perasaanmu doang, Ndop!
Justru karena aku punya perasaan, maka seharusnya kumpul-kumpul dibikin fair acaranya. Gak “persaingan” bawa makanan. Harus sama rata. Urunan berapa gitu. Gak usah ada drama urunan mahal, ini acara setahun sekali bosque! Pelit amat sama silaturohmi! Plizdeh!
Back to modalku 0 rupiah tadi..
Akhirnya sebagai “balas dendam”, mereka menyuruhku menjadi tuan rumah kumpul tahun depan. Yang wicis tahun ini. Ide yang tercetus di aku adalah, kalau penghasilan selama bulan romadhon terkumpul lebih, maka gas di resto ayam bakar aja, aku yang bayarin. Ndop Studio aman. Tetap rapih. Perasaanku nyaman. Tanpa drama. Semua kenyang. Semua senang.
Tapi اَلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ rezekiku di bulan romadhon tahun ini bukan berbentuk uang. Orderan sepi pi pi. Maka dari itu, plan A nraktir ayam bakar pupus sudah. Bajet gak ada.
Karena merasa bertanggung jawab, akhirnya aku urun ide yang win-win solusyen. Aku usul acara kumpul diadakan di cafe aja. Sekalian cobain cafe-cafe baru yang menjamur di Nganjuk. Beberapa anggota grup setuju-setuju aja. Tapi sayangnya ada satu dua yg gak setuju tapi dampaknya besar ke keputusan akhir. Tanpa babibu, tiba-tiba keputusan diambil alih dan DEAL!
“Acara kumpul di rumahku lagi aja! Kelamaan kalian mutusinnya!”
Ide kumpul memang datang dadakan. Hanya demi SATU ORANG saja, acaranya harus diadakan BESOK! Alias Rabo. Aku nyaranin Kamis, atau Sabtu gitu. Biar ada persiapan yang matang. Konsep yang matang. Tapi lagi-lagi, karena posisiku sebagai badut tadi, akhirnya ide-ide cemerlangku hanya dianggap lelucon konyol.
So, these are the reasons why kumpul di cafe is the best decision for my POV (Point Of View):
- pemilik rumah gak perlu repot bersih-bersih, gak perlu repot masak, bikin minuman, gak khawatir barang-barangnya rusak dibanting balita (just in case ada yg bawa toddler).
- Menu makanan juga jauh lebih bervariasi kalau di cafe. Bebas memilih menu makanan dan minuman sesuai selera.
- Bisa menyesuaikan bajet. Jadi lebih adil. Gak ada yg merasa gak enak. Gak ada untung atau rugi.
- Fasilitas lengkap! Ada WIFI, AC, Spot Foto, Parkir yang luas!
- Gak mengganggu ketenangan tetangga. Karena acara kumpul pasti rame.
- Batasan waktu yang jelas. Kalau di cafe kita bisa pulang kapan aja. Gak pulang juga gak papa. Ga ada waktu yg dirugikan sama sekali.
Dan you know apa alasan mereka gak mau nongkrong di cafe? Sesimpel: CAFE ITU MAHAL. TITIK!
Okay. Aku sadar memang ekonomi tiap orang beda-beda. Tapi aku mau tanya, MAHAL ITU BERAPA SIH? 20 ribu itu mahal gak? Jangan mikir harga minumannya ya. Tapi ingatlah ini acara kumpul-kumpul setahun sekali. Punya motor kan? Beli bensin mampu? Suamimu beli rokok mampu? Masa beli minuman 20 ribu gak mampu?
Apa lagi? Makanannya mahal? Siapa suruh beli makanan sama minuman? Kalian boleh kok ngafe cuma beli minuman 15 ribu. BOLEH BANGET!
Malu? Malu sama siapa? GAK ADA YG PEDULI SAMA KITA. SUMPAH! Asal kita gak nyolong, kita beli minuman, maka GAK ADA YANG SALAH! Gak ada yang memalukan sama sekali.
Insekyur? Minder? Kenapa minder? Kamu membeli dengan uangmu sendiri. Bukan minta-minta.
—-
Long story short, acara diadakan di rumah Zulaika. Acara berjalan sukses. Aku happy. Rencana awal, habis di rumah si Z, pindah ke cafe sesuai diskusi di grup. Tapi faktanya, sampe setengah 3 sore, gak ada yg mau pindah. Semua nunggu aku. Ketika aku deal ngajak di cafe, ada aja yg gak mau berangkat.
CAPEK. BANGET!
DAN BENERAN! Akhirnya si Z harus wira-wiri jemput si A agar mau datang. Si A maunya dijemput sodara-sodara. Pada gak tahu ada yg namanya OJOL. Lagi-lagi perkara PELIT sama diri sendiri sepertinya menjadi problem besar generasi millenials kayak aku. Si Z harus buatin minuman sebanyak itu. Gak hanya minuman, makanan juga! Akhirnya KENYANG DONG!
Rencana pindah ke cafe HANYALAH WACANA. Sepertinya itu pancingan biar aku mau datang.
Dan ternyata endingnya GONG BANGET! Acara makan-makan pun di rumah Z. I was like, this is not healthy for a long term of friendship!. Mau gak mau, manusia itu pada dasarnya pelit. Kalau ada yg dermawan, ya pasti pamrih. Maka solusi beli makanan minuman sendiri di cafe sesuai kemampuan sebenarnya solusi yg win-win solution. Ga ada yg dirugikan.
Kalau kayak gini konsepnya, si Z bakalan BOCOR energinya. Kalau ditotal, ada kali dia spent 100K +++. AKU JADI GAK ENAK! Karena harusnya tahun ini giliranku yg spent money. Perasaanku SERBA SALAH!
Dan beneran kan! Problem tahun lalu pun diungkit-ungkit lagi. FYI, aku gak pernah bilang kalau Ndop Studio gak mau dijadikan tempat kumpul-kumpul karena aku kehilangan mainan 8000 perak. Bukan itu masalahnya. Tapi lebih ke AKU GAK NYAMAN kalau ada yg mengacak-ngacak rumahku. Perkara mainan 8000 hanya simbolik saja. Bukan esensi sebenarnya.
Jadi..
Mulai sekarang, supaya energiku gak bocor lagi, aku dengan tegas dan sadar penuh, MEMBATASI NDOP STUDIO khusus DEWASA! No toddler (balita). No bocah tantrum. No bocah pencilakan. This is not a regular house. This is set for shooting. This is my creative working space.
You can judge me: RIBET! LEBAY! LEMAH! AKU SIH BODO AMAT! MY LIFE, MY RULES! WEEEEK! HAHAHA 
Dan supaya energiku gak terbuang siya-siya, aku mute grup kumpul-kumpul satu itu. Karena sudah gak sefrekuensi, gak satu vibrasi. Hahaha.
—–
Wahai millenials yang hidupnya serba gak enakan, aku kasih tahu fakta penting cara bersosialisasi supaya awet pertemanannya tanpa ada utang balas budi. Setiap kumpul-kumpul, usahakan bayar sendiri-sendiri. Kecuali emang sejak awal ada traktiran. Jangan sok-sokan bayarin uang makan. Karena efeknya buruk untuk longterm relationship.
Pertemanan harus adil. Gak ada yg namanya donatur! Gak ada yg namanya penerima donasi! Semua setara. Kalau ada satu atau dua yg gak punya duit, harus jujur gak ada duit. DAN JANGAN MINTA DITRAKTIR! Karena itu gak sehat secara pertemanan!
Jadi aku ada grup “Anak Nongkrong” di watsap. Kami cuma bertiga. Kami bersahabat sampe sekarang. Dulu kami rame-rame, ada kali 10 orang. Tapi karena tidak satu visi misi, maka buyar dengan sendirinya.
Apa yang kami bertiga lakukan supaya pertemanan awet? Setiap kami makan-makan atau nongkrong di cafe atau warung makan, kami selalu catat pengeluaran masing-masing, trus kami bayar sendiri-sendiri. Kalau ada yg bayarin dulu, kami pasti ganti dengan transfer rekening. Begitu terus selama bertahun-tahun.
Kecuali memang niatnya nraktir, itu beda. Tapi itu sangat amat jarang. Karena kami pengen pertemanan ini tanpa balas budi. Habis nongkrong, udah selesai urusan. Gak ada yg merasa punya utang. Ntar ketemuan lagi baik kosong-kosong lagi. Sehat banget pertemanannya.
Pertemanan awet sejak 2015 sampe sekarang! Ekky, Ndop, dan Abi.
Di antara mereka, hapeku paling jadul, tapi aku masih diterima dengan fine-fine aja. Karena aku sendiri gak pernah minder sama mereka. Gak pernah merasa rendah. Karena aku yakin rezeki bentuknya beda-beda. Jadi ya, yang penting saling menghargai dan saling support.
Pertemanan kami bukan type yang, kalau ada yg lebih kaya harus nraktir! Gak senorak itu ya, please. Haha. Kami type yg selow. Mengucapkan congrats. Mengucapkan semangat, kalau ada yg lagi down.
Beda banget sama pertemanan yg “itu” ya. Baru saja datang. Udah tahu badan makin kurus. Eh, tiba-tiba ada yg nyeletuk, “THR-nya mana?” WOTHEFAK! In this ikaanemi? Minta-minta? KERJA KAK! 
Puas banget bejir habis nulis ini! Hahaha. Jujurly, aku gak semarah itu kok. Aku cuma risih aja. Dan di umur segini, hal-hal risih sebaiknya aku hindari. Kalau dibiarkan numpuk bakal jadi beban. Apalagi aku gak enakan negur. Daripada negur, mending menghindar.
Sekian!

