Menggambar Vector Pakek Hati

Menggambar vector kok pakek hati, ya pakek mouse dong ndop?

Eit, jangan menafsirkan sesuatu secara mentah begitu dong dik. Hellooo.. di jaman modern begini kok mikirnya masih primitive gitu sih kamu? xixixi.. <--- ketawa porno, mengandung xxx *kedetek nawala kapok kowe ndop!* Jadi saya pernah posting gambar di facebook. Linknya ada di sini. Alhamdulillaah mendapatkan 97 likes tanpa saya minta. Ya lumayan banyak lah ya. Buat yang males facebookan, akan saya kopas isi status saya di bawah ini ya..

Jadi selama melanglang buana di dunia pervectoran Indonesia di facebook. Banyak banget karya temen-temen yang bagus-bagus. Mereka alhamdulillaah belajar dari tutorial vector yang saya buat beberapa tahun yang lalu dan yang baru-baru. Namun ada juga beberapa yang kurang bagus. Saya pikir-pikir, kenapa bisa nggak bagus ya? Padahal aku udah share tutorialnya habis-habisan tanpa sensor! *sampe sampe kalo ada ketawa dan batuk bahkan jago kluruk pun masuk di rekaman!* :lol:

Dan usut punya usut, saya iseng menganalisa apa yg dilakukan temen-temen terhadap foto aslinya. Dan mereka yang menurut saya gambarnya kurang bagus, dia hanya mengandalkan “teknik” tanpa/sedikit menggunakan “rasa”. Dan saya ibaratkan mereka menggambar pakek “otak” dibanding “hati”. Oukei gaes, letz sii the difrent..

TRACING PAKEK OTAK

TRACING PAKEK OTAK

Saya mencoba tracing sesuai dengan photo aslinya, tanpa improvisasi, tanpa perbaikan warna, tanpa menambahkan lighting pada bagian-bagian tertentu. Perhatikan bulumatanya, itu bulu mata atau rerumputan? Istilahnya ngalir aja tanpa ngrasain apa-apa. Kayak robot. Kaku. Warnanya pun cenderung kusam. Hasilnya kalau dari jauh akan terlihat bagus, tapi kalo dideketin, bakalan kerasa “instan” nya. Kayak filter di photoshop. Gelap terangnya kurang berani, masih ragu-ragu.

Yuk, kita lihat kalo tracing pakek hati kayak gimana hasilnya..

TRACING PAKEK HATI

Tracing pakai Hati

Inilah yang saya sebut simplify representative. Persimpel namun tetep mewakili foto aslinya.

Jadi saya coba tracing seperti biasa. Dengan sedikit senyum dan sabar. Aku tambahi lighting di sana sini. Kilau mata, kelopak mata. Aku bentuk satu persatu bulu matanya. Saya pertajam warna-warnanya. Menambah saturasi supaya lebih stand out lagi. Jadi kali ini saya menggambar bener-bener penuh perasaan dan menambah nilai plus di hasil vectornya. So, saya agak ndableg karena musti ngarang dikit-dikit di bagian-bagian tertentu namun tetap “merasakan” supaya tidak bernafsu secara berlebihan sehingga kemiripan tetap bisa dipegang. *bahasanya semakin berat*

Eh ngomongin “nafsu”. Di dalam menggambar vectorpun saya mengenal yg namanya nafsu yang berlebihan. Misalnya dalam menggambar vector real. Banyak bagian-bagian yang “tidak penting” digambar secara detail yang berlebihan. Contoh yg banyak saya temukan adalah rambut! Saya heran, kenapa orang buang-buang waktu hanya untuk menggambar rambut PERHELAI? Bukankan yg terpenting itu wajahnya?

Walhasil, sering banget saya nemu karya, di bagian wajahnya simpel, namun rambutnya super duper detail. Dan menurut saya hal itu kurang balance. Ini nggak membahas bagus atau nggak bagus, tapi keseimbangan suatu karya itu hal yang penting. Dan dalam hal ini “hati” memang sangan berperan. Karena suatu karya yang dibikin pakek perasaan dari hati akan sampe juga ke hati penikmatnya..

Dalam menggambar rambut, yang perlu diperhatikan adalah kedalaman. Ada gelap tengah dan terang. So, tidak perlu digambar PERHELAI. Sangat membuang waktu untuk hal yang bukan “point of interest“. Orang akan fokus lihat mata. Jadi bagian mata memang layak mendapat perlakuan khusus. Setelah itu bibir dan hidung. Baru rambut dan anggota tubuh lainnya. Tapi kalo memang pingin ngasih point of interest di rambut, ya silakan berdetail ria di area sana. Postingan ini konteksnya menggambar vector wajah lo ya. Hehe..

Aku udah lama gabung di deviantart, sekitar empat tahun yang lalu. Saya banyak belajar dari karya-karya vector orang luar negeri maupun lokal yang bagus-bagus *Yang jelek-jelek males liatnya, takut ketularan.. HAHA* :pukul:

Yoi, jadi mungkin sayanya yang bukan golongan orang cerdas atau pinter, jadi harus belajar vector bertahun-tahun. Gak kayak temen-temen di facebook, baru baca tutorial selama seminggu, eee udah jago aja. Saya minder sebenarnya. HAHAHA… Dan saya semakin minder kalau ada juga dari mereka yang belajar ilmu lain (selain vector), sementara saya masih belajar vector sampe sekarang pun… :doh:

Ha? Belajar opo maneh?
Belajar meshtool kakak.. susahnya minta ampun. Gak bisa-bisa.. Mungkin kalo dalam istilah jawa, namanya GOBIS = GOBLOK RAUWIS UWIS :pukul:

Eh udahan aja deh. Bye. <-- ending postingannya bener-bener absurd.

50 Comments

Komen dong!