Belajar Menghargai Uang Kecil
Dua tahun yang lalu, sebelum kakek pe gendut berkuasa, uang 500 perak kubiarkan tergeletak di meja, uang 1000 di dompet kalau jatuh di bawah lemari, gak akan kuambil. Aku kurang menganggap uang-uang receh itu penting. Halah, cuma seribu aja.

Di Alfaindo, beli sariroti, roti tawar, buah apel, samyang, tinggal ambil trus masuk keranjang. Tanpa lihat harga. Tanpa melihat apakah di toko lain harganya lebih murah. Bahkan saking kalapnya aku beli ini itu, aku pernah sampe di level beli sariroti sampe kadaluarsa gak kemakan karena lupa. Hihihi.
Secara energi sebenarnya okay ya karena aku gak eman-eman duik dan aku yakin akan selalu ada rezeki yg datang setelahnya. Tapi aku jadi kurang menghargai uang kecil. Apalagi sampe benci sama orang-orang yang ngirit uang. Kenapa mereka gak yakin sama rezeki Gusti Alloh sih? Begitu kataku sok bijak. Aku jadi toksik pazetiwiti. Menyebalkan. Kurang emfeti. Tai lah pokoknya. Haha
Dulu aku juga anti banget beli di warung mracangan rakyat biasa. Alasanku, kurang modern. Oldschool. Harus minta bantuan ambilin ini itu sama penjualnya. Bayar harus cash. Hah ribet harus ke ATM dulu. Haha sombong banget ya! Iya! Menyebalkan! Hahah
Kemudian bertahun-tahun kemudian aku kuwalat! Kena adzab karena sombong. Aku dibikin miskin! Hahaha kapok!
Tiba-tiba kakek pe gendut-enpidi-serakah-halu-delusional-sepuluh-tambah-enam-sama-dengan-tujuh-belas berkuasa. Keadaanku berubah total. Yang dulunya foya-foya, jadi opo ya-opo ya. Mangan opo ya? Haha.
Masuk ke alfaindo sekarang terasa kayak masuk galaksi mol Suroboyo. Terasa mewah! Lihat barang, ambil, cek harga, balikin lagi. Mau beli roti, 18 ribu, hmm.. mending dibeliin telur bisa buat makan 4 hari! Hahaha
Sekarang juga lebih suka ke warung Meduro. Yang ternyata harganya jauh lebih murah dibanding alfaindo. Dulu sering ke alfaindo karena aku kan melek bengi ya. Warung mracangan gak ada yg buka. Alfaindo buka 24 jam. Jadi ya ga ada pilihan. Gak ada pembanding.
Sekarang, dengan adanya warung Madura 24 jam, dan tahu harganya jauh lebih murah dibanding alfaindo, in this ikaanemi, daku merasa aman dan tenang! Mau belanja telur sama susu denko, pulang bawa telur sama susu denko saja. Gak ada nambah-nambah item lain.
Beda kayak beli di alfaindo. Mau beli indomi, pulang-pulang bawa indomi, sariroti, apel, samyang, citato, pokari, ultramilk. Yang awalnya cuma pengen spend 15 ribu, jadi 90 ribu. Apalagi alfaindo harganya emang lebih mahal dibanding warung mracangan biasa.
Dulu sih pilih alfaindo karena aku bisa bayar pake ATM, atau KRIS. Sekarang warung madura kan bisa pakai QRIS. Jadi ga ada alasan lagi harus ke alfaindo.
Tadi sore aku beli telur setengah kilo sama susu denko saset 10 bungkus, cuma habis 52 ribu! HUWAT?
Murah banget anjirrrr! Susu denko 10 saset itu harusnya 40 ribuan. Masa telurnya cuma 12 ribu? Murah banget! Kalaupun telurnya 15 ribu, berati harga denko sasetnya 37 ribu yang wicis lebih murah dibanding syopi masamu! Hahaha
Sepi orderan membuatku jadi menghargai uang kecil. Dulu aku sering protes sama ibukku yang kalau beli cabe kacek 50 repes aja harus effort ngontel ke pasar. sekarang aku mengalami sendiri masa itu. Masa-masa ngirit. Masa-masa uang kecil matters!
Dan ternyata ngirit itu gak buruk-buruk amat kok. Asal dilakukan dengan penuh kesadaran. Bukan keterpaksaan. Awalnya memang berat. Tapi lama-lama tubuh ini adaptasi.
Dulu lapar dikit makan banyak. Sekarang lapar dikit ya makan dikit sampe laparnya ilang. Jarang sekali aku makan sampe kenyang. Efeknya? Badan makin langsing, enteng, muka lebih fresh. Makanku sedikit, tidurku banyak. Berat badan turun tapi gak lemes. Aku makin lincah. Bangun tidur gak ada keluhan badan pegel atau telapak kaki cenut-cenut.
Aku jarang olah raga karena kaloriku gak berlebih. Bahkan maybe malah defisit. Aktivitasku cukup bersih-bersih rumah. Korah-korah. Umbah-umbah. Lebih manfaat daripada bakar beratus-ratus kalori tapi rumah kotor cucian numpuk. Xixixi.
Aku sekarang lebih mindfulness. Melakukan sesuatu mulai yg deket-deket. Itu aja gak habis-habis. Bersih-bersih rumah itu gak ada habisnya!
Kalau lagi mager buanget, aku biasanya nonton Netflix. Langganan tiap bulan buatku gak rugi. Jauh lebih hemat dibanding doomscrolling sosmed yg seringkali bikin emosi yang akhirnya butuh hiburan yang jatuhnya jauh lebih mahal.
Dan beneran. Menyibukkan diri bikin kita merasa selalu cukup. Live present itu bener-bener sepenting itu. Kalau kita fokusnya ke masa depan, kita akan fokus ke hal yg kita gak tahu, hal yg kita gak punya, hal yang belum tentu terjadi. Akhirnya kita overthinking, merasa kekurangan, akhirnya gak bersyukur sama hal yg sudah kita punya sekarang.
Puji Tuhan gajiku bulan ini di atas UMR Nganjuk. Tanpa promo apa-apa. Just doing something present. Juli ini aku aktif journaling di blog ini. Walhasil energiku gak habis buat mengeluh. Rezeki datang setelah pekerjaan selesai. Bahkan yg barusan, kerjaan datang ketika pekerjaan sebelumnya belum selesai. Amazing!
Journaling itu memang hal kecil kalau dibanding nulis karya ilmiah, atau nulis novel fiksi dengan plot twist! Sama kayak uang receh 500-1000 dibanding uang ratusan juta. Namun, hal kecil seperti ini ternyata bermanfaat. Selain bikin relax, nulis seperti ini bikin kita menghargai hal-hal kecil yg terjadi setiap hari. Walaupun gak penting, tetap kita hargai, tetap kita tulis.
Yaaaah, nikmati aja masa-masa sementara ini. Hidup akan selalu ada apsen dauns. Toh menurutku ini juga hidup yang cocok buatku sekarang. Kan aku sendiri yg pengen slow living. Jadi ngapain mengeluh kalau penghasilan makin dikit? Bukannya rezeki bentuknya bukan cuma uang? Ada yg berupa waktu luang dan ketenangan. Dan untuk sekarang, alam bawah sadarku sepertinya memilih rezeki berupa ketenangan.
Tapi bukan berati aku menolak rezeki berupa uang ya. Tetap mauuuu! Tapi kalau Gusti Alloh ngasihnya waktu luang dan ketenangan, ya tetap mau juga! Uang banyak tapi gak punya waktu luang, uangnya buat apa? Udah ditahap nerimo aja akutu. Sibuk kerja uang banyak, okay. Santai juga okay.
Mengeluh, no way! Haha
Okay bro sis. Segitu aja yaaaa. Bye!


