Korona Enaknya Diapain Ya?

Bunuh tuntas!

Tapi gimana caranya mbunuh wong dia gak kelihatan? Huahaha bener juga. Kalau perang melawan musuh yg kelihatan gitu gampang ya tinggal dibedil aja matek! Lha ini perang melawan virus yang gak kelihatan e. Piye carane?

Hal itu yang bikin pemerintah bingung juga. Kasihan sih akutu sama pemerintah. Dulu aturannya yang sakit doang wajib pake masker biar dia gak ketularan korona dari orang lain supaya penyakitnya gak semakin parah dan kalau apes bisa meninggal. Sekarang semua orang harus pakai masker baik yg sakit maupun yang sehat. Masyarakat jadi bingung harus bagemana. Pemerintah juga gatau mau gimana lagi.

Masyarakat dianjurkan untuk di rumah aja untuk menekan penularan virusnya. Tapi ternyata gak semua masyarakat bisa. Hanya sebagian aja yang bisa. Padahal Korona ini bisa selesai kalau SEMUA ORANG beneran di rumah aja. Sehingga gak ada yg bertemu satu sama lain. Penularannya jadi sangat sedikit. Apes-apese ya cuma sekeluarga doang yg hidup satu rumah. Gak bakal nularin tetangga karena memang di rumah aja.

Tapi kan gak semudah itu ternyata. Manusia butuh makan. Kalau di rumah aja trus mau makan apa?

Tibaknya aturannya diperingan. Masyarakat masih dibolehin keluar rumah asal membeli bahan-bahan pokok. Ini sebenarnya sama aja boong dong! Apa jaminanya sebagian orang kena keringanan keluar rumah ini gak terkena korona?

Apakah orang yg membeli kebutuhan pokok akan kebal korona? Ya gak juga. Trus gimana caranya membedakan orang yg keluar rumah untuk membeli kebutuhan hidup, dengan orang yg keluar rumah karena gak betah aja cari angin?

Akan susah ngebedainnya sih. Apakah harus ada petugas khusus yg jaga di ujung gang nanyain orang yg keluar rumah satu-satu “MAU KEMANA NEH?”. Trus kalau dia jawabnya bohong, gimana mendeteksinya? Susah banget sih ini pelaksanannya.

Sebenarnya pemerintah caranya udah bener. Pemerintah sangat hati-hati dan sangat mengurangi resiko penularan corona virus disease 2019 (covid-19), cuman warganya yg bandel ini gak bisa diatur kalau gak ada sangsinya. Yang jelas-jelas ada sangsinya aja pada dilanggar. Apalagi gada sangsi?

Yang pali parah menurutku adalah pemerintah melarang jumatan, tarowih, dan sholat jamaah di masjid/musholla, tapi tetap membuka pasar tempat bertemunya banyak orang dengan alasan karena membeli kebutuhan pokok untuk hidup. Padahal ibadah sebenarnya juga kebutuhan pokok untuk hidup.

Bukankah hidup manusia itu gak hanya fisik, tapi batin juga? Kebutuhan batiniah sebenarnya masuk pengecualian juga. Jadi masyarakat dibolehin sholat berjamaah fardhu, jumat, tarowih, idul fitri, dll. Asal pakai prosedur sosyel distensing alias jaga jarak antar jamaah satu meter misalnya. Saya rasa hal itu dibolehin kok (walupun gada dalilnya sih), kan posisinya darurat. Gusti Alloh gak sekaku itu kok saya yaqueen.

Misal nih, kalian orangnya harus pakai dalil banget, yodah tetap berdekatan sholatnya. Aman sih menurutku. Soalnya kan kalau bersin arahnya ke punggung jamaah depannya. Bukan ke samping. Jadi gak bakal ketularan juga.

Kalau bersin ke bawah?

Nah bisa bawa virus sih kalau ke bawah. Soalnya kan kita pas sujud musti menyentuh lantai/sajadah sih ya. Cuman sekali lagi gak akan langsung ketularan kalau tangan kita menyentuh virusnya. Dia akan nular kalau tangan kita masukkan ke hidung, mulut, atau kucek mata. Nah, kan! Masih ada step lagi untuk ketularan. So, korona ini gak semudah itu nularnya sodara-sodara.

Jadi kenapa pemerintah masih melarang orang jamaah di mesjid tapi tidak melarang orang belanja ke pasar?

Mari kita tanyakan kepada Ji Sun Woo, kenapa dia masih cinta sama suami bangsatnya! Haha

————

2 bulan berlalu. Yang patuh banget sama pemerintah banyak. Tapi yang bandel juga banyak. Grafik korona yang diharapkan turun atau minimal flat alias gak ada penambahan kasus lagi, eh malah NAIK DRASTIS menjulang dong!

Entah kapan mencapai puncak ya? Gatau deh. Soalnya menurut ilmu statistik, grafik pandemi itu setelah mencapai puncaknya, dia akan turun lalu flat gak ada penambahan lagi.

Tujuan sosyel distensing ini kan sebenarnya membuat kurvanya jadi flat alias korbannya gak nambah. Sehingga tenaga medis gak kewalahan karena jumlah pasiennya dikit/bisa ditangani.

Sesimpel itu sebenarnya. Jadi virusnya emang gabisa ilang gaes! Korbannya aja yg ditekan supaya gak tambah banyak.

Aku jadi mikir begini. Gimana kalau tesnya gak usah diterusin. Jadi kalau ada yg sakit parah, trus ke rumah sakit dan setelah dites ternyata kena korona, yaudah diem aja dirawat di rumah sakit sampe sembuh. Gausah diumumin ke klayalak ramai. Supaya gak bikin orang tambah was-was gitu. Katanya perasaan was-was dan takut berlebihan malah nurunin imun?

Lagian kan sebenarnya korona tuh gak segampang itu penularannya. Kan dia HARUS MASUK HIDUNG atau MULUT. Atau bisa lewat mata tapi agak lama ya nyampe ke tenggorokan. Jadi kenapa kita seketakutan itu sampe dilarang salaman? Dilarang keluar rumah? Dilarang keluar kota? Dilarang piknik? Dilarang berkerumun dengan orang banyak?

Apakah gak cukup dengan bawa hand sanitizer (cuci tangan pake sabun deh!) dan pakai masker?

Apakah kalau kita berkerumun dengan orang banyak akan auto kena korona? Apakah bersentuhan tangan akan kena korona? Gimana ceritanya? Apakah korona bisa masuk ke pori-pori telapak tangan?

Kalau iya. Ya bener berati aturannya.

Tapi kan kata wehao korona penularannya via droplet alias cairan yg keluar karena bersin, batuk berdahak, atau air liur yg muncrat ketika orang ngomong yg kebetulan dia ada virusnya di air liur itu.

Jadi dia hanya menular ketika si droplet itu masuk ke hidung atau mulut doang kan? Kalau nyentuh ke muka pun gak papa kan seharusnya? Kan dia gabisa masuk ke pori-pori.

Kalaupun bandel gak pake masker, apakah kita akan auto kena korona? Bukankah korona gak nular via udara? Aku jadi bingung nih. Justru yang nular via udara itu bukannya si tuberkolosis alias tebese?

Sebenarnya korona itu nularnya susah. Jadi cukup dengan hand sanitizer dan cuci tangan dan pakek masker, menurutku sudah sangat cukup untuk mencegah si virus bangsat itu masuk ke hidung dan mulut kita.

JADI GAPERLU melarang orang keluar rumah ya please. GOSAH JUGA ngeliburin sekola, kantor, nutup cafe, bioskop, mall, bahkan mesjid. Gausah! Cukup diperketat aturan bawa masker dan cuci tangannya. THAT’S IT!

Aku jadi penasaran, yang beneran kena korona dan mati itu cara ketularannya gimana? Apaka dia pakai masker? Apaka dia rajin cuci tangan?

Sepertinya kok enggak pernah dijelasin ya. Kok aku gak pernah baca atau denger gimana detail awal mula dia terkena korona sih?

Rata-rata infonya cuma dia ketularan dari orang ini, orang itu, yang asalnya dari luar kota. Tapi CARA KETULARANNYA gak pernah dijelasin. Gaya hidup si korban korona apakah jorok ga pernah cuci tangan atau gak pakek masker, gak pernah diceritain. Ini sungguh aneh.

Gimana mau mencegah penularan kalau gak dijelasin detail gimana si korban ketularan korona.

Contoh detailnya gini lo, “Dia ketularan gara-gara salaman sama si anu, lalu gak sengaja ngupil dan kucek-kucek mata padahal belum cuci tangan pake sabun”.

Dengan begitu masyarakat jadi tahu, ooooh jadi jangan ngupil dan kucek-kucek mata gaes kalau habis salaman sama orang lain. Harus CUCI TANGAN dulu baru ngupil atau ngemut jemari (mungkin giginya selilitan, jadi harus masukin jari gitu).

Saya yakin banyak yang gak tau cara penularan korona. Makanya dia ketularan. Anjuran pemerintah selama ini adalah di rumah aja, pakai masker dan rajin cuci tangan. Tapi lupa gak ngasih tau cara penularan virusnya.

Masyarakat awam yang patuh kan bisa aja ketularan. Dia bisa aja rajin cuci tangan. Tapi habis cuci tangan, dia bisa aja menyentuh barang yang habis kena droplet orang yg kena korona. Bisa dari sayur yg habis beli dari pasar. Lalu hidungnya gatel, lalu dia ngupil. Ketularan deh.

Padahal dia di rumah aja. Dan gamungkin pake masker dong kalo di rumah. Soalnya anjuran pemerintah kan kalau keluar rumah pakek masker. Tanpa menjelaskan cara penularan virusnya.

Kalau tau cara penularannya, kan dia waspada terus. Eh jangan-jangan ini sayur bisa ada virusnya? Sehingga setelah merebus si sayur (virusnya mati ini), dia langsung cuci tangan sebelum ngupil, ngemut jemari (sumpah ini awkward), atau kucek-kucek mata.

Kalau si tangan yang ga dicuci itu gak dibuat nyentuh dalam mulut, hidung, dan kucek-kucek mata, ya aman-aman aja seharusnya. Karena korona gak nular via pori-pori.

Korona emang berbahaya karena memang bisa bikin orang matek. Tapi korona gak segampang itu menular. Asal kita pakai masker kalau deketan sama orang lain yang botak-batuk melulu, ya aman seharusnya. Walaupun gak pake masker pun sebenarnya tetap aman, kalau si orang yg batuk atau bersin, caranya bener. Yaitu gak mengarah ke kepala lawan bicara, batuk atau bersinnya di lengan dia sendiri, atau arahnya ke bawah langsung ke tanah.

So, it’s all about kebiasaan hidup bersih aja sih ini. Korona tidak semengerikan ituuu. Tapi tetap tidak bisa dianggap remeh juga. Hanya perlu perilaku yang tepat aja. Yang paling menang ya yang punya perilaku hidup sehat dan higinis. Yang hidupnya kemproh, dipaksa harus hidup bersih. Sebenarnya efeknya kan bagus, mendidik orang hidup bersih.

Kalaupun apes gabisa hidup bersih dan masih bertahan dengan bilang, “kemproh is my middle name” atau “kemproh adalah jalan ninjaku”, yaudah gapapa. Kalau dia masih muda, apes ketularan korona karena ga rajin cuci tangan dan ngupil adalah passionnya, dia juga akan sembuh sendiri dilawan imunnya sendiri.

Kalau dia sudah tua dan punya penyakit bawaan, ya langsung aja ke rumah sakit. Biar dirawat di sana.

Nular via makanan.