<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sang Vectoria Jenaka™ &#187; mall</title>
	<atom:link href="http://dzofar.com/tag/mall/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dzofar.com</link>
	<description>Jasa gambar vector, edit foto jadi kartun, cerita-cerita konyol dan bodoh, pesan gambar vector,</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Feb 2012 10:19:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Wong Ndeso Makan Pekmpek</title>
		<link>http://dzofar.com/2009/06/17/wong-ndeso-makan-pekmpek/</link>
		<comments>http://dzofar.com/2009/06/17/wong-ndeso-makan-pekmpek/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 08:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndöp™</dc:creator>
				<category><![CDATA[pengalamannya ndöp™]]></category>
		<category><![CDATA[yang ngeruntel di ati™]]></category>
		<category><![CDATA[hightech]]></category>
		<category><![CDATA[kecut]]></category>
		<category><![CDATA[mall]]></category>
		<category><![CDATA[pekmpek]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[THR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dzofar.com/?p=977</guid>
		<description><![CDATA[<a href=http://dzofar.com/2009/06/17/wong-ndeso-makan-pekmpek/><img src=http://i241.photobucket.com/albums/ff158/ndop/pempekhaitekndopongki.jpg class=imagebox hspace=5 align=left width=130  border=0></a>&#8220;Sesuk wae yo.&#8221; &#8220;Yup, aku manut wae!&#8221; __ Dan besok pun terjadi dengan sukses. Kami berdua, yang sama-sama dilahirkan dari kota angin tercinta alias Nganjuk, pun berangkat menaiki len kuning bernama O menuju sebelahnya THR alias Haitekmol. Gusti Alloh nyuwun ngapuro, panasnya hari ini. Di dalam len seperti berada di dalam ouven. Langsung deh, aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Sesuk wae yo.&#8221;<br />
&#8220;Yup, aku manut wae!&#8221; </p>
<p>__</p>
<p>Dan besok pun terjadi dengan sukses. <a href="http://dzofar.com">Ka</a><a href="http://ongki.com">mi</a> berdua, yang sama-sama dilahirkan dari kota angin tercinta alias Nganjuk, pun berangkat menaiki len kuning bernama O menuju sebelahnya THR alias Haitekmol. </p>
<p><em>Gusti Alloh nyuwun ngapuro</em>, panasnya hari ini. Di dalam len seperti berada di dalam <em>ouven</em>. Langsung deh, aku lepas jaket itemku dan tampaklah <a href="http://dzofar.com/2009/05/23/akhirnya-dapat-kaos-bjork/">kaos putih bjork</a> yang aku pakai. Hehehe.. panas ini ada gunanya ternyata, saya jadi bisa pamer kaos bjorkku ke khalayak ramai. Hehehe&#8230;</p>
<p><span id="more-977"></span>___</p>
<p>Setelah mubeng-mubeng mengitari Haitekmol, mencari-cari mehkeluk mati bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Laptop">lele yang top</a>. Akhirnya nemu juga yang sreg. Hehehe.. namanya aja ingin mencari, bukan ingin membeli, jadi setelah menemukan yang sreg, saatnya membayangkan untuk memunyainya. *the secret mode on* </p>
<p>Siapa tau kalau memang ada rejeki, kita bisa memilikinya. Bener khan?</p>
<p>Lapar melanda&#8230;</p>
<p>Sarapan nasi pecel tadi pagi sudah habis diserap keringet waktu panas-panasan di dalam len. <em>Walhasil kembar siamnya waljinah (orijinal karangannya <a href="http://nuggix.com">nug</a>, red.)</em>, kami lapar banget pas jalan-jalan mencari lele yang top tadi. Kalau lapar, biasanya ngapain sodara-sodara?</p>
<p>Hennah&#8230;</p>
<p>Kami sok nggaya nih. Mumpung berada di kota Surabaya, dan mumpung berada di haitekmol, kami mau mencoba sok kaya dengan makan pempek di lantai satu.</p>
<p>Saya duduk-duduk saja, <a href="http://laziem.com">ongki</a> yang mesen ini-itu. Soalnya duwik saya masih 10 ribu saja. Hehehe&#8230; </p>
<p>Beberapa menit diankemu, eh, kemudian, datanglah hidangannya&#8230;</p>
<p><img src="http://i241.photobucket.com/albums/ff158/ndop/pempekhaitekndopongki.jpg" alt="makan pekmpek di haitech mall " /></p>
<p>Langsung deh disantap. Pempeknya terasa kecut banget. Seperti pencit mangga. Hohoho.. Malahan kalau menurut kami, lebih enakan kecutnya pencit mangga dari pada kecutnya kuah pempek ini.</p>
<p>Namun, yang namanya lapar, apa aja rasanya, tetep di makan to ya. Apalagi saya, yang <a href="http://dzofar.com/2008/11/20/pengen-gemuk/">pengen gemuk</a> ini. </p>
<p>Beberapa menit berlalu, rasa kecut semakin tak tertahankan. Kami pun istirahat makan dan ngobrol-ngobrol. Si ongki sudah nggak mood makan lagi. Nyerah dia. Saya masih lanjut, <em>demi sesuwap daging™</em>, saya harus bertahan menghadapi cobaan ini. Tak henti-hentinya saya menyugesti diri saya sendiri bahwa yang saya makan ini adalah <a href="http://dzofar.com/2008/03/09/warung-pecel-mbok-iro/">nasi pecel mbok iro</a> favorit saya, atau <a href="http://dzofar.com/2008/12/13/krupuk-pecel-bu-penik-nganjuk/">krupuk pecel bu Penik</a> dan <a href="http://dzofar.com/2009/04/04/warung-pecel-spesial-mbak-yun-nganjuk/">mbak Yun</a> di Nganjuk. </p>
<p>Yes, dengan sugesti itu, akhirnya saya berhasil menghabiskannya&#8230;</p>
<p><img src="http://i241.photobucket.com/albums/ff158/ndop/pempek-habis.jpg" alt="pempek habis dimakan ndop" class="alignleft" style="margin-right: 10px"/>Bagaimana dengan ongki? dia ternyata sudah tidak kuat sodara-sodara. Wow, diam-diam saya merasa bangga dengan prestasi ini. </p>
<p>Ongki itu khan tubuhnya gedhe ya, untuk menopang badan segedhe itu, khan musti banyak makan. Mungkin karena rasa kecut yang memang tak tertahankan itu, sampai-sampai sugesti yang saya kirimkan ke otaknya tidak berhasil membujuknya. </p>
<p>___</p>
<p>Ongki menuju tukang pekmpek. Saya mengikutinya di belakang. Ketika bertanya harga, kami sempat shock mendengar jawabannya!</p>
<p>&#8220;Lima tiga!&#8221;</p>
<p>OMAIGOOOSHHH!!! dua tiga apa lima tiga? kami mengulangi tanya lagi&#8230;</p>
<p>&#8220;Lima tiga, Mas!&#8221;</p>
<p><em>DIEEENG!!! Mak gedebuk jerantal!!</em> Tangan ongki pun gemetaran mengularkan duwit berwarna biru yang masih sangat rapi dari dompetnya. Lalu diambilnya tiga lembar uang ribuan yang lusuh dan menyerahkannya ke tukang pekmpek dengan lemes dan pasrah menerima keadaan dan cobaan yang menimpa dirinya dan diriku.</p>
<p>___</p>
<p>Tak henti-hentinya bibir kami beradu saling menyumpah-nyumpah penjual pempek tadi. </p>
<p><em>&#8220;Waduh ngki, sumpah ya, kapok aku mangan pekmpek nang kene.&#8221;<br />
&#8220;Wis rasane kecut, gak ntek pisan.&#8221; Gumam ongki.<br />
&#8220;Lha iyo, kok yo luarang men to yo.. yo.. mosok panganan mung glepung dicampur <strike>ndop</strike> ndog sak iris wae kok seked ewu men&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Lha iyo.. kapok pok pok..&#8221;</em></p>
<p>___</p>
<p>Di dalam len, saya iseng sms temen. <em>Maklum nggak pakek paklum dulu™</em>, si ongki khan berada di depan di sebelah sopir, saya berada di dalam len. Dari pada bengong, saya sms-an dengan teman. Langsung cerita mengenai pekmpek tadi. </p>
<p>Temanku bukannya mendukung kami yang telah tertimpa musibah ini, malahan dia menertawakan kami berdua. Gimana mau nggak tertawa, lawong ternyata pekmpek itu <strong>itungannya bukan porsi</strong>, melainkan <strong>perbiji</strong>!!</p>
<p>Waddoh biyung, pantesan harganya membengkak begitu. Perbijinya tadi saya baca rata-rata 7500 rupiah. Jadi jadi jadi&#8230; huwaaa&#8230; pantesan tadi yang jualan seneng banget gitu, sumringah melihat kedatangan kita berdua. Hohoho&#8230;</p>
<p>Harusnya khan mengatakan, &#8220;Ininya satu, ininya satu.. &#8221; Sambil nujuk-nunjuk makanan glepung dengan berbagai bentuk yang tertata rapi. </p>
<p>Bukannya bilang, &#8220;Pekmpeknya dua mas&#8230;&#8221;</p>
<p>Mungkin mas tukang pekmpeknya bingung, ini orang tau pekmpek apa nggak ya? Setelah yakin kalau kami nggak ngerti, langsung deh dimanfaatin sama masnya.. Hohoho&#8230; apes deh&#8230;</p>
<p>Jadi pelajarannya adalah:</p>
<ol>
<li>Masalah membeli makanan, mendingan tanya harga dulu, semakin banyak tanya semakin baik</li>
<li>Hilangkan sifat sok kaya! Yah, apes deh, kirain harganya berkisar 10 ribuan gitu, ternyata&#8230; beuh beuh beuh&#8230;</li>
<li>Bawa duwit banyak kalau mesen makanan. Sapa tau nanti pas mbayar, yang jual bilang begini, &#8220;Itu kuning telurnya dilapisi emas, jadi wajar dong kalau nasi telur ceploknya 500 ribu!!!&#8221;</li>
<li>Pasang tampang melas dan tampang lusuh. Biar ada alasan untuk ndak kuat bayar nasi telur ceploknya. Loh, ini lagi mbahas telur ceplok apa pekmpek?</li>
</ol>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2009/12/21/wisata-kuliner-nganjuk-nasi-pecel-bledek/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Wisata Kuliner Nganjuk: Nasi Pecel Bledek!" >Wisata Kuliner Nganjuk: Nasi Pecel Bledek!</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Halo halo halo... untuk memenuhi kebutuhan jasmani, kita perlu yang namanya makan. Dan untuk memenuh...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2007/12/11/audisi-indonesian-idol/" rel="bookmark" title="Permanent Link: AUDISI INDONESIAN IDOL" >AUDISI INDONESIAN IDOL</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Sik, tak ngguyu disik… (wahahahaha…)

Sopo ndop sing melu audisi Indonesian Idol?? Koncomu yo?? ...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2009/01/13/in-memoriam-berlina-jadi-layouter-tabloid/" rel="bookmark" title="Permanent Link: In Memoriam Berlina: Jadi Layouter Tabloid" >In Memoriam Berlina: Jadi Layouter Tabloid</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Dahulu kala adik-adikku, aku pernah lo jadi seorang layouter tabloid. Nama tabloidnya lumayan ekstri...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2008/03/18/wong-ndeso-mangan-pizza/" rel="bookmark" title="Permanent Link: WONG NDESO MANGAN PIZZA" >WONG NDESO MANGAN PIZZA</a></span></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2010/07/30/selamat-ulang-tahun-buat-saudara-ndop/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Selamat Ulang Tahun Buat Saudara Ndop" >Selamat Ulang Tahun Buat Saudara Ndop</a></span></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzofar.com/2009/06/17/wong-ndeso-makan-pekmpek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>58</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WONG NDESO MANGAN PIZZA</title>
		<link>http://dzofar.com/2008/03/18/wong-ndeso-mangan-pizza/</link>
		<comments>http://dzofar.com/2008/03/18/wong-ndeso-mangan-pizza/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 14:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ndp</dc:creator>
				<category><![CDATA[pengalamannya ndöp™]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumu'an™]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[mall]]></category>
		<category><![CDATA[melukis]]></category>
		<category><![CDATA[pensil]]></category>
		<category><![CDATA[pertama]]></category>
		<category><![CDATA[pizza hut]]></category>
		<category><![CDATA[traktir]]></category>
		<category><![CDATA[wong ndeso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ndopyangkonyol.wordpress.com/2008/03/18/wong-ndeso-mangan-pizza/</guid>
		<description><![CDATA[<a href=http://dzofar.com/2008/03/18/wong-ndeso-mangan-pizza/><img src=http://bp1.blogger.com/_7ig_RSTWayY/R-O9vlOeyPI/AAAAAAAAAas/2iL1LzMpSHE/s400/pizza2.jpg class=imagebox hspace=5 align=left width=130  border=0></a>In memoriam 25 Nopember dua ribulima dolo… Menepati janjinya mbak Asfa, kutulislah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu ketika diri ini masih sangat awamnya dengan makanan-makanan kota yaitu Pizza. Fainnelli alias akhirnya, si ndop yang katrok pun mencoba yang namanya Pizza. Setelah 22 Tahun makanannya itu-itu saja. Tahu tempe, jangan bening, jangan asem, jangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_7ig_RSTWayY/R-O9vlOeyPI/AAAAAAAAAas/2iL1LzMpSHE/s1600-h/pizza2.jpg"><img style="float:right;cursor:pointer;margin:0 0 10px 10px;" src="http://bp1.blogger.com/_7ig_RSTWayY/R-O9vlOeyPI/AAAAAAAAAas/2iL1LzMpSHE/s400/pizza2.jpg" border="0" alt="" /></a>In memoriam 25 Nopember dua ribulima dolo…</p>
<p align="left">Menepati janjinya mbak Asfa, kutulislah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu ketika diri ini masih sangat awamnya dengan makanan-makanan kota yaitu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pizza">Pizza</a>.</p>
<p align="left">Fainnelli alias akhirnya, si ndop yang katrok pun mencoba yang namanya Pizza. Setelah 22 Tahun makanannya itu-itu saja. Tahu tempe, jangan bening, jangan asem, jangan bobor, jangan lombok de el el. Yang kesemuanya notabene adalah makanan ndeso. Eee… di sore hari yang teduh tapi masih terasa hangat itu, kami berdua, si endop dan <a href="http://aathena.blogspot.com/">Flypucino</a>, jum&#8217;at-jum&#8217;at sedang sumringah-sumringahnya menaiki lyn O menuju Delta Plaza. Sebenanya sayalah yang sangat sumringah, karena entah kenapa si Asfa menraktirku ke Megdi (<a href="http://www.mcdonalds.com/">Mc. Donald</a>, red.) Jum&#8217;at itu. Setelah dipikir-pikir, jasaku yang nggak seberapa itu kok kayaknya terlalu dibayar mahal oleh <a href="http://aathena.blogspot.com/">mbak Asfa</a> yang puas dan sumringah setelah melihat pesanan gambarnya jadi di luar ekspektasinya…</p>
<p align="left">Seperti yang tertulis **dengan tulisan ceker ayam** di buku agendaku.. **halah, sebut aja diary, kok pakek ngeles segala**….</p>
<p align="left">
<blockquote><p>… adalah Asfa, de&#8217;e nraktir aku gara-gara de&#8217;e tak gambarne wajahe pacare. Jarene sih, uapik dan karakternya terlihat di goresan potelotku.</p></blockquote>
<p align="left">Hnnah, apa itu tidak berlebihan??</p>
<p align="left">
<div class="fullpost">Padahal yang saya lakukan hanya mencontoh print-print-nan yang dikasihkan ke guweh. Kupenthelengi (kuamat-amati, red.) gambarnya, trus kuturuti aja naluri ini menggerakkan jari-jemariku menggoreskan sedikit demi sedikit, setip demi setip, kertas demi kertas… **hehehe.. aku bikinnya berulang-ulang… gara-gara kakehan nyetip, dadi kertase gak alus, ganti dengan yang baru…**</p>
<p align="left">Dan akhirnya…. Taraaaa….. terjadilah kegemparan di dunia persilatan!!!</p>
<p align="left">Jadilah pesanan gambarnya si Asfa Flypucino itu (eh, ndak tahu aku, kenapa dia kok menjuluki dianya sendiri dengan flai_puchi_nouw).<br />
Aku kernyiti, aku plototi, kubandingkan dengan gambar prin-prinan, ah, kayaknya sudah jadi deh..</p>
<p align="left">Kuulangi lagi… udah ah… besok dikasihkan langsung aja, ini sudah maksimal… bilang aja sudah mentok.. lagian tenaga ini sudah habis buat mikir, boyok ini merindukan kedatangan tukang pijet, jari jemari ini ingin segera dilerenkan karena emang pegal setelah 3 jam menggambar…</p>
<p align="left">Keesokan harinya….</p>
<p align="left">Dan ternyata di luar dugaanku. Dia pun juga menerima hasil di luar dugaannya…<br />
Dan kami pun sama-sama merasakan kejadian di luar dugaan…</p>
<p align="left">Dia seneng banget, saya ikut-ikutan semringah **worth it dengan segala perjuangan mendeliknya moto ini ketika menggambar, mencocokkan goresanku dengan gambar prin-prinan yang maha kabur itu… juga lampu kos-kosan yang tidak mendukung penerangan yang mantab**</p>
<p align="left">Toh, kalau dia nggak sumringah pun, aku juga nggak papa. Soalnya sudah sering begitu. Nggambar susah-susah sampek selesai jam dua pagi, dibilangin, &#8220;lho, kok gak mirip???&#8221;. Padahal menurutku mirip banget. Juga pernah nggambar lamaa banget, nggak direspon sama sekali. Yaa.. namanya seni, tiap orang punya selera masing-masing. Termasuk saya.</p>
<p align="left">Kembali ke jalan yang lurus…</p>
<p align="left">Nggak banyak cingcong… dia langsung menawari aku makan terserah semauku. Namanya wong ndeso, mumpung ditawari semauku, bayanganku langsung Megdi. Oke deh, kita lalu bikin janjian berangkat bareng..</p>
<p align="left">Pulang ke kosan, jum&#8217;atan..</p>
<p align="left">Sehabis Jum&#8217;atan, aku langsung menyiapkan baju apa yang akan saya pakek. Aku nggak mau malu-maluin. Walaupun aku orang ndeso akademia wakil dari <a href="http://www.blogger.com/www.nganjukkab.go.id">Nganjuk</a> siti, aku harus membawa sitiku dengan sebaik-baiknya di kota besar macam Surabaya yang entah ndak tahu kenapa, orang Surabaya itu, kok selalu ngenyek (menghina, red.) orang Nganjuk ya??? Padahal Nganjuk lebih senior lo… bukan lagi senior, Nganjuk itu mbah-mbahe udeg-udeg gantung siwure Surabaya. Secara umurnya sekarang sudah seribu lebih. Lha Surabaya masih beberapa ratus kilo bait saja. (eh, tahun maksutnyah!)</p>
<p align="left">Kita kembali ke jalan yang lurus…</p>
<p align="left">Aku meninggalkan kos-kosan dengan langkah mantab. Sengaja nggak makan dolo. Biar nanti perutnya dibales-dendami ama hidangan Megdi..</p>
<p align="left">Eeh… hapeku yang udik berbunyi.. ternyata ada esemes.. isinya kurang lebih si Asfa sudah naik len menuju Gebang.</p>
<p align="left">Kupercepat langkahku. Yang tadi kusetting tiga perempat meter perlangkah, sekarang jadi satu meter. Dan… kol kuning itu pun mulai terlihat di ujung jalan gebang putih sana… itu paling lennya Asfa&#8230;</p>
<p align="left">Ketika kol itu mendekat, kutengok-tengok isinya, eeh… itu dia ada di dalam. Ternyata dia juga sedang tengok-menengok ke luar. Alhasil ketika mata kita bertemu, semua menunjukkan ekspresi yang sama, yang kira-kira kalo diterjemahin dalam bahasa perasaan… &#8220;Eh, lawi…&#8221; atau &#8220;lha, dala…&#8221; atau &#8220;nah, itu dianya!!&#8221;</p>
<p align="left">Aku harus memasuki len itu dengan rukuk sambil berjalan pelan-pelan. Sembari mengamati setiap kaki yang ada di bawah supaya nggak sampai terinjak oleh sandalku yang gedhe. Untungnya secara otomatis, penduduk len langsung merepet-merepet sekenanya supaya aku bisa dengan mudah melewatinya. Juga mungkin orang-orang di situ nggak mau berurusan dengan sentuh-menyentuh anggota badan yang belum jelas kehiginisannya. Aku juga begitu.</p>
<p align="left">Beberapa saat kemudian… **bilang aja setengah jam kemudian… kok repot!!**</p>
<p align="left">Kami berganti len E. Sebenarnya, kuat si kalau jalan kaki ke delta, tapi kami kompak menjadi gengsi sesaat. Namanya aja traktiran. Masa musti jalan kaki dulu… emangnya mau pulang kampung appah. Kalau pulang kampung kan turun len O langsung jalan kaki ke Gubeng… kira-kira sekilo bait. Eh sekelo meter maksudnya!</p>
<p align="left">Sok ngejagain, aku pun berada di depan Asfa menuju <a href="http://www.deltaplazamall.com/">Delta Plaza Suarabaya</a>. **biar berasa menyebrangkan geto… hehehe.. padahal khan dia bisa nyebrang sendiri.. dia juga lebih berpengalaman di jalan tinimbang aku. Secara dia pernah dinobatkan menjadi Ratu Track se Kertosono siti!!**</p>
<p align="left">Eee… betul.. akhirnya dialah yang menyalipku menyeberang ketika kami sudah sampai di tengah-tengah jalan… hihihi.. betapa malunya aku. Dengan mengayun-ayunkan tangan kirinya, dia berhasil menyulap kendaraan-kendaraan yang sombong itu untuk mengurangi kecepatan… dan dengan beberapa langkah kaki setengah berlari kami, akhirnya sampailah ke pintu masuk mol.</p>
<p align="left">Untungnya si <a href="http://profiles.friendster.com/heruwidianto">Heru Widianto</a> sering-sering ngajak aku ke mol. Alhasil, rasa grogi sudah berangsur-angsur ilang. Juga sudah nggak perlu lagi kikuk ketika menaiki eskalator. Mungkin yang aku masih bingung waktu itu adalah toiletnya. Apalagi yang pakek acara duduk segala itu.. bukan ndodok alias jongkok kayak di kampung gue, aku berasa gimanaa… masak kok nggak ada airnya buat cebok sih… ternyata e ternyata, ada untungnya <a href="http://dzofar.com/2008/02/17/audisi-indonesian-idol-2008/">ikutan Indonesyen aideul</a> kemarin, aku jadi tahu caranya makek tuh toilet aneh. Walaupun aku nggak mencobanya langsung, soalnya njijiki alias nggilani, nggak mantab kalau nggak ada bak mandinya yang beratus-ratus liter kayak di rumah gue. Alhasil, eksperimenku mencoba-coba toliet duduk itu, berakhir dengan manggut-m<br />
anggutnya kepalaku tanda paham disertai bercecernya air hasil semprotan toliet itu di lantai yang seharusnya kering… hehehe… dasar wong ndeso.. nggak bisa mbayangin kalau aku sedang duduk di situ dan disemprot pakek air itu… hihihi.. pasti geli rasanya.. xixixi… nggak mau ah.. ntar acara duduk manisku berubah jadi cekikikan yang menggemparkan dunia persilatan seantero jagat raya!!</p>
<p align="left">Sinar lampu di dalam mol terasa begitu terangnya. Sampai-sampai nggak ada bedanya antara siang dan malam kalau sudah di dalam mol. Pertama sih, si Asfa melihat-lihat di outlet merek luar negeri.. Yang jaga, orangnya tinggi-tinggi. Untung tinggi badanku nggak se-ndeso asalku. Juga Asfa. So, kami memang tidak mewakili tinggi badan orang Indonesia pada umumnya… so, lumayan mecing kalau masuk otlet merek luar negeri. **wuih sombongnya, mentang-mentang tinggi!!**. At liiz, nggak dikira salah masuk gitu sama pelayannya. Cuman kalau mereka melihat kulit, waduh kalau yang ini nggak bisa bo&#8217;ong kalau aku asli kulitnya wong Tulungagung blesteran Nganjuk. Yaa.. coklat nom, sawo-sawo mateng ngono lah. Rodok nggilap titik nek kenek srengenge (matahari, red). Tapi kami berdua memang sudah membawa bekal pede segrangsing kok dari Nganjuk dan dari Kertosono.</p>
<p align="left">Ehm, akhirnya tibalah acara yang ditunggu-tunggu… makan!!!</p>
<p align="left">Eit, sudah magrib. Kami pun (untungnya) ingat sama Yang di Atas (baca: Alloh Subhanahu Wata&#8217;ala), kami sholat dulu. Hnaah, atas usul Asfa, kami pun sholatnya di Mc.D.</p>
<p align="left">Tapi, ketika setelah sholat, mood kami untuk makan di sini (baca: Mc.D) kok ilang. Soalnya udah berasa mampir sih, walau cuma sholat doang…  Sholat gratis! (yee.. di mana-mana yang namanya sholat gak ada yang bayar… kencing aja yang sok, pakek bayar segala. Padahal air yang dipakek wudlu itu lebih banyak dibanding yang dibuat cebok.. lagi-lagi yang dibahas cebok..)</p>
<p align="left">Akhirnya setelah berbasa-basi sedikit dengan jurus keluguan orang ndeso, akhirnya saya berhasil membujuk Asfa dengan mudah untuk masuk ke <a href="http://www.pizzahut.com/">Pizza Hut</a>. Dengan alasan yang super ndeso, yaitu &#8220;selawase urip rung tau mangan Pizza&#8221;.</p>
<p align="left">Susana di dalam warung Pizza itu sangatlah membuat diriku merasa ndeso di segala penjuru. Di sini saya benar-benar asing. Mulai meja makan, dindingnya yang warna-warni, lampu-lampunya yang kuning teduh itu, sofa-sofa empuk, orang-orangnya, eh, di sebelah kananku kira-kira tiga meteran, ada sepasang muda belia sedang pegang-pegangan, saling pandang, tertawa keciiill…mukanya berbinar-binar… Aku kayak sedang menonton sinetron-sinetron di tipi tapi di dunia nyata.</p>
<p align="left">Masnya pelayan restoran datang. Aku pun agak-agak jaim-jaim dikit (I hate this situation!!). Ia menyodorkan menu-menu. Dan sudah bisa ditebak, saya dan Asfa pun hanya berbekal pengetahuan iklan di tipi mengenai menu-menu yang disajikan di sini. Akhirnya, bukannya milih menu, tapi milih harga! Tentunya yang pas sama kantong kering kita, atau lebih tepatnya, kantongnya Asfa. Karena nggak enak, karena aku yang ditraktir, aku usul pilih yang menu 1 delight berdua saja.</p>
<p align="left">Beberapa menit, nggak lama. Kami pun disodori 4 potong roti kering tapi basah (halah, pegimane si maksutnya??). Namanya Garlic Bread. Rotinya emang kering, tapi ada kayak menteganya geto due..</p>
<p align="left">Rasanya?? Gurih, hangat, renyah, standar lah, kayak roti-roti di acara nikahan. Lebih enak donat. Lebih enak gulai sate. Lebih enak krupuk sambel…</p>
<p align="left">Beberapa menit lagi, nggak lama lagi, si roti pipih ndledek dan cocacola itu datang… mmm… nggak sabar… pelayan mengucapkan silakan.. aku langsung terdiam… melamun sejenak sambil memandangi roti itu… **Nggak pernah sampai terbayang akan merasakan Pizza… dulu aku hanya bisa menonton bentuk Pizza itu di tipi.. dan kayaknya nggak mungkin bisa merasakan tuh roti kapan pun.. karena memang nggak terpikirkan bagaimana punya duit buat beli roti mahal ini.. dan kalau pun punya duit, pasti bukan untuk dibelikan roti ini.. **</p>
<p align="left">Sebelum memakannya, aku amati dulu peralatan yang ada di situ. Alat-alat ini nggak mungkin nggak beguna. Ini pasti musti dipakek. Si Asfa sudah makan dengan caranya sendiri. Aku masih termangu berfikir bagaimana bisa mengoptimalkan alat-alat yang ada di meja putih di depanku ini. Dan mataku pun bergerak mengelilingi ruangan. Kedua belia itu masih berbincang-bincang lirih… dan tetap makan dengan caranya sendiri. Akhirnya aku menemukan sebuah keluarga yang pesen Pizza gedhe.. kuamati apa yang dia lakukan. Keluarga itu kayaknya sudah berpengalaman. Oo… ooo…. Gumamku sambil memraktekkan… aduh, lama-lama grogi juga ya? Mau makan kok pakek grogi…</p>
<p align="left">Kubuka mulutku… kumasukkan potongan Pizza yang telah kuiris kecil-kecil dengan menggunakan pisau… aem… aku memakannya sesopan mungkin. Sangat pelan. Mmm…. Mmm….. begini toh rasanya roti mahal… pantesan mahal, lawong sedikit saja rasanya sudah kenyang.. kalau dibandingkan dengan panganan ndeso kayak sego pecel, emang worth it sih.. semua vitamin dan mineral (halah!) ada di sepotong roti itu. Sosisnya, Kejunya, jagungnya, wortelnya, trus ada sensasi kriuk-kriuknya, aroma panggangannya… waow..!! huwennak tenan wis. Aku jadi rada-rada ragu ama pendapat orang yang katanya pernah nyobain Pizza. Dia bilang Pizza itu neg, nggak enak, mbeler-mbeler nggilani, kudu muntah ngliatnya, dll. Kalau saya bandingkan dengan apa yang saya rasakan sekarang, aku jadi ragu, jangan-jangan mereka-mereka yang bilang itu sebenarnya nggak pernah makan Pizza.. cuma gengsi doang, biar dikira kaya.. trus sok belagu di depan orang ndeso kayak gue (wong ndeso kok ngomongnya &#8220;gue&#8221;??)</p>
<p align="left">Pernah suatu ketika, pas aku ikutan Aideul. Namanya Aideul, tentu gengsi dong ngomong ceplas-ceplos pakek bahasa ndeso. Dan aku pun berhasil menjebak seorang cewek yang bahasa Indonesianya ceplas-ceplos. Lancar banget. Sok banget. Aku jelas-jelas nggak percaya 90 persen kalau tu cewek bener-bener orang Bandung atau Jakarta. Akhirnya aku iseng aja nanya asalnya. Yang namanya audisi Surabaya, tentu saja pesertanya nggak jauh-jauh dari Surabaya. Mojokerto kek, Krian kek, Sidoarjo kek, Nganjuk kek (eh, kotaku tersayang disebut!!), Kediri..dll. Dan ternyata memang firasatku benar, dia dari Krian. Glodak! Gillaa… gengsi banget tuh cewek. Mana tak ajak bahasa Jawa njawabnya Bahasa Indonesia lagi… lha, aku kan ilate wong ndeso, isone ngomong Jowo karo English sajjah!! Rait??!! **pengen muntah**</p>
<p align="left">Pizza itu ditarus di atas layah yang masih sedikit panas. Aku yang ngarti, iseng aja megang. Orang iseng memang banyak untungnya. Jadi tahu sembarang-mbarang. Coba kalau aku nggak megang tuh layah, 20 tahun kemudian pun aku nggak bakalan tahu kalau tuh layah masih panas. Berkat keisengan itulah, aku jadi saling bertanya sama Asfa. &#8220;eh, Fa, iki dingge opo yo??&#8221; sambil memegang pisau yang bening itu.</p>
<p align="left">&#8220;Mboh yo? Cobak ae..&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;Sik, tak ndelok-ndelok wong-wong, apa yang dilakukan wong-wong kambek piso iki..&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;….&#8221;, masih makan Pizza secara manual.</p>
<p align="left">&#8220;Ooh, ngene lo Fa… ,&#8221; sambil tangan kanan memegang piso, tangan kiri memegang garpu. Menancapkan garpu ke roti, mengiris roti pake piso. Dan taraa… aku bisaaa….</p>
<p align="left">Asfa tersenyum… dalam hatinya, &#8216;Waduuh.. cah ndeso sitok iki kok ngisin-ngisini toh, tolah-toleh, plilak-plilih, aku tak ndingkluk ae lah.. isin aku&#8217;</p>
<p align="left">
<p align="left">Selesai juga makan Pizzanya, kami langsung jalan-jalan keliling-keliling Delta, kebetulan Asfa sudah familier sama Delta. Aku ngikut aja. Breeett…brreett…. Tuut… ttiiitt… pet! Aku pencet lah tombol hape yang mana saja tanpa perlu mengeluarkannya dari saku celana sebelah kananku. Suaranya yang 3 oktaf itupun mati. Baru kurogoh, kukeluarkan.. eh, ada sms dari mbak. &#8220;Ndop, nek awakmu mlaku-mlaku nang mol, titip kaos murah nang Matahari utowo Ramayana. Sing murah ya, sing diskonan&#8221;.</p>
<p align="left">&#8220;Fa, nang Matahari yuk?&#8221;</p>
<p>n=&#8221;left&#8221;&gt;&#8221;Ayyuk!&#8221;</p>
<p align="left">Langkah kita besar-besar. Jadi cepet sampek. Di <a href="http://www.wisatanet.com/templete/index.php?wil=2&amp;id=000000000000810&amp;idnews=4540">Matahari</a>, nggak langsung menuju TKP (baca: umbruk-umbrukan). Tapi iseng-iseng dulu liat yang di depan mata. Yang pertama dicari pasti harga! Model ke sekian. Kadang, kalau strip harganya bersembunyi nggak kliatan, aku jadi sibuk membolak-balik bajunya. Kalau perlu sampai dirogoh-rogoh ke dalam… eee… tibaknya strip harganya di bawah.. Dieng!! Mahal banget!! Gak sido…</p>
<p align="left">Ah, bosen, mahal-mahal semua. Langsung ke TKP aja…</p>
<p align="left">Aku dan Asfa mengaduk-aduk isi kolam kaos itu. Diaduk sana-sini.. kayak milih undian berhadiah. &#8220;Eh, iki apik gak Fa?&#8221;</p>
<p align="left">&#8220;mm… mbakmu sak piro wonge?&#8221;<br />
&#8220;mm.. sak podho Sopik, tapi rodok duwur.&#8221;<br />
&#8220;Keciliken….&#8221;</p>
<p align="left">Asfa pun mencarikan….</p>
<p align="left">&#8220;Iki lo Ndop.. apiik….&#8221; Katanya sambil memperlihatkan kaos warna lorek-lorek.ijo putih.<br />
&#8220;Kok koyok napi ae, Fa,&#8221; Padahal waktu itu motif begituan yang lagi tren.<br />
&#8220;Iki lo Fa, Apik,&#8221; sambil mengangkat kaos bermotif distro berwarna ijo kalem sablonan ijo tua kalem juga.</p>
<p align="left">&#8220;mm… lumayan…,&#8221; Woalah Ndop, Ndop, pilihanmu kok gak ngetren blas to…<br />
&#8220;Iki ae wis&#8230; murah meriah, delapan belas ribu.&#8221;</p>
<p align="left">Aku menunggu Asfa yang juga pingin beli kaos..</p>
<p>Kami berdua pun melenggang sambil menenteng tas masing-masing. Mukaku sumringah banget. Sambil menggoyang-goyangkan tas kresek bertuliskan &#8220;matahari&#8221; itu… mungkin, kalau aku sekarang berada di Nganjuk, pasti bakalan menaikkan derajatku sebagai anak gaul. Karena kalau di Nganjuk, anak yang bawa tas kresek putih berlingkaran ijo matahari itu, berati orang kaya dan gaul. Sampai-sampai, tas itu di simpan di dalam lemari. Dan dipake lagi kalau belanja ke kota Nganjuk. Alhasil, toko-toko pakean di Nganjuk pun banyak mencontoh dizain tas matahari itu… tapi bahannya kayak tas kresek biasa…</p>
<p align="left">Sekarang giliranku mengantarkan Asfa beli Flashdisk titipan temenku juga. Dapet merek Sony 128 MB, 143 Ribu. Masih mahal dibanding sekarang. Sekarang beli FD sama dengan beli kacang godok. Murah meriah.</p>
<p align="left">Lanjuut…</p>
<p align="left">Sekarang giliranku lagi, aku nggak nahan untuk lihat-lihat kaset.. ayoh ke toko kaset. Kalua sudah di toko kaset begini, aku lama banget. Lihat cover-cover kaset yang maha dizain itu, cek album teranyar, best seller. Kalau sudah selesai, baru deh mencari-cari yang mau dibeli. Tahu nggak kaset apa yang aku beli? Kaset <a href="http://www.blogger.com/www.bjork.com">Bjork</a>? Bukan, soalnya sudah dicari pentelitan nggak ketemu. Mariah Carey? Sudah banyak bajakannya di rumah. Apa dong??</p>
<p align="left">Yaitu…</p>
<p align="left"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tetty_Kadi">Tetty Kadi</a></p>
<p align="left">
<p align="left">Hehehe.. aku suka juga lo sama Tetty Kadi… hehehe.. berasa tua ya.. yaa.. terkadang seleraku memang sangat aneh. dan tahu nggak untungnya beli kaset-kaset lama. Harganya itu lo murah meriah. Sekeping kaset Tetty Kadi asli, orijinal, harganya duabelas ribu limaratus saja. **sekarang lagi hanting empithrinya Tetty Kadi nggak dapet-dapet**</p>
<p align="left">yess.. akhirnya petualangan kami pun berakhir dengan kegembiraan. semua pada menenteng tas pembelanjaan masing-masing. Fiuh.. lelahnya&#8230;</p>
<p align="left">pulang ke kosan, lelah banget. langsung nguantuk berat. tapi masih sangat semangat. akhirnya agar semangatnya habis, aku cerita-cerita dengan si Wiwit yang kecil. tak pameri rasanya Pizza. hehehe.. maklum dia juga dari ndeso. justru lebih ndeso dari aku. dia berasal dari Nganjuk ndeso. lha aku khan Nganjuk kutho&#8230;</p>
<p align="left">cerita panjang lebar sudah selesai.. mata ini nggak mau kompromi&#8230; zzz&#8230;zzzz&#8230;<br />
***perut kenyang langsung lelap nggak pakek mimpi***</p>
<p align="left"><span><span>buat postingan kali ini, Ai Wud Laik Tu Thankz Tu </span><a href="http://www.friendster.com/57147904">Asfa Agustina Nusba Aini</a><span> atas traktirannya yang emaizing!! seumur idup baru sekarang booo&#8230;.. berton-ton thankyu buat lo Fa&#8230; tetap ber-Nganjuk ria yah!!!</span></span></p>
<p align="left">
</div>
<div class="aizattos_related_posts"><span class="aizattos_related_posts_header" >Related Posts</span><ul><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2009/10/24/harga-sate-yang-aneh/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Harga Sate Yang Aneh" >Harga Sate Yang Aneh</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Saya punya cerita menarik nih sodara-sodaraku. Ini terjadi pas saya dan teman kos saya beli sate di ...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2009/05/25/kenangan-masa-kecil-di-gedung-juang-nganjuk/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Kenangan Masa Kecil di Gedung Juang Nganjuk" >Kenangan Masa Kecil di Gedung Juang Nganjuk</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">Ini lo Gedung Juang 45 Nganjuk itu. Nggak usah membahas sejarahnya ya, soalnya saya belum lahir pas ...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2007/11/29/daging-rusa-enak/" rel="bookmark" title="Permanent Link: DAGING RUSA, enak??????" >DAGING RUSA, enak??????</a></span><div class="aizattos_related_posts_excerpt">

peh, peh peh, jan rasane DAHSYAT!!!

GAK UUUUEENNAK POLL!!!

pertama-tama sih rasane gurih jan sak...</div></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2009/09/23/happy-idul-fitrop-eh-fitri-ding/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Happy Idul Fitrop Eh, Fitri ding&#8230;" >Happy Idul Fitrop Eh, Fitri ding&#8230;</a></span></li><li><span class="aizattos_related_posts_title"><a href="http://dzofar.com/2009/06/17/wong-ndeso-makan-pekmpek/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Wong Ndeso Makan Pekmpek" >Wong Ndeso Makan Pekmpek</a></span></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dzofar.com/2008/03/18/wong-ndeso-mangan-pizza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

