Menduniakan Madura: Blusukan ke Goa Mahakarya

goa mahakarya

What? Di Madura ada Goa?

Iya ternyata loh! Aku sempet shock, kirain ini nanti pas di Madura cuma disuruh ngelihat pantai-pantai dan pantai. Ternyata ada air terjun!

Trus pas di pulau oksigen, aku kira juga sama, diajak ke pantai-pantai dan pantai, sama menghirup oksigen doang, eh ternyata diajak ke Goa segala! Wow, jadi penasaran khan ya.

Jadi setelah sampe ke Pulau Giliyang, dengan cara menyeberangi lautan dari pelabuhan Dungkek, Sumenep, kami langsung diangkut pakai sepeda motor roda tiga (odong-odong), yang muat dinaikin 8 orang, dengan asumsi bokongnya gak oversize ya haha. Menuju ke homestay.

sepeda motor roda 3

Sepeda motor roda tiga, alias odong-odong.
Odong-odong ini bisa disewa (plus sopirnya)
125 ribu saja perhari.

Di perjalanan, kami melewati jalanan yg sudah dipaving. Jadi, sudah gak ada lagi jalanan becek ya. Ternyata BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu) lah yg membangun ini semua. Keren!

jalan paving

Jalanan sudah dipaving

Beberapa menit kemudian, sampailah ke homestay.

homestay BPWS

Homestaynya tradisional modern gituh yah! Keren!
Sewa 1 kamar di homestay ini 125 ribu/hari.

Homestay di atas ternyata juga dibangun sama BPWS loh! Dan uniknya, di sini masih pakai solar cell (pembangkit listrik tenaga sinar matahari), jadi listrik kalau pagi sampe sore akan mati. Sore sampe pagi menyala lagi. Jadi wajib bawa powerbeng ya kalau ke sini!

Para Blogger langsung ngedip-dipi tempat tidur. Diriku langsung membaur dengan blogger Pontianak. Sama kayak pas di Sampang kemarin. Maklum sudah ngerasa asyik aja. Haha.

Karena sudah lewat waktu makan siang, para blogger harus segera siap-siap untuk diajak ke rumah Ki Ageng Ropet untuk makan. Duh, baru saja ndeleh tas, baru saja mau leyeh-leyeh. Eh tapi memang laper juga sih. Ayuk segera budal! Saya yakin sudah disiapkan sejak tadi ya. Sorry ya kak Ropet. Semoga sayurnya gak mbetetek. Hehehe.

Naik odong-odong lagi.. Yay! Haha

Sampe di kediaman Ki Ageng Ropet yang ada bandulannya, temen-temen langsung menyerbu makanan yg sudah terhidang! Eh lucuk ya, wadahnya serba hijau!

makan yuuuk

Masih ya, daun kelor dan ikan sebagai sayur andalan!

Setelah kenyang, terjadi perdebatan sedikit tentang lokasi wisata mana yg akan dikunjungi sore ini. Tujuan sebenarnya adalah ke Batu Cagak, tapi karena habis hujan, licin, bahaya, jadi sangat tidak rekomendid!

Yasudah kami pun manut sama panitia saja. Maka dipilihlah ke Goa Makariya alias Goa Mahakarya! Oke deh Pan! Yang penting piqenique! Bhahaha..

Naik odong-odong lagi.. Yay! Haha

naik odong odong

Umpel-umpelan tapi hepih! Haha

Odong-odongnya kecepatan penuh nih. Agak ngeri juga soalnya jalanan sempit cuma 1,5 meter saja. Pas menggok juga pakai ngepot dikit. Seru-seru asyik kayak naik wahana haha.

Trus trus, karena di dalam rombongan odong-odong ada blogger asli Madura, kami sebagai bule asal pulau Jawa pun nanya, apa sih bahasa Maduranya “Monggo”?

Kak Riska Ngilan njawab, “Glenon..”

Baiklah. Mari kita sapa penduduk Gili Iyang dengan sapaan “glenon”!

Odong-odong melaju kencang. Melewati penduduk yg agak merasa aneh dengan kehadiran kami yg ramai banget ini. Haha. Dan ketika melewati mereka, kami yg sok-sokan pingin dianggap akrab sama penduduk, pun menyapa bareng-bareng layaknya paduan suara, “GLENOOON…!”.

Lalu kami ketawa-ketawa puas. Seolah-olah berhasil menyapa mereka! Tapi apalah yg terjadi, penduduk Gili Iyang malah mengernyitkan dahi. Bengong. :rolleyes:

Oh, mungkin mereka kaget aja ya. Yuk kita ulang, yang agak sopan mungkin yaaa..

Odong-odong melewati ibu-ibu yg jualan di tepi jalan. Kami pun dengan tampang senyum paling ramah, menyapa lagi, “GLENOOON…!”

Ternyata penduduk sekitar masih bengong. Duh, ada apa ya?

Setelah diskusi panjang sambil rasan-rasan, ternyata orang Sumenep gak paham arti kata “glenon!”.

Seketika tawa kami pecah! HUAHUAHUAHUAHUA..
PANTESAN MEREKA TADI TOLAH-TOLEH BENGONG! WOOOO.. HAHAHAHA

Ucapan “monggo” yg benar adalah “PANGAPORA”.

OWALAAAAAAH.. HAHAHAHA..

——-

10 menit kemudian, odong-odong berhenti dan kami disuruh turun untuk jalan kaki melewati jalan setapak.

jalan setapak

Hanya cukup buat lewat 1 orang saja ya.

Sepanjang perjalanan, aku banyak menemui kuburan di sebelah rumah. Tapi jumlahnya hanya 1 atau 2 gitu. Ternyata setelah nanya panitia, memang di pedesaan pulau Madura, rata-rata mereka mempunyai tanah buat pemakaman. Dan anggota keluarga yg meninggal dimakamkan di sebelah rumah pakai tanah pribadi gitu.

Jadi gak kayak di jawa ya, kuburannya berjamaah keruntelan sama penduduk lain. Bahkan sampe kuburan orang lain (yang jarang dikunjungi) terpaksa harus digusur saking penuhnya.

kuburan di pekarangan rumah

Ini bukan kuburan umum ya, tapi kuburan pribadi
yg ada di pekarangan rumah sendiri.

Perjalanan dengan jalan kaki menuju Goa Mahakarya memerlukan waktu sekitar 10 menit saja. Deket ternyata ya. Dan gak perlu takut nyasar. Karena di setiap percabangan jalan, akan ada penunjuk arah harus milih jalan yg mana.

penunjuk arah

Goa Mahakarya gak lurus ternyata, tapi belok ya cyint..
Belok beneran ya, bukan “belok” yg itu. HAHAHA

Di mulut goa sudah tertulis Goa Mahakarya alias Goa Celeng yang artinya Goa babi. Soalnya dulu di dalam goa banyak babinya gitu. Sekarang sih udah gak ada. Jadi aman dari najis mugholadhoh ya kak! Haha.

goa mahakarya

Mari masuk Goa Mahakarya kak!

Baiklah, mari kita berpetualang menelusuri goa yang luasnya 800 meter persegi ini. Wow, gedhe banget ya!

memasuki goa mahakarya

Antri masuk Goa

Mblusuk goa

Harus menunduk biar gak kedaduk

Baru saja masuk goa, diriku sudah kedaduk batu sebanyak dua kali! DAMN! Lumayan keras pula. Walhasil diriku pusing dikit. HAHAHA. Ya maklum, sebagai model yg tinggi badannya di atas rata-rata, aku wajar kedaduk. Jadi aku gak merasa bodoh sih, malah bersyukur karena dikasih Tuhan tinggi badan di atas rata-rata. HAHAHA

Karena gelap banget belum dipasang lampu kerlap-kerlip kayak goa-goa ngehits lainnya, maka diriku hanya mengandalkan kamera hape mahal yg ada flashnya ini. Kamera SLRku nganggur karena gak bisa ngatur fokus kalau gelap banget kayak gini. HAHAHA.

berbagai bentuk stalaktit dan stalagmit goa mahakarya

Bentuknya macam-macam

Goa Mahakarya bentuk stalaktit dan stalagmitnya unik-unik ya. Lihat deh foto di atas ini. Bentuknya misterius ya. Silakan ditebak-tebak deh bentuknya kayak apa.

Yang sepesial, ada stalagmit (bebatuan goa yg ada di bawah) dan stalaktit (bebatuan atas) yg permukaannya dihiasi bebatuan kerlap kerlip seperti batu permata. WOW!

stalagmit permata

Stalagmit berlapis permata

stalaktit berlapis permata

Stalaktit berlapis permata

Susah memotretnya secara jelas. Semoga foto di atas ini sudah mewakili ya. Soalnya kalau dilihat pakai mata langsung, kerlip-kerlipnya jelas banget! Kalian harus lihat sendiri deh! Dan jangan dipegang ya! Karena agak landep. Nanti tanganmu kebeler.

Memegang stalaktit dan stalagmit juga dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan batunya. Apalagi kalau keringetan. Duh jangan ya say. Megang aku aja. Gak papa. Nanti keringatmu akan aku usap deh. Pakai amplas nomer 1!

Ada yg unik lagi lo di Goa Mahakarya. Stalagmitnya ada yg bisa dipukul mengeluarkan nada berbeda kayak alat musik gitu. Tapi kayaknya jangan keras-keras ya mukulnya. Kalau coklek khan ya eman-eman! Mengingat pertumbuhan stalagmit/stalaktit itu khan butuh puluhan tahun persentimeternya.

Kak Unik in action

Kak Unik sedang menutuk-nutuk batu bernada.

Foto di atas itu aslinya ya gelap banget. Untung ada yg bawa senter.

Eh, tapi ternyata di dalam Goa Mahakarya gak selamanya gelap loh. Di tengah-tengah goa, ada lubang besar di atas sana yang sinar matahari bisa masuk menerangi isi goa. Keren ini sumpah!

Para blogger pun antri mau foto di situ. Sebagai model yang sabar, daku juga ikut antri. Sambil mikir bagemana pose yg pas dengan pemandangan dan lighting dari atas seperti itu. Setelah giliranku tiba, aku pun berpose. Dan inilah hasilnya..

Ambassador Goa Mahakarya

Ambassador Goa Mahakarya
Foto by kak Ilham Bagus
Model: Aku dan Nila Wilda

Gak afdhol kalau enggak foto bareng!

Blogger Indonesia di Goa Mahakarya

Blogger Indonesia dalam event #MenduniakanMadura
Sambil menelusuri #jejakBPWS, sedang berfoto di Goa Mahakarya
(Klik untuk memperbesar)

45 menit berada di dalam goa, pokoknya puwaaas deh foto-foto dan menjelajah Goa Mahakarya yang di dalamnya ada 7 ruangan luas ituh. Tinggal dikasih lampu saja sudah cukup ini. Kalau perlu ditambah ada yg jualan es lilin. Karena muter-muter goa seluas ini haus kak! Hahaha.

Eh, tapi ada temen yg cerita. Katanya walaupun dia merasa panas di dalam, tapi dia gak keringetan. Seger aja gitu. Kalau aku sih tetep keringetan. Soalnya diriku pakai baju rangkep dua. Maklum kulit badanku gak bisa menyentuh kaos berbahan tebal. Bisa bad mood soalnya. Walhasil aku pakai kaos tipis, lalu aku rangkap kaos dari BPWS ituh. :ampun:

Keluar dari goa, udara semilir menyambut. *ngelep keringet* Kami harus jalan kaki 10 menit lagi kayak tadi. Trus pas perjalanan, aku nemu jerami padi yang digantung di pohon. Eh, kok unik?

jerami digantung

Jerami digantung di atas pohon.
Sapinya kalau mau makan harus manjat sosial pohon gitu ya? Hmm..

Ternyata jerami itu digantung biar gak dimakan rayap. Kalau ditaruh di bawah, kalau kena air, maka airnya gak akan kering. Kalau di atas, airnya bisa menetes dan kering deh. Trus bebas dari rayap. Gituu..

Di sini banyak sekali ditumbuhi pohon Jarak. Eh, Kang pardi bisa sulapan lo pakai batang dari daun jarak. Mau tau? Simak di VLOG GOA MAHAKARYA yg sudah dengan susah payah aku rekam, edit, render, upload, selama berpuluh-puluh jam berikut ini..

———

Kami pun pulang ke homestay lagi. Bejonya, di homestay kami itu terdapat “Titik Oksigen” pertama dari beberapa titik oksigen yang ada di Giliyang. Sayangnya, titik oksigen itu hanya bisa dirasakan ketika tengah malam, yaitu sekitar jam 1 pagi, yang mana, di jam segitu, kami-kami sudah pada ngorok. HAHAHAHA.

Lagian, pas kami ke sini khan sedang musim hujan ya, hawanya dingin, jadi gak akan terasa banget seger oksigennya dibanding musim kemarau yg panas. Jadi ini #kode ya, kalau harus ke sini lagi di musim panas? Oke aku gelem kok! HAHAHA.

Trus-trus, karena kadar oksigen yg lebih tinggi sekitar 4 persen di atas normal itu, otomatis orang kalau hidup di sini, umurnya akan panjang-panjang. Ada loh yg sampe berumur 130 tahun! GILA! DAN MASIH SETRONG BANGET! HOHOHO!

Jadi masuk akal khan kalau manusia jaman nabi dulu umurnya bisa tembus 900 tahun? Iya masuk akal. Soalnya oksigen di zaman itu masih bersih bro sis! Dan menurut penelitian World Health Organization (WHO), polusi termasuk penyebab orang cepet matik loh! Tiap tahun ada sekitar 2 jutaan orang matik gara-gara polusi udara. HOHOHO.

Jadi kalau mau umur panjang, selain rajin mandi air terjun Sedudo di Nganjuk, kalian harus tinggal lama di Gili Iyang!

Oh iya, di pulau yg luasnya cuma sekitar 10 km ini, kayaknya kalau ke sini sambil bawa sepatu running bakalan asyik banget! Lari sambil menghirup udara segar! Kayaknya harus diadakan event Running di sini deh! It would be a great event! Khan sambil promosi wisata juga!

Aku bakalan ikut pastinya! Bisa ini! Bisa!

Kayaknya Gili Iyang di Kec. Dungkek, Kab. Sumenep, ini cocok kalau dijadikan pulau wisata kesehatan deh! Soalnya menurut LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), pulau dengan jumlah penduduk sekitar 8 ribuan ini, termasuk ke dalam pulau dengan kadar oksigen terbaik kedua sedunia. Yang pertama diraih oleh laut mati di Yordania (And I don’t care about it! HAHAHA)

Eh, sudah pada tahu belum posisi pulau Giliyang ini di mana?
Nih aku kasih petanya:

peta gili iyang

Peta letak Gili Iyang berada.

Oh iya, namanya PULAU GILIYANG ya. Atau bisa disebut GILI IYANG saja (tanpa “pulau”). Karena GILI artinya pulau. Jadi kalau ada yg bilang pulau Gili Iyang, itu salah ya! Okesip.

———-

Waktu mandi pun datang. Kamar mandi di homestay cowok cuma ada satu. Aku gak mau antri lama. Trus pas udah giliran mandi, pasti diintip-intip atau digedor-gedor oleh pihak yg horni gak sabar. Ogah! Aku risih ditunggu-tunggu.

Walhasil diriku mandi di kamar mandi umum yang dibangun sama BPWS juga. Kamar mandinya ada 4. Jadi antrinya cepet. Walaupun gak ada cantolannya sih. Sempet bengong mau ditaruh mana nih baju segambreng yg aku bawa. Walhasil aku cantolkan di engsel pintu. Dengan penuh kesabaran biar gak jatuh. HAHAHA.

OH IYA LUPA, KHAN MASIH SORE INI! LAMPUNYA MASIH MATI! DUUUH, INI SYAMPO APA SABUN CAIR YA?? AH BODO AMAT!

*lalu sabunan pakai pentin dan keramas pakek biyoreh*

Setelah mandi, kok hawanya ngantuk ya kak. Aku pun tiduran di homestay bareng blogger Pontianak. Hanya aku yg orang jawa. Sebelah kananku Angga, kiriku Edo, lalu Kak Dwi, lalu Radit. Aku khan lebih suka ngobrol pakai bahasa Jawa. Kebetulan yg paham cuma Angga. Yowis sejak hari itu, aku akrabnya cuma sama Angga doang. Sori ya Edo, Dwi, dan Radit, kalian bukan type aku sih. HAHAHA

Tak terasa malam tiba. Sehabis makan malam, acara sarasehan dengan penduduk setempat dan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) gagal karena orangnya lagi ke Jakarta. Yowis ndak papa kok Panitia. Kami sudah lelah. Kami hanya perlu tidur dan nggosip. HAHAHA.

Bertemu dengan blogger sebanyak ini (35 lebih!), apalagi mereka ini blogger terpilih dan berprestasi, tentu saja bisa menjadi bahan obrolan yg menarik dan inspiring. Bagemana kok bisa menang lomba blog itu, dapat hadiah leptop, trus bagemana seorang NDOP itu bisa sukses bisnisan vectornya sampe kliennya sedunia, lalu membahas trik-trik SEO, dan lain-lain. Sampe ngantuk.

Mas Wahyu, ketua panitia dari blogger Plat M, bilang, besok harus pada bangun pagi banget! Soalnya jam 5 harus berangkat menyambut sanrais!

WOW! Berati besok pagi kita ke pantai? Pantai apa itu?

Penasaran? Tunggu postingan selanjutnya yaa..

Bersambung…

33 Comments

Komen dong!