Generasi Baper

Baper mario Teguh

Saya tahu istilah baper itu setahun yang lalu kira-kira. Baper itu singkatan dari bawa perasaan. Agak kurang pas sebenarnya. Harusnya maper = masukin perasaan. :???:

Tapi mbuh wis, jaman sekarang khan lagi usumnya salah kaprah. PM aja diartikan status BBM. Padahal PM khan artinya Private Message alias chatting itu sendiri.

Ngomongin baper nih ya.

Aku sejak ikutan lari bareng perkumpulan masyarakat yg suka lari di Nganjuk sini, (yang anehnya, anggotanya masih seumuran SMA bahkan SMP. Eh, ada yg masih SD. Duh. Kayak gitu kok disebut masyarakat? Hahahaha), aku jadi meneliti karakter mereka. Lalu membandingkan dengan masa-masa remajaku dahulu kala berabad-abad yang lalu.

Aku memang punya misi untuk meneliti karakter anak muda jaman sekarang. Bagaimana cara mereka hidup di zaman yang serba membutuhkan duit ini. Bagaimana dia memenuhi kebutuhan pulsa demi kuota internet yg selalu online sementara mereka khan masih sekolah? Belum lagi gaya hidup berbusana yang kalau gak pakai ini, bakalan dihina bina dibully membabi buta!

Okay, akan saya preteli satu persatu ya.

Dimulai dari pulsa. Setelah aku survey, mereka beli pulsa itu dengan menabung dari uang saku. Lalu sebulan sekali baru beli pulsa buat internetan. Kalau kuota habis sebelum waktunya, mereka akan beli paketan wifi id seharga 5 ribuan buat setengah hari itu.

That is why, zaman sekarang cafe-cafe yang menyediakan wifi id (wifi berbayar) akan laris manis. Yg berbayar aja laris, apalagi yg wifi gratis? Tapi sayangnya cafe yang menyediakan wifi gratis biasanya gak terjangkau di kantong mereka. Haha.

Pernah aku ngajak ke cafe yang paling ngehits di Nganjuk sini. Gak ada satu pun dari mereka yg mau. Ada yg beralasan harganya mahal. Loh, kan aku yang nraktir? Setelah aku analisis lebih dalam, ternyata anak abegeh itu minder sama pengunjung cafe itu yg rata-rata emang kalangan berduit.

Yungalah. Ribet amat ya hidupmu wakai adik-adik abegeh.

Sebagai seorang pebisnis online yang handal, serta selebritis online papan atas, tentu saja aku harus memasang wifi di rumah. Yang bisa diakses siapa saja asal tahu passwordnya.

Nah, mereka sekarang sudah merasa aman dan damai ketika kenalan sama aku. Masalah kuota gak akan jadi halangan hidup mereka lagi. Tinggal bilang, “Mas ndop, posisi?” Maka kuota gratis akan jadi miliknya sepenuhnya. Soalnya aku hampir 80% selalu ada di rumah. Hahaha.

Kalau aku fleshbek ke jamanku remaja dulu, tahun 1997 – 2002, dengan jatah uang saku sehari cuma seribu (bahkan kadang cuma 5 ratus), kalau aku hidup di zaman sekarang, tentu saja aku akan BEKERJA demi mencukupi kebutuhan hidup handphone tersayang.

Eh, beli hape duit dari mana ya? Wah iya lupa. Aku dulu ketika sekolah, buku aja minjem di perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum. Royokan sama temen. Kalau di perpus gak ada bukunya, PASTI aku kalah cepet sama temen kelas sebelah (yang sama-sama miskin). Hahahaha.

Nah, jadi kalau aku sekarang masih SMA, dan mengikuti zaman (punya smartphone dengan kuota melimpah), otomatis aku akan bekerja. Dan hal itu gak mungkin. Soalnya waktu sekolah dulu, aku kok merasa sibuk banget ya sama pelajaran sekolah? Lha piye, kalau gak belajar tiap hari itu akan ketinggalan jauh loh!

Jaman dulu murid sekolah itu pinter-pinter dan kompetitif soalnya. Dan cuma ngandalin buku, rajin belajar sama kecerdasan otak. Internet mana ada? Ada pun paling taunya buat nonton bokep sama donlod lirik lagu (jadi kangen sama tembang.com) hahahaha.

Jaman sekarang mah otak gak perlu pinter-pinter amat. Soalnya segalanya ada di google. Gak perlu menghafal. Soalnya semua hafalan sudah tersedia melimpah di genggaman (smartphone)!

Karena otak gak begitu kepakek, maka tubuh harus menyeimbangkan energinya untuk organ tubuh yang lain, yaitu hati. Nah, hati itu bikin hidup bahagia atau susah. Tinggal pilih.

Sayangnya, generasi muda jaman sekarang ini, semakin banyak informasi yang dia terima selama brosing di internet, semakin pingin lah dia melakukannya dan memilikinya. Di umur yg masih labil, mana bisa dia mengontrol mana yg merupakan keinginan dan mana yang kebutuhan?

Yang hobinya olahraga aja, kalau ngeliat temennya pakai sepatu bermerek, langsung dimasukin ke daftar cita-cita. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk meraih sepatu Naiki yang itu!

Kemudian apa yang dia lakukan?

Dia akan ngirit uang saku sekolah.

Karena harga sepatu Naiki itu gak masuk akal untuk dijangkau anak sekolah yang belum bekerja, maka, didukung oleh ketidaksabaran meraih sesuatu, serta tidak tahan akan bullyan teman-temannya karena dia gak punya sepatu merek mahal, maka belilah dia seadanya duit saat itu.

Duit sisanya gimana cara dapetinnya?

Bukan begitu, tapi dia beli sepatu fake alias palsu alias KW yang harganya setengah kali atau bahkan seperempat kali harga sepatu originalnya.

Aku baru tau kalau sepatu fake, KW alias palsu itu ada gradenya! Ada tingkatan levelnya. Ada yg fake banget ada yg grade ori, alias bentuk dan warna hampir sama persis dengan yg original. Kalau bahan jangan ditanya ya, sudah tentu berbeda. Sepatu fake tentu saja pakai bahan seadanya. Keawetan? Jelas nggak awet!

Untungnya mereka gak peduli bahan, yang penting BENTUK! Yang penting ada tulisan Nike nya. Hanya dengan berkelit, “Ini original loh!” Sudah sukses menghemat duit ratusan ribu demi mendapatkan sepatu Nike. Hahaha.

Dan rata-rata memang teman-teman mereka pakai sepatu fake juga sih. Jadi, di mata anak anak ABG itu, yang penting MEREK, urusan KW atau original itu bisa pakai jurus ngeles alias bohong. Hahaha.

Soal keawetan, justru semakin tidak awet maka semakin banyaklah koleksi sepatunya! Hahahaha. Tinggal beli lagi merek lain yg KW juga. Trus yg sudah rusak, itu cukup diserahkan ke tukang jahit sepatu. Hahahaha.

Ngomong-ngomong, cerdas juga ya pemikiran ngirit mereka? Hahaha. Tapi sori bro, aku punya prinsip “NEK ORA ORI ORA”. Alias kalau nggak ori enggak akan beli. Lagian mataku terbuat dari hologram, jadi kalau ngelihat produk KW, mataku langsung iritasi. Apalagi memilikinya, jijik ah! HAHAHAHAHA. Anda sedang memasuki kawasan Indonesa bagian kesombongan yg hakiki. HAHAHA.

Tapi anehnya ya, kalau kamu punya sepatu original, mereka akan menganggap sepatumu KW sama kayak sepatu mereka. Kalau kamu ngeyel dan mau menyerahkan bukti originalitas sepatumu, mereka langsung pura-pura gak denger. Mereka memang generasi baper, jadi mereka sakit hati kalau mendengar barang original.

Mungkin karena mereka terbiasa berbohong, kalau ada fakta, dia gak mau menerima. Sakit jiwa ya. Hahahaha.

Keahlian berbohong para muda-mudi zaman sekarang ini, sangat bermanfaat buat kelangsungan hidup “mae tcrip mae advence” mereka. Dengan alasan belajar kelompok plus kejebak hujan sehingga gak bisa pulang, mereka bisa melenggang ke tempat wisata idaman!

Pakai duit dari?

Ya, pakai ngirit pengeluaran uang saku tadi.

Makanya jangan heran kalau anak muda mudi yg rajin ngetrip ngadvencer rata-rata kurus. Lha piye, mereka nahan laper gak makan siang! HAHAHAHA.

Kok kayaknya buruk semua ya, abegeh jaman sekarang?

Baiklah, aku sharing sisi positifnya. Untuk mencukupi kebutuhan kekinian yang banyak menguras kocek ituh, mereka jualan apa saja.

Yang lagi ngetren itu sekarang jualan topi custom. Topi dengan tulisan dan design sesuai keinginan. Dengan harga topi cuma 9 ribu rupiah (harga versi tokopedia), poliflex (buat nulisin) 10 ribuan, totalnya 20 ribuan, mereka jual 60 ribu. Gilak! Untungnya banyak banget! Hahahaha.

Buat yang gak bisa desain, mereka biasanya jadi reseller doang. Dari “produsen” dia beli 40 ribu udah terima jadi. Dijual ke temen 60 ribu. Untungnya 20 ribu bro! Menurutku itu kebanyakan ngambil untungnya. Tapi kalau laku, why not? Hahahaha.

Biasanya abegeh yang bisnisan begini lebih bahagia sih dibanding yg cuma ngandalin uang saku ortunya (alias males). Walaupun begitu, namanya juga masih abegeh, masalah baper tetap ada!

Buat yg miskin gimana ya, cara mencukupi kebutuhan kekiniannya?

Tadi pagi ada temen (anak palari juga), masih kelas 3 SMP, minjem celana Jogger Pantku. Buat latihan band.

Aku sempet shock membaca alasan meminjamnya.. “BUAT LATIHAN BAND??”

What? Latihan? Haruskah sampai meminjam celana jogger pant orang lain biar terlihat gaul? Trus mau dipamerin ke siapa? Khan cuma latihan? Emang latihan band ada yg ngelihat? Bukannya latihan band itu di studio sewaan yg sumpek gak berjendela sama sekali itu?

Karena aku akhir-akhir ini jarang makek jogger pant (karena ukuran betis gak mau diajak kompromi), aku pinjamin deh. Dengan syarat harus dikembalikan!

Namanya minjem ya harus dibalikin dong, ndop?

Eit, nggak berlaku buat anak jaman sekarang ya. Aneh khan? Memang aneh.

Jadi tiga minggu yang lalu, aku minjemin celana pendek dan kaos ke temen yg masih SMA. Aku pinjemin karena waktu itu pakaian dan celana dia basah kuyub kena hujan.

Salah dia sendiri sih, ngajak aku main ke luar kota naik motor, bilang ke ibunya naik mobil. Kalau ketauan bohong karena bajunya basah, khan dia bakalan dimarahi. Makanya aku pinjemin baju biar dia kelihatan kering kayak naik mobil.

(Aku kok jadi merasa bersalah ya. Merasa melindungi kebohongan temen. Jadi pingin istighfar. Hahahah)

Sampai saat ini, yang dikembalikan baru kaosnya doang. Itu aja harus aku minta dengan frontal (aku orangnya gak suka basa-basi). Sementara celana pendeknya ketika aku minta, dia bilang gini, “Bentar dulu lah, aku suka banget sama celana ini. Aku pakai terus sampe bosen.”

What???? Etika meminjam macam apa itu??

Antara jengkel dan ketawa. INI ZAMAN APA TOH? SOPAN SANTUN PADA KEMANA? YA TUHAAAAN… GENERASI MUDA MACAM APA INIIII!

HAHAHAHAHAH.

Sebenarnya dalam lubuk hati terdalam, aku punya misi untuk mengarahkan mereka ke jalan yg benar. Mengarahkan mereka menjadi pelajar baik-baik yang fokus belajar demi masa depan. Gak terlena sama dunia perbaperan karena jor-joran sandang dan gejet.

Aku pingin ngasih contoh dari diriku sendiri. Bahwa aku bisa seperti sekarang ini, cuma leyeh-leyeh, kerja di kamar, dapat penghasilan, itu semua melalui proses yang panjang.

Bahwa aku dulu ketika sekolah ya fokus sekolah. Liburan setahun sekali juga belum tentu. Gak ada jaman dulu istilah tiap minggu harus ngetrip ke mana. Minggu ya mencuci baju! Setelah itu nonton tipi. Malamnya belajar buat besok. Nyiapin dasi, topi, buat upacara besok. Sudah selesai. Simpel. Hidup damai sejahtera.

Untuk mencapai titik ini juga perlu perjuangan keras. Rajin belajar di masa muda itu manfaatnya kerasa banget di masa dewasa nanti. Manfaat yang terlihat jelas adalah kita gak gampang ditipu oleh orang. Karena sudah terlatih dan terbiasa berfikir kritis. Gak pasrah aja ketika membaca berita. Tapi dipikir. Benar gak ya? Masuk akal gak ini? Begituuu..

Kalaupun lagi apes sampe ketipu, setidaknya nambah ilmu baru agar lebih waspada dan berfikir kritis.

Ngomongin baper lagi, ternyata baper bisa bikin bodoh loh. Aku pernah ya curiga terhadap statemen yang dibuat temen yg masih kuliah, yang dia bapernya sundul langit juga. Gak mau kalah gitu.

“Ayo teman-teman kita kardio bareng-bareng!”

Aku protes dong! Bukankah kita barusan lari 5 km? Bukankah lari itu juga kardio? Kok anak ini nyuruh kardio lagi seolah-olah olahraga lari itu bukan kardio?

Merasa disalahkan, dia ngeyel.

Sebagai insan yang kritis, brosinglah aku mencari beberapa artikel mengenai pengertian kardio dan contoh2nya. Ternyata aku gak salah. Lari itu juga termasuk kardio.

Biar teman-teman lainnya gak salah paham, aku share pengertian kardio itu ke grup BBM. Dan si tukang ngeyel itu terdiam. Gak ada tuh minta maaf atau respons tentang artikel itu. Baper dia. Merasa kalah. Hahahaha.

Ide mencetak X Banner buat promosi sudah aku keluarkan 4 bulan yang lalu. Merasa ideku brilliant, maka ideku gak ditanggapi sama sang ketua. Soalnya kalau ditanggapi, aku akan dianggap keren sama anggota komunitas lainnya. Dan dia merasa kalah karena gak punya ide.

Empat bulan kemudian, tiba-tiba sang ketua seolah-olah menemukan ide brilliant! Dia mau cetak X Banner untuk promosi komunitas. Ketika aku bilang itu ideku 4 bulan yang lalu, dia diam tidak menghiraukan sama sekali.

OH MAE GAD! SPESIES MANUSIA MACAM APA LAGI INI???

Hahahaha…

Dan ketahuilah wahai makhluk baper, dengan sifatmu yang seperti itu, yang menolak kebenaran (dengan sumber yg kuat juga) kamu justru terlihat bodoh. Lama-lama bodoh beneran soalnya otakmu tidak bisa menerima informasi baru karena tersumbat sama bapermu.

Jadi kesimpulannya?

Jadi gini, di zaman serba praktis kayak sekarang ini, orang gak butuh banyak berfikir sebanyak orang zaman dulu ketika zaman masih serba manual. Hal itu menjadikan otaknya makin tumpul karena gak diasah.

Karena merasa gak pinter, orang jadi berjuang sekuat tenaga gimana caranya terlihat pinter. Dengan mencuri ide misalnya.

Kalau terlihat pinter ternyata gagal, at least dia harus kelihatan keren di mata yg memandang. Lalu apa yang dilakukan? Mereka jor-joran bagus-bagusan fashion! Berjuang sekuat tenaga demi meraih barang branded.

Kalau gak terkejar, dia ambil jalan pintas, beli yang fake! Asal dipandang mata kelihatan bagus!

Nah, hal di atas ini bisa terjadi semata-mata karena semua hal dimasukin ke perasaan, alias BAPER. Coba mereka CUEK aja. Pasti hidupnya akan lebih bahagia. Lebih santai. Lebih menikmati hidup. Gak ngoyo. Gak perlu nahan lapar demi sepatu KW.

Coba mereka PEDE aja. Pasti gak baper. Yang dinaikkan itu HARGA DIRI. Bukan yang melekat di diri. Kalau harga diri udah naik, pakai apa aja juga terlihat bagus dan keren. Ngasih pendapat apa aja juga akan terlihat pinter.

Ngerti?

Ah, udah ah, kalian makin baper nanti. HAHAHAHAHA. YAMAAP.

38 Comments

Komen dong!