Review Film: Surat dari Praha

Gara-gara habis beli parabola aku jadi bisa nonton Net dengan sangat bening. Sebenarnya agak-agak mubadzir sih beli parabola, soalnya yg aku tonton 90% channel Net doang! Hahaha. Sisanya TV-TV lokal yg bikin mata dan pendengaranku agak-agak iritasi. HAHAHAHA SOMBONG BANGET YA MATA DAN TELINGAKU!

Trus, jadi tahu dong apa yg kekinian di zaman sekarang gara-gara Net. Trus aku nonton acara Sarach Sechan waktu itu ngebahas film baru berjudul Surat dari Praha. Lihat trailernya aku langsung shock lihat gambarnya. Langsung deh aku tunjuk-tunjuk monitor tabung elji 100 ribuan yg aku beli dari mbakku sendiri (second lah!)..

“AKU.. HARUS.. NONTON!!!”

Surat Dari Praha

Poster Surat dari Praha
Gambar diambil dari sini.

Mas Angga Dwimas Sasongko itu pernah bikin film Filosofi Kopi yg dapat penghargaan di luar negeri itu tuh, nah dia bikin film lagi Surat dari Praha ini. Karena Filosofi Kopi aku belum nonton, maka aku harus menonton film ini. Soalnya gambarnya bagus! Udah itu aja. Urusan ceritanya kayak gimana, itu dipikir nanti. *kayak bisa mikir aja ndop? HAHAH*

Nah, tadi sore, berangkatlah aku nonton bioskop di Kediri. Dibonceng temen. Tapi aku yg bayarin semuanya. Maklum aku ini kayak bos yg maunya dilayani. Trus aku bayar deh pelayananmu. Kalau pelayanan baik, maka aku bakalan sering order. Kalau enggak, ya bye bye, banyak yg antri untuk melayani aku! HAHAHA

Premier tanggal 28 Januari, aku nonton tanggal 31 Januari. Gak telat dong! Masih anget!

Masuk bioskop, duduk manis di bangku C12. Lalu film dimulai, Julie Estelle (berperan sebagai Laras) dan Widyawati (berperan sebagai Sulastri) membuka adegan film. Mereka berdua sangat menjiwai perannya. Maklum sudah senior dong! Mereka berdua mengobrol tentang sertifikat rumah.

Ngobrolnya di rumah sakit. Dengan jendela kaca berpemandangan pegunungan hijau di luar sana. Ini settingnya di mana ya? Bagus banget! Pikirku.

Sulastri meninggal. Sertifikat rumah belum didapat. Tapi ternyata Sulastri meninggalkan wasiat. Nah, dari wasiat itulah cerita dimulai.

Ceritanya santai kok. Gak berat.

Perlu mikir?

Perlu. Tapi dikit banget. Otakmu hanya perlu minimal RAM 512 MB aja sih buat mikir. HAHAHAH. #curhat

Bagian yg agak mikir adalah ketika Mas Tio Pakusadewo (berperan sebagai Jaya) menjelaskan tentang Orde Baru aja. Yang paham sejarah sudah pasti gak perlu mikir. Buat yg buta sejarah kayak aku, akan dapat wawasan baru betapa anehnya peraturan orde baru zaman pak harto dulu.

Inti film ini sebenarnya simpel. Laras butuh tanda tangan dari Jaya supaya dia dapat warisan rumah dari ibunya Sulastri. Udah itu aja.

Sayangnya Jaya nggak mau tanda tangan. Entah mengapa. Trus Jaya itu siapa? Embuh! Tonton aja sendiri filmnya! HAHAHA.

Secara gambar, film ini sangat bagus. Saya ulangi.. SANGAT BAGUS! Apalagi shootingnya di PRAHA alias Prague. Praha itu Ibukota negara Ceko, benua Eropa sana lo. Yang kotanya sangat cantik. Saya ulangi.. SANGAT CANTIK!

Apalagi mas Dwimas Sasongko sebagai sutradara, pinter banget ngeshoot gambar yg indah. Angle-angle yg bikin mata gak berkedip. Pemandangan yg fotojenik, eh filmjenik ding. Komposisi setiap framenya kalau kamu printscreen, bagus semua untuk dibuat wallpaper komputer kamu! SUWER DEH!

Filmnya sedikit sedih. Tapi gak sampe nangis. Kecuali kamu lagi emotional atau kamu orangnya cengeng. Tapi bukan sedih-sedih yg lemah, ini film sangat kuat kok. Tegar gitu maksudnya.

Trus yg bikin kupingku dimanjakan, adalah lagu-lagu yang dibawakan oleh Glenn Fredly, yg juga produser film ini. LAGUNYA BAGUS, MELODINYA BERKELAS GAK KAYAK MELODI LAGU-LAGU ZAMAN SEKARANG YG BISA KETEBAK NADANYA. Glenn memang hebat!

Dan lagu Glenn sebagai backsound SANGAT SUKSES mewakili semua perasaan di dalam film ini. Aku terhanyut. Sampe lupa gak ngemil jajan pedas yg sudah aku siapkan untuk mengatasi kebosanan. HAHAHA.

Gimana mau bosan, kalau setiap adegan PENTING SEMUA. Setiap gambar BAGUS SEMUA. Setiap suara dan nyanyiian MERDU SEMUA!

Bahkan si Julie Estelle ternyata bisa menyanyi dengan suara di atas rata-rata. Mas Tio juga suaranya bagus! SUMPAH! Lagunya juga bagus! Gak kacangan!

Looooh, berati film ini perfect dong?

Sebenarnya kalau aku mau idealis, akan aku jawab iya. Tapi gimana ya, ntar kalau ada yg bilang kesempurnaan hanya milik Tuhan, gimana?

Baiklah, akan aku ingat-ingat di mana kelemahan film ini ya.. Bentar aku mikir dulu..

..loading..

Nah nemu, filmnya kurang lama! HAHAHAHA. Apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Julie Estelle sebenarnya perlu difilmkan dikit-dikit. Biar tambah gamblang ceritanya. Trus kenapa Julie Estelle bercerai juga perlu dikit difilmkan. Tapi mungkin jadi kelamaan ya. Semoga ada versi extendednya deh. Ntar aku donlod. #eh HAHAHAH

Oh iya, ada beberapa kali adegan berbau iklan di dalam film. Tapi Mas Dwimas pinter, iklannya tetep indah gak ngeganggu film sama sekali. Malah justru bisa mencairkan suasana film ini yg cenderung serius.

Ada pisuhan/kata kotor tipis-tipis di film. Tapi pisuhan itu justru terdengar lucu. HAHA

Trus ada fakta unik yg aku suka, diucapkan sama mas Tio, kalau DI PRAHA SANA ORANG YG GAK PUNYA KERJAAN AKAN DIPENJARA.

Lah, kenapa aturan seperti itu gak diterapkan aja di Indonesia ya? Khan negara kita jadi bebas pengangguran? Eh, nggak jadi ding, ntar malah betah lagi dipenjara? Harga diri khan di Indonesia ini gak begitu berharga. HAHAH

Sekor yg bisa aku berikan untuk film ini adalah 9 dari 10 deh. Soalnya emang bagus dan aku dapat wawasan tentang sejarah Indonesia jaman orde baru yg ternyata buat yg gak setuju sama orde baru akan diusir dari Indonesia. Dicabut kewarganegaraannya. Bahkan Jaya itu di film gak punya warganegara. Untung negara Ceko itu gak mempersalahkan orang yg gak punya warganegara, asal mau bekerja. Gitu gak sih? Kayaknya gitu. Haha.

Eh, aku kasih lihat trailernya ya, kalau cuma nonton trailernya, gak bakalan paham sih. Musti nonton filmnya langsung.

Udah ah. Sana pergi ke bioskop! Hush.. hush..

30 Comments

Komen dong!