Pingin Lagi ke Goa Pindul

Goa Pindul

Goa Pindul bersama seorang model.

*Buat yg :fastreading: , komentarilah kegantenganku di foto di atas aja ya, soalnya postingan ini bakalan panjang isinya curhat tok gak penting*

—–

Sebagai manusia kurang piknik, karena jam kerjaku hanya libur di hari minggu doang dan kalau hari minggu tiba, waktuku sudah habis buat olahraga, umbah-umbah, nonton film di kamar, main game, sehingga ketika ada tanggal merah selain hari minggu di kalender, aku langsung jumpalitan bahagia karena bisa piknik!

Soalnya kerjaku aku liburkan kalau tanggal merah.

Karena Mawi pemilik mblusuk dot com udah nyambangi aku ke Nganjuk untuk piknik ke dua air terjun, maka aku harus balas dendam untuk menyambanginya ke Jogja untuk piknik ke dua tempat wisata juga. Pilihan wajibku sih Goa Pindul. Wisata kedua, biar Mawi aja yg milih. Asal gak wisata mainstream kayak malioboro, keraton, taman sari, sih, hayuk aja!

Dua minggu sebelumnya aku sudah mesen tiket sepur menuju setasiun Tugu Jogja. Beuh, karena ini pengalaman pertama mesen tiket sendiri secara online, aku menemukan kebingungan cara mesennya. Pertama, ini kenapa ada macam-macam jenis kereta ekonomi/bisnis/eksekutif dengan harga yg berbeda?

Pertama mesen tiket di situs resmi PT Kereta Api Indonesia, trus bingung caranya bayar. Trus mesen lagi di tiket.com. Nah ini cara bayarnya gampang tinggal transfer pakai klikbca. Langsung buking tempat duduk, lalu bayar 109 ribu. Itu tiket paling murah di kelas ekonomi kereta Malioboro Ekspress. Dan satu gerbong cuma tersisa kosong 2 bangku saja! Hahaha.

Akhirnya tiket didapat. Udah gak perlu ngeprint lagi, soalnya di setasiun sudah ada tempat ngeprintnya tinggal menyentuh layar, ketik kode bookingnya saja.

—–

21 Maret 2015

Jumat jam 12 malam aku jalan kaki menuju stasiun Nganjuk. Jaraknya 1 km kira-kira dari rumah. Sampe setasiun jam 12.20. Sudah berganti hari Sabtu. Kata petugas stasiun sih, ada 4 orang yg mau naik kereta Malioboro Ekspress pagi itu. Eh ternyata cuma ada aku sama mbak-mbak seumuran mahasiswa. Mungkin sisanya ketiduran kali ya. Bahahaha. Sokor.

Masuk kereta api, menurut tiketnya sih, harusnya aku duduk mepet jendela sepur, tapi ternyata sudah diduduki ibu-ibu dengan anaknya. Pingin bilang untuk geser, tapi gak tega. Suasana terlalu hening untuk protes. Semua penduduk sepur sudah terlelap. Yowis lah, aku duduk di sini saja. Dengan resiko gak bisa tidur nyenyak karena kepala goyang-goyang kiri kanan.

Jam 3.50 sampe setasiun Tugu Jogjakarta. Masih ngantuk. Keluar dari kereta api, I have no idea musti ke mana. Pintu keluar stasiun aja nggak ngerti. Bhahaha.

Karena sok alim, aku langsung menuju musholla. Dan kesokalimanku pun gagal total soalnya subuh belum tiba. Bhahaha. Walhasil aku cuma duduk sambil tolah-toleh baca-baca petunjuk. Di sekitar musholla buanyak anak-anak muda yg kayaknya mau piknik juga. Mereka kebul-kebul rokokan. Lah, ternyata aku duduk di smoking area. Bhahahaha.

Aku harus ngalih dari sini!

Sms dari Wawi pun tiba. Aku disuruh keluar ke jalan Mangkubumi. Dan aku gak ngerti itu di mana. Jan gak ngerti ngalor kidul. Hahaha.

Yowis lah, gak usah gengsi, nanya orang aja Ndop! Kamu khan grapyak orangnya. Setelah dikasih tau, akupun jalan kaki menuju pintu keluar.

Stasiun Kereta Tugu Yogyakarta

Jam sepagi ini di sekitar stasiun sini sudah rame. Coba kalau ini Nganjuk, pasti masih sangat amat sepi.

Mawi menyusulku dengan jalan kaki. Sama banget ketika sebulan sebelumnya dia datang ke Nganjuk pun, aku jemput dengan jalan kaki. Bhahaha. Ini kenapa bisa mirip yaaa..

Iya dong, kami sama-sama gak bisa nyetir motor! Dan kami sama-sama sepedahan sama naik kendaraan umum kalau ke mana-mana. Bedanya satu, Mawi bisa nyetir mobil. Kalau aku sih enggak. Bhahaha. Payah!

Di dekat stasiun sini ternyata ada Kopi Jos yang terkenal itu. Dan ketika aku dan mawi jalan kaki jam 4 pagi itu, mereka loh masih duduk-duduk di kegelapan. Biyuh mereka melekan! Mungkin efek ngopi. Hahahaha.

Jalan kaki bentar doang sudah sampe ke rumah Mawi. Mawi orangnya agak cuek sih. Tapi welcome banget kok. Aku jadi nyaman deh. Dalam sekejab, akulah yg sepertinya menguasai rumah besar ini. Mawi seolah-olah malah jadi tamuku. Aku dengan santainya keliling-keliling rumahnya. Duduk di sini, di sana, ngelihat dapur, hiasan dinding, tanpa dipersilakan. Maklum, saraf sungkanku tuh udah pedot sejak jaman purbakala. Hahahaha.

Ruang tamu rumah Mawi

Ruang tengah

Rumahnya bersih dan rapi.

“Wi, dirimu dewean ndik omah iki?”
“He eh”

Biyuh, apa nggak kesepian ya? Kalau aku sih mending aku jadikan basecam ndofans™ aja. Biar rame! Hahaha. Tapi Mawi anaknya emang silent sih. Introvert. Bahkan ketika aku nanya-nanya dia pun, dia jawab sambil menatap layar komputer. Hahaha. Ya wajar sih, soalnya aku nanya dia juga sambil ngelihat layar hape. Hahaha.

Koleksi bukunya Mawi juga banyak. Sebagian masih tampak baru. Walaupun sudah dibaca semua. Wuih keren! Wawasanmu luas dong!

Aku pun tidur-tiduran di kasur sebentar sambil menunggu subuh tiba. Seperti biasa, tanpa dipersilahkan. Hahahaha.

Pagi jam enam kurang, Tomi Purba dan Arief Ramadhan ternyata sudah on the way menuju kopi jos, tempat janjian ketemuan kami berempat.

Oke, aku pun siap-siap berangkat.

kayak masih Anak SMA

Nyamar jadi anak SMA. Haha

Aku dibonceng sama Arif, fans beratku. Mawi sama Tomi, yang baru kenalan. Berangkatlah kami menuju Goa Pindul jam setengah tujuh pagi. Mampir sarapan dulu di Soto Depokan. Sotonya aneh euy, ada tahu bacemnya! Hahahaha

Soto Depokan

Perlu penyesuaian beberapa detik dengan rasanya.
Setelah itu ludes kemakan habis. Hahaha

Perut kenyang. Saatnya berpetualang.

Perjalanan menuju kabupaten Gunung Kidul pemandangannya baguuus banget. Aku suka banget sama gunung soalnya. Dan pemandangan pegunungan yg terlihat jelas di depan sana itu bikin aku ndomblong.

Tapi aku gak suka sama kecepatan kendaraan di sini. Ngeri. Semacam area balapan aja. Gas pol semua. Hahaha. Jadi selama perjalanan, aku komat-kamit baca mantra keselamatan. Maklum orderanku masih banyak berooo…

Selama dua jam kira-kira. Sampelah di belokan menuju Goa Pindul berada. Menjelang sampe lokasi wisata, kira-kira ada sepuluh kali para pemuda mengejar motor kami. Lalu ketika berpapasan, mereka bertanya, “Pindul, Mas?”

Tomi tahu banget mereka itu bukan sekedar nanya, tapi mereka itu calo Goa Pindul. Dan ini sudah pasti ilegal. Karena mereka ujung2nya minta duit 10 ribu sebagai biaya retribusi “abal-abal”. Aslinya gak ada.

TIPS MENGATASI CALO GOA PINDUL:

  1. Ngaku aja kalau kamu penduduk lokal. Karena Goa Pindul letaknya di Kecamatan Karangmojo, ngakulah kamu penduduk asli Karangmojo.
  2. Kalau kamu type orang yg gak bisa berbohong, ketika perjalanan, pakailah pakaian yg gak mencolok, gak kayak turis. Misal pakai kaos oblong, celana pendek, sandal jepit. Atau kalau hampir sampai lokasi wisata, coba helm dilepas aja, mungkin gak akan dicurigai sebagi turis. Kayak aku kemarin sama Arif gak pernah ditanyai sama sekali. Soalnya aku pakai celana pendek, sementara Arif pakean standar sehari-hari. Muka kami juga setandar banget sih. HAHAHAHA. Sementara Tomi dan mawi selalu dikejar para calo. Soalnya penampilan Tomi tampak kayak orang kaya, apalagi Mawi bawa tripot di belakang tasnya. Ditambah mereka berdua pakai kacamata, wah jadi sasaran empuk para calo deh.
  3. Bilang aja mau makan di Rumah Makan Yu Marto.

Setelah berhenti di mesjid penduduk sebentar karena aku kebelet pipis, kami melanjutkan perjalanan lagi. Beberapa menit kemudian sudah sampai di lokasi Wisata Goa Pindul. Area parkirnya luas kok. Bahkan bis saja bisa masuk.

Tiketnya masuk ke Goa Pindul adalah 35 ribu perorang. Dibayari sama Mawi. Horeeee… Makasih yaaaa.. Semoga rejekimu melimpah yaaaa.

Tiket Goa Pindul

Di belakang Tomi dan Arif itu ada pintu.
Nah, di ruangan itu pembelian tiketnya

Di ruang lobi, kalian bisa duduk dulu. Disediakan teh anget gratis. Air putih juga ada. Kamar mandinya ada enam. Tapi sayangnya pintunya udah pada rusak.

Pas aku mandi di situ, aku harus memutar otak bagaimana caranya mengunci pintu. Eh, ndilalah nemu paku. Aku sumpelkan si paku ke lubang kunci pintu disertai doa menolak orang mendobrak pintu. Bhahahaha.

Pakai pelampung

Wajib pakai pelampung yaaa

Sebelum nyemplung, kamu wajib pakai pelampung ya. Trus di sana juga ada persewaan gratis sepatu karet buat kamu yg gak suka nyeker.

Kami berempat kompakan pakai sepatu karet. Biar sesuwai perosedur. Untungnya ada ukuran sepatu untuk kaki lebar kayak aku dan Mawi! Hahahaha..

Lha hayuk, segera nyemplung, sebelum rame..

Kami gak bawa kamera sih ketika mau nyemplung. Soalnya kata Tomi, kalau bawa kamera, nanti gak bakal bisa menikmati wisatanya. Kalau nyewa jasa foto, silakan aja sih. Di spot-spot tertentu doang tapi. Maklum di dalam goa nanti gelap gulita. Gak ada lampu kecuali senter.

Kami jalan kaki kira-kira 300 meteran. Atau lebih ya, lupa. Hahaha. Deket kok. Guide kami namanya mas Bagus. Mas Bagus lalu ngasih kami ban satu-satu. Lalu bannya dicemplungin ke dalam air. Dan kami mlumah rebahan di atasnya. Pantat sampai pinggang bakalan basah.

Kars Goa Pindul

Kars Goa Pindul

Fenomena kars bawah permukaan Pindul adalah sebuah goa tembus, merupakan sisa dari lorong gua yang mengalami peruntuhan. Pembentukan goa dikendalikan oleh struktur geologi (sesar), yaitu beberapa saat setelah batu gamping berlapis formasi Oyo terangkat dari dasar laut sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Sungai yang mengalir tenang di dalam gua dimanfaatkan untuk kegiatan tubing. Aliran air selanjutnya masuk de dalam tanah, menjadi bagian dari sistem sungai bawah tanah di daerah ini.

Mudeng baca ulasan di atas? Kalau aku sih enggak. Hahahaha

Naik tangga

Masuk kawasan Desa Wisata Bejiharjo

Menuju Pindul melewati kali

Di sebelah kanan kalinya curam sekali kak!

Jalan menuju pindul

Jalan kaki melewati rumah penduduk

Hampir sampai lokasi gua

Sambil menggendong ban, kami lalu belok kanan

Melewati area parkir

Di sini ternyata ada area parkir lagi.

Kalau banner di foto di atas ini kita zoom, ada tulisan menarik…

Wisata Kontroversi

Wisata penuh sensasi dan kontroversi

Kenapa kok kontroversi ya?

Jadi gini, namanya Goa ya, udah pasti letaknya di bawah tanah. Goa Pindul itu di atasnya ada rumah yang dibangun khusus untuk sangkar burung walet. Miliknya kak Atiek Damayanti. Nah, kak Atiek ini protes dong, dia gak setuju kalau di tanah “miliknya” itu dibuat wisata tubing (menyusuri goa pakai ban) oleh penduduk sekitar. Dia maunya bikin retribusi sendiri. Trus wisatanya dia kelola sendiri. Dan duitnya dia ambil sendiri juga gitu.

Trus penduduk sekitar juga protes dong. Memang sih, sangkar burung walet itu milik Atiek, tapi sungai di bawah tanahnya khan milik penduduk sekitar. Jadi tanahnya milik Atiek, tapi sungainya milik umum dong. Bahkan bupati pun mendukung penduduk sekitar.

Atiek gak setuju dong. Enak aja main aku-mengakui. Nih, sertifikatnya jelaaas.

Dan ujung-ujungnya sih si Atiek melaporkan Bupati dan pihak terkait ke polisi karena melanggar hukum. Dan sampe sekarang kayaknya belum ada solusinyaaa.. Ya sudahlaaaah… Semoga segera selesai yaaa.. (sumbernya)

Goa Pindul

Hore sudah sampai!

Foto di atas aku ambil setelah nyemplung, setelah mandi. Sekitar jam 10 pagi. Aku nyemplungnya sekitar jam setengah sembilan pagi. Kita lihat suasana jam 10 pagi ya..

Rame!

Buadala! Rame!

Goa Pindul rame banget!

Wedyan! Umpel-umpelan! HAHAHAHA

Maklum bero, hari itu pas libur nyepi. Jadi ya membludak pengunjungnya. Apalagi wisata Goa Pindul ini wisata yg lumayan baru. Baru dibuka tahun 2010 yang lalu. Masih 5 tahun. Masih lucu-lucunyaaa… Masih bikin orang penasaran..

Dan yang membuat orang penasaran sama Goa Pindul ini adalah keunikannya. Jadi biasanya khan goa itu cuma horizontal ya. Alias cuma masuk secara lurus ke depan. Nah, Goa Pindul ini selain horizontal, juga vertikal. Jadi goanya bolong dari bawah ke atas. Keren khan?

Serem juga sih! Soalnya di bawah air itu berati ada lubang besar dong! Beuh menyeramkan hahaha.

Saatnya nyemplung

Nah, awalnya dari sini nih! Rileks ya bero!

Bannya bisa mengambangkan manusia maksimal seberat 130 kg. Jadi buat yg berat badannya dibawah 130 kilo, kalian jangan khawatir ya. Ngambang kok! Lihat tuh kami berempat khan salah duanya berbadan subur *lirik Tomi dan Arip*. Buktinya gak mati tenggelam tuh. Hahahhaa.

Digeret menuju goa

Sama mas guidenya digeret menuju goa.

Setelah naik di atas ban. Kita harus memegang tali pada ban milik teman kita. Lalu teman kita memegang tali di ban kita. Biar gak kintir. Biar selalu bersatu. Kalau mau romantis sih, boleh kok pegangan tangan. HAHAHAHA.

Aslinya di sini ini airnya mengalir ya bero. Tapi pelan banget. Jadi biar cepet ya digeret saja sama pemandunya.

Sejarah Goa Pindul

Sejarah Goa Pindul

Sejarahnya sih simpel. Pindul itu kepanjangan jadi pipi kebendul. Alias pipinya terbentur. Terbentur sama batu goa pas si bayi dimandikan di sungai goa itu. Bayinya kasihan sih, mau dibuang gitu. Yang membuang bayi tega banget ya. Dia adalah utusan Panembahan Senopati.

Ada versi dari sumber lain sih..

Legenda penamaan Gua Pindul yang dipercayai dan dikisahkan turun temurun oleh masyarakat sekitar berasal dari kisah perjalanan Joko Singlulung yang menelusuri hutan lebat, sungai, hingga gua untuk mencari ayahnya. Saat sedang menyusuri 7 gua yang memiliki aliran sungai di bawahnya, kepala Joko terbentur sebuah batu sesar yang ada di dalam gua. Gua tempat Joko terbentur tersebut dinamai Gua Pindul yang berasal dari kata dalam bahasa Jawa pipi gebendul yang berarti pipi yang terbentur.

Entah mana yg bener. Yang jelas Pindul itu artinya Pipi Kebendul. Pipi siapa? Terseraaah.. Pipimu juga boleeeeh. Hahahaha.

Sangat Rame

Kalau serame ini sih, kurang sip yaaa…

Pas giliranku itu, sejam sebelumnya, ramenya gak separah itu ya bero. Paling cuma sepertiganya. Masih ada air sungai yg bisa terlihat. Gak penuh sesak kayak gituuu.. Duh, kasihan sungainya sesak nafas tuh. Hahaha

Goa Pindul

Goa Pindulnya sudah kelihatan tuh di ujung sana.
Lihat deh di atasnya, ada rumah sangkar burung waletnya kak Atiek.
Walaupun si Walet lebih seneng tinggal di goa sih
daripada di rumah itu.

Pas giliranku, waktu yg diperlukan untuk menyusuri goa sejauh 350 meter itu, selama 45 menitan. Gak ada sejam kayaknya. Mungkin karena antri ya, jadi dicepetin sama pemandunya. Soalnya hari itu tiket yg terjual mencapai… 5000 pengunjung! Wedyan! Dan mereka belum pada datang!

Mas Bagus, guide kami terpaksa agak teriak ya ngejelasinnya. Soalnya rebutan suara sama pemandu lainnya. Haha. Aku sih gak begitu memperhatikan penjelasannya. Soalnya gak begitu kedengeran juga sih. Yang aku tangkap sih, di dalam gua pindul ini ada stalagmit dan stalaktitnya. Standar goa gitu deh. Trus ada batu kolom juga, yang artinya pertemuan antara stalaktit dan stalagmit.

Beuh, karena aku gak bawa kamera, aku tampilkan foto dari google saja yaaa..

Stalaktit Soko Guru

Kayaknya ini stalaktit senior di Goa Pindul. Gedhe banget!
Sumber foto

Mas Bagus bilang, stalaktit di goa ini berasal dari tetesan air yang mengandung kapur. Setiap milimeternya terbentuk sekitar 2,7 tahun. Jadi setiap sentimeternya terbentuk selama 27 tahun ya bero. Jadi kalau semeter berapa tahun bro?

2700 tahun! Padahal sekarang baru tahun 2015. Berati Goa ini sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi! Soalnya ada batuan stalaktit yg ukurannya 4 meteran!

Stalaktit Muda

Nah ini stalaktit yg masih muda unyu-unyu.
Coba tebak umurnya berapa ya?
Bisa-bisa 100 tahunan. *nelen ludah*

Zona goa pindul

Kiri: pintu masuk. Kanan: Suasana gelap goa.

Untungnya sih kemarin rame-rame, kalau sepi banget gitu kayaknya menyeramkan ya bero. Lha gelap banget ik. Foto di atas tentu saja pakai flash motonya. Aslinya ya gelap gulita.

Eh, di atap goa ada hiasan batiknya loh. Dia adalah karya para kelelawar berbakat!

Batik karya kelelawar

Hiasan batik karya kelelawar berbakat
ini sebenarnya adalah eek mereka.
Hihihihi..

Untung eek mereka gak sebau eek manusia yaaa. Baunya sih masih wajar lah. Trus itu lihat, mereka juga membuat lubang-lubang membentuk lingkaran. Pas aku lihat di sana dulu, lubangnya bisa simetri gitu lingkarannya. Padahal kelelawar mana punya jangka yaaa…

Melayang-layang di atas ban selama 45 menitan itu bikin kami gak sadar kalau sebenarnya sungai di dalam goa itu ada yg kedalamannya 12 meter! Bhahahaha. Karena kami khan melihat ke atas ya. Memandangi stalaktit (batu yg terbetuk dari atas ke bawah) dan stalagmit (dari bawah ke atas) yang indah bentuknya. Dan untungnya pemandunya gak bilang di mana spot yg kedalamannya 12 meter itu!

Bilangnya pas udah sampe finish. Hahahaha. Pinteeeeer!

Cahaya Sorga Goa Pindul

Cahaya Sorga nih!

Sayangnya aku pas ke sana itu kepagian. Jadi cahaya dari atas belum masuk. Matahari masih belum berada di atas. Coba deh lain kali ke sini lagi pas jam-jam matahari ada di atas lubang goa. Pasti keren banget!

Tapi kalau nunggu siang, pengunjungnya semakin banyak! Ah, dilema memang. Ntar deh ke sini lagi pas weekday. Biar gak sumpek. Hahahaha.

Pintu keluar Goa Pindul

Akhirnya selesai juga cave tubing nyaaa!

Selesai

Ban diserahkan ke guidenya.
Lalu naik tangga ke atas.
Selesai dan puas!

Kalau anteng sih, cuma pantat sampe pinggang yang basah kuyub. Tapi kalau sirat-siratan air, ya beda lagi. Untungnya aku pas berangkat belum mandi tadi. Jadi ya silakan kamu sirati sepuasnya. Hahahaha.

Kembali ke tempat semula. Menyepot pelampung, sepatu karet, mengambil sepatu dan tas di penitipan. Trus mandi. Jangan lupa bawa tas kresek buat naruh baju basah ya. Hal sepele yg penting namun sering terlupakan. Hahaha.

Eh lain kali cobain wisata lainnya di sini ah. Di sini gak cuma wisata Goa Pindul saja loh, ada Goa Gelatik, lalu Rafting di kali Oya, trus ada offroad naik mobilnya juga.

Tapi kalau offroad kayaknya gak dulu deh. Mahal tiketnya 350 ribu hahahhaa. Kalau bayar dewe-dewe sih monggo ayuk aja, kalau menraktir atau ditraktir itu nanti ada kesenjangan sosial yang terjadi di pertemanan. HAHAHAHHA.

Karena masih ada wisata satu lagi yang kami akan kunjungi, maka Wisata Bejiharjo harus berakhir sampe di Goa Pindul doang. Lain waktu dilanjut ke sini lagi. Ada yg mau ikutan??? Yuk yuk yuk! Pas hari biasa aja ya, jangan pas hari libur atau sabtu minggu. Aku emoh! Hahahaha

Udah ah! Kami mau melanjutkan perjalanan menantang di wisata berikutnyaaa.. Tunggu postingan selanjutnya yaa.. Kalau gak males sih.. :P

——-

WISATA GOA PINDUL
Alamat: Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
Phone: XL: 0817272354 (Gani) | Indosat: 085643059861 (Wening)
BBM: 2971E6F6
Email: kontak@wisatapindul.com
Facebook: Wisata Pindul
Twitter: @wisatapindul

61 Comments

Komen dong!