Rumus Rejeki

Sebagai tukang menggambar ulang foto, atau di kalangan designer grafis istilahnya tracing, diriku ini apalah pekerjaannya. Gak keren banget kok. Aku gak sekeren illustrator yang bisa menggambar dari kertas kosong menjadi ilustrasi gambar yg wah.

Aku bahkan kau suruh menggambar orang duduk sambil baca buku aja mumetnya setengah mati. Jelek pula hasilnya. Paling-paling aku bakalan brosing foto orang duduk di google, trus aku gambar lagi. Atau kalau gak nemu, aku akan foto diriku sendiri, lalu aku gambar ulang. Hahaha.

Namun, alhamdulillaaaah banget, dengan kemampuanku yg terbatas ini, aku gak serba kekurangan. Soalnya aku sudah merasa cukup dengan apa yang aku miliki selama ini. Istilah kerennya, aku sudah bersyukur.

Tuhan khan sudah bilang, kalau kita bersyukur, maka akan ditambah nikmatnya. Nah nikmat menurut orang satu dengan lainnya itu pasti bentuknya beda-beda khan. Ada yg berupa duit, ada yg berupa harta benda, ada yang berupa ketenangan hati, kedamaian jiwa, dll. Dan Tuhan Maha Tahu nikmat masing-masing makhluknya.

Orang yang seneng berwisata, akan menghabiskan duitnya untuk berwisata tentunya. Sementara orang yang seneng harta benda, tentu saja berwisata adalah hal yg membuang-buang duit.

Mending duitnya dibelikan iPhone atau Mekbuk kek. Tapi buat yg suka berwisata, memiliki iPhone atau mekbuk tentu gak senikmat bisa berwisata ke Raja Ampat.

Nah, orang yang berwisata, kalau dia bersyukur berada di tempat yg dia kunjungi, Tuhan akan menambah nikmatnya. Dia mungkin akan dilancarkan cari duitnya untuk bisa berwisata ke tempat lain lagi. Orang yang punya iPhone 5, kalau dia bersyukur, ya mungkin akan bisa beli iPhone 6, 7 bahkan iPhone 10! Sekalian aja jualan iPhone! Hahahaha

Nah, ayok kita fokus ke rumus rejeki. Rumusnya sih simpel. Gak jauh-jauh dari bersyukur tadi. Tapi susah dipraktekkan. Soalnya namanya manusia itu punya nafsu yg gedhe. Tapi bisa diusahakan kok. Bisa banget!

RUMUS REJEKI

BERI : HARAP = DAPAT

Keterangan:

  1. BERI adalah apa yang kita berikan. Bisa berupa pekerjaan yang kita lakukan untuk orang lain, untuk perusahaan tempat kita bekerja, dll. Bisa juga berupa sedekah! Nraktir temen, bantuin temen, nyenengin hati orang lain, sharing tips bermanfaat, dan lain-lain. Intinya menebar sesuatu yg positif.
  2. HARAP adalah apa yang kita harapkan, yang merupakan ukuran keihlasan kita. Semakin besar harapan, berati semakin gak ihlas. Semakin gak mengharapkan apa-apa, maka semakin ihlas. Hahaha. Ini susah banget pastinya!
  3. DAPAT adalah apa yang kita dapatkan. Bisa berupa apa aja. Bisa duit, harta benda, atau ketenangan hati dan jiwa.

Nah, ketiga keterangan di atas tentu bisa diangkakan. Bisa diganti dengan angka. Ayok kita beri contoh langsung saja ke kejadian sehari-hari.

Kasus:
Membeli bakso seharga 9 ribu.
Duit di dompet 10 ribu.

Harapan:
1. Bakso plus kembalian 1000
2. Bakso doang. Kembalian 1000 ambil aja.

Untuk kasus harapan 1.
Rumusnya: 9000 : bakso seharga 9000 juga = 1. Angka satu artinya ya sesuai dengan yang kita minta. Kita beli bakso, mengharapkan bakso, dapatnya juga bakso. Pas.

Untuk kasus harapan 2.
Rumusnya: 10000 : bakso seharga 9000 = 1 plus plus. Plus plus bisa berati ketenangan jiwa yang kita dapat karena penjual bakso pasti akan seneng menerima duit seribu dari kita.

Kalau orang seneng, biasanya akan muncul doa-doa untuk kita khan? Gak usah mengharapkan doa pun otomatis dia akan mendoakan. “Wah, terimakasih mas, semoga makin sukses dan banyak rejeki..”

Nah, khan didoakan! Haha. Kalau sudah begitu, di aamini saja. Trus udah.

Kasus:
Nraktir temen makan.

Harapan:
1. Biar nanti ditraktir juga suatu saat.
2. Ngarepin apa yaaaa? Gak tau ah. <--- ihlas. 3. Biar suatu saat bisa minjem duit, dapat penginapan gratis, ditraktir juga. Untuk harapan 1.
Rumusnya: Traktiran : Traktiran = 1. Artinya ya pas. Gak ada lebih gak ada kurang.

Untuk harapan 2.
Rumusnya: Traktiran : NOL = Tak terhingga. Beuuuuh, banyak banget dapatnya yaaa!

Iya! Ihlas itu berati kita gak mengharapkan apa-apa, atau harapan kita NOL. Angka berapa aja kalau dibagi dengan Nol, khan hasilnya mendekati tak terhingga. Alias banyak banget!

Tapi hal ini susah banget pastinya di zaman serba gak gratis ini. Pertemanan pun seolah-olah cuma “kedok” supaya kita dapat sesuatu yang lebih dari teman kita. Pinjem duit misalnya. Kalau pinjem sama temen khan ngembaliinnya bisa kapan-kapan. Hahahahah.

Untuk harapan 3.
Rumusnya: Traktiran : 3 harapan = 1/3 doang!

Tuh semakin besar harapan, dapatnya semakin dikit. Bahkan kalau harapannya buanyak gak masuk akal, ya malah gak dapat apa-apa. Soalnya suatu bilangan kalau dibagi angka yang besar khan hasilnya NOL.

Nah, ini yang banyak terjadi di diri kita. Terlalu banyak mengharapkan sesuatu. Walhasil gak dapat apa-apa atau susah ngedapetin apa yg kita mau. Fokus kita ke apa yang akan kita dapat, bukan ke apa yang kita berikan. Harusnya sih dibalik ya mindsetnya, biar kita ihlas.

Dua contoh di atas kayaknya sudah cukup membuka hati kita. Kalau konsep rejeki itu dasarnya memberi secara ihlas tanpa mengharapkan balasan.

Contoh kasus lain, misal pekerjaan juga bisa kok dimasukkan rumus rejeki.

Misal yang kerjanya gak ikut orang, alias buat usaha sendiri. Ya berikan tenaga kita, pikiran kita, semaksimal mungkin, sebermanfaat mungkin, tanpa mengharapkan balasan yg berlebihan. Niscaya rejeki akan lancar terus. Apalagi kalau kita memberikannya tanpa mengharap apa-apa. Bisa sip josh gandosh itu rejekinya. Rohmatan Lil ‘Aalamiin tenan!

Entah rejeki itu datangnya dari mana, bentuknya kayak apa, akan selalu ada kalau kita menerapkan rumus “ihlas” di atas.

Buat yg kerjanya ikut orang, misal kerja di perusahaan atau PNS, bisa kok dimasukkan rumus rejekinya. Jadi gaji kalian yg “sepertinya” tetap tiap bulan itu, sebenarnya kalau difikir lagi lebih dalam, tetap fluktuatif berubah-ubah kok.

Kalau kita maksimal dalam bekerja, ihlas tulus tanpa mengharap berlebihan. Ya pasti ada saat-saat si bos nraktir apa kek. Atau tiba-tiba kamu ditugaskan ke luar kota kek, dikasih sangu kek, ya yang gitu-gitu lah. Atau mungkin rejekinya bisa berasal dari orang lain yg iseng nanya2 kerjaan kita di kantor itu ngapain. Trus tiba-tiba dia order sesuatu sesuai jasa kita di kantor. Nah khan, pokoknya Tuhan itu ada-ada aja caranya ngasih rejeki. Misterius banget!

Atau bisa jadi rejeki anak kantoran itu kayak gini..

Rejeki anak kantoran

Rejeki anak kantoran nih..
Gambar dari sercing google entah siapa yg bikin.

Memang sih, berbuat ihlas itu sulit banget! Tapi gak mustahil kok!

Contoh mudah keihlasan yang paripurna adalah ketika kita buang air besar. Kita kasih tuh eek kita kepada si wese. Tanpa kita mengharapkan apa-apa kepada si wese tersebut. “Udaaah, ambil aja eek guweh!” Hahaha.

Jadi kalau mau ihlas, anggap aja apa yang kita kasih itu berupa eek. :neutral:

Tadi pas aku eek, aku kepikiran begini, ternyata buang air besar alias boker itu ada filosofinya. Berikut ini filosofi eek dari Ki Ndop Ganteng:

Harta kita ini pada hakikatnya seperti eek. Semakin kita timbun, semakin bikin penyakit, hidup gak tenang, resah gelisah. Semakin kita keluarkan (untuk hal yang bermanfaat), maka semakin sehatlah kita. Semakin enteng hidup kita. Fikiran tenang, damai, lega.

Gimana filosofi karanganku? Masuk akal khan?

Tepuk tangan dong! :tepuk:

——–

Sekarang saya mau curhat masalah eek rejeki ini.

Blog ini lah contohnya. Duluuuu, blog ini tuh gak ada niatan aku jadiin lahan cari duit. Padahal blog ini berbayar loh. Tiap tahun pasti aku ngeluarin duit kurang lebih 300 ribuan buat memperpanjang domain hosting.

Tapi apa yang aku lakukan? Aku malah sharing tutorial vector, sharing tips-tips, curhat-curhat gak jelas. Bahkan sudah lama blog ini gak ada iklan aku pasang.

Dulu pernah masang iklan dengan harapan dapat duit ratusan trilliun perbulannya. Eh, karena terlalu banyak berharap, dapatnya 10 ribu doang. Itupun setelah 4 bulan iklan pembesar manuk (yg design layoutnga gak ada indah-indahnya) itu nongkrong dengan tegangnya di blog ini. Hahaha.

Oke lanjut…

Kemudian karena aku sering bikinin gambar vector ke temen secara gratis, dan banyak yang berterimakasih karena tutorial vectorku bisa buat lahan cari duit buat mereka, aku pun ketiban rejeki juga. Banyak orderan vector selama 7 tahun terakhir ini, sampe sekarang dan nanti, semoga. Haha.

Rumus rejeki bekerja di diriku ternyata. Walaupun aku ini manusia biasa, yang kalau ngasih gratis vector, aslinya ya modus juga biar nanti akrab, trus aku bisa dianterin ke mana-mana, lalu dapat penginapan gratis kalau kesasar ke kotanya. Hahahah.

Tapi beneran. TUHAN ITU MAHA KAYA. Jadi udah deh, rejeki jangan diitung-itung. RUGI tau!!! Tuhan bisa ngasih LEBIH dari apa yang kita hitung.

“Ndop, kamu sehari bikin berapa vector sih?”
“Ummm… Tiga, kali ya.. Soalnya kalau banyak-banyak, capek.”
“Tiga ya, ummm.. 3 kali 60 ribu, dikali sebulan.. Umm.. “ lalu dia ngitung pakai kalkulator, “Berati penghasilanmu sekian juta dong, Ndop? Waaaah.. “

Melihat kenyataan angka yang dia hitung, dengan angka yang sebenarnya aku dapat. Aku cuma bilang, “Hehehehe..” saja deh. Untuk bulan ini aja, hitungannya meleset jauh tuh. Hahaha. Agak aneh sih cara menghitungnya, aku aja nggak pernah menghitung rejekiku sepasti itu.

Rumus rejeki khan gak sekedar “kalikan aja sebulan”. Banyak faktornya. Bersyukur salah satunya. Tuhan Maha Kaya itu konsepnya. Rugi banget kalau kamu ngitung rejeki “sepasti” itu, padahal Tuhan Maha Kaya. Maha loh! MAAAAHAAA.

Duit banyak buat apa sih? Wong ya nggak dibawa mati aja loh. Kalau aku sih, asal kalau mau ini itu ada duit, itu sudah cukup. Alhamdulillaah aku ini kalau mau sesuatu selalu ada dananya.

Lha piye, kemauanku itu paling ya simpel-simpel. Misal pingin makan apa, minum apa, beli baju apa, celana yang itu aku belum punyaaa. Belum pernah punya keinginan sampai nilainya ratusan juta. Betapa tidak nyamannya hidupku kalau punya harta harganya ratusan juta ya. Haha.

Baru punya iPhone sama iPad aja banyak yang pada pinjem duit yang mengira aku kaya raya. Mereka lupa, aku ini belum punya motor, belum punya mobil. Punyanya sepeda until. Kemana-mana naik sepeda ontel, atau kalau jauh naik kendaraan umum. Ekonomi pula. Jadi, walaupun aku punya gejet mihil, tapi aku ini seneng sengsara juga, kelihatan miskin juga. Gak semanja itu apa-apa harus mihil. Hahahaha.

Seimbang lah pokoknya. Barusan aja aku cuma sarapan nasi, tempe, sama sambel bawang doang kok. Kalau diduitin, paling cuma Rp. 1500,- doang sarapanku. Tapi karena aku bersyukur, jadi ya NIKMAT BANGET! Memang kenyataannya emang enak banget sih! Hahaha.

Coba deh kalian ke pegunungan. Lalu lihatlah kehidupan penduduk di sana. Kadang aku mikir gini, mereka ini hidup di gunung gini kalau kepingin ais krim Magnum lak susah. Harus turun gunung dulu. Ya kali di gunung ada indomaret. Hahaha.

Tapi nyatanya mereka bahagia-bahagia aja tuh. Mereka mana kepikiran beli Magnum kayak aku. Saya yakin enggak. Yang penting bisa makan tiap hari sudah cukup. Coba bayangkan kalau penduduk pegunungan itu orang-orang yang pikirannya bisnis cari duit mulu, ya mungkin suasana pegunungan gak akan alami dan seindah ini. Sudah diganggu pemandangannya oleh bangunan gedung hotel atau mol.

Pegunungan Api Purba

Indahnya pegunungan Api Purba Wonogiri Jawa Tengah ini!
Jangan sampai ada gedung dibangun di pegunungan kayak gini.

Bersyukur itu dapatnya bahagia. Itu sudah pasti. Dan rejeki bisa berupa kebahagiaan juga toh. Gak melulu duit duit duit. Makanya tadi, aku gak suka sama orang yg ngitung-ngitung rejeki. Terlalu sempit nanti pikirannya. Terlalu diperbudak sama duit. Asal punya duit, segalanya bisa dimiliki. Padahal belum tentu toh.

Yuk teman-teman, mulai sekarang kita harus memperbanyak bersyukur. Kalau kalian ngobrol sama temen tentang bisnis, sekali-kali obrolan diarahkan ke bersyukur ya. Jangan merasa kuraaaang terus. Jangan melulu membahas perkembangan bisnis terus.

Coba deh sekali-kali kalian bahas tentang rencana piknik aja. Jadi imbang gitu, selain ngobrolin cara dapet duit, juga ngobrolin cara membelanjakan duit yang bikin hati seneng. Piknik bareng temen itu manfaatnya gedhe loh. Selalu ada transaksi “traktir menraktir” di dalam piknik. Gak mungkin piknik itu selalu bayar sendiri-sendiri. Pasti ada momen di mana salah satu menraktir yang lainnya.

Sudah ah. Kalian sudah paham pastinya. Trus kapan kita piknik bareng?

92 Comments

Komen dong!