Downhill dari Roro Kuning Nganjuk

Katanya sih olahraga down hill adalah tergolong olah raga ekstrim. Aku pernah tuh downhillan dari Air Merambat Roro Kuning Bajulan Nganjuk melawati hutan, pematang sawah, sungai, jalan sempit, yang sebenarnya bukan jalan untuk sepeda.

Sik sik, downhill adalah..

Downhill mountain biking (DH) is a genre of mountain biking practiced on steep, rough terrain that often features jumps, drops, rock gardens and other obstacles. Downhill bikes are heavier and stronger than other mountain bikes and feature front and rear suspension with over 8 inches (20 cm) of travel, to glide quickly over rocks and tree roots.

Ngerti artinya? Gak ngerti? Sama. Haha..

Intine ya olahraga sepedahan menuruni bukit di jalan yg nggak beraspal, melewati bebatuan kasar, tanah becek, ranting-ranting pepohonan, yang mana olah raga ini memerlukan sepeda dengan suspensi (baca: shock breaker atau istilah jowone sekok) yg mentul-mentul biar gak menyengsarakan tubuh kita terutama tangan karena geronjalan yg ekstrim. Juga biar bokong kita gak tepos-tepos amat. Haha

4 Maret 2012, 3 tahun yang lalu..

Jam 6 pagi. Berangkat dari Kauman Nganjuk, menuju Air Merambat Roro Kuning naik pikep sewaan. Kami bertujuh urunan (bayar 10 ribu kalo gak salah) untuk bayar pikep yang mengantarkan kami naik gunung Bajulan menuju Air Merambat Roro Kuning Nganjuk.

pick up

Duduk kruntelan sama sepeda selama 35 menitan
Lumayan bikin pegel. Hahaha

Jarak yg ditempuh lumayan jauh, sekitar 21 km. Memerlukan waktu kira-kira setengah jam.

Peta Bajulan

Jalannya menanjak curam, jadi naik pikep ajah.

Kenapa gak ditumpaki saja sepedanya menuju Roro Kuning?

Lah, niatnya bukan naik gunung, tapi menuruni gunung alias downhill bero.

Sampai di Roro Kuning langsung foto-foto.

Rorokuning Bertujuh

Belakang: Agung, Gendut, Heri, Ndop
Depan: Mas Ari, Koko, Lupa namanya (duh! Haha)
Kaosku merah, apakah berani menerima tantangan?

di depan Air Merambat Roro Kuning

Foto di depan Air Merambat Roro Kuning

Ndop Sepeda di Roro Kuning

Jaman itu (2012) gaya ceribel masih eksis ya beroh. HAHA.

Setelah kalori habis buat perjalanan dan foto-foto, kami sarapan dulu di warung depan Monumen Jendral Sudirman (Kira-kira 100 meter di bawah Air Merambat Roro Kuning) untuk mengembalikan kalori yg hilang. Sarapan yang banyak! Soalnya habis ini tenaganya mau digeber habis-habisan!

Antri sarapan

Antri Sarapan beroh. Telur ceploknya masih digoreng.

Setelah makan kenyang, foto-foto lagi. Yaelah, KAPAN SEPEDAHANNYA??

Monumen Jendral Sudirman

Ambasador Monumen Jendral Sudirman :P

Agung Ngetril

PAMEEEERRRR.. Ati-ati ya Gung..

Trus kita berangkat menuruni gunung. Jadi kami ngglender ke bawah trus belok kiri melewati hutan pinus. Jalan yg bisa dilewati cuma jalan setapak jeplok dan licin selebar 30 cm.

Hutan Pinus Bajulan

Jaman modern ya bero, dikit-dikit berhenti buat pemotretan
Tapi ini justru asyiknya! Apapun bisa jadi setudiyo foto. Hahaha.

Hutan Pinus Bajulan

Dituntun soalnya jalannya licin bingits!

Setelah menyelesaikan sesi hutan pinus, kami menuju sesi berikutnya, yaitu sungai dan pematang sawah. Pas melewati sungai aku gak sempet moto, yang jelas sepeda kami harus diangkat. Sebagian ada yg mencuci ban sepedanya karena terkena lumpur.

Pas sesi pematang sawah, ini agak mendebarkan buatku. Soalnya belum pengalaman banget. Trus ukuran tubuhku yg tinggi ini sama sepeda yang aku tumpaki ini gak match. Jadi susah menjaga keseimbangan. Walhasil aku sering banget nuntun sepeda. *Biar bisa foto-foto juga sih, HAHAHAHA*

Pematang Sawah

Melewati pematang sawah.
Sisi kanan foto adalah sungai kecil.
Sisi kiri sawah.

Jadi kalau nggak seimbang, kalau beloknya ke kiri, bisa nyemplung ke sungai, kalau beloknya ke kanan, bisa nyemplung ke sawah. Karena sama-sama bikin kotor dan malu, makanya aku memilih menuntun sepeda aja. HAHAHA. Dasar cemen!

Sementara Gendut, Agung dan kawan-kawan sudah jauh melesat di depan sana. Mereka pinter-pinter menjaga keseimbangan. Padahal jalan yg dilewati cuma 30 cm! Sementara di kiri kanan gak ada sandaran.

Aku sama mas Ari malah sibuk selfie. HAHAHAHHA.

View Gunung

View sebelah kanan saya nih. Pegunungan.

Sayangnya pemandangan pegunungan di atas itu tidak bisa dilihat sambil mengayuh sepeda. Maklum lebar jalan cuma 30 cm. Becek pula. Belok kiri dikit nyemplung kali, ke kanan dikit nyemplung lumpur di sawah. Jadi kalau mau melihat view pegunungan harus mandek dulu. HAHA.

Mau menuntun sepeda juga gak cukup lebarnya. Karena pematang sawah itu lebarnya gak ada semeter. Jadi ya gitu, ribet banget medannya! Hahahaha.

Setelah kira-kira setengah jam bergelut dengan konsentrasi penuh, akhirnya medan ribet itu berakhir juga. Dan kami melewati jalan aspal! Hore!

Aspal

Finally jalannya gak ribet sekarang!
Tapi…

Jalannya langsung menanjak! Huaaaaaaa.. kapan istirahatnya ya? HAHAHA. Udah jangan kebanyakan istirahat, kapan nyampeknya nanti?

Medan aspal yg nggrotal rusak parah menyambut di awal, lalu aspal lama-lama mulai menghalus. Tapi karena kami sudah digeber tenaganya ketika di medan ribet tadi, maka kami pada menuntun sepeda. Gak kuat beroh!

Setelah agak jauhan, suasana makin teduh dengan view yang asyik..

Istirahat

Atas: View di sebelah kiri kami.
Bawah: Istirahat mulu ya bero. Ya maap, kelelahan bingits!

View di sebelah kanan ada pepohonan pohon pinus yang tumbuh di bawah sana. Sementara di sebelah kiri pohon pinus juga tapi tumbuhnya di atas sana. Kiri bukit penuh pinus, kanan jurang pinus.

Tertinggal nih

Aku tertinggal jauh.
Maklum saya anggap alam adalah studiyo foto.
HAHAHAHA

Eh, jalannya semenanjak apa? Lumayan beroh..

Menanjak

Lumayan menanjak

Kalau menanjaknya cuma beberapa puluh meter sih okay ya ditumpaki saja. Lha ini sepanjang jalan aspal jalannya menanjak terus. Mana kalori di nasi pecel plus telur ceplok sudah habis sejak di pematang sawah tadi. Jadi ceritanya ini sudah lemes. HAHAHA.

Menuntun istirahat

Akhirnya nemu tempat istirahat yang sebelahnya kuburan!
HAHAHAHA

Setelah menuntun beratus-ratus meter, akhirnya selesai juga di tempat istirahat berupa pos kampling. Agak-agak kripi soalnya di sebelahnya ada kuburan. Setelah ini jalan akan datar seperti biasa.

Tapi karena kami ini menghindari jalan mulus karena akan membosankan, maka kami belok kanan melewati jalanan berlumpur!

GILA GAK KAPOK-KAPOK! HAHAHAHA.. (dan aku mulai benci sekaligus iksaitid)

Desa Suru Ngetos

Memasuki Desa Suru, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk
Jalanan sudah berlumpur parah!

Foto di atas itu ronde pertama ya bero. Lumpurnya masih bisa lah dilewati sambil menaiki sepeda pelan-pelan. Kanan kiri aman lah, jalanan masih lebar. Gak akan ada kekhawatiran akan nyemplung kali atau jurang.

Bagaimana kalau ini?

Jalanan becek

Gak kebayang kalau ada Cinta Laura di sini,
pasti udah ngeluh ribuan kali: jalanan byecyek, gak ada oujyek..

Cuma bisa pasrah sama jalan super becek dan dalam kayak di atas. Apalagi rem belakang sepedaku masih V-Brake, alias yg model remnya njepit pelek roda sepeda. Sementara teman-teman yang lain udah pakai rem cakram depan belakang. Jadi, udah dipastikan remku akan kotor karena roda akan penuh lumpur.

Yaudah lah, mendingan foto-foto aja. Ngapain stress? HAHAHA.

Setelah seperempat jam bergelut dengan jalanan becek. Kepleset-pleset (untungnya gak sampe jatuh!), akhirnya kami bertemu jalanan aspal lagi! HOREY!

Untuk menghindari cipratan lumpur ke mata, maka dibersihkan dulu dikit-dikit lumpur di ban pakai daun, atau apalah di sekitar yg bisa diambil untuk mengeruk lumpur yg menempel.

sepeda kotor

Bersih-bersih sepeda pakai dedaunan

Yuk sudah cukup bersih, saatnya melanjutkan perjalanan. Btw, Kecamatan Ngetos ke kecamatan Nganjuk (Selain kabupaten, Nganjuk juga nama kecamatan) itu MASIH 25 KM-an!

HAHAHAHA.. TERNYATA PERJALANAN MASIH PANJANG!

Enaknya melewati jalanan aspal, yg diperlukan cuma fisik doang. Gak perlu konsentrasi menjaga keseimbangan. Agak-agak membosankan memang. Tapi untuk fisik yang sudah sangat lelah, ya ini semacam refreshing.

Aku lupa, kok tiba-tiba kami sudah sampai di atas gunung aja nih. Sebelumnya melewati jalanan berbatu gitu. Gronjalannya lumayan bikin lengan pegel. Tapi untungnya panas banget cuacanya, jadi gak licin.

Puncak gunung apa ya

Kayaknya ini Gunung Ngliman deh.
Panas banget cuacanya!

Gunung Ngliman

Foto-foto dulu. Ini yang penting!

Udahan yuk, kita pulang! Udah jam setengah sebelas siang. Cuaca tentunya makin menter-menter panas.

GILA UDAH 3 JAM LEBIH kita belum mendekat ke arah pulang sama sekali. HAHAHA.

Kalau dari atas gunung begini, maka kami tinggal menggelinding ke bawah. Cuman jalannya gak sebecek awal tadi. Yang ini masih setapak cuman masih wajar dan gak licin. Mungkin karena lumpurnya sudah kering terkena sinar matahari.

Dan kali ini akhirnya kami bisa menikmati pemandangan gunung yang damai dan indah di kiri kanan sambil menaiki sepeda. Soalnya sudah melewati jalan yg wajar untuk dilewati. Walaupun panas sih bero. Tapi untungnya anginnnya semilir..

View kiri sawah, kanan pegunungan

View kiri: sawah, view kanan: Sawah plus gunung

Trus finally, akhirnya kita sampai di penghujung acara. Perjalanan downhill plus offroad kali ini sungguh mendebarkan dan bikin aku bisa panjang lebar menceritakan di blogku tersayang ini.

Dulu sih, tahun 2012 semangat ngeblog memang menurun dan gak serajin sekarang ini postingnya. Entahlah kenapa. Seharusnya kalau langsung aku posting, ceritanya akan lebih lengkap, soalnya masih pada inget rasanya, sengsaranya, becek-beceknya, kalau bingung masih bisa nanya ke temen-temenku yg lebih ngerti wilayah Nganjuk.

Kalau sekarang nanya mereka, mereka juga sudah susah mengingatnya. Soalnya khan bentuk alamnya mirip-mirip. Gunung, sawah, pepohonan.

Dan untungnya aku foto papan nama hijau di atas, jadi tahu kalau aku dari Air Merambat Roro Kuning, jalan turun menyusuri hutan pinus menuju Desa Suru, Kecamatan Ngetos. Jadi selama ini kami gak berjalan mendekat ke Nganjuk, tapi semacam belok kiri gitu. Bukan nyasar! Tapi memang disengaja! HAHAHA

Gambaran kasarnya sih seperti ini..

Rute perjalanan

Nganjuk ada di atas sana. Kami malah belok ke kiri. HAHAHA

Dan akhirnya kami menuju ke atas seperti di peta. Menuju Nganjuk, tempat kami, para orang kota (((ORANG KOTA))) yang haus akan nikmatnya alam pegunungan, untuk kembali ke kediaman masing-masing. Lalu beristirahat TOTAL-SETOTAL-TOTALNYA sampe seminggu bahkan lebih.

HAHAHA. NJAREMNYA SEKUJUR TUBUH BERO!

Jalanan halus

Pulang…

Pas perjalanan pulang, lumpur di sepeda kami menjadi tontonan yang menarik untuk warga Nganjuk. Mereka pada heran sama kami, seolah-olah mengatakan, “Bar ko ndi to wong-wong iki? Kok sampe lecek koyok ngono?”.

Udah sampai kota, kami nggak pulang dulu sih, mampir ke Alun-alun buat beli es degan. Beuh, langsung habis dalam sekejap!

Habis itu pulang, mandiin sepeda, mandiin badan. Trus tidur pulessssssss.. banget!!

WHATTA INCREDIBLE EXPERIENCE!

Yang artinya: KALI LEMPOH BADAN REMUK REDAM BEROH!!!

Thiyend..

46 Comments

Komen dong!