Yang Salah yang Dihukum

Jadi dulu pas pengaderan kampus pas masih kuliah di kampus ITS Surabaya, diriku pernah menjadi musuh teman-teman sendiri. Maklumlah, gak selamanya senior itu salah.

Jadi, waktu itu ada teman yang terlambat opspek (pengaderan) karena alasan klise semacam macet atau ban bocor. Anggap saja namanya Ahmad Dani. Lalu senior gak mau tau dong, karena kalau alasan macet khan bisa datang lebih pagi. Kalau alasan ban bocor memang bisa sih ditoleransi, tapi tetep aja kalau telat ya telat. Jadi harus mengikuti peraturan, yaitu dihukum!

Dan dihukumlah si Ahmad Dani saat itu. Dia disuruh push up lalu lari-lari mengelilingi barisan teman2 opspek lima kali. Pas dihukum push up, ada salah satu temen yang gak tega. Anggap saja namanya Ali Topan. Ali gak tega melihat Ahmad Dani yg gendut ngos-ngosan mau mati ketika push up 10 kali.

Nah, Ali tiba-tiba menyuruh Ahmad Dani berhenti push up dan biar Ali saja yang menanggung hukuman itu. Maklum Ali saat itu ketua kelompoknya. Dia merasa bertanggung jawab terhadap kesalahan anggotanya. Duh, Ali pahlawan banget yaaa..

Si Ahmad Dani tentu saja seneng banget dong, gak jadi push up, gak jadi lari-lari juga. Dan mungkin setelah ini si Ahmad Dani akan jatuh cinta sama Ali karena kepahlawanannya bikin hati Ahmad Dani meluluh.. Duuuh.. :cry:

Tiba-tiba ada peserta opspek yang antimainstream sendiri. Anggap saja namanya Mudzofar. Ketika kepahlawanan Ali dipuja-puja teman-teman yang lain, Mudzofar malah instruksi ke senior.

Kak, saya punya pendapat begini kak. Seharusnya yang salahlah yang dihukum, bukan yang sudah pagi-pagi datang malah menggantikan hukumannya. Itu bukan tindakan yang benar. Itu tidak mendidik!

Senior pun sebagian ada yg setuju sama pendapatku, sebagian ada yang pura-pura nggak setuju. Maklum namanya senior, dia selalu ngetes yuniornya dengan pertanyaan semacam, “HEI KAMU MUDZOFAR!! KAMU NGGAK NGERTI NAMANYA SOLIDARITAS? SI ALI ITU MAU BERKORBAN DEMI TEMANNYA, KOK KAMU NGGAK SETUJU? DI MANA LETAK HATI NURANIMU MUDZOFAR??

Karena aku orangnya egois, maka aku cuma menganggap semprotan kakak senior sebagai angin lalu. :siul:

Ternyata ada senior yang setuju dengan pendapatku. Maklum lah, ini langkah senior supaya yuniornya bingung harus mendukung siapa. Senior yang satu setuju sama Ali, senior lainnya setuju sama Mudzofar, yuniornya terombang-ambing bingung memilih yang mana kayak situasi rakyat Indonesia sekarang ini.

Sementara itu Ali dan Ahmad Dani cuman diam saja, menunggu kesepakatan peserta opspek lainnya.

Suasana jadi gaduh, banyak yunior yang ngedumel sendiri nggak tau ngomong apa. Ada yang tolah-toleh gak mudeng apa yg terjadi. Sementara itu senior semakin semangat untuk manas-manasi yuniornya.

“AYO SEMUA PUTUSKAN CEPAAAAT!!! SIAPA YANG LAYAK MENDAPAT HUKUMAN INI?? CEPAT PUTUSKAN CEPAAAAAT!!!”

Duh, mbak, suaramu tinggi banget mengalahkan Merraiyah Keri. Mudzofar bergumam dalam hati.

Dan setelah lima menit gak ada keputusan sepakat, akhirnya senior setuju dengan pendapat Mudzofar. Si Ahmad Dani lah yang dihukum push up dan lari-lari mengelilingi peserta lainnya. HOREEEEE!! Mudzofar seneng banget.

Selama si Ahmad Dani dihukum, aku sebenarnya kasihan sih. Tapi namanya salah ya tetep aja salah, harus menerima hukuman. Untuk masalah kasihan, bisa kita tuangkan nanti setelah hukuman selesai. Bisa ngasih air minum, menghibur, atau bantuin mengerjakan PR.

Si Ahmad Dani berhasil push up 10 kali juga loh. Keren! Lalu dia melaksanakan hukuman selanjutnya. Yaitu lari. Nah, ketika Ahmad Dani lari, Mudzofar mengikuti arah larinya. Mudzofar yang saat itu baris di depan sendiri otomatis ketika Ahmad Dani lari ke belakang, Mudzofar harus menengok ke belakang. Lalu Mudzofar shock!

Ternyata yunior yang lain memandangi wajah Mudzofar dengan tatapan dendam! Duuuuh teman-teman, dia salah, dia pantas dihukum, kenapa semua pada menatapku dengan pandangan kecut begini? Ah cuek aja ah..

Dan tiba-tiba ada yang membisik kuping dari belakang, “Pendapatmu tadi bener! Yang salah ya harus dihukum.”

Ternyata salah satu senior ada yang membisiki telingaku. Duuuh.. Makasih ya senior. Bisikanmu bagaikan angin surga..

Setelah menjalani hukuman itu, si Ahmad Dani malah kelihatan fresh karena habis olah raga sekaligus jadi artis dadakan karena menjadi tontonan warga senior dan yunior. Kalau si Ahmad Dani nyaleg, mungkin dia lari-lari sambil bawa spanduk “COBLOS PERUT SAYA” kali ya? Hahaha..

Ternyata setelah si Ahmad Dani bertanggung jawab atas kesalahannya, dia bisa kembali ke barisan tanpa cedera apa-apa, tanpa sesak nafas, dia masih hidup bahkan sehat wal afiat karena habis olah raga.

So, mana tadi yunior yg merasa kasihan? Mana tadi yunior yang merasa solidaritas? MANA???? KOK DIEM??? Kok nggak ada yg ngasih minum? Tuh lihat, si Ahmad Dani loh kuat menjalani hukuman.

———–

Jamaah ndofans yang berbahagia. Contoh cerita di atas bisa dijadikan contoh. Merasa kasihan ditempat yang salah hanya akan memperburuk suasana. Coba kalau si Ahmad Dani tadi nggak jadi dihukum, dia akan merasa balas budi dengan Ali. Iya kalau Ahmad Dani pas baik hatinya, lha kalau pas buruk? Bisa-bisa si Ali akan dimanfaatkan Ahmad Dani.

Nah..

Jadi orang yang bermanfaat itu berbeda dengan dimanfaatkan orang. Yang satu keren, yang satunya bego atau khilaf.

#ndopquote

Pengaderan Statistika 2002

Pengaderan Jurusan Statistika ITS Tahun 2002
Coba tebak aku yang mana?
:sip:

Jadi kangen teman-teman kuliah… :cry:

50 Comments

Komen dong!