Jangan Takut Sebut Merek

Buanyak sekali para blogger yg takut menyebut merek di postingannya, lalu menyembunyikan atau menyamarkannya dengan memberi tanda bintang (*). Misal Indom*e, Indos*t, Tosh*ba.

Misalnya pas lagi cerita tentang kelaparan malem-malem, nulisnya gini, “Karena perutku laper banget, maka aku bikin Indom*e buat ganjel perut. Lalu melanjutkan belajar goyang Bang Jali buat ujian seni tari besok… “

:dance:

Mereka beralasan, nanti dikira promosi. Ada juga yg takut mencemarkan nama baik. Atau mungkin ada alasan lain?

Indom*e

Disensor pun sebenarnya tetep kebaca mereknya.
Kecuali kalau nyensornya begini: *******
:lol:

Aku mau ngasih pendapat yah, soalnya selama ini aku kalau membahas merek, ya aku tulis mereknya secara utuh. Kalau misalnya aku lagi suka sama Indom*e, ya akan aku tulis Indomie, atau Indomi. Kalau aku gak suka sama Blackb*rry, ya aku tulis mereknya secara utuh, Blackberry atau blekberi.

Intinya diriku santai saja. Nggak ambil pusing sama alasan-alasan di atas. Dibilang promosi, why not? Khan gak ada ruginya, justru menguntungkan perusahaannya. Trus kalau menguntungkan perusahaannya, apakah aku rugi? Khan enggak.

Aku juga gak peduli kalau reviewku tentang suatu produk harus mengatakan jelek atau tidak memuaskan. Sante saja. Yang penting itu TIDAK MENJELEK-JELEKKAN.

Tolong dibedakan ya, menjelek-jelekkan dengan jelek beneran itu dua hal berbeda. Menjelek-jelekkan itu ada “kepentingan”. Misal kepingin menghancurkan nama baik perusahaan. Bisa jadi “dibayar” produk tertentu untuk menjelek-jelekkan produk tertentu.

Kalau memang produknya jelek, ya katakan jelek. Kalau nggak memuaskan ya katakan saja. Nulislah sesuai kenyataan dan apa yg kalian rasakan. Jujur itu tetap aman.

Perusahaannya akan rugi dong kalau produknya direview jelek?

Lha kalau menurut konsumen memang jelek, salah siapa tuh? Khan produsennya menjual barang ke konsumen. Kalau konsumennya gak suka, ya masa mau dipaksa bilang suka? Yamasa dipaksa beli? Khan enggak.

Justru ada positivenya tuh, perusahaan gak perlu biaya riset produk. Cukup dilempar ke pasaran, kalau produknya laku berati banyak disuka, kalau enggak ya berati perlu diperbaiki lagi.

Nah, kalau konsumennya kebetulan seorang blogger, si perusahaan justru diuntungkan banget khan. Gak perlu repot -repot mewawancara orang di jalan, yang belum tentu punya taste yg tinggi dalam mengritik. Yang belum tentu dia jujur karena banyak faktor (misal pas disuruh wawancara, dikasih iming-iming hadiah).

Kalau blogger khan biasanya jujur. Biasanya. :mrgreen:

Nulis review memang seharusnya dan sewajarnya mengikuti kata hati. Nulis sesuai kenyataan yg dirasakan. Soalnya banyak tuh yg nulis tentang gejet, speknya ditulis lengkap. Sisanya cuma mengira-ngira.

Misal speknya RAM 2 giga, dijelaskan di reviewnya bisa memainkan game 3D dengan lancar. Padahal menurut konsumen yg bener-bener punya dan udah coba, pas main game itu, sering hang!

Khan memang banyak gejet yg “jualan spek”. Padahal gak sesuai kenyataan. Jadi harus membaca reviewnya dari yg beneran punya dan sudah mencoba.

Review seperti itu biasanya banyak ditemukan di youtube. Channelnya orang luar negeri, yang rata-rata ngasih reviewnya sesuai kenyataan dan seimbang. Ada baik ada buruk. Mereka khan open minded. Pikirannya terbuka kayak pakaiannya dan maju. Makanya negaranya makmur. Karena masyarakatnya jujur..

Eh ini cuma pendapatku pribadi lo ya. Dan sudah aku kasih alasan kenapa aku berpendapat begini. Pendapat kalian ada yg berbeda? Apa alasannya? Yuk dishare. Siapa tahu aku berubah pikiran..

77 Comments

Komen dong!