Sombong

Aku baru bikin facebook. Temenku masih ada 14 orang. Setiap status temenku aku komentari. Statusku juga dikomentari sama temenku. Kami semua saling akrab di facebook. Saking akrabnya, kami gak perlu bertemu muka. Karena gak pernah ketinggalan berita.

Lama-lama temen facebookku ada seratus tigabelas orang. Perlu waktu seharian penuh untuk berinteraksi sama teman-temanku yang lumayan banyak itu. Kadang-kadang kerjaan kantor aku kesampingkan demi persahabatan dengan teman-temanku itu. Kalau ada status yang lupa tidak aku komentari, besoknya aku minta maaf. Syukurlah mereka mau memaafkan.

Setahun kemudian teman facebookku ada seribu dua ratus empat puluh tiga orang. Aku sudah tidak bisa membagi waktu untuk berkomentar lagi. Teman sebanyak itu tidak cukup sehari untuk melayani semuanya. Kerjaan kantor terbengkalai gara-gara facebook. Bos marah karena kerjaanku gak kelar-kelar.

Aku jadi fokus bekerja agar bosku gak marah. Facebookan hanya sempat kalau sedang istirahat kantor atau ketika sudah pulang ke rumah. Seringkali pas pulang ke rumah badan sudah capek, jadi langsung tidur gak sempat komentar di facebook teman. Besoknya sudah berangkat kerja lagi. Seharian cuma sempat facebookan selama 3 jam saja.

Keterbatasan waktu facebookan membuat teman-temanku yang dulu mengira aku berubah. Aku jarang komentar di status mereka lagi. Aku dicap nggak care lagi seperti dulu. Aku dicap egois. Bahkan ketika aku naik pangkat di perusahaan tempatku bekerja, aku merayakan bersama teman kantor. Fotonya aku upload di facebook. Temen-temen facebookku iri. Mereka protes kenapa mereka gak diajak merayakan pesta. Mereka merasa nggak dianggap sebagai teman.

Mereka bilang aku sombong. Sudah lupa sama teman-teman facebooknya.

sombong

Gambar diambil dari buhoriblog.wordpress.com

Aku bingung harus bagaimana. Ini semua salah siapa? Jelas ini salahku. Kenapa dulu aku care sama mereka sementara sekarang aku nggak peduli lagi? Kenapa aku harus memilih kerjaan kantor daripada peduli sama mereka? Tuh mereka jadi mengira aku sombong. Mengira? Memang aku sombong nih sekarang. Mereka benar. Aku berubah. Aku salah.

Tapi itu kata mereka, teman-teman facebookku. Tapi menurut teman kantor, jelas aku berbeda dari yang dulu. Dulu aku nggak peduli sama mereka. Dulu aku hanya mementingkan teman facebokku saja. Sekarang aku care sama teman-teman kantorku. Aku senang berada di antara teman-teman kantorku.

—————

Dari cerita di atas, kita bisa menarik kesimpulan. Bahwa segala apa yang kita kira itu belum tentu benar menurut orang lain. Ketika teman facebook menganggap sombong, ternyata teman kantor menganggap kita justru sebaliknya. Kita peduli sama mereka.

Jadi kalau kita menganggap Syahrini ini sombong karena gak mau balas mention di twitter, ya itu sombong menurut kita. Kalau menurut teman dekatnya Syahrini, ya tentu saja beda lagi. Justru mungkin sebaliknya.

Begitu.

Tags:
52 Comments

Komen dong!