Mudik Dong!

Tulungagung, 11 Agustus 2013

Dimulai dari foto ini:

wedus aqiqoh

Kambingnya manut banget waktu aku datengi.
Trus aku elus-elus. Trus tanganku bau.
Tapi aku nggak papa. Kami saling menyayangi.
*sambil ngiler mbayangin dagingnya*

Akhirnya aku bisa aqiqohan juga pakek duit sendiri. Walaupun nyicil satu kambing dulu (laki-laki aqiqohnya dua kambing, kalo perempuan satu kambing).

Dulu pas aku kecil, orang tua belum mampu mengakekoh anaknya soalnya gak punya duit. Trus ketika aku punya duit sendiri, aku akekohan sendiri aja. Gak papa kok. Kambing kedua ntar deh nunggu momen yang tepat.

Nasabi Bani Ibrohim 2013

Nyesel karena yg ndisain spanduknya bukan aku -_-
Reuni Keluarga Bani Ibrohim diadakan setiap bodho hari kelima

Mbah Ibrohim itu canggahku. Canggah itu orangtunya buyut. Nah, kambing akekohnya buat acara keluarga ini. Aku sama pakdeku masing-masing satu kambing.

mas ndop belajar moto

Itu kamera milik suaminya Deny, anaknya budhe. Masih grogi megang kameranya. HAHA

Saya sempet belajar moto pakek kamera SLR Nikon D90. Yaawoh, grogi banget megangnya. Takut jatoh! Mahal!!! Haha. Tapi aku bangga karena bisa bikin bokeh alias bisa mokusin objek. Wah aku gak punya contohnya. Ntar aja di postingan heses. Jadi kepingin beli loh. Tapi aku mikir2 dulu soalnya bawa kamera gedhe perlu kepedean tinggi. Sedangkan aku di dunia nyata sebenarnya pemalu.

Kandang puyuh Sumbergempol Tulungagung

Sepupuku, anaknya budhe, Mas Danu adalah peternak burung puyuh (gemak). Dia adalah Sarjana Peternakan Unbraw Malang. Saya mampir jalan kaki ke kandang puyuhnya di tengah sawah sana. Ada kira-kira 10 ribu puyuh di dalam kandang plus puluhan ribu telur puyuh tentunya.

Saya putu-putu dong bareng sama dua model cantik bernama Cindy dan Risma, mereka anaknya paklikku. Mas Danu nggak saya foto soalnya lagi telanjang dada. HAHAHA.

Ngadiluwih, 14 Agustus 2013

Rumah Ndeso Tradisional

Ya amplop. Rumahnya masih seperti jaman dulu
ketika aku masih kecil. Ini gila abis!
Gak terpengaruh rumah di sekitarnya yang sudah pada modern

Aku di Tulungagung 3 hari. Berangkat Minggu (11/8) pulang Rabo. Nah, aku pulangnya gak sendiri. Tapi bersama rombongannya Mbak Nana sekeluarga, anaknya Bude. Naik kol. Mampir di rumah keluarganya suaminya budheku, di Ngadiluwih, Kediri. Dan menemukan rumah jadul seperti gambar di atas.

Aku sempet shock ketika masuk rumah itu. Semua perabotnya belum dimodernisasi seperti layaknya rumah jaman sekarang. Lemari, amben, meja ruang tamu di tengah rumah. Trus kamar di tengah dan dua di sampingnya yang ditutup slambu (tirai) warna merah. Lantai kamar lebih tinggi dibanding ruang tengahnya. Trus bagian dapur lantainya lebih rendah.

GEMES BANGET!!! Ini pemilik rumahnya sengaja melestarikan rumahnya masih sama persis dengan zaman awal dibangun. Catnya masih sama. Genteng-gentengnya. Di depan rumah ada halaman luas banget dengan pohon SUPER RIMBUN! Ada rambutan, sawo, belimbing. Dan masih tanah. Jadi NGGAK DIPAVING KAYAK HALAMAN RUMAH ZAMAN SEKARANG INI!!!

SIALAAAN!!! Hahaha.. Aku seperti memasuki mesin waktu. Kembali ke zaman kecil dulu. Lihat tuh toplesnya! Ditutup sama kertas minyak! AMAZING! Jadul banget! Saya jadi membayangkan di dalam toples itu ada kacang goreng ditaburi garem yang dibungkus kertas minyak berbentuk segitiga. HUWAAAAA… *nabung beli mesin waktu*

Udah, gitu doang cerita mudikku kali ini.

Bye.

58 Comments

Komen dong!