Kesabaran Senilai Sebuah Mobil

Judulnya harusnya “Kesabaran Tak Ternilai Harganya”. Tapi kata “tak ternilai” itu nggak bisa diterima oleh akal. Seberapa besar sih kata “tak ternilai” itu? Makanya aku ibaratkan sebuah mobil saja. Biar bisa ditaksir dengan mudah seberapa besarnya.

Ibuk sering cerita, zaman dahulu kala ketika dia masih kecil, ibuk ke mana-mana jalan kaki. Bahkan ketika harus menempuh jarak 10 kilometer lebih. Zaman dahulu khan orang punya motor itu sudah kaya raya. Apalagi punya mobil! Kalau jalan kaki, otomatis waktunya akan lama banget! Dan hal itu membutuhkan kesabaran tinggi.

Dengan kata lain, kalo kita gak mau sabar, kita harus menggantinya dengan sebuah kendaraan berupa sepeda. Sepeda dulu ya. Kalau kita naik sepeda menempuh jarak 10 kilometer, waktu yang diperlukan tentu saja lebih cepat dibanding jalan kaki. Tapi tetep aja naik sepeda juga perlu tenaga untuk mengayuhnya. Kalau kepingin cepet ya harus mengayuh sekuat tenaga.

Dengan kata lain, kalo kita gak sabar mengayuh, kalau kita gak mau buang-buang tenaga, kita harus menggantinya dengan sebuah sepeda motor. Sepeda motor dulu ya. Kalau kita naik motor menempuh jarak 10 km, waktunya akan lebih cepat dibanding mengayuh sepeda tentunya. Tenaga juga berkurang. Lebih cepat lebih enteng. Tapi tentu saja butuh duit untuk beli motor yang harganya sepuluh kali lipat dibanding harga sepeda standar. Dan butuh duit untuk beli bensin. Kalau hujan kita terpaksa berhenti berteduh atau tetap menerjang dengan resiko sakit flu.

Dengan kata lain, kalo kita gak sabar naik motor, kalau kita gak mau hujan-hujanan atau kepanasan naik motor, ya kita harus menggantinya dengan sebuah mobil. Harga mobil juga sepuluh kalilipatnya harga motor. Tapi orang bisa dengan duduk saja. Nggak kepanasan dan nggak kehujanan. Juga gak perlu sabar-sabar amat. Soalnya waktunya bisa cepet. Gak perlu prepare tenaga ekstra kayak jalan kaki atau naik sepeda. Gak perlu bawa jas hujan kaya naik motor. Serba enak. Tapi harus beli bensin yang tentu saja lebih boros dibanding bensinnya motor khan?

sabar = mobil

Ternyata masih nggak sabar juga? Masih kerepotan juga? Okay, kalau jaraknya udah beratus-ratus kilometer dan kepingin cepet sampai secepa mungkin, ya naiklah pesawat. Tiketnya tentu saja mahal. Lebih mahal dari jalan kaki, lebih mahal dari naik sepeda, sepeda motor atau mobil. Okesip.

Yuk kita lihat dampaknya kalau kita gak sabar. Kalau dari segi kesehatan, tentu saja jalan kaki is the best dalam menjaga kesehatan kita. Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan olah raga. Bahkan obat-obatan supermahal pun masih gak bisa sebanding dengan olah raga. Olah raga menjadikan kita sehat. Sehat otomatis bikin gak perlu duit buat berobat ke rumah sakit. Sedangkan obat-obatan supermahal nggak menjamin kita kembali sehat khan?

Lalu kita merembet ke bersepeda. Masih olahraga juga. Tapi resikonya lebih besar karena bisa ketabrak motor atau nyemplung kali atau kepleset atau wot evah yang lain dibanding resiko jalan kaki yang belum pernah aku nemu orang jalan kaki trus tabrakan sama pejalan kaki yg lain trus matik! Yang ada malah saling pandang lalu jatuh cinta #eh.

Merembet ke motor, mobil trus pesawat. Resikonya tentu saja lebih besar dibanding berjalan kaki atau naik sepeda. Cuma duduk doang. Lemak menumpuk. Sumber penyakit. Sebar-sebar polusi juga. Apalagi kalo gak pernah olah raga.

Jadi cuma gara-gara kita nggak sabar, segalanya harus kita bayar. Tergantung seberapa besar level kesabaran yang bisa kita toleransi. Semakin kuat menahan sabar, semakin nyaman dan sehat hidup kita. Semakin irit juga pengeluaran kita.

Saatnya curhat. Suatu hari aku sama ibuk pergi ke Tulungagung ke rumah bude dan bulek dan paklek, keluarga ibuk ngumpul semua di sana soalnya. Berangkat naik bis. Tinggal duduk doang ya. Tinggal bayar ke kondektur nyampe deh. Itu sudah sangat nyaman buat kami. Tetapi ternyata tidak buat orang lain.

Bulikku contohnya. Dia bilang ke saya, “Makanya ndop, belilah mobil, biar ibukmu gak repot kalau mau ke sini..” Loh loh, bulikku gak ngerti kalau kami naik bis itu sudah merasa nyaman. Tinggal bayar trus nyampe ke tempat tujuan. Khan sudah “like a boss” khan itu?

Tapi ternyata pikiran orang beda-beda ya. Level kenyamanan setiap orang itu beda-beda. Mungkin level kesabarannya juga berbeda. Kebetulan aku sama ibuk itu satu aliran: KOLOT. Gak mau repot. Meskipun nggak terlihat keren karena naik bis. Haha.

Ketika pulang, aku sama ibuk menunggu bis liwat. Bis menuju terminal Tulungagung ternyata sedikit banget. Penjualan motor yang tidak dibatasi sama negara brengsek!!! ini membuat angkutan umum jadi sepi peminat. Walhasil diriku menunggu setengah jam baru bisa naik bus ke terminal. Dan ternyata busnya adalah bus yang sama dengan ketika aku berangkat dulu. Yaelah, jangan-jangan busnya cuma satu? bolak balik dari Njepun ke Ngunut. Haha.

Lalu bulekku yang lain bilang ke aku, “Makanya ndop, belilah mobil biar gak lama nunggu begitu..” Walah, kami masih sabar nunggu kok Bulik. Dan aku jadi sadar. Betapa kesabaran memang tak ternilai. Bahkan kalau versinya bulikku, kesabaran menunggu bus lewat yang hanya selama setengah jam itu setara dengan sebuah MOBIL!

The end.

55 Comments

Komen dong!