Maaf = Menghapus!

Banyak banget artikel tentang maaf yang diibaratkan paku yang menancap di kayu/tembok. Yang mana di artikel itu dijelaskan bahwa sekalipun kita minta maaf ke orang yang bersangkutan, bekas sakit hatinya masih ada.

Hmm.. sepertinya manusia itu kejam bener ya, kesalahan orang yang mungkin tidak disengaja atau mungkin bergurau, kok ya ujung-ujungnya harus menanggung sampe di akhirot nanti? Serem!

paku menancap di dinding = maaf?

Warna gambarnya udah saya edit menjadi warna blogku biar mecing aja gitu. Biar gak serem-serem amat. Haha..

Apakah seperti itu konsep maaf?

Pernah denger ceramah di metrotv pas sahur kemarin. Yang ceramah ulama besar, Profesor Quraish Shihab. Beliau menjelaskan bahwa arti maaf itu menghapus. Hilang tanpa bekas. Nah! Mengibaratkan maaf dengan paku menancap itu apakah sesuai dengan makna maaf sebenarnya?

TIDAK!

Kalo kita minta maaf kepada seseorang, kalo orang itu sudah memaafkan, otomatis udah terhapus kesalahan-kesalahan kita kepada orang tersebut. Tidak ada dendam lagi. Tidak ada sisa dosa lagi.

Nah, kalo kesalahan kita diibaratkan paku yang menancap. Kemudian permintaan maaf kita diibaratkan mencabut paku. Kemudian kita bilang bekas paku masih ada. Dengan kata lain, kesalahan kita akan membekas di hatinya. Apakah hal itu sama dengan menghapus? Saya kira lebih tepat sebagai “mengobati” atau “melepas penderitaan”. Jadi nggak sama dengan menghapus. Dan permintaan maaf nggak cocok kalo diibaratkan paku yang menancap tersebut.

Memang semua butuh proses. Meminta maaf itu apakah gampang? “Hei, gengsi dong! Siapa yang salah, kok aku harus minta maaf? Emang situ nggak salah?” Begitulah ego kita berkata.

Dan apakah memaafkan juga perkara yang gampang? “Hei, enak aja minta maaf! Gak sadar apa seberapa besar kesalahanmu, seberapa sakit hati ini kau lukai, lalu dengan segampang itu kamu minta maaf? Enak aja!!!” Begitulah juga ego kita berkata.

Jadi, buat yang mau meminta maaf, langkah kita sudah bener. Sesuai tuntunan agama. Jadi lakukanlah! Buang gengsi. Lebih baik mengakui kesalahan.

Dan buat yang dimintai maaf, ihlaskan semua kesalahan, maafkan dia. Sambung silaturrohmi lagi kalau bisa (eh ini harus diperjuangkan sebenarnya! Mengingat bercerai berai itu khan dibenci banget sama Tuhan, sebaliknya, menyambung hubungan silaturrohmi itu sangat besar manfaatnya).

Iya iya, itu gak gampang kok. Saya pernah mengalami dua-duanya. Tapi pasti bisa. Toh kita nggak usaha sendiri. Akan selalu ada bantuan dari Sang Maha Kuasa. Ingatkah kita, kalo Tuhan sangat menyukai hambaNya yang bertaubat? Ibaratnya, kalo kita kembali kepadaNya secara berjalan, Tuhan akan menyambut kita dengan berlari. So, pasti ada jalan MUDAH untuk kembali bersilaturrohmi.

Yuk, saling memaafkan dan memberi maaf. Persahabatan terlalu indah untuk ternodai cuma gara-gara kesalahpahaman atau kesalahan salah satu pihak. Mari memererat persahabatan. Saling benci itu gak ada manfaatnya lo. Kita tentunya tahu dong, sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat buat orang lain. Kalo saling benci, manfaatnya apa? Hehe..

SALAM DAMAE!!!

*Damai ndop, bukan damae! Biarin ah, namanya aja blog anti meinstrim! mainstream ndop, bukan meinstrim! BIARIN!!!!*

23 Comments

Komen dong!