Refreshing ke Probolinggo Part II

…sambungan dari postingan sebelumnya

______

…kalah. Dengan gayanya, lawanku berlagak kayak sang pendekar paling kuat sejagat. Ronde kedua dimulai, kali ini saya mengeluarkan jurus-jurus andalan saya. Aku telah memelajari gerak-geriknya pada ronde pertama tadi. Aku tidak boleh banyak tingkah, aku harus banyak bertahan dan menyerang di saat yang tepat.

Satu jurusku telah mengenainya. Darahnya berkurang sedikit. Karena sudah menguasai gerak-geriknya, aku pun menghajarnya habis-habisan dengan jurus superku. Yes, dia kalah!

Ronde ketiga pun aku bisa mengalahkannya dengan sangat mudah dan cepat. Akhirnya aku pun memenangkan pertandingan. Horee…

Ferdi ikut-ikutan ndlosor di sebelahku. Dia menonton saya main Game Fighting Power Instinct 2. Adiknya Adit itu menonton dengan antusias. Game yang dia mainkan selama ini tidak ada yang seunik dan sesederhana ini. Maklum anak sekarang game-nya serba tiga dimensi dan menurut saya bikin kepala pusing. Heheheh…

______

Kalau saya mau menegakkan posisi duduk saya, saya bisa melihat kendaraan di depan saya. Tapi nggak pantas. Orang yang dibonceng harusnya lebih pendek atau setara dengan yang nyetir. Walhasil saya pun duduk di bangku belakang motor agak membungkuk biar setara gitu. Adit mengendarai motornya lumayan kencang, sesekali dia membuka kaca helmnya dan menoleh ke samping untuk sekedar ngobrol-ngobrol untuk mencairkan suasana.

“Dit, numpak motor lanang ngene iki luwih alus yo perpindahan giginya, ” Saya bertanya.
“Iyo, soale enek kopling. Tapi nggak juga ding, tergantung siapa yang nyetir. Kalau yang nyetir orang profesional kayak saya, naik motor bebek juga bisa alus perpindahan giginya, hahahah.”
“Hahaha… iyo iyo… percoyo.”
“Nek dibanding motor bebek, numpak motor lanang ngene iki banter-banter tetep stabil gak hoyak. Nek motor bebek, mlaku 100 wis uglik-uglik, ” Adit menjelaskan.
“Iya tuh Dit, kerasa banget kalau dibonceng naik motormu ini jalannya stabil tidak goyang-goyang walaupun sekarang kita melaju 90 km perjam. ”

_______

Kami sudah sampai di rumah kuno model rumah Belanda yang temboknya tinggi-tinggi. Di sebelah rumah “raksasa” itu berdiri Rumah Sakit Jatiroto Lumajang yang warna temboknya senada dengan rumah ini. Kami mendekati pintu masuk rumah besar itu. Pintunya tinggi. Saya masih kalah jauh dengan tingginya. Apalagi Adit. Hehe.. Ketika masuk ke dalam, suasana begitu melegakan. Hawa dingin dari ase terasa.

Wow, saya belum pernah memasuki rumah sebesar ini. Saking kagumnya, saya tidak bisa jalan kaki secepat Adit. Aku hanya melangkah selangkah demi langkah dengan pelan-pelan sambil melihat sekelilingku. Mataku menyapu setiap keunikan yang ada. Wow… berasa syuting sinetron!

Kotak persegi panjang itu mengeluarkan gambar bergerak dan suara yang dashyat. Saya bisa melihat gambarnya dengan jelas dari jarak 5 meter. Lagi-lagi saya terpukau.

Adit mengajakku masuk ruangan yang lebih dingin. Asenya dinyalakan dengan suhu 19 derajat. Di dalam ruang itu, saya syok untuk beberapa saat. Kalau ini rumah biasa saja, ruangan ini disebut kamar. Tapi ini rumah luar biasa, sehingga kamarnya pun ukuran raksasa. Atapnya setinggi 10 meteran. Kalau kau teriakkan suaramu, akan terdengar suaramu lagi.

Aku mencoba menguasai keadaan. Mencoba bergerak se-cool mungkin. Walaupun kalau ada candid camera, pasti kalian akan tertawa ketika melihat mulutku dengan tidak sengaja menggerakkan kata “wow” berkali-kali.

Kamar itu berisi beberapa gitar, keyboard, drum, mixer, dan perlengkapan band lainnya. Adit langsung unjuk kaki dan tangan dengan memainkan skill drumnya. Saya hanya manggut-manggut mengikuti alunan drumnya yang cenderung random itu. Saya yang baru pertama kali memegang keyboard, langsung mengeluarkan jurus trial errorku. Aku pencet salah satu tombol dari ratusan tombol-tombol yang menyebar di keyboard ini. Ah, ini gampang, aku mencoba menghibur diri.

Akhirnya, suara lagu midi mengalun. Yes, aku bisa memutar musik demonya. Saya pun menyanyi “I will fly” nya Ten 2 Five. Adit lalu menyodorkan microphone dan saya bernyanyi sehafal saya diiringi tabuhan drum dari Adit yang atraktif dan dinamis.

_______

Suasana di dalam mobil mini berwarna merah elegan ini sangat tenang. Musik mengalun diiringi suara kami bertiga bernyanyi. Berkali-kali Adit mencoba bernyanyi suara kedua, namun fals. Akhirnya kami bertiga pun bernyanyi dengan nada serupa. Walaupun begitu, suara kami bertiga punya ciri khas masing-masing, jadi walaupun nyanyi bareng, tetap terdengar seperti paduan suara.

Kami sudah sampai di Rumah Apung yang menjual aneka masakan ikan dan hasil laut. Rumah makan ini unik, ketika masuk ke dalam, di kiri-kanan ada kolam air yang berisi ratusan ikan gurami dan nila (atau koi?). Suara gemercik air menenangkan jiwa. Sangat cocok untuk meredakan stress.

Kami berbelok ke kanan dan memilih tempat makan Rumah Joglo 4. Kami bertiga duduk lesehan di atas bantal panjang. Di tengah-tengah ada meja untuk makan. Di sekeliling kami ikan-ikan asyik berenang. Agak jauh di sana, ada ikan-ikan bergerombol di bawah air terjun mini.

Horee, makanan sudah datang. Kami bertiga yang doyan makan ini makan dengan lahap sambil ngobrol-ngobrol mbanyol. Ikan-ikan di sekeliling kami asyik berenang pelan. “Eh, lihat tuh, Si Tutik dimakan sama Ndop!” Ujar si ikan gurami yang diperagakan oleh Bapaknya Adit.

Aku dan Adit tertawa terbahak-bahak. Saya makan ikan gurami yang ukurannya lumayan jumbo. Kalaupun tidak pakai nasi pun, saya akan kenyang. Apalagi ini ditambah nasi. Apalagi minumnya susu. Wow, hasrat untuk menjadi ginuk-ginukku akan gampang tercapai. Hahaha..

Tidak hanya berhenti di satu porsi, kami bertiga memesan lagi ikan-ikan sahabatnya si Tutik tadi. Kali ini kami mengganyangnya bertiga. Ternyata ikan patin ini lebih lembut teksturnya dibanding ikan guramiku tadi. Tapi kalau mau jujur, rasanya lebih gurih ikan gurami dari pada ikan patin. Heheheh…

_______

Kamar raksasa tadi sekarang seperti panggung band besar. Kami bertiga ngeband dan mencoba profesional di bidang masing-masing. Ungu, Scorpion, Dewa 19, adalah beberapa band yang lagunya kami mainkan. Bapaknya Adit memainkan keyboard dan vokal. Adit main drum. Saya backing vokal. Walaupun nggak ada yang nonton, tapi kami atraktif main musiknya.

Sehabis maghrib, aktiftas selanjutnya adalah online. Si Kokom berada di tangan Adit. Saya tiduran aja lihat Adit ngenet. Saya sudah lelah karena barusan habis ngajarin Adit menggambar vector.

_______

Akhirnya Adit bangun pagi juga. Saya pun bangun dan langsung sholat Subuh dan siap-siap kembali ke Probolinggo karena Adit harus sekolah. Setengah lima pagi kami berangkat naik motor ke Probolinggo. Kami berlindung dari udara dingin dibalik jaket masing-masing. Aku dibonceng motor dengan merem tapi tetep sadar. Moga-moga saja Adit nggak tiru-tiru saya. Hahaha…

Setelah mengisi bensin di pom bensin, kami melanjutkan perjalanan lagi. Jalanan masih sepi. Hanya ada kendaraan umum dan truk-truk pengangkut barang. Di depan kami ada bus yang susah didahului. Walhasil selama beberapa menit kami berada di belakang bus itu. Asap bus itu mengepul pas di depan kami.

“Dit, mbakar ayam!”
Adit membuka kaca helmnya, “Hahaha… ayam asap!”
Kami tertawa terbahak-bahak lalu menutup kaca helm masing-masing biar nggak jadi manusia asap. Hahaha..

_______

“Minggu ngarep awas we nek gak dolan maneh, ” Kata Adit di facebook.
“OK!”

Sabtunya, “Aduh Dit, aku loro e, jik flu plus watuk, gak sido wae ya..”
“Yowis, aku tak tidur aja seharian ini.”

_______

Minggunya, “Yowis, sesuk awakmu dolano wae, Ndop.”
“Wah, iyo wis, dari pada di rumah aku nggak ada teman ngobrol..”

______

Senin-senin panas-panas mentereng, saya pun berangkat ke stasiun. Baru saja turun dari bis, saya syok ketika saya mendengar pak tukang stasiunnya bilang kalau kereta api Sri Tanjung jurusan banyuwangi akan segera diberangkatkan. Doooh… piye iki… Kereta api nggak bakalan terkejar. Saya pun tetep menuju stasiun untuk melihat jadwal kereta. Yes, ternyata ada kereta selanjutnya yaitu Logawa! Walaupun harus menunggu satu setengah jam lagi, hora popo, khan bisa facebookan! Hohoho…

Selasa besok adalah hari Nyepi, sekolah pada libur. saya juga ikutan liburan dong. Biar bisa ngrasain enaknya liburan beneran. Kalau liburannya sendirian, nggak asyik. Makanya saya main lagi ke Probolinggo. Hohoho…

Sudah sampai Surabaya, smsku baru dibalas sama Adit. Maklum dia khan sekolah nggak boleh bawa hp. “Ngko susulen ndik mejid ya koyok biasane.”

______

Setelah sampai di rumah budenya Adit, saya langsung diajak bareng-bareng naik mobil menuju rumah raksasa itu. Tapi kali ini si Ferdi adiknya Adit ikutan juga. Wah, makin seru kalau rame-rame begini.

Sepanjang perjalanan, alunan lagu scorpion diputar berkali-kali. Ferdi menyanyi sendiri di belakang. Saya yang masih lelah, memilih untuk diam dan sesekali batuk. Yup, suara saya nggak keluar soalnya sedang flu. Hehehe..

______

Sesampainya di rumah raksasa, karena sudah malam, kegiatan kami ya online bareng-bareng. Trus tidur kruntelan bertiga, hahahah…

______

Besoknya, Bapaknya Adit menawariku bertamasya ke Jember. “Ndop, gelem jalan-jalan ning Jember?”
Wah, kalau mengajak saya, saya nggak mungkin nolak kecuali kalau saya sakit. “Nggih sembarang”
Aduh, sembarang boso kromone opo ya? hahaha…

Langsung deh saya mandi trus pakek kaos ijo lumut yang saya beli pas lihat konser Soundrenaline di Garuda Wisnu Kencana Bali beberapa bulan kemarin, trus pakek celana jins, tapi lupa pakek parfum. Doooh…

______

WISATA BOTANI JEMBER

Mobil berbelok ke kiri memasuki tempat wisata. Ternyata kami semua pertama kali ke sini termasuk sopir-sopirnya alias tidak ada yang tau isinya seperti apa. Walhasil, ketika datang, kami musti membaca petunjuk-petunjuk yang ada biar nggak tersesat.

Untuk mengawali petualangan kali ini, kami berbelok ke kiri dulu melihat-lihat rusa, merak, kasuari, dan hewan-hewan unik lainnya. Suasana sangat rimbun oleh bambu yang tumbuh meraksasa di kiri kanan kami. Kami menuruni tangga yang lumayan curam. Walaupun berdesak-desakan, pengunjung tidak ada yang kecelakaan. Maklum semua pada jalan kaki. Itulah kelebihan jalan kaki, walaupun kita terjadi tabrakan, yang ada bukannya bundas di mana-mana, tapi malah saling sapa, “Eh, maaf mbak, eh, mbak, boleh kenalan nggak?”

Wisata Botani Jember

Dari kiri ke kanan: dr. Adi, Ferdi, Ndop, dr. Adi, Adit, Ferdi

Ternyata setelah kami sampai bawah, eee.. weladalah, ada kolam renangnya… Hohoho… kami nggak tau kalau di sini ada kolam renangnya, sehingga ya nggak ngapa-ngapain. Mau nonton orang renang kok ya nggak penting. Hahaha…

Lihat-lihat binatang aja deh. “Ndoop… ndooop… ” Bapaknya Adit memanggil-manggil namaku. Tapi dia menghadap ke binatang yang menggantung di depan sana. Hahahah…

_______

WISATA REMBANGAN

Setelah berpanas-panasan di wisata botani, kami pun menuju tempat lebih tinggi mencari kesejukan. Mobil menaiki jalan yang naik dan berkelok-kelok. Alam di kiri kami sangat indah. Banyak berjejeran warung-warung yang selain menawarkan es degan, juga menawarkan panorama yang indah.

Setelah beberapa saat kami pun sampai di lokasi. Udaranya segar, alamnya asri, orangnya ramah. Semakin menelusuri ke dalam tempat wisata, kami lha kok menemukan kolam renang lagi, hohoho.. ternyata Jember penuh dengan kolam renang. Hohoho… Untung ada taman buat leyeh-leyeh, jadinya ada deh kegiatannya.

wisata rembangan Jember

Dari kiri ke kanan: Ndop, Ferdi, Adit, dr. Adi

Adit masih sibuk moto-moto saya. Mungkin di matanya, saya ini seperti model karena tubuhku yang tinggi semampai ini, hahaha… Saya yang tidak biasa diphoto pun hanya bisa pamer gigi, pamer senyum dan pamer tinggi. Lha saya bukan foto model nda, jadi ya grogi kalau mau diphoto. Hohoho…

model wisata rembangan jember

Yang moto Adit siapa dong? ya saya lah, siapa lagi, hahaha… Weee… si ndop sekarang nggak katrok lagi. Dia sudah pernah megang kamera mahal. Huwahahahah… Untungnya tangan petakilanku ini cerdas (yang cerdas tangannya, bukan otaknya!), jadi sekali megang barang canggih, langsung cepat adaptasi dan eksperimen. Soalnya kalau dilihat-lihat, bahasa barang canggih itu sama semua. Cuman ngafalin kata-kata default kayak No, Yes, Delete, Open, Zoom, Capture, View, dan sebangsanya, kita sudah bisa mengoperasikan barang canggih yang baru di mata kita.

______

Perjalanan piknik tadi lumayan melelahkan tapi menyenangkan. Apalagi saya yang sudah lama sekali nggak piknik bareng keluarga. Loh, lha itu siapamu ndop, khan bukan keluarga? Aduh, lupa, iya ding, tapi nggak papa deh, saya anggap keluarga sendiri juga nggak masalah. Toh saya dengan seorang Bapak dr. Adi, yang mana bisa mengobati kangenku dengan bapakku yang telah meninggal sejak 12 tahun yang lalu. Trus saya bareng Adit dan Ferdi yang mana bisa mengobatiku yang kangen dengan sosok adik yang saya inginkan, yang pinter yang lucu dan tidak merokok. Adikku di rumah soalnya ngerokok dan saya sangat benci rokok!

______

Sudah lama saya tidak main Badminton. Pas disodori raket sama Adit, saya lha kok grogi. Tapi nggak papa ah, dicoba-dicoba. Tapi kali ini nggak ada bahasa barang canggihnya. Nggak ada zoom, nggak ada delete, nggak ada capture. Yang ada hanyalah ketrampilan mengembalikan shuttle cock ke lawan tanpa keluar batas. Konsentrasi ndop ya…

Saya main dengan Ferdi setengah jam-an. Lalu datanglah Adit dengan muka bangun tidurnya. Jiah, anak itu kok tidur mulu ya, pantes mukanya tembem begitu. Hahaha… Ferdi menghitung skor pertandingan kami. Tapi dasar si Adit kelihatan banget kalau mainnya kurang sungguh-sungguh. Jadinya saya yang menang deh. Hahaha… Tapi bisa saja karena saya orangnya tinggi dan lincah. Halah mbuh whateverlah…

______

Mobil berangkat menuju Probolinggo lagi. Mampir ke warung apung lagi. Kali ini ada bintang tamu berupa Ferdi. Hohoho… anak kecil itu makannya banyak banget! Sampai nambah satu piring lagi nasinya. Sebelum makan, kami main-main jombat-jombit (apa ya istilah bahasa Indonesianya?). Adik kakak itu sangat riang gembira. Begitu juga dengan kakak tuanya, saya. Hahahaha…

Lalu main wahana (ceille wahana!) puter-puter sampai pusing nih kepala. Habis itu baru deh makan besar! Kami duduk di ruang makan yang sama dengan ruang makan minggu kemarin, yaitu Rumah Joglo 4. Cuman bedanya, suasana malam dan suasana sore. Kalau malam, ternyata indah banget pencahayaannya. Sayangnya kamera blackberrynya Ferdi kok ya kurang bagus buat moto-moto malam hari. Walhasil, kita menikmati makan-makan dan ngobrol-ngobrol saja dengan gembira ria sejahtera ginuk-ginuk! Hahaha…

______

Kenyang deh. Habis kenyang trus ngapain? yup benar, tidur. Siapa yang cepat tidurnya? Yup, sudah tentu Adit. Anak itu sekali memejamkan mata, langsung tidur dan beberapa menit kemudian terdengar suara dengkuran pelan-pelan. Ajaib bener… Kayak siapa tuh tokoh kartun terkenal, Yup Nobita! Cuman tampang Adit lebih menuju ke Doraemon dari pada Nobita, Huwahahahah… Peace ya Dit..

______

Jam setengah sebelas malam sampailah ke Probolinggo. Lalu langsung tak kuasa menahan kantuk. Kami, adik kakak dan kakak tua tidur kruntelan lagi. Pagi-pagi alhamdulillah saya bisa bangun dan menunaikan sholat Subuh seperti hari-hari sebelumnya. Lalu membangunkan adik-adikku untuk berangkat sekolah.

______

Kereta Logawa berangkat telat 20 menit! Wah wah, jam 7 lebih 40 menit baru deh kereta mak jeglek-jeglek pergi meninggalkan Probolinggo. Nganjuk, Am kaming… Sebelum berangkat tadi aku sempat minum obat batuk merek Konidin. Karena menyebabkan kantuk, walhasil di kereta api, kerjaanku ya tidur!

Sampai Nganjuk sudah jam setengah satu siang. Panas-panas mentereng saya jalan kaki sejauh kira-kira 1 km menuju rumah. Aku melewati rumah yang ada kacanya, dan tidak sengaja melihat tubuhku dari samping. Apah? Masa itu saya? Nggak mungkin ah… Saya cari kaca rumah lagi, dan ternyata bener. Horee… Saya sudah nggak kurus lagi sodara-sodaraku… Tapi belum gemuk juga sih. Cuman sudah enak dipandang. Hahahaha…

Saatnya kerja keras lagi ah, demi sesuwap ginuk-ginuk sejahtera… Doakan aku…!!!! Hahahah…

30 Comments

Komen dong!