Perasaannya Sedang Ditaruh Mana yaaa…

Ini postingan jaman dahulu sekali. Saya tulis ketika ngenet gratis di rumahnya aditya permana, wekekkeke… makasih ya dit, tumpangan ngenetnya…

_________

bingung vectorBelasan hari kemarin, saya menemui kejadian yang membuat saya geleng-geleng kepala dan mengelus dada (lo nggak punya dada ndop!). Begini lo sodara-sodaraku.

Waktu itu dia sedang leyeh-leyeh gitu di dalam kamarku. Dia lagi melihat tontonan yang sama gitu dengan yang kita tonton, tiba-tiba dia ditilpun keluarganya. Dia mengangkat tilpun itu lalu raut mukanya tiba-tiba terlihat tegang. “Mbahku sedo!”. Lalu dia tersenyum.

Saya kaget bukan kepayang (harusnya dia ya yang terkejut!), langsung deh saya bilang seperti yang biasa kita ucapkan ketika ada orang meninggal (kita: orang-orang moderat), innaalillaahi wainna ilaihi rooji’uun.

Entah mengapa, saya amati temanku kok tidak umak-umik mengucapkan kalimat yang adalah tanda-tanda orang yang sabar, yaitu orang yang tatkala menimpa musibah, dia mengucapkan innaalillaahi wainna ilaihi rooji’uun… Semoga saja dia mengucapkannya di dalam hati! aamiiin…

Seperti yang kita lakukan tatkala kehilangan salah satu keluarga kita, seperti nenek misalnya, harusnya kita langsung siap-siap mau pulang. Walaupun kita sesibuk mungkin, sebisa mungkin mengusahakan untuk datang ke acara pemakaman. Ya, paling tidak berkumpul bersama keluarga besar, ikut berduka cita, syukur-syukur ikut mengangkat jenazah ke pemakaman sebagai tanda hormat kepada embah.

Tapi tapi tapi, dia loh malah dengan (sangat!) santai (sambil senyum cengingisan!) bilang begini, “mati yo wis, …”

DIENG!!!! saya terkejut bukan kepayang!! Sumpah, saya SANGAT TERKEJUT!!

Lalu saya bertanya kepadanya, “We gak mulih?”
Dia menggelengkan kepala, lagi-lagi dengan santai.

Saya semakin terkejut!! Kok ya ada manusia yang nggak pulang ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal. Wadoh wadoh bahaya itu! Padahal saya tau sendiri saat itu dia sedang LEYEH-LEYEH sodara-sodaraku. Saya ulangi, sedang LEYEH-LEYEH! Soalnya hari itu hari sabtu!

Oke, sekarang kita anggap, dia punya kesibukan di hari Sabtu ya. Oke oke.. kita anggap dia nggak bisa diganggu gugat kerjaanya. Saya hari Minggu pulang kampung (mbok-mbokanku kumat!)

Seminggu kemudian, ketika mbok-mbokanku sudah sembuh, saya balik lagi ke kos. Eee.. ketemu anak itu. Saya tanya, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya begini, “Eh, u kemarin jadi pulang nggak?”

Dia bilang tidak!

……

Seminggu nggak ada waktu lowong untuk pulang ke kampung hanya sekedar ikut berduka cita??? Omaigaaad!! dan yang mengejutkan, jarak kosan dengan kampungnya cuma kurang lebih 60 kilo meter!

Bagaimana menurut anda??

59 Comments

Komen dong!