Wong Ndeso Makan Pekmpek

“Sesuk wae yo.”
“Yup, aku manut wae!”

__

Dan besok pun terjadi dengan sukses. Kami berdua, yang sama-sama dilahirkan dari kota angin tercinta alias Nganjuk, pun berangkat menaiki len kuning bernama O menuju sebelahnya THR alias Haitekmol.

Gusti Alloh nyuwun ngapuro, panasnya hari ini. Di dalam len seperti berada di dalam ouven. Langsung deh, aku lepas jaket itemku dan tampaklah kaos putih bjork yang aku pakai. Hehehe.. panas ini ada gunanya ternyata, saya jadi bisa pamer kaos bjorkku ke khalayak ramai. Hehehe…

___

Setelah mubeng-mubeng mengitari Haitekmol, mencari-cari mehkeluk mati bernama lele yang top. Akhirnya nemu juga yang sreg. Hehehe.. namanya aja ingin mencari, bukan ingin membeli, jadi setelah menemukan yang sreg, saatnya membayangkan untuk memunyainya. *the secret mode on*

Siapa tau kalau memang ada rejeki, kita bisa memilikinya. Bener khan?

Lapar melanda…

Sarapan nasi pecel tadi pagi sudah habis diserap keringet waktu panas-panasan di dalam len. Walhasil kembar siamnya waljinah (orijinal karangannya nug, red.), kami lapar banget pas jalan-jalan mencari lele yang top tadi. Kalau lapar, biasanya ngapain sodara-sodara?

Hennah…

Kami sok nggaya nih. Mumpung berada di kota Surabaya, dan mumpung berada di haitekmol, kami mau mencoba sok kaya dengan makan pempek di lantai satu.

Saya duduk-duduk saja, ongki yang mesen ini-itu. Soalnya duwik saya masih 10 ribu saja. Hehehe…

Beberapa menit diankemu, eh, kemudian, datanglah hidangannya…

makan pekmpek di haitech mall

Langsung deh disantap. Pempeknya terasa kecut banget. Seperti pencit mangga. Hohoho.. Malahan kalau menurut kami, lebih enakan kecutnya pencit mangga dari pada kecutnya kuah pempek ini.

Namun, yang namanya lapar, apa aja rasanya, tetep di makan to ya. Apalagi saya, yang pengen gemuk ini.

Beberapa menit berlalu, rasa kecut semakin tak tertahankan. Kami pun istirahat makan dan ngobrol-ngobrol. Si ongki sudah nggak mood makan lagi. Nyerah dia. Saya masih lanjut, demi sesuwap daging™, saya harus bertahan menghadapi cobaan ini. Tak henti-hentinya saya menyugesti diri saya sendiri bahwa yang saya makan ini adalah nasi pecel mbok iro favorit saya, atau krupuk pecel bu Penik dan mbak Yun di Nganjuk.

Yes, dengan sugesti itu, akhirnya saya berhasil menghabiskannya…

pempek habis dimakan ndopBagaimana dengan ongki? dia ternyata sudah tidak kuat sodara-sodara. Wow, diam-diam saya merasa bangga dengan prestasi ini.

Ongki itu khan tubuhnya gedhe ya, untuk menopang badan segedhe itu, khan musti banyak makan. Mungkin karena rasa kecut yang memang tak tertahankan itu, sampai-sampai sugesti yang saya kirimkan ke otaknya tidak berhasil membujuknya.

___

Ongki menuju tukang pekmpek. Saya mengikutinya di belakang. Ketika bertanya harga, kami sempat shock mendengar jawabannya!

“Lima tiga!”

OMAIGOOOSHHH!!! dua tiga apa lima tiga? kami mengulangi tanya lagi…

“Lima tiga, Mas!”

DIEEENG!!! Mak gedebuk jerantal!! Tangan ongki pun gemetaran mengularkan duwit berwarna biru yang masih sangat rapi dari dompetnya. Lalu diambilnya tiga lembar uang ribuan yang lusuh dan menyerahkannya ke tukang pekmpek dengan lemes dan pasrah menerima keadaan dan cobaan yang menimpa dirinya dan diriku.

___

Tak henti-hentinya bibir kami beradu saling menyumpah-nyumpah penjual pempek tadi.

“Waduh ngki, sumpah ya, kapok aku mangan pekmpek nang kene.”
“Wis rasane kecut, gak ntek pisan.” Gumam ongki.
“Lha iyo, kok yo luarang men to yo.. yo.. mosok panganan mung glepung dicampur ndop ndog sak iris wae kok seked ewu men…”
“Lha iyo.. kapok pok pok..”

___

Di dalam len, saya iseng sms temen. Maklum nggak pakek paklum dulu™, si ongki khan berada di depan di sebelah sopir, saya berada di dalam len. Dari pada bengong, saya sms-an dengan teman. Langsung cerita mengenai pekmpek tadi.

Temanku bukannya mendukung kami yang telah tertimpa musibah ini, malahan dia menertawakan kami berdua. Gimana mau nggak tertawa, lawong ternyata pekmpek itu itungannya bukan porsi, melainkan perbiji!!

Waddoh biyung, pantesan harganya membengkak begitu. Perbijinya tadi saya baca rata-rata 7500 rupiah. Jadi jadi jadi… huwaaa… pantesan tadi yang jualan seneng banget gitu, sumringah melihat kedatangan kita berdua. Hohoho…

Harusnya khan mengatakan, “Ininya satu, ininya satu.. ” Sambil nujuk-nunjuk makanan glepung dengan berbagai bentuk yang tertata rapi.

Bukannya bilang, “Pekmpeknya dua mas…”

Mungkin mas tukang pekmpeknya bingung, ini orang tau pekmpek apa nggak ya? Setelah yakin kalau kami nggak ngerti, langsung deh dimanfaatin sama masnya.. Hohoho… apes deh…

Jadi pelajarannya adalah:

  1. Masalah membeli makanan, mendingan tanya harga dulu, semakin banyak tanya semakin baik
  2. Hilangkan sifat sok kaya! Yah, apes deh, kirain harganya berkisar 10 ribuan gitu, ternyata… beuh beuh beuh…
  3. Bawa duwit banyak kalau mesen makanan. Sapa tau nanti pas mbayar, yang jual bilang begini, “Itu kuning telurnya dilapisi emas, jadi wajar dong kalau nasi telur ceploknya 500 ribu!!!”
  4. Pasang tampang melas dan tampang lusuh. Biar ada alasan untuk ndak kuat bayar nasi telur ceploknya. Loh, ini lagi mbahas telur ceplok apa pekmpek?
58 Comments

Komen dong!