Berlibur ke Air Terjun Sedudo Nganjuk

Pegunungan Nganjuk :tidur: Tititit… tititit… suwara alarm dari hengfoun jadul sejuta umatku berbunyi. Waaa… jam delapan pagi!!! Waduuh.. baru tidur tiga setengah jam, masih kurang empat setengah jam lagi nih, TAPI… oh iya!!! ke SEDUDOOO!!! :shock:
Waaa!!! langsung deh mandi dan sebangsanya sampai rapi. Lalu ngontel ke rumah Sigit Darmawan di Ploso Nganjuk. Wow, mata ini masih ngantuk, tapi aku paksa biar ndak tidur waktu di perjalanan menuju sedudo.

:kabur: Bersama 5 orang ex IPA 5 SMUDA Nganjuk 2002, kami berlibur ke Sedudo. Awalnya sih, si Sigit Darmawan sms saya apakah saya ada di Nganjuk, pulsa saya habis, besoknya saya beli pulsa Ai Em Thri super sms itu, dan menjawab kalau saya mau ke rumahnya sekarang. Pas ngobrol-ngobrol basa-basi ndak ada jelunterungannya, tiba-tiba si Sigit nyeletuk, “Eh, nang Sedudo ye??”
saya langsung diem, “Ha?? kok pikiranmu podho mbek aku, Git?”

Yah, tanpa banyak basa-basi lagi, kami langsung menghubungi teman-teman yang masuk akal untuk diajak dolan ke Sedudo. Teman-teman yang masuk akal itu maksudnya adalah teman-teman yang bisa diajak pulang Nganjuk cepet. Dan akhirnya Endah Puspitasari dan Hari Subagyo lah yang diajak. Kami berempat lah nominasi pertama yang ikut jalan-jalan ke Sedudo besok. :dance:

Seharusnya saya malam itu tidur jam sembilan atau paling lambat jam sepuluhan lah. Tapi dasar manusia seperti saya yang bandel ini, bukannya tidur nyenyak, tapi malah internetan sampai jam empat pagi. Waaa… saya baru tidur jam setengah lima pagi setelah subuhan. :angop: Dengan hanya mengandalkan alarm Hape jadul saya itu saya berharap bisa bangun tepat jam delapan pagi.

Untungnya saya bisa bangun jam delapan pagi walau mata ini masih ngantuk berat. :angop: Sangat berat. Sampai-sampai saya harus negosiasi dulu sama mata ini, awalnya si mata ndak mau diajak melek, tapi setelah saya rayu dan saya iming-imingi pemandangan pegunungan, mata ini lalu menyetujuinya! yesss… :rock:

Yuhuu.. aku pun ngontel ke rumah Sigit, trus melanjutkan perjalanan menuju rumah Endah. Ee.. bukannya langsung ke umah Endah, tapi kami malah ke salon! jangaan salaah, kami ke salon bukan mau meni-pedi, tapi mau feisyel dan krimbath melainkan menjemput teman satunya lagi. Soalnya kalo dia nggak diajak, ntar ngamuk-ngamuk. wekekeke… :mrgreen:

Kami berlima pun ngumpul di rumah Endah. Setelah beberapa menit berbasa-basi dulu, baru deh, kami yang berbeda-beda karakter ini pergi berlibur ke Sedudo. Kami-kami itu adalah:

  1. Sigit Darmawan, bangku deret nomer dua dari kiri, tempat duduk nomer dua dari belakang, orangnya sederhana dan nyantai banget.
  2. Endah Puspitasari, Bangku deret ke dua dari kiri, tempat duduk nomer dua dari depan, orangnya cerdas dan bersahabat.
  3. Hari Subagyo, bangku nomer dua dari kiri, tempat duduk belakang sendiri, orangnya pendiam tapi suka ngebut kalo naik motor.
  4. Setyo Tunggal Aribowo, bangku nomer dua dari kiri, tempat duduk nomer tiga dari belakang, orangnya klemar-klemer, agak gagap, punya salon bernama Aura yang terletak depan departemen pertanian Nganjuk.
  5. Muhammad Ali Mudzofar, bangku paling kanan, tempat duduk nomer dua dari belakang, orangnya baca sendiri di biografiku.

Kuncir NganjukKami berangkat ke sedudo dari Loceret menuju Candirejo (candi boto) lalu notok, belok kiri, ke Brebek trus teruuus naik gunung sampai Kuncir, trus teruuus sampai Sawahan. Mata saya yang ngantuk ini cukup bisa melek karena pemandangan yang demikian indahnya dan hawa yang seger.

Tengok kiri saya dihadapkan dengan pemandangan pegunungan, iyap pegunungan, bukan satu gunung saja, tapi beberapa gunung yang bertumpuk-tumpuk bersebelah-belahan. Saking bagusnya pemandangan, sopir peribadi saya, Sigit, suka lupa ngerim karena terpesona. wekekek… :hihi:

Nengok sebelah kanan, saya dihadapkan pada rumah penduduk, atau kadang bukit atau batu gedhe. Tapi saya lebih favorit nengok kiri. Iya iyalah… jarang-jarang begeto ada pemandangan gunung sedekat ini…

:kabur: Semakin ke atas, keadaan jalan semakin medeni saja. :takut: Jalan naik-turun ndak bisa diprediksi. Kadang nyeleot naik ke kiri, lalu turun sambil nyeleot ke kanan. Lalu menanjak dengan hebatnya. Sampai-sampai Honda Revonya Sigit yang saya tumpangi juga, ngeden-ngeden, meraung-raung, kesian banget mendengarnya. :cry:

Gigi satu dan gigi dua lah yang paling laris di banding gigi lainnya. Ya maklum, gigi lainnya jelas ndak kuat menarik kami berdua ke atas. Apalagi kalo sudah sampai ke kawasan wisata Air Terjun Sedudo.. wohohoho… jangan mimpi bisa memainkan gigi tiga motor sampeyan!! :wink:

Tapi sayang sekali ketika memasuki kawasan wisata, pemandangan terlihat cukup menyedihkan. :sad: Pohon-pohon cemara yang dahulu rindang dan lebat, sekarang ini kok terlihat gundul persis kayak orang dipotong gundul dan petal di sana-sini. Hawa yang dulu dingin sekali, sekarang tinggal dingin secukupnya saja. Yaah, akhirnya saya memaklumi. Lawong sekarang khan musimnya gloubel woming, masa di mana-mana pada ngeluh kepanasan, di sini mengeluh kedinginan? khan ndak kompak namanya. wekekek… :twisted:

Akhirnya setelah berjuang keras, setelah menyiksa motor, kami pun sampai di depan loket pembayaran tiket. Harga tiket dua ribu rupiah satu orang. Tapi entah kenapa kami ditarik tiga ribu rupiah per orang. :???: Mungkin ditambah biaya parkir sepeda motor. :taktahu:

:kabur: Selanjutnya motor kami pun disiksa sepanjang dua kilo meter ke atas lagi. Wow, kali ini naiknya ekstrim!! Motor bobrok ndak bisa lolos dalam tantangan kali ini. Sampeyan-sampeyan yang masih baru belajaran sepeda motor, mending ganti sopir yang lebih mahir saja. Ini bukan medan untuk pemula. Ini khusus expert driver (halah, ngomong opo to ndop kuwi?). Ketika menanjak, yang awalnya saya bisa dibonceng dengan lepas tangan, kali ini musti gocelan/pegangan sesuatu. Kalo nggak, ya melorot jatuh ke jalan. :cry:

Air terjun Sedudo

Air Terjun Sedudo
gambar di dapat dari sini

Horee… akhirnya kami berlima sampai juga di Sedudo. :dance: Sebuah Air terjun yang sangat eksotis. Sangat cantik. Sangat tinggi dan indah. Suhu udara begitu segarnya. Begitu menyehatkan. Kami tiba sekitar jam setengah sebelas pagi.

Sedudo itu terletak kira-kira 30 km dari Nganjuk kota (memangnya Nganjuk ada kotanya, ndop?) eh, maksudnya dari alun-alun Nganjuk. hehehe…

ini nih, kalo versinya Mas wiki mengenai Air terjun Sedudo, disimak ya kehebatannya:

Air Terjun Sedudo adalah sebuah air terjun dan obyek wisata yang terletak di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan ibukota kabupaten Nganjuk. Berada pada ketinggian 1.438 meter dpl, ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Tempat wisata ini memiliki fasilitas yang cukup baik, dan jalur transportasi yang mudah diakses.

Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada Bulan Suro (Kalender Jawa). Konon mitos yang ada sejak jaman Majapahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut.

Setiap Tahun Baru Jawa, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Permkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual Mandi Sedudo setiap tanggal 1 Suro.

Ketika memarkir sepeda motor. Bau panas mesin tercium, suara pendingin mesin juga terdengar. Waaah.. mesinnya ternyata perlu penyesuaian diri setelah berngoyo-ngoyo ria tadi selama di perjalanan. hihihi.. kesiannya… tapi ndak papa sin, sekarang saatnya kamu ngistiro’at dulu, soale engko sampeyan kudu ngeterne mulih… wekekeke… :hihi:

Kemudian kami menuruni tangga yang demikian curamnya. Ndak mungkin sampeyan bisa lari-lari menuruni tangga ini, kecuali kalo bibir sampeyan mau jontor, atau kepala sampeyan mau benjol gara-gara kejungkel. Sambil menuruni tangga sampeyan juga bisa melihat keeksotisan air terjun di atas sono sampai di bawah sono. Wow, sampeyan musti ndangak (menengadah) kalau ingin melihat puncak air terjun, dan musti ndingkluk (menunduk) kalau ingin melihat kaki air terjun.

Ini ada foto yang saya kepce (capture, red.) dari videonya masku.

Suasana Air Terjun Sedudo kala ramai

Sayang pas kemarin Sabtu (01 Nopember 2008) itu, ndak seramai photo di atas.
Mungkin harinya kali yang Sabtu, bukan hari Minggu
seperti photo di atas (19 Oktober 2008).
Suasana sabtu itu sangat sepi, ndak ada dua puluhan orang yang ada di lokasi. Sayang kami berlima ndak ada yang bawa kamera dijitel.
Walhasil mata dan hardisk sejuta giga bait yang tertanam di otak kami lah (wuih lebai MODE ON!) saksinya.

Hawa begitu dingin, sampai-sampai niatan dari rumah untuk nyemplung dan mandi “shower raksasa” hampir terurungkan. Apalagi setelah beberapa menit kami berdiri dan menikmati pemandangan begitu hebatnya di depan kami, tiba-tiba terdengar suara glodak-glodak dari atas sana. Lalu turun ke bawah menimpa pepohonan, semak-semak, mak grusak-grusuk, lalu jatuh menggelinding dengan cepatnya dan hampir mengenai pengunjung belia yang sedang duduk-duduk di sisi kanan Sedudo. Mbak-mbaknya yang tadi duduk santai itu menjerit dan berlari menghindari batu yang hampir mengenai punggungnya. Waaah.. jangan-jangan mau longsor nih!! :takut:

Sejenak, saya shock. :shock: , begitu juga dengan pengunjung yang lain. Suasana ceria yang tadi terasa, sekarang berubah menjadi keheningan, ketegangan. Semua raut muka ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Saya sendiri langsung baca-baca istighfar, sholawat berkali-kali sambil memandangi alam sekitar. Mengawasi setiap lekuk batu raksasa itu.

Setelah beberapa saat hening, akhirnya ada yang memberanikan diri nyemplung lagi ke kolam air dan mendekati air terjun. Dia sendirian. Saya cekikikan sendiri melihat tingkah lakunya yang ndak direken sama temannya. Lawong mungkin temannya masih trauma melihat kejadian tadi. :hihi:

Ternyata saya sendirian berdiri di sini, di depan bendungan kecil ini. Semua ternyata berteduh di bawah aula di belakang saya. Pedagang nasi pecel dan nasi jagung baru datang dan menata-nata dagangan. Wow, kami langsung menyerbu dan berharap mendapat :pertamax: menikmati nasi jagung. Waaa… ternyata iya… hehehe…

Ketika teman-temanku makan, aku malah meluncur bareng Sigit ke kolam air. Dan menikmati air terjun yang wow, nikmat sekali rasanya… auw.. rasa dingin dan pijatan maha dahsyat menimpa punggungku. :rock: Maklum dengan ketinggian air terjun kira-kira 105 M itu, debit airnya mencapai 41-45 liter/detik, dengan kecepatan 10-15 meter/detik. (sumber: smsnya masdan)

Sayang lagi ndak ada skrishotnya ketika saya mandi dan tertimpa air terjun yang maha dahsyat itu. Eit, tapi saya punya yang dari kepceran videonya masku lo… nyooh…

Air terjun sedudo: Lha itu lo saya yang pakek baju batik sedang sedakep

Wekekeke.. maklum baru liat mantenan, dan ndak bawa salin, walhasil pakek baju batik pun saya nyemplung… itu lo, photo pertama di atas (kiri atas), yang pakek baju batik dan sedakep. Hohoho… itu saya lagi kedinginan loo.. hihihi… :hihi:

Waaah… ketika saya selesai bermanja-manja dengan air dingin itu, teman-teman pada selesai makan sego jagung. Waaa.. saya jadi pengen juga niih.. eit, tapi salin dulu dong, ndop! itu air masih netes-netes di mana-mana tuh.. wokee… berangkaat… Eh, minum teh anget dulu deeh… wow, kok ndak anget ya? wekekeke… itu sebenarnya masih anget ndop, kamu aja yang kedinginan!!

Masuk ke mamar mandi. Bayangan saya sih airnya bakalan agak hangat, eee.. tibaknya, airnya justeru sangat dingin menyengat! hhhh…. “Pinten, Mas?” Tanya saya ke mas-masnya yang jaga kamar mandi yang sedang tiduran.
“Stunggal ewu, Mas,” Katanya santai.
Waduh, saya kira limaratus repes. Saya pun menawar, “Waduh, wolongatus mawon nggih, Mas?”
“Nggih, pun,” Jawab masnya.
Hore Part 1 pun tercapai!! :dance:

Waduh, lha ini celana kolor basah ini mau ditaruh mana? Saya pun kembali ke masnya. Mau minta tas kresek. Waaah.. ternyata bayar pemirsa. Limaratus perak! Omaigaat.. :shock: mahal amaat!! Dengan jurus innosens part 2 saya, saya bilang, “Waduh, mboten gadah kepyar e, Mas?” Sambil berharap-harap cemas.
“Nggih, pun, njenengan pundhut,” Kata Masnya.
Hore Part 2 pun tercapai!! :dance:

Nasi jagungAkhirnya, setelah selama hidup saya ndak pernah makan nasi jagung, sekarang di atas telapak tangan saya, di atas daun pisang, berhamburan nasi jagung yang berwarna kuning itu. Sayangnya saya ndak bawa kamera untuk memotretnya. Photo di sebelah itu photo koleksi saya. Bukan photo di lokasi sedudo.

Rasanya nasi jagung? wow, nikmat bos, pokoknya harus di makan sama ikan asin, sayur dan urap pedes. Kalau di makan sendirian, ndak enak blas (menurut saya), tawar, ndak ada manis-manisnya. :ngiler:

Rasanya nggak lengkap kalau kami hanya berkunjung, mandi, melihat-lihat suasana, merasakan suasana, tapi ndak ada bukti nyata, ndak ada kenang-kenangan. Wah, kami ternyata memerlukan foto. Iya, saksi kuat keberadaan kami berlima di Sedudo saat itu adalah hanya dengan photo. Apalagi buat Endah, warga Nganjuk yang baru pertama kali ke Sedudo. Hohoho.. ke mana aja sampeyan, Ndah? masa sampeyan justeru pernah ke Coban Rondo tapi malah ndak pernah ke Sedudo sih? aneh.. wekekeke… ndak papa, akhirnya sampeyan pernah to…

Akhirnya kami menyewa tukang foto. Terjadi tawar menawar dan perbincangan sebage berikut:
“Pinten to, Mas?” Tanya saya.
“Sedoso, Mas,”
Waaa.. kok luwarang men, “Gangsal ewu, nggih?”
“Dereng angsal, Mas.”
“Niku Kamera Dijital nggih, Mas, berati saget dikopi teng flashdisc?” Tanya saya tanpa ampun sambil menggelantung-gelantungkan fleshdisk saya di depan mukanya.
Masnya bengong, tolah-toleh, mikir, lalu dijawab sekenanya, “Mengke dicetak teng komputer.”
Walaah, jawabannya ndak nyambung.. :doh: Saya nanya lagi, kali ini pertanyaannya bikin mampus masnya, “Niku mengke ukuran resolusine pirang piksel, Mas?”
Ternyata iya, masnya semakin panas-dingin, bingung mau njawab apa, “Mengke dadose sak menten, Mas,” sambil menduduhkan lembaran photo ukuran 4 R.

Kami pun bingung, tapi karena dia bilang kompyuter, kami pun mengiyakan. Kalo komputer, berarti segalanya bisa dilakukan. Termasuk mengopy file ke flashdisc bukan?

Dan acara narsis-narsis pun tak terelakkan. Dan satu jepretan saksi mata keberadaan kami berlima pasukan-pasukan pemberani eks IPA 5 SMUDA Nganjuk di Sedudo pun terkepce. Wow, kami berlima merapat di sekitar mas kamera tadi. Dan melihat hasilnya. mmm… lumayan bagus.. :sip: Pencahayaannya lumayan bagus.. Kami pun berembuk, dan akhirnya memutuskan untuk langsung dicetak saja.

ke sedudo sama bolo plek

Keterangan foto
dari kiri ke kanan:
Ndop, Bowo, Endah, Hari, Sigit

Ternyata hasilnya buram. Tadi, ketika kami lihat langsung dari kamera dijitelnya, ndak keliatan apakah buram atau tidak.. akhirnya kami pasrah saja deh sama hasilnya… :ampun:

ssst!!! :ssst: eeh, lihat tuh celananya si ndop, basah euy, kamu ngompol ya ndop? wakakak..

Yee.. nggak nda.. itu kaos saya masih kebloh belom kering sepenuhnya. Jadi ya wajar to kalo kaos saya yang nempel di celana membuat celana saya ikut-ikutan kebloh? hohoho..

Aku dan Endah mengikuti maskamera dijital tadi memasuki ruangan berlampu dop kuning yang ditutup oleh tirai kain. Di dalam ruangan terdapat printer lumayan canggih. Kamera dijitel itu dicolokkan ke printer melalui USB. Lalu photo langsung keluar dari printer.

Sambil menggelantungkan fleshdisk, saya minta dikopikan file-nya, Tapi saya lupa!! di situ ndak ada komputer!!! :shock: Tapi hanya sebuah printer. Waaa.. Omaigaat… Ah, moga-moga aja ada colokan USB nya. Aah.. cuma satu. Ada sih transfer filenya, tapi lewat memori kad, bukan fleshdisk! Tapi keknya tetep ndak bisa dibuat ngopi file. Wadduh.. aku dan Endah saling berpandangan.. “Discan ae ndop..,” Kata Endah.
“Tapi resolusine???” sesal saya…

Saya mau komplain, tapi kok ndak enak. Mungkin mas kamera tadi ndak pernah tau apa itu komputer. Jadinya sesuwatu yang canggih dibilang kompyuter. Contohnya ya printer tadi. Omaigaat… Ya maklum lah ndop, di gunung seperti ini. Mana ada yang punya komputer? bisa megang kamera dijital aja itu mungkin perestasi yang membanggakan. Walau dia ndak tahu apa itu resolusi, apa itu megapiksel. hohoho… pengalaman berharga nih… lain kali, bawa kamera dijitel sendiri!!!

Kami pun pulang sambil membawa oleh-oleh selembar photo buram itu. Wohohoho… lumayan lah. Buat kenang-kenangan. Saya pun berjanji akan memostingnya di blog saya. Ya ini… postingan ini…

Akhir kata sebelum tips-tips, saya mau mengucapkan.. (setting meksemem voliyem vois <-- alias bengok-bengok)

“Hoee… Git, Wo, Ndah, Har, awakmu terkenal ndik blogku looo…. wakakakak… akhirnya impian sampeyan terkenal seluruh dunia tercapai loo… melalui blogku… hohoho…”

Siapa mau menyusul???!!!

Mau ke Sedudo juga?? ajak saya saja.. saya dengan senang hati mau mengantar. sekaligus nyari tumpangan. Nih, saya mau bagi-bagi tips buwat sampeyan yang mau ke sedudo.

  1. Barang wajib bin fardlu ‘ain yang harus dibawa adalah KAMERA DIGITAL
    Karena pemandangannya sangat membuat anda menyesal seumur hidup kalu ndak diabadikan bersama senyum merekah anda!!! :D
  2. Kaos sedudoKarena konon airnya bikin awet muda, berati kalo ke Sedudo sampeyan musti punya rencana nyemplung ke air terjun, Kalo ndak sampeyan rugi besar. Maka dari itu, bawa salin. Atau kalo males bawa-bawa, bisa beli baju bersablon Sedudo seperti gambar di samping!
  3. Biyar ndak kedinginan, sampeyan lebih baik membawa jaket. Atau bisa juga diatasi dengan mandi nyemplung ke air terjun. Dijamin suhu sekitar akan lebih tinggi dibanding suhu tubuh sampeyan. Sehingga sampeyan ndak kedinginan lagi.
  4. Nah, ini penting. Periksa kendaraan sampe bener-bener oke. Baru ngacir ke Sedudo. :kabur:
  5. Bawa makanan kalo perlu. Kalo ndak mau repot, sampeyan ya musti terima saja sama harga makanan yang supedupe mahal. Lah, sego jagung yang saya beli itu harganya dua ribu rupiyah lo. Padahal kata ibuk, di pasar harganya cuma limaratus rupiyah saja!!
  6. Ini berdasarkan kejadian yang saya ceritakan di atas, jangan duduk-duduk di sebelah kanan (barat) Air Terjun Sedudo. Bertingkah-lakulah yang wajar. Wisata alam itu untuk mengagumi ciptaan-Nya, supaya kita lebih meyakini kebesaran-Nya. Bukan untuk hal-hal yang ndak etis dan ndak wajar
  7. Yang baru belajar naik motor (kayak saya!), jangan dulu ya, sampeyan dibonceng saja dulu. Soalnya medannya sangat berbahaya..
  8. Banyak berdoa selama berjalanan. Banyak membaca sholawat biyar diberi keselamatan. Banyak Beristighfar biyar diampuni dosanya. Insya Alloh sampeyan selamat sampai tujuan dan pulang dalam keadaan sehat wal afiat. Aamiin..
  9. Ajak saya, soalnya saya masih kepengen lagi ke sana… hohoho.. :ayoh: Apalagi kalo dibayari!!! :mataduitan:
69 Comments

Komen dong!