Nonton Leang-leong, Barongsai, Tari dan Upacara Penurunan Bendera

Malam minggu melekan ngenet sampai jam setengah duwabelas. Besok paginya, 17 Agustus 2008, tidur sampai siang. :angop: Trus Tidur lagi sampai sore. :angop: Setelah balas dendam tidur terbalaskan, lalu mandi (ndengaren adus? biasane raup tok! -tumben mandi, biyasanya cuci muka doang, red.-), Tidur lagi. Trus bangun nonton Upacara penurunan Bendera Merah Putih di Alun-alun. Saya berangkat dengan beberapa pasukan saya sebage berikut:

  1. Pipi
    anak SLB
  2. Ida
    anak kelas 5 SD
  3. Risma
    anak kelas 6 SD
  4. Halim
    anak TK Nul Besar

Sebelum upacara dimulai, beberapa pertunjukan digelar (emang tiker?). Diantaranya adalah seperti gambar-gambar di bawah ini:

Kesatu, pertunjukan leang-leong (kata teman saya yang masih esde sih namanya itu :P ). Para pemain leang-leong memang hebat ya, bisa kompak banget memutar-mutar naga hingga meliuk-liuk kayak uler naga beneran. Keknya mereka menguasai kangfu :yinyang: geto. Tahu nggak apa itu kangfu? itu tuh, si akang yang dari Caina, makanya disebutnya Kangfu. Kalo dari Jawa ya Kang Prapto, atau Kang Parmin. Kalo dari Nganjuk ya Kang inan.. hehehe… :pukul:


Kedua, Si barongsai tiba-tiba nongol. Warnanya biru nan lucu dan menarik. Berakrobat-akrobat ria dengan lincahnya. Berdiri. Tidur. Mengendus-endus. Gayanya jian persis seperti singa beneran (singa apa macan ya?). Eh, itu yang di belakang apa ndak takut bau ya? khan “si gunung dempet” bisa tiba-tiba meletus tuh, mengeluwarkan bau sampah, hihihi…

Pas Barongsai beraksi, lha kok pasukan saya ada yang berlari ke tengah mendekati barongsai. Saya pun panik. :ingus: Lalu saya menyuruh pasukan saya yang sudah kelas lima menjemputnya. Saya khawatir gerakan-gerakan kungfu Barongsai menyemplak si anak TK pasukan saya itu. Tapi untungnya, dengan paksaan, bisa juga diatasi. Walau gerutu-gerutuan nggak penting masih terdengar. Biasalah anak TK. :doh:

Barongsai menari-nari mengikuti tabuhan genderang dan ces-cesannya dram (apa toh namanya?? itu tuh yang suaranya ces-ces yang dipegang pakek duwa tangan trus tubrukkan satu sama lain itu tuh.. :???: ). Semakin cepat tabuhan genderang, semakin cepat juga gerakan-gerakan si Barongsai. Pas barongsai bediri, terlihat peluh membasahi lengan kedua pemain. Hal itu menunjukkan bahwa bermain barongsai sangat melelahkan apalagi yang berada di belakang yang musti ngangkat-ngangkat yang di depan.

Ketiga, Habis itu, anak-anak esempe pun berlarian ke tengah lapangan. Menari tari tradisonal modern diiringi tabungan gameran yang Nonton Leang-leong, Barongsai, Tari dan Upacara Penurunan Bendera

sangat enak dibuat goyang kepala. Mereka adalah siswi-siswi SMPN 1 Nganjuk. Tarian pertama dibuka oleh anak kelas 1 yang berpakean Merah putih. Lalu dilanjutkan dengan siswi kelas 2 dan ditutup oleh kelas 3. *Mohon maaf, batre hapenya mbakku lemah. Mangkanya hanya bisa motret kelas 1 saja.. :ampun: *

Lalu penonton pun mundur ke tepi lapangan Alun-alun dan upacara penurunan bendera merah putih dimulai. Ternyata menonton upacara itu menyenangkan lo… ndak tahu ya, nuansa khidmatnya itu yang bikin saya merinding. Lagu Indonesia Raya dimainkan oleh mini morcing bend itu membuat saya terharu sekaligus bangga. Lagu Indonesia Raya itu aransemennya jian Top Markotop!! berasa mendengarkan lagu-lagu Mozart!! :sip:

Siaaaow.. Graaaow…
Kepada Inspektur Upacara..
Hormaaaaaow.. Graaaoww…!!!

Suwara lantang Komandan Upacara terdengar. :rock: Semua pada nurut. Eh, ada yang menarik. Pas Bendera mau diturunkan, benderanya blibet terkena angin. Walhasil, si Paskibra musti menarik tali kuwat-kuwat ke bawah.

Saya ndak bisa mbayangin berada di depan sana sebage penarik tali bendera. Pasti ndredeg pol. Mana keadaannya ndak wajar begeto. :ingus:

Eh, ternyata si penarik tali bendera memang cerdas. :lampu: Dia tarik secepat-cepatnya sebelum lagu Indonesia Raya selesai. Sehingga sisa lagu yang hanya beberapa detik itu ia gunakan untuk memutar kain bendera yang blibet. Walhasil, pas lagunya selesai, dia pas menarik bendera pakek dua tangannya dan melangkah ke belakang.

Angin Nganjuk masih ndak bersahabat. Saat melipat bendera pun si petugas kewalahan. Walhasil ya dilipat serapi-rapinya (walau masih kelihatan ndak rapi!). Tapi e’rithing is oukei kok.. semuwa berjalan wajar dan lancar. Walau saya agak kuciwo melihat Paskibranya yang terlalu kaku gerakannya. Kurang luwes. Masih kayak robot. *sori ndak ada sekerinshot, maklum batrenya abis dan suasanannya ndak memungkinkan untuk motret-motret :ampun: *

39 Comments

Komen dong!